Hawwa Ananda Putri Abizar (Hawwa) Gadis yang baru duduk di Kelas 12 memaksa menikahi Sepupu nya, Juliandra Adam Elvano.(Adam) CEO perusahaan minyak terbesar di negara nya, Meski mendapatkan banyak pertentangan, dengan segala cara akhirnya Adam menyetujui untuk menikahi nya namun hanya sebatas Istri sirri nya saja, karena ada Cinta yang lain di hati Adam.
"Aku selalu berharap bisa menjadi bunga dalam genggaman mu, yang bisa kau petik lalu kau sunting, meski aku sadari ada bunga yang lain dalam dekapanmu, walau aku tahu suatu saat aku akan tercampakkan begitu saja seperti cermin retak yang tak berharga," Hawwa.
"Hadirmu selalu ku hindari, Cintamu tak pernah ingin kumiliki, namun kepergianmu membuatku menyadari Ada ikrar suci yang tak bisa aku ingkari," Adam.
"Ya Allah, jika dia benar-benar untuk ku, dekatkan hatinya dengan hatiku, jika dia bukan milikku damai kan aku dengan ketentuanmu," Hawwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chacha shyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 tahun.
"Sayang, sudah berapa kali Mama bilang, kamu jangan mengingat kejadian yang sudah lama berlalu, bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk pergi?" Alyssa memeluk tubuh ringkih sang putri yang tengah duduk di kursi roda. Hanya bulir bening yang membasahi bahunya tanpa ada suara isakan.
"Hawwa sayang, apa kau kembali merasa sesak?" wanita cantik yang terlihat kurus dan pucat itu hanya bisa mengangguk kan kepalanya pelan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kenapa kau terus menyiksa dirimu seperti ini, apa kau sangat merindukan Adam? apa kau ingin bertemu dengannya?" Hawwa kembali mengangguk dan menggelengkan kepala secara bersamaan sebagai sebuah jawaban.
Ya, 5 tahun sudah Hawwa tak melihat ataupun mendengar suara Adam sama sekali, semenjak ia memutuskan untuk pergi menjauh dari negaranya.
Meninggalkan orang-orang yang pernah memberinya luka, dan juga orang-orang yang memberinya cinta.
"Dengarkan Mama sayang, sudah cukup kamu bersembunyi selama ini, apa kau tidak ingin datang ke pernikahan Alaya? ya! Hawwa, Alaya akan menikah, semalam Dia menelpon Mama untuk datang, dan bukan saja Alaya yang akan menikah tapi Adam juga akan menikah." Mendengar kalimat terakhir sang mama, membuat Hawwa mengurai pelukan sang Mama.
"Adam akan menikah?" hanya itu pertanyaan yang terlontar dari bibirnya.
"Ya! Adam akan menikah, tapi Mama tidak tahu kapan dan dengan siapa, hanya saja untuk saat ini mereka akan bertungan terlebih dahulu. Jika kau ingin mencegahnya cegahlah, Mama akan mendukungmu, sudah cukup kau berkorban untuk nya, sampai kapan kau akan bersembunyi darinya bahkan kau memalsukan kematianmu hanya untuk menjauh dari Adam," Sang Mama menatap lekat raut wajah cantik namun nampak semakin tirus itu.
"Ma... Aku tidak akan mencegah pernikahan kak Adam lagi, untuk apa juga aku mencegahnya, apa Mama sangat ingin aku kembali lagi dengan Kak Adam? aku rasa itu tidak mungkin, semuanya sudah berubah tak mungkin seperti sedia kala, biarlah aku tetap dalam kenangannya saja, aku sudah berjuang selama 3 tahun untuk melawan semuanya, dan dalam dua tahun ini aku sudah belajar untuk bangkit dari segalanya keterpurukan ku, jika Mama ingin pulang maka pulanglah, biarkan Hawwa disini sendiri, kasihan Papa, Mama sudah lama meninggalkan nya." Semenjak Hawwa meninggalkan Adam sang Mama memang selalu menemaninya dan sekarang ia sudah bisa di tinggal, untuk itulah ia akan meninggal kan Hawwa meski dengan berat hati.
"Sayang apa kau tidak apa-apa Mama tinggalkan?" Alyssa menatap iba pada sang putri.
"Ma... bukankah ada Kak Daniel yang akan bersamaku, tunggu dulu, Mama bilang Alaya ingin menikah, bukankah Alaya__" Hawwa menjeda kalimatnya di saat mengingat sesuatu.
"Dimana Kak Daniel Ma?" Hawwa yang bertanya sibuk mencari sosok wajah yang menemaninya selama ini.
"Apa kau mencariku?" cicit seorang pria tampan dengan tubuh yang kekar berototnya. "Apa kabar Ma...?" tanya lelaki yang bernama Daniel itu.
"Baik... kabar mama sangat baik" Jawab Alyssa.
"Kalau begitu Mama pergi dulu silahkan kalian berbicara," pamit Alyssa yang di angguki keduanya.
"Kak Daniel, kau dan Alaya?" Daniel duduk tepat di depan Hawwa. Namun tatapannya lurus kedepan menatap deburan ombak yang saling berkejaran, karena kebetulan mereka berada di villa yang berdekatan dengan pantai yang begitu indah.
"Jangan pernah tanyakan hal itu, jika kau hanya ingin membuatku mengingat masa lalu yang ingin aku lupakan, antara aku dan Dia hanyalah sebuah kisah, bahkan ceritanya belum di mulai" Daniel menarik napas dengan kasar, lalu tatapan matanya beralih menatap Hawwa.
"Lalu kau sendiri bagaimana? Aku tahu kau tidak akan pernah bisa melupakannya, meski kau sudah mati-matian mengatakan tidak, namun hati kecilmu tidak akan pernah mendustai kenyataan, jika kau sampai detik ini masih menantinya," Hawwa hanya tersenyum getir mendengar ucapan Daniel.
"Kau itu lucu sekali Kak, jika aku menginginkannya lalu untuk apa aku memalsukan kematianku, dan jika itu pun benar adanya maka aku__"
"Maka kau tidak akan pernah memilih untuk sendiri selama 5 tahun ini, kau sangat mencintai nya untuk itulah kau sanggup terluka dan bertahan hingga saat ini iyakan?" Daniel menjeda kalimat Hawwa hingga membuat wanita itu langsung terdiam.
"Matamu tidak bisa berdusta, aku bisa melihat semuanya. Hawwa... sampai kapan kau akan terus seperti ini, apa kau tidak kasihan pada kedua orang tuamu? aku tahu kebahagiaan mereka terletak pada kebahagiaanmu juga," Hawwa hanya tertunduk menahan sesaknya karena semua yang di katakan Daniel benar adanya.
"Tapi kak, kau tahu keadaanku saat ini, Aku bukanlah Hawwa 5 tahun yang lalu, lihatlah aku sekarang ini, bahkan dokter pun tak bisa men diaknosa penyakit yang ada pada tubuhku," ya 2 tahun belakangan ini tubuh Hawwa bukannya membaik namun semakin hari tubuhnya semakin kurus, membuat Mama dan Papanya begitu kwatir, namun dokter mengatakan kalau Hawwa baik-baik saja.
"Apa kau tahu Hawwa bukan penyakit yang membuatmu seperti ini, tapi ini." Daniel mencoba meraih tangan Hawwa lalu meletakkannya di dada wanita itu, Hawwa hanya terdiam menikmati deburan ombak dan hembusan angin laut yang menerpa kulit wajahnya, dengan perasaan yang susah ia gambarkan tentunya.
"Ada kabar jika dua tahun lalu Adam mengalami kecelakaan, entah karena apa, dan maaf aku baru memberitahukan nya padamu hari ini," mendengar ucapan Daniel itu Hawwa langsung mengalihkan pandangannya dengan ekpresi terkejut, Ia ingin sekali memarahi Daniel kenapa baru menyampaikan berita tersebut, namun Ia pun kembali sadar saat mengingat jika Ia lah yang memutuskan untuk tidak ingin mendengar berita apa pun dari mantan suami siri nya itu.
"Dan kabarnya jika Adam sekarang hilang ingatan,"
"Bawa Aku kembali," timpal Hawwa menatap lurus dengan wajah yang berubah datar.
"Apa maksudmu?" tanya Daniel binggung.
"Bawa Aku kembali ke Indonesia," Mendengar itu semua Daniel pun tersenyum tipis, Dia benar-benar tidak percaya jika Hawwa yang kekeh tak pernah ingin menginjakkan kaki ke negaranya itu bisa begitu cepat mengambil keputusan untuk kembali di saat mendengar berita tentang lelaki yang di cintainya namun telah banyak menoreh luka di hatinya.
Daniel hanya ingin Hawwa kembali bisa tersenyum bahagia, dan bisa benar-benar mendapatkan kebahagiaan nya kembali, hanya dengan kembali ke negaranya lah Hawwa akan menemukan kebahagiaan nya kembali untuk itulah Ia sudah mengatur semuanya, bukan tanpa alasan Ia melakukan semua itu, Ia sudah berjanji dengan seseorang untuk membawa Hawwa kembali dengan cara apapun, untuk itulah Ia begitu bahagia di saat mendengar Hawwa mengambil keputusan untuk kembali.
"Apa kau yakin dengan keputusan yang kau ambil?" cecar Daniel kembali dengan sebuah pertanyaan, bukan tanpa alasan Ia menanyakan kembali, karena Ia tidak ingin jika ke inginkan Hawwa mengurungkan niatnya itu.
"Tentu saja, apa aku pernah berbohong padamu?" jawab Hawwa mantap.
ada setangkai mawar utk mu