Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Ko Yan
"Cuma teman keluarga?"
Yu mengulang kalimat itu setelah Zhen masuk kamar untuk menerima telepon dan Burger sibuk menggigit mainan di ruang tengah. Lily duduk di meja makan, memutar sedotan boba yang sudah kosong, wajahnya berusaha terlihat biasa.
Gagal total.
"Iya," kata Lily. "Seng dan Wen itu sahabat keluarga. Dari kecil kami sering ketemu. Imlek, ulang tahun, acara hotel, segala macam."
"Makanya kamu panggil dia Ko Yan?"
"Semua orang juga begitu."
"Aku tidak tanya semua orang."
Lily menatap Yu. "Lo sekarang pintar interogasi ya sejak tinggal sama Pangeran Sim."
"Jangan alihkan."
Lily menghela napas panjang, lalu bersandar di kursi. "Oke. Yanrick itu anak teman Papa. Dulu waktu kecil, orang tua kami sering bercanda, 'Yan jagain Lily ya, kamu kan koko-nya.' Jadi semua kebiasaan terbentuk begitu. Dia Ko Yan. Aku Lily. Selesai."
"Selesai?"
"Harusnya."
Satu kata itu menggantung.
Yu tidak mendesak. Ia tahu bentuk suara orang yang sedang menahan sesuatu. Selama ini Lily selalu menjadi orang yang menyerbu masalah orang lain dengan sepatu perang, tetapi ketika masalah itu miliknya sendiri, ia mendadak memakai pintu besi.
Ponsel Lily bergetar lagi.
Nama yang sama.
Ko Yan.
Lily membalik ponsel menghadap meja.
Yu menaikkan alis.
"Dia cerewet," kata Lily.
"Kamu belum baca."
"Aku sudah tahu isinya."
"Apa?"
"Pasti nanya aku di mana, pulang jam berapa, jangan naik ojek sendirian, jangan minum boba kebanyakan, jangan ganggu Yu sampai lupa makan."
Yu menahan senyum. "Detail sekali untuk teman keluarga."
"Dia memang begitu ke semua orang."
Pintu unit tiba-tiba berbunyi.
Ting tong.
Lily menegang.
Yu melihat pintu, lalu Lily. "Jangan bilang..."
Zhen keluar dari kamar utama pada saat yang sama, ponsel masih di tangan. Ia melihat layar interkom, lalu menekan tombol buka tanpa ekspresi.
"Yan."
"Kenapa kamu bukakan?" Lily langsung berdiri.
Zhen menatapnya. "Karena dia di bawah."
"Bisa suruh pulang."
"Dia membawa makanan."
Lily memejamkan mata. "Tentu saja."
Beberapa menit kemudian, Seng Yanrick masuk dengan dua kantong besar makanan dan wajah orang yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Halo, keluarga kecil starter pack," katanya.
Yu tersedak udara. Lily langsung melempar bantal kecil dari sofa.
Yan menangkapnya dengan satu tangan. "Wah, masih galak. Berarti sehat."
"Ngapain ke sini?" tanya Lily.
"Nganter makanan."
"Aku nggak minta."
"Gue tahu. Kalau nunggu lo minta, lo sudah masuk angin duluan."
Zhen mengambil satu kantong dari tangan Yan. "Taruh di meja. Jangan injak karpet dengan sepatu."
Yan menatapnya. "Bro, gue datang bawa makanan, bukan lumpur."
"Sepatu tetap di luar."
"Ini kenapa semua orang di rumah ini galak?"
"Karena kamu datang tanpa izin," kata Zhen.
Yan membuka sepatu sambil menggerutu, tapi ia tetap melakukannya. Lalu ia menaruh makanan di meja. Ada bakmi, pangsit goreng, dan satu kotak kecil berisi bubur kacang hijau.
Lily melihat kotak terakhir itu.
Wajahnya berubah sangat cepat, hampir tidak terlihat kalau Yu tidak sedang memperhatikan.
"Aku nggak suka bubur kacang hijau," kata Lily.
Yan menatapnya. "Sejak kapan?"
"Sejak sekarang."
"Lil, waktu kecil lo bisa nangis kalau nggak dibeliin ini di depan gereja dekat rumah Oma."
Lily membeku.
Yu menurunkan pandangan ke meja, pura-pura sibuk membuka sumpit. Detail sekecil itu tidak terdengar seperti memori seorang kakak keluarga biasa. Terlalu spesifik. Terlalu disimpan.
Zhen duduk di kursi seberang, melihat Yan dengan ekspresi datar yang bagi Yu sekarang mulai berarti: kamu terlalu jelas.
Yan sendiri seperti baru sadar ia bicara terlalu banyak. Ia berdeham.
"Maksud gue, dulu. Selera orang berubah."
"Iya," kata Lily cepat. "Berubah."
Mereka makan dengan suasana yang aneh.
Yan biasanya ramai, tapi malam itu setiap kali Lily mengambil makanan, matanya mengikuti. Ketika Lily hampir menuang sambal terlalu banyak, Yan langsung mendorong gelas air ke dekatnya.
"Jangan kebanyakan. Lambung lo nanti protes."
"Ko Yan, aku bukan anak kecil."
"Gue nggak bilang lo anak kecil."
"Nada lo bilang."
"Nada gue memang begini dari lahir."
"Kasihan lahirmu."
Yu menunduk, menggigit pangsit agar tidak tertawa.
Zhen, yang biasanya paling cepat memotong keributan Yan, kali ini membiarkan. Bahkan ia tampak sedikit menikmati pertunjukan itu.
Setelah makan, Lily bersikeras pulang sendiri.
"Aku pesan taksi online," katanya sambil berdiri.
Yan juga berdiri. "Gue antar."
"Nggak perlu."
"Malam."
"Baru jam sembilan."
"Jakarta tetap Jakarta jam sembilan."
"Ko Yan."
Cara Lily menyebut nama itu berbeda. Bukan marah penuh, bukan manja, tapi sesuatu di antaranya. Yu melihat Yan berhenti setengah detik, seolah panggilan itu mengenai tempat yang tidak ia tunjukkan.
"Lil," katanya lebih pelan, "jangan pulang naik mobil orang asing kalau gue bisa antar."
"Kamu bukan supirku."
"Bukan."
"Bukan kakakku juga."
Kalimat itu membuat udara ruang tengah berhenti.
Yu menatap sumpit di tangannya. Zhen menurunkan gelas pelan tanpa suara.
Yan menatap Lily. Wajahnya masih santai, tapi matanya berubah.
"Gue tahu," katanya.
Dua kata itu terlalu rendah untuk sekadar jawaban biasa.
Lily seperti menyesal telah mengatakannya, tapi gengsinya menahan ia menarik kembali kalimat itu. Ia mengambil tasnya.
"Aku pulang."
Yan mengambil kunci mobil dari saku. "Gue antar sampai lobby kampus lo kalau itu bikin lo merasa lebih aman. Setelah itu terserah."
"Aku nggak tinggal di kampus."
"Maksud gue lobby apartemen."
"Kamu panik sampai salah ngomong."
"Karena lo keras kepala."
Lily menatapnya, lalu akhirnya menyerah dengan suara kecil. "Fine."
Yan langsung mengambil kantong donat kosong dan membuangnya dulu, seolah perlu melakukan sesuatu dengan tangan agar tidak terlihat terlalu lega.
Di depan pintu, Lily menoleh kepada Yu.
"Besok gue telepon."
Yu mengangguk.
Yan membuka pintu, lalu menunggu Lily keluar lebih dulu. Saat Lily melewatinya, tangan Yan bergerak sedikit, seperti ingin menyentuh punggungnya untuk menjaga jarak dari kusen, tetapi ia menahan diri tepat sebelum menyentuh.
Gerakan kecil itu tidak lolos dari mata Yu.
Pintu tertutup.
Unit kembali sunyi.
Zhen mengambil piring kotor. "Sudah lihat?"
Yu menoleh. "Apa?"
"Orang yang bilang cuma teman keluarga biasanya paling tidak terlihat seperti teman keluarga."
Yu menatap pintu yang baru tertutup.
Di kepalanya, kalimat Lily terulang.
Bukan kakakku juga.
Dan entah kenapa, Yu merasa cerita di rumah ini baru saja bertambah satu rahasia lagi.