Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi harinya, Rico dipanggil oleh ayahnya untuk datang ke ruang kerja. Di sana sudah ada Angga beserta dua orang pengawal pribadi Anton.
Rico masuk dengan tenang, lalu duduk berhadapan dengan Angga.
“Ada apa memanggilku?” tanya Rico singkat.
“Kamu dipanggil ke sini karena ada hal penting yang harus dibicarakan, Rico,” jawab Angga. “Aku ingin bertanya, kenapa kamu begitu keras membela Kiara—padahal dia bukan adik kandungmu?”
“Siapapun asalnya, bagiku Kiara sudah seperti adik kandung sendiri. Jadi jangan pernah melarangku untuk melindunginya,” ucap Rico tegas.
“Baiklah kalau begitu…” Angga memberi isyarat dengan pandangan kepada kedua pengawal itu.
Settt… Bugh! Bugh! Bugh!
“Sshh… Aaakkk… Sialan kalian!” Rico memegangi perutnya yang terasa perih akibat pukulan bertubi-tubi itu. Namun Anton sama sekali tidak menoleh atau peduli melihat keadaan putranya.
“Ini baru teguran kecil untukmu. Jika kamu masih terus membela Kiara, nyawamu akan melayang malam ini juga,” ancam Angga dingin.
“Jadi aku akan dibunuh sama seperti yang kalian lakukan pada Om Yuda?”
Mendengar nama itu disebut, Anton seketika menoleh tajam ke arah Rico. Ia lalu berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapan putranya.
“Jadi… kamu sudah mengetahui rahasia itu?” desis Anton pelan namun penuh tekanan.
Rico tertawa sinis. “Hahaha… Ya, aku tahu semuanya! Aku tahu segala rahasia dan rencana busuk kalian, Papa. Seandainya malam itu aku tidak datang ke depan kamar kalian, mungkin sampai saat ini aku masih hidup dalam kebodohan dan ketidaktahuan,” jawabnya lantang.
“Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Berusaha menghentikan kami saat kami akan menyingkirkan Kiara begitu ia tahu kebenaran?” tantang Anton.
“Dan apa yang akan Papa lakukan jika sampai Kiara mengetahui semuanya?” tanya Rico balik.
“Membunuhnya,” jawab Anton singkat dan tanpa ragu.
Jawaban itu membuat Rico terdiam membeku. Artinya, nyawa Kiara benar-benar berada dalam bahaya besar. Mau tidak mau, ia harus menyimpan rahasia itu rapat-rapat demi keselamatan adiknya.
“Kenapa diam? Takut nyawa adik kesayanganmu melayang juga?” sindir Angga.
Rico memejamkan mata, menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berdiri dan berjalan meninggalkan ayah serta kakaknya di ruangan itu.
“Hei, mau ke mana kamu?!” seru Angga hendak menahan, namun Anton mengangkat tangan melarangnya.
“Biarkan dia pergi,” perintah Anton. Angga pun menurut dan tidak berusaha mengejar lagi.
.
.
.
Di tempat lain, Vera bersama temannya sedang menyusun dan menelusuri data diri lengkap Anton beserta istrinya, Risma. Banyak hal yang selama ini tidak diketahui Vera tentang keluarga itu, hingga akhirnya ia menemukan dokumen lengkap mengenai latar belakang Anton.
“Nama lengkap: Anthony Brata Anugerah. Lahir di Australia, 13 Februari 1980. Menikah tahun 1992 dengan Rismawati Sukaesih. Anak pertama bernama Angga… Tapi aneh, umur Angga sekarang tiga puluh tahun. Kalau dihitung, masa ia lahir saat ayah ibunya baru menikah? Siapa sebenarnya Angga? Dan siapa pula wanita bernama Risma ini?” gumam Vera penuh tanya.
“Kamu sudah dapat datanya, Ver?” tanya temannya. Vera hanya mengangguk sambil terus menatap layar.
“Hati-hati saja, ya. Dulu Ayahku pernah bilang, Pak Anton itu orang yang sangat licik dan penuh tipu daya,” ucap temannya lagi. Vera menoleh dan menatap wajah Anton dalam foto itu.
“Kamu tahu banyak soal dia?” tanya Vera.
“Sedikit, tapi kita harus gali lebih dalam lagi. Banyak hal yang terasa janggal dari hidupnya. Bahkan kakekku sampai harus diberhentikan dari jabatannya sebagai kepala kepolisian hanya demi mencari bukti kecelakaan yang menimpa Pak Prasetyo, ayah mereka,” jelasnya.
“Yang sabar ya, nanti semuanya pasti terbongkar dan keadilan akan tercapai. Tenang saja,” hibur Vera sebelum kembali membaca data itu.
“Anthony memiliki kakak kandung bernama Yuda Brata Anugerah. Ayah mereka bernama Prasetyo Anugerah, dan ibu mereka Amira Larasati Diningrat… Wah, masih ada garis keturunan bangsawan ternyata.”
“Pak Prasetyo meninggal dunia tahun 1996, tepat saat kelahiran Rico Hanzel Hendrawan. Kenapa nama belakangnya tidak sama dengan keluarga itu? Lalu Yuda menikah setahun setelah ayahnya meninggal, tepatnya tahun 1997, dengan wanita bernama Linda Arini Wijaya. Linda adalah putri kedua dari keluarga Wijaya. Nama Wijaya ini rasanya tidak asing, tapi sayangnya Yuda meninggal dalam kecelakaan yang kondisinya hampir sama persis dengan kecelakaan yang menimpa Pak Prasetyo sebelumnya. Sedangkan Linda dikabarkan menghilang bersama anaknya, dan Bu Amira kini tinggal bersama Anton.”
Vera tampak berpikir keras. Baginya, Bu Amira tidak mungkin hidup sendirian tanpa sanak saudara, terlebih dengan nama belakang Diningrat yang tertera jelas.
“Cup… Ucup…” panggil Vera.
“Ada apa, Neng?” sahut Ucup yang baru datang membawa dua gelas kopi.
“Coba kamu cari data tentang Amira Larasati Diningrat.”
“Kamu tidak tahu siapa Bu Amira itu?” Vera menggeleng cepat.
“Baiklah, mari kita cari sama-sama. Aku juga sulit menjelaskannya hanya dengan kata-kata,” ucap Ucup.
Mereka pun mulai menelusuri jejak keluarga Amira. Tak lama kemudian, Ucup menunjukkan layar laptopnya kepada Vera.
“Nah, ini dia. Baca baik-baik.”
“Amira Larasati Diningrat masih memiliki garis keturunan dari Kesultanan Hamengkubuwono IX. Wah, pantas saja dia terlihat berwibawa dan berasal dari keluarga terpandang. Ia memiliki adik laki-laki bernama Dewanto Ario Diningrat… Itu nama ayahku, lho!”
Vera menatap Ucup dengan mata terbelalak tak percaya. “Yakin nama ayahmu juga memakai nama belakang Diningrat?”
“Yakin sekali. Aku pernah melihatnya langsung di akte kelahiran ayah. Tapi selama ini Ayah tidak pernah membahas soal itu. Kalau begitu, berarti aku ini masih keponakan dari Kiara ya? Soalnya Ayah menikah sekitar tahun 1992, dan aku lahir tahun 1993…”
“Tidak kusangka kita punya hubungan keluarga sedekat ini. Kalau begitu, berarti aku selama ini menyukai wanita yang masih kerabat jauhku sendiri dong?” canda Ucup.
“Apaan sih kamu! Tidak lucu, tahu!” seru Vera kesal, namun pipinya tak bisa menyembunyikan rona merah karena tersipu.
“Sudahlah, jangan bahas soal perasaan dulu ya,” potong Vera cepat. Ucup hanya tertawa melihat tingkah Vera yang bercampur kesal dan salah tingkah.
“Kalau soal Linda, bagaimana? Ada yang ditemukan?”
“Hemm… Nama itu juga terasa sangat akrab, Cup. Linda Arini Wijaya. Kamu ingat tidak dengan perusahaan besar bernama Wijaya yang dulu sempat mendominasi pasar di Asia dan banyak memberikan bantuan dana untuk perusahaan-perusahaan kecil di seluruh Indonesia?”
“Aku pernah dengar soal itu. Tapi tak lama setelah Om Yuda meninggal dan Linda menghilang, nama Wijaya perlahan meredup lalu hilang sama sekali. Kabarnya keluarga itu bangkrut dan nama baik mereka hancur lebur, ditambah lagi dengan isu bahwa Linda kabur membawa laki-laki lain—itulah yang disebut-sebut sebagai penyebab utama keruntuhan usaha mereka.”
“Cup… Menurutmu, apakah sebaiknya aku sampaikan semua informasi ini kepada Kiara sekarang?”
“Menurutku, lebih baik ditunda dulu. Masih banyak hal yang harus kita pastikan kebenarannya. Terutama soal Risma, istri Pak Anton. Aku merasa ada sesuatu yang sangat mencurigakan dari wanita itu. Dan satu hal lagi: apakah kamu benar-benar yakin kalau Angga itu anak kandung Pak Anton? Kalau dilihat dari garis wajah, tidak ada sedikit pun kemiripan antara mereka. Justru Rico yang terlihat lebih mirip dengan Anton, dan bahkan ada sedikit garis wajah yang sangat mirip dengan Kiara—aku pernah melihat mereka secara langsung saat menghadiri acara amal beberapa waktu lalu.”
“Karena itu, sebaiknya kita selidiki dulu siapa sebenarnya Risma itu,” usul Vera. Ucup pun mengangguk setuju.
“Benar. Dan langkah selanjutnya, kita harus mengawasi pergerakannya. Ke mana pun ia pergi, kita harus tahu.”
“Tapi aku takut kalau sampai ketahuan…”
“Tenang saja. Aku punya cara sendiri untuk mengawasi tanpa diketahui.”
“Yakin kamu bisa?”
“Percayalah padaku.”
“Baiklah kalau begitu, Cup.”
Bersambung