Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 9 Bertemu Azhmar Lagi
Purwasaga akhirnya tertidur lagi di saat dia menahan rasa pedas dan panas pada kejantanannya. Namun, ketika dia terbangun, kondisi kejantanannya sudah membaik.
Akan tetapi, muncul masalah baru. Ternyata Minyak Bayi Cantik juga membuat Purwasaga kecil terus tegang maksimal alias tidak mau tidur atau rileks.
Tok tok tok!
Ada ketukan di pintu kamar.
“Rungga Muda Purwasaga!” panggil satu suara wanita di luar pintu kamar.
“Siapa?” tanya Purwasaga dengan setengah berteriak.
“Aku Pelayan Hanghang,” jawab suara wanita itu.
“Ada apa?” tanya Purwasaga lagi.
“Ada pesan dari Rungga Waka Wakar,” jawab Hanghang.
“Sebentar,” kata Purwasaga.
Ia lalu memperbaiki duduknya di tepi ranjang. Ia mengambil bantal dan meletakkannya di pangkuan untuk menutupi miliknya yang berdiri sempurna.
“Masuklah, Pelayan Hanghang!” perintah Purwasaga.
Pintu kamar kemudian terbuka karena didorong dari luar.
Seorang wanita gemuk berlemak berambut serba putih bersih dan berpakaian warna kuning kulit pisang berjalan masuk. Ia menjura hormat dengan cara menundukkan kepalanya. Penampilannya begitu rapi dengan rambut yang tertata rapi pula. Senyumnya mengembang, membuat wajah makmurnya yang bermata lebar terlihat damai di mata dan di hati.
“Ada apa Pelayan Hanghang?” tanya Purwasaga.
“Rungga Waka Wakar mengundang Rungga Muda Purwasaga untuk makan bersama,” ujar Hanghang lembut.
Seketika terkejut Purwasaga mendengar hal itu.
“Waduh! Tidak mungkin aku bertemu dengan mertua dalam kondisi pisangku sedang di masa panen,” ucap Purwasaga di dalam hati. Dia panik.
“Kenapa, Rungga Muda?” tanya Hanghang heran karena melihat reaksi Purwasaga.
“Ti-tidak,” jawab Purwasaga tergagap. “Tapi itu, makananku sudah ada.”
Purwasaga menunjuk meja yang di atasnya masih terhidang banyak makanan yang satu pun belum tersentuh olehnya.
“Mohon maaf, Rungga Muda. Aku hanya menyampaikan saran. Lebih baik Rungga Muda memenuhi undangan Rungga Waka Wakar karena Rungga benci jika undangannya ditolak. Aku khawatir Rungga Muda dijebloskan ke penjara,” kata Hanghang.
Terbeliak Purwasaga mendengar itu.
“Bukankah aku menantunya?” tanya Purwasaga.
“Penolakan itu akan menjadi aib bagi Rungga Waka Wakar. Akan menjadi perkara memalukan jika sampai penolakan itu diketahui oleh orang lain. Kedudukan menantu tidak akan lebih tinggi dibandingkan kehormatan. Seperti itu, Rungga Muda,” jelas Hanghang.
Manggut-manggut Purwasaga sambil berpikir dalam waktu yang sempit itu.
“Baiklah, aku akan memenuhi undangan Rungga Waka Wakar. Tapi, bisakah kau mengambilkan untukku tali kecil?” kata Purwasaga setelah menemukan ide di dalam kepalanya.
“Baik,” ucap Hanghang.
Hanghang lalu menunduk dan berbalik pergi untuk mengambilkan tuan mudanya tali.
Singkat cerita, Hanghang datang lagi dengan membawa seutas tali kecil setebal lidi.
“Tunggulah sebentar di luar!” perintah Purwasaga.
Hanghang patuh. Ia pergi menunggu di luar kamar tanpa penasaran tentang tali akan digunakan untuk apa.
Ternyata, Purwasaga menggunakan tali itu untuk mengikat kejantanannya yang tegak sempurna, lalu ditarik ke dalam selangkangan. Bagian tali yang lain diikat melingkar di pinggang. Dengan trik cerdas itu, maka penampilan celana Purwasaga menjadi aman.
Setelah merasa aman, barulah Purwasaga pergi mengikuti Hanghang menuju ke ruang makan.
Terperanga Purwasaga saat tiba di ruang makan yang besar dan lapang. Ternyata peserta acara makan tersebut ada lebih dua puluh orang, terdiri dari laki-laki dan wanita, terdiri dari tua dan muda, terdiri dari berbagai macam warna rambut.
Purwasaga tidak tahu yang mana mertuanya karena dia memang belum pernah dipertemukan. Yang dia alami adalah tahu-tahu telah menikah dan menjadi suami, setelah itu dia langsung dihajar di ranjang pengantin sampai berdarah-darah.
Sebuah meja makan bundar raksasa. Itulah yang dihadapi oleh puluhan orang yang telah duduk di kursinya masing-masing. Semuanya berpakaian rapi dan bagus-bagus. Di atas meja tertata rapi berbagai macam jenis makanan yang terlihat indah penyajiannya dan lezat penampilannya. Meja itu memiliki tiga tingkat. Tingkat pertama adalah meja tempat piring dan minuman setiap peserta. Tingkat kedua adalah makanan berjenis daging-dagingan binatang darat dan udara. Tingkat ketiga adalah makanan berjenis daging-dagingan hewan laut dan buah.
Meja tingkat dua dan tiga bisa diputar.
Di belakang kursi-kursi makan ada berdiri para pelayan wanita berseragam warna kuning kulit pisang. Rumusannya satu pelayan siap melayani dua peserta makan.
Kedatangan Purwasaga membuat semua yang telah duduk menghadapi meja makan raksasa itu menengok memandang kepadanya.
Karena dipandangi oleh semua yang hadir, Purwasaga segera berhenti dan menjura hormat ala negerinya.
“Hormatku kepada semua yang hadir. Aku harap semua bisa memaklumi diriku yang belum banyak tahu tentang tata krama di negeri ini!” ucap Purwasaga lantang sambil turun berlutut satu kaki, kepala menunduk dan kedua telapak tangan bertemu di depan dahi.
“Kepada semua tamu, aku perkenalkan suami putriku Lintha, namanya Purwasaga. Semua bisa melihat bahwa dia seorang lelaki manusia!” seru satu lelaki dengan lantang.
Perkenalan yang dilakukan itu membuat Purwasaga setengah mendongak untuk melihat sosok lelaki yang memperkenalkannya kepada para tamu.
Sosok itu seorang lelaki bertubuh sedang seperti Purwasaga adanya. Rambutnya biru dan kumis tebalnya berwarna merah gelap. Pakaian merah terangnya bagus dengan asesoris emas yang tidak berlebihan. Garis wajahnya menunjukkan usianya berkisar enam puluh tahun lebih.
Purwasaga langsung menyimpulkan bahwa itulah Rungga Waka Wakar, yang sempat dia dengar adalah Pengusaha Dunia Elindra.
“Sembah hormatku kepada Rungga Waka Wakar!” ucap Purwasaga lagi demi menunjukkan bahwa dia mengenal ayah mertuanya.
“Bangunlah, Purwasaga. Kau telah menjadi Rungga Muda Keluarga Waka Wakar. Tidak sepatutnya kau berlutut seperti itu,” kata Waka Wakar.
Purwasaga segera bangkit berdiri.
“Silakan!” ucap Waka Wakar sambil tangannya mempersilakan menantunya untuk duduk di kursi yang kosong.
“Baik,” ucap Purwasaga.
Purwasaga pergi ke kursi yang di sebelahnya ada duduk seorang wanita bertubuh tinggi dan besar. Rambutnya biru terang dengan mata lebar yang indah. Meski usianya sudah matang, wanita itu sangat cantik. Dia tersenyum lembut kepada Purwasaga.
“Wanita ini pasti ibunya Lintha,” terka Purwasaga di dalam hati karena wajah wanita itu memang mirip dengan Lintha.
Wanita itu duduk di sisi kiri Waka Wakar.
“Lalu di mana Lintha?” tanya seorang lelaki lain. Suaranya terdengar berat.
Pertanyaan itu membuat Purwasaga memandang si penanya yang merupakan lelaki berbadan gagah, meski usianya seumuran dengan Waka Wakar. Lelaki berbadan kekar itu memiliki rambut kuning terang. Pupil matanya besar.
Terkejut Purwasaga saat memandang lelaki gagah itu. Yang membuat Purwasaga terkejut adalah gadis cantik yang duduk di sisi kanan lelaki itu. Gadis berambut keriting warna kuning tersebut tidak lain adalah Azhmar yang berwajah dingin.
Lelaki berambut kuning di sisi kiri Azhmar adalah Rungga Zamar, ayah dari Azhmar. Tokoh yang menjadi penanggung pertama Purwasaga. Namun, sebelumnya Purwasaga belum pernah bertemu dengan ayah Azhmar.
“Putriku memiliki kegemaran menonton Pertarungan Darah Biru. Dia tidak suka acara-acara resmi seperti ini,” jawab Waka Wakar. “Rungga Zamar, silakan membuka acara makan besar ini.”
“Baiklah, seluruh Rungga dan orang-orang yang bersama,” kata Rungga Zamar kepada semua hadirin yang duduk di kursi. “Mari kita memulai makan dengan menyebut tiga nama leluhur kita masing-masing.”
Maka, serentak semua orang menundukkan wajah, lalu bibir mereka melafaz samar nama-nama leluhur mereka yang sudah mati. Masing-masing menyebut tiga nama. Setelah itu, tanpa menunggu komando lagi, mereka memulai aktivitas makan.
Purwasaga hanya bisa bingung. Untuk sementara ia mengamati cara makan Bangsa Penjaga Biru itu. Dia tidak mau bertindak tidak peduli yang bisa-bisa membuatnya justru melakukan kesalahan di depan para tamu. (RH)
hahhhh