Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta dan Benci 3
Siapa yang ingin terjebak pada masa lalu yang kelam? Tidak ada yang mau tentunya. Namun pertanyaan lainnya timbul tak kala, bagaimana jika kenangan itu kembali hadir menyisakan trauma dan luka yang dalam?
Tertuju pada sebuah penggalan drama hati, baik Irene dan Hendrik mempunyai alasannya sendiri yang tidak akan dimengerti oleh satu sama lain. Hanya karena kesalahpahaman yang dilakukan oleh penguasa ambisi, sengaja tertuju untuk membutakan mata hati dan pikiran.
"Kumohon, katakan padaku kenapa Irene tidak bisa menolaknya?! Jelas ia terlihat tidak suka, tapi kenapa hanya terdiam menuruti perkataan pria itu!" Hendrik begitu melampiaskan kekesalannya dengan memanggil Giselle keruangannya.
"I-itu ... mungkin sebaiknya tanyakan se-sendiri pada Ire—"
"Kau jelas tahu ia tidak akan menceritakannya padaku. Giselle, aku tahu kau juga meragukanku, tapi hanya aku yang bisa membantu Irene saat ini. Percayalah, aku sangat serius dalam hal ini."
Terdiam sejenak mencoba untuk mempertimbangkan, tatapan Giselle tertuju pada Bastian yang kini menganggukkan kepalanya seraya membenarkan keseriusan Hendrik pada Irene. Giselle diambang kebingungan atas ketakutan dalam mengambil keputusan bila hanya akan menyengsarakan sahabat terbaiknya.
Dengan sedikit pertimbangan, Giselle menceritakan garis besar masalah keluarga Farmer hingga harus terlibat dengan Luke yang secara tidak langsung mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mendekati Irene.
Berawal dari saat mereka berhasil melarikan diri dari para Klon (mafia Mr. JK) di San Antonio hingga menetap di Dallas, Collin sang kakak yang menjadi tumpuan dalam mencari nafkah secara gelap mata meminjam uang dalam jumlah besar pada seseorang yang bergerak di bisnis ilegal.
Lintah darat yang menjanjikan sebuah kata-kata manis mematikan, yang dapat membutakan sesaat hingga bunga semakin tidak masuk akal dan mencekiknya. Restaurant yang baru beroperasi pun terpaksa hancur dikala mereka datang membawa petaka, hingga Collin yang hampir tak bernyawa.
Luke yang hari itu secara sengaja datang ke kediaman keluarga Farmer untuk permata kali tanpa sepengetahuan Irene, mencoba menarik hati dan perhatiannya dengan membayarkan hutang serta bunga Collin kepada para lintah darat, bahkan memberikan perlindungan disekitar kediaman Farmer.
Namun tentu itu semua tidak gratis, Irene yang menjadi tumbal tak kala uang berjumlah $100.000,- mengharuskan Irene menjadi kekasih Luke untuk sementara waktu namun hingga saat ini Luke masih melakukan hal yang semakin intens pada Irene.
"APA?! $100.000?! Apa yang dia lakukan dengan uang itu?" tanya Hendrik yang kini terbakar api membara, merasa tidak percaya atas tindakan Collin, sahabat terbaiknya.
"Membeli sebuah rumah dan melakukan renovasi di restaurant. Jauh sebelum rumah kediaman keluarga Farmer seperti sekarang, dulu mereka tinggal di losmen kumuh di pinggir kota. Aku bahkan membawa Irene dan kedua kembar kala itu, karena menurutku wilayah mereka kurang sehat untuk membesarkan bayi-bayi mungil yang baru lahir itu," Giselle kembali menjelaskan dengan begitu pilu dan gundah.
"Mr. Hendrik, pengorbanan Irene hingga sampai pada posisi ini tidak mudah. Karena itu jika anda berniat hanya ingin singgah sementara waktu, lebih baik menjauhlah dari Irene dan keluarganya."
Pernyataan tegas yang diberikan oleh Giselle saat berjalan keluar ruangan bagai duri menusuk disetiap relung jiwanya. Hendrik terduduk lemas tak kala mengingat saat perceraian terjadi pun, sedikit pun keluarga Kessler tidak memberikan uang atau hal lainnya pada Irene yang langsung menghilang begitu saja.
(KRIINGGG) (KRIINGGG) Suara handphone Collin yang berdering.
"Ya Hendrik?" jawab Collin.
"Kau ada di restaurant? Tunggu aku di sana, ada yang mau ku bicarakan denganmu!"
Tertutup panggilan dengan rasa canggung, Collin merasa kebingungan karena sudah lama Hendrik tidak seperti ini padanya, atau hanya jika ia merasa ada yang salah atau tidak benar terjadi. Sungguh dalam hati Collin saat ini, ia begitu merindukan berbincang atau bercanda tawa dengan Hendrik seperti dahulu kala.
Bagai langit dan bumi, kedatangan Hendrik menemui Collin sungguh jauh dari bayangannya. Berjalan dengan langkah tegap dan lurus, raut wajah Hendrik begitu menjurus bagai ksatria berkuda yang siap melayangkan pedangnya ke arah lawan. Collin menjaga jarak namun terhenti langkah pada sebuah kursi sofa di belakangnya.
(BHUAAKKK) Pukulan keras yang Hendrik berikan pada wajah Collin hingga terbaring di atas lantai.
"KAU MEMINTAKU UNTUK MENJAGA IRENE DI SAAT HARI PERNIKAHAN KAMI! BAHKAN KAU MENGANCAMKU JIKA AKU SAMPAI MELUKAI PERASAAN IRENE!" teriak Hendrik dengan begitu lantang hingga Colie datang ke ruangan khusus pewagai setelah mendengar suara gaduh.
"Hendrik ... apa yang sebenarnya kau bi—"
"BAGAIMANA BISA KAU BEGITU TIDAK BERPERASAAN DENGAN MENGORBANKAN IRENE PADA PRIA ITU?! KAU MENJUALNYA DI SAAT AKU BEGITU MENJAGANYA!!"
Tangan bergetar dengan raut wajah memucat. Tubuh Collin lunglai namun mencoba untuk tetap terduduk tegap dihadapan Hendrik yang tidak lain adalah suami Irene yang masih begitu mencintainya. Mencoba untuk berdiri dan membiarkan Hendrik melampiaskan kekesalannya, Hendrik kembali menarik kemeja Collin dengan kasarnya namun sedikit pun Collin tidak membalasnya.
"Bagaimana bisa kau menjadi pria seperti ini?! Kau membiarkan istrimu tidak tersentuh pria lain, tapi adikmu?? Apa kau tahu bagaimana Luke memperlakukan Irene? Apa kau pernah melihatnya?!"
"He-Hendrik ... aku, sungguh tidak mempunyai pilihan lain. Aku benar-benar tidak ingin Irene seperti ini, tapi pilihan apa yang kupunya??"
"Ada. AKU!! AKU, COLLIN!! Aku sama sekali tidak mengganti nomor telephoneku, berharap kau akan menghubungiku! Aku mencoba seratus, tidak ... seribu kali dalam lima tahun menghubungimu!" Hendrik semakin menarik kerah kemeja Collin yang kini tak kuasa menitikkan air matanya.
"$100.000?? Pikirmu aku tidak mampu memberi uang itu padamu?!" lanjut Hendrik yang kini mulai menurunkan nada bicaranya pada Collin.
"Tidak Hendrik, sungguh aku benar-benar ingin menghubungimu ... namun Irene memintaku untuk tidak melakukannya," balas Collin sedikit menundukkan kepalanya pada Hendrik yang kini benar-benar di atas ambang kesabarannya.
"OMONG KOSONG!!" (BRRAAKK) Hendrik berjalan keluar dengan membanting pintu ruangan.
Berkendara kembali menuju perusahaan dengan kekesalan yang belum menghilang, terlihat jam kerja pun usai dengan beberapa karyawan yang sedang bersiap untuk menghadiri pesta perjamuan keberhasilan proyek kerja sama dengan PT.Linfron di sebuah bar mewah di tengah kota. Tatapan Hendrik benar-benar menjurus pada Irene saat ini yang terlihat begitu risih dan tidak nyaman dengan perlakuan Luke padanya.
Bukan hanya di saat mereka berdua, Luke benar-benar menganggap Irene sebagai wanita murahan yang bisa ia kendalikan dengan mudahnya. Tangan yang mendekap bahkan mengecup pipi Irene dihadapan banyak orang, sungguh membuat Irene ingin menangis tak kala tepuk tangan dan siulan diberikan oleh para rekan kerjanya semata-mata hanya untuk mengejeknya.
...***...
Sesampainya di bar mewah tengah kota, yang berada di atas sebuah hotel berbintang lima, Irene bersama Luke dan beberapa rekan kerjanya pun menyewa sebuah tempat di tengah aula besar di mana panggung pertunjukan begitu terlihat jelas dengan alunan lagu yang menghentak dan bergema keras. Tak lupa lampu redup namun dengan gradasi warna lainnya yang menyala terang, membuat bar terlihat begitu tidak layak untuk dikunjungi wanita seperti Irene.
Luke kembali melingkarkan tangannya di perut Irene tak kala CEO PT. Linfron menyapa dan mengucapkan terima kasih atas jamuan yang luar biasa. Terkejut dengan kehadiran CEO PT.Etheral yang menguasai dunia bisnis, rasa segan dan sedikit malu pun diperlihatkan pada Hendrik seraya menghormatinya yang jauh lebih profesional dan pandai dalam hal apa pun.
"Hentikan Luke, lepaskan aku!" ucap Irene sedikit berbisik, mencoba melepaskan tangan Luke yang saat ini melingkar di perutnya.
"Tidak. Apa kau lupa? Kau milikku, Irene!"
Tangan Luke semakin tak terarah dan mulai meraba pada daerah sensitive wanita Irene. Sedikit meremas pada kedua belahan dada yang tertutup sebuah blazer tebal, Irene bagai hilang akal tak sanggup lagi menerima perlakuan kotor Luke padanya bahkan terlihat begitu memalukan dihadapan rekan kerjanya.
"Lepaskan Irene, tangan kotormu benar-benar membuatku merasa terganggu!" Hendrik kembali meletakkan tangannya pada Luke, mencoba menghentikan gerakan tangannya yang saat ini mencoba melepas kancing kemeja Irene.
Luke menatap Hendrik begitu tajam hingga membuat suasana gaduh terdiam sejenak. Tidak ada lagi siulan atau sorak yang memalukan, kini tatapan mereka menjurus pada Hendrik yang terlihat begitu terbawa emosi pada Luke. Dengan menantang, Hendrik melepaskan tangan Luke lalu menarik Irene untuk berada disampingnya, membenarkan kancing kemeja Irene yang terbuka, Hendrik tidak menyadari gerakan Luke di belakangnya.
"TIDAK, AWAS!!" teriak Irene dengan wajah penuh kepanikan.
(PRAANGGG) Pecahan kaca terdengar nyaring, tak kala sebotol anggur merah membentur lengan Hendrik yang menahan agar tidak mengenai Irene.
Bastian berlari kencang dan langsung memberikan perlindungan pada Hendrik. Luke yang terkejut, tidak menyangka Hendrik akan menangkalnya, menjaga jarak dengan langsung berjalan berlari dengan arah yang tidak menentu. Suasana saat ini pun berubah menjadi benar-benar tidak terkendali.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Bastian pada Hendrik dan Irene yang penuh tertumpah wine merah di tubuh hingga melekat pada pakaian mereka.
"Pesankan sebuah kamar untuk kami berganti pakaian. Tidak mungkin kami pulang seperti ini," pinta Hendrik pada Bastian dengan langsung membawa Irene pergi.
Ka-kamar hotel? Untuk apa memesan kamar?