Bagaimana jika menderita Hypnophobia? Yaitu sebuah ketakutan untuk tidur.
Hingga akhirnya menjadikan seorang wanita bernama Azalea Bloom menjadi seorang workaholic karena begitu takut dengan tidur.
Kedatangan Julian Kingsford di apartemennya, membuat dia cukup merasa aman dan nyaman karena akhirnya dia bisa tertidur nyenyak setelah cukup lama mengalami hal ini.
SETTING LUAR NEGERI (jangan samakan dengan budaya indo ya.. yg ga suka di skip aja)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Lea
Lea masih terlihat sangat galau karena terlalu banyak pikiran-pikiran buruk di dalam otaknya.
"Lea, pikirkanlah ini dalam semalam. Besok kami akan ke sini lagi," ucap Lane dengan mengusap punggung tangan Lea.
"Di mana Lyra?" tanya Lea menanyakan adiknya.
"Lyra sudah pindah terlebih dulu karena dia langsung masuk asrama kampus," jawab Lane.
Dan sampai sekarang, Lea heran mengapa hanya dirinya yang diserang dan bukan orang lain di rumahnya. Tapi itu bukan berarti Lea ingin keluarganya diserang oleh pria jahat itu, tapi itu adalah hal yang janggal menurutnya.
Dan setiap dia mengatakan hal itu pada kedua orang tuanya, mereka selalu bilang bahwa pria itu menyerang secara random dan tak pernah memikirkan siapa yang akan diserangnya.
Lalu mengapa kedua orang tuanya khawatir jika pria itu memang tak mengenal Lea karena Lea adalah korbannya dipilihnya secara random.
Bukankah itu berarti seharusnya kebebasan pria itu tak akan berpengaruh pada Lea?
"Lea," panggil Lane ketika melihat Lea melamun.
Lea tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah ibunya.
"Baiklah, aku akan memikirkan hal ini. Beri aku waktu," jawab Lea akhirnya.
"Oke, kami pergi dulu. Kami ada di rumah Paman Albert, jadi hubungi kami nanti," sahut Leonard.
Lea mengangguk lalu sang ibu memeluk tubuhnya dengan cukup erat.
"We love you, Honey," bisik Lane.
"I love you both," jawab Lea.
Lalu kedua orang tua Lea pun pamit pergi dari sana. Julian masih tetap ada di kamarnya dan kini terlihat keluar dari walk in closet.
Di saat bersamaan, Lea pun masuk ke dalam kamar. Julian melihat ke arah Lea yang wajahnya tampak suram.
"Hei, bagaimana tadi?" tanya Julian yang menghampiri Lea.
"Aku belum tahu. Aku bingung," jawab Lea lemas.
Julian memeluk Lea dan mengusap punggungnya.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Julian.
Lea tak langsung menjawab.
"Kita bersahabat, bukan? Setidaknya ceritakan padaku apa yang membuatmu bingung. Mungkin aku bisa mencarikan solusinya," kata Julian.
Lalu Julian melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Lea.
"Ada apa?" tanya Julian.
Lea menatap mata tajam Julian dan ingin membagi kegalauannya pada pria itu. Tapi ia masih ragu.
"Lea," panggil Julian memutus lamunan Lea.
"Kau tahu tentang penyakit anehku, bukan? Dan penyebab dari semua itu sudah bebas. Pria itu baru keluar dari penjara dan orang tuaku takut jika pria itu kembali menyerangku," jawab Lea akhirnya.
Julian mengerutkan keningnya.
"Jadi maksudmu pria itu kembali mencarimu? Siapa pria ini?" tanya Julian.
"Aku tak tahu, dia menyerangku di saat aku masih remaja dan di dalam kamarku. Dia ingin membunuhku, Julian. Tapi aku tak tahu alasannya. Aku benar-benar tak tahu. Dan peristiwa itu membuatku trauma begitu dalam hingga hampir saja membuatku depresi. Orang tuaku tak mau hal itu terjadi lagi," jawab Lea yang menjelaskannya secara singkat.
"Oh my God ...," sahut Julian dan kembali memeluk Lea.
"Apa yang pria itu lakukan padamu?" tanya Julian.
"Dia menyerangku dan ingin membunuhku. Aku bahkan tak mengenalnya sama sekali. Dan dia hanya menyerangku di rumah kami. Polisi bilang dia hanyalah seorang psikopat yang menyerang korbannya secara random," jawab Lea.
Julian terdiam dan masih memeluk Lea dan kini pelukannya semakin erat.
"Bagaimana perasaannu saat ini? Kau masih takut padanya?" tanya Julian.
"Aku tidak tahu. Apa yang harus kulakukan, Julian?" tanya Lea.
"Kau akan aman bersamaku, Lea. Aku jamin hal itu. Kau akan selalu aman bersamaku jika itu yang kau takutkan," jawab Julian.
gntung bgt kk