Nadine adalah seorang wartawan yang gigih dan nekat meskipun dia memiliki fisik yang lemah. Kenekatan itu membawanya untuk meliput sebuah kasus besar dan berbahaya yang naasnya keberadaan gadis itu dicium oleh para penjahat yang dia liput. Dalam keadaan terdesak, Nadine memutar otaknya agar tidak ketahuan, yaitu dengan cara mencium sosok lelaki yang tiba-tiba muncul di depannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raja Iblis yang tengah menjalankan misi di dunia manusia.
Nadine pikir pertemuannya akan berakhir setelah Elliot, si Raja Iblis pergi, namun takdir berkata lain Raja Iblis yang anti manusia itu terus mendekati Nadine. Pertemuan mereka seperti benang merah yang terhubung di antara benang-benang kusut, berkesinambungan dengan cara yang tidak biasa.
Apa yang dimiliki Nadine hingga sang Raja Iblis terus mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shamrock, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXIII NIGHTMARE
Setiap orang memiliki ritual pagi di hari libur begitupun dengan Nadine. Pada hari libur dia akan bangun lebih pagi dari biasanya untuk menciptakan resep-resep aneh ataupun lucu yang dia temukan di yourube ataupun pinterest. Seperti yang dia lakukan pagi ini, gadis itu baru saja melucuti kelopak mawar merah untuk dia jadikan sebagai bahan makanan utama.
Bagi sebagian orang itu adalah hal yang aneh karena sejak kapan bunga yang katanya melambangkan cinta itu beralih fungsi menjadi bahan makanan, tapi bagi Nadine itu adalah hal wajar. Semua hal bisa menjadi bahan makanan asal diolah dengan benar … ya itu hanya pemikiran dari orang yang suka makan seperti Nadine.
Bunyi oven berdentang menadakan pie mawar Nadine sudah selesai dibuat dan siap untuk mulai dinilai oleh lidahnya dan lidah—
“Ailleen! Bangun! Aku membuat resep baru yang akan membuatmu tercengang.”
Aileen.
Nadine selalu berkreasi dan Aileen akan menjadi jurinya. Gadis itu sering memberikan masukan pada Nadine apa yang perlu Nadine tambahkan atau kurangi dalam memasak padahal dia sendiri tak pernah benar-benar bisa memasak. Namun, anehnya setiap ucapan Aileen yang diterapkan ada benarnya oleh karena itu alih-alih meminta orang lain yang tak bermulut tajam Nadine lebih sering meminta Aileen untuk mengkritiknya, tapi menghabiskan seluruh masakannya.
“Dasar kukang!” Nadine kesal karena beberapa kali dia memanggil Aileen gadis itu tak kunjung menjawabnya.
“Wake up you lazy ***!” Nadine membuka paksa pintu kamar Aileen, tapi si coklat tak menemukan Aileen di dalamnya dan seketika ingatan tentang hari kemarin keluar dari lemari penyimpanan.
“Ah iya dia dijemput ayah dan saudaranya,” lirih Nadine penuh kekecewaan.
Gadis itu kembali ke meja makan dan duduk sejenak memandang pie yang tak akan pernah mendapat penilaian dari Aileen. Helaan napas terdengar diikuti senyum palsu sang scorpio.
Kepergian Aileen terlalu mendadak, seolah dia merencakan sesuatu tanpa mengajaknya. Hampa dapat Nadine rasakan, menutupi segala pertanyaan mengenai Aileen.
Namun, satu hal yang pasti, Nadine tidak menyadarinya. Pantas saja Aileen tidak pernah tidur, itu karena dia makhluk immortal seperti Elliot. Pantas saja Aileen seperti menyia-nyiakan hidupnya dengan kerja serampangan, karena bagi Aileen pasti hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dia perjuangkan.
Sepi dan aneh rasanya kehilangan ceramah dari Aileen.
“Sekarang aku tak perlu berbagi dengan Aileen.” Meskipun diiringi dengan senyuman, tapi siapapun sadar bahwa ada kekosongan dalam ucapan itu seolah hati merasakan sebaliknya dari yang mulut katakan.
“Tapi ini terlalu banyak untukku,” monolognya.
“Serpent, kau ingin makan pie?” tanyanya pada Serpent yang sudah kembali lagi bersamanya setelah drama dengan Aileen.
“Tidak Nona.” Nadine kembali menghela napas, gadis itu memang terganggu dengan seluruh ocehan Aileen, tapi dia lebih terganggu saat Aileen tak ada.
“Kau tak makan, Aileen tak ada jadi sekarang siapa yang akan membantuku menghabiskan ini?”
“Master."
"Elliot?"
Dalam satu kedipan mata Elliot muncul tepat di depan Nadine tentu dengan penampilan yang tak jauh dari warna hitam, Nadine curiga jangan-jangan iblis memiliki aturan untuk menggunakan warna hitam saja. Ah tunggu, Cassandra tak menggunakan warna hitam, gadis itu menggunakan warna merah darah yang kontras dengan kulitnya.
"Ada apa?" tanya Elliot yang tentu saja membuat Nadine mengernyit bingung, dia baru datang dan bertanya ada apa. Bukankah harusnya yang bertanya itu Nadine? Mengapa Elliot tiba-tiba muncul di rumah orang?
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya? Sedang apa kau di rumahku?" Dari raut wajahnya Elliot tampak tak kalah bingung dengan Nadine. "Kau yang memanggilku. Jadi aku datang."
"Aku tidak--ah iya itu aku memanggilmu." Alis Elliot naik sebelah menunggu Nadine untuk menjelaskan maksudnya memanggil Elliot.
"Aku menunggu Nona Kinsley." Nadine menghala napas, Elliot jauh lebih menyebalkan dibanding Aileen. "Aku butuh teman untuk makan pie aku tak bisa menghabiskannya sendirian since Aileen gone."
"Kau tau aku tak makan." Tentu saja Nadine tahu akan hal itu, tapi beberapa kali Elliot makan bersamanya, jadi bolehkah dia bersikap egois dengan memintanya makan bersama? Tidak, Nadine tak boleh bergantung pada Elliot akan jadi masalah jika dia terbiasa dengan Elliot, dia tak pernah tahu apakah nanti Elliot akan pergi meninggalkannya seperti Aileen.
"Kau tau El, tak perlu aku bisa memakannya sendiri." Elliot tak menjawab ucapan Nadine, lelaki itu memilih untuk duduk di meja makan dan mengambil satu pie untuk dia makan.
"Kau membuat banyak untuk seorang diri, atau kau memang berencana mengundangku?" goda Elliot berusaha memperbaiki mood yang sempat memburuk.
Namun, siapa sangka godaan itu malah membawa Nadine pada sosok Aileen yang seharusnya memakan pie itu. "Ku pikir Aileen ada di rumah. Aku lupa dia sudah pulang ke dunianya." Nada bicara Nadine persis seperti orang yang sedang mengalami kekecewaan yang begitu besar bahkan napasnya pun tak segan untuk ikut menunjukkan hal itu.
"Kau marah padanya?"
"Tentu saja aku marah! Aku dan dia tinggal bersama bertahun-tahun tapi dia sama sekali tak memberitahuku kalo dia itu makhluk ah apalah itu aku tak peduli." Akhirnya Nadine memuntahkan kekesalannya tentang Aileen pada Elliot. "Kau peduli." Kalimat singkat Elliot yang tepat menyerang Nadine. Memang benar dia peduli pada Aileen.
Nadine menatap Elliot. "Apa yang kau tau tentang Aileen, Elliot? Tolong ceritakan sesuatu."
Elliot mendesah mendapati tatapan putus asa dari Nadine. Dia tidak ingin seperti penggosip, tapi sepertinya Nadine perlu tau. "Seingatku Dream, Sang Dewa Mimpi, memiliki dua anak kembar, Nightmare dan Sweet Dream. Aileen adalah Nightmare, Dewi mimpi buruk. Sweet Dream adalah Dewa mimpi indah. Seharusnya setiap mimpi yang ada di dunia ini keluarga mereka yang menciptakannya."
Nadine merenung mendengarkan, hal yang tak terduga datang bertubi-tubi. Banyak hal yang tak dia ketahui yang kini membanjiri pikiran dan perasaannya.
"Jadi, kau memang mengenalnya," Lirih Nadine.
Elliot mengusap dagunya tanda berpikir. "Hmm, bukan mengenal seperti yang kau pikirkan, aku hanya mendengar kabarnya saat kelahiran mereka."
"Tunggu-tunggu, kalau maksudmu kau mendengar kabar mereka lahir, bukankah seharusnya kau sudah tua?" Tanya Nadine kebingungan dengan logika yang coba Elliot sampaikan. "Atau kau mendengarnya saat masih kecil? Atau mereka teman bermainmu?"
Elliot tertawa sejenak mendengar penuturan Nadine, lantas berkata, "Well, hidupku tidak sesantai itu Nona Kinsley. Saat mereka lahir saat itu aku masih remaja."
"Tapi Elliot, apa kau dari awal tau dia adalah anak dari seseorang dari duniamu?" Tanya Nadine.
Elliot memicingkan matanya. "Tidak, bahkan aku menyangka dia manusia."
"Dia menyenbunyikan banyak hal ternyata," Gumam Nadine pada dirinya sendiri. Bahkan bagi Elliot pun, jawabannya tidak terduga.
Melihat wajah murung Nadine, Elliot mencomot pie buatan gadis itu.
"Aku benci temanmu itu, tapi aku harus mengatakan bahwa aku mengerti kenapa dia tak mengatakannya padamu." Nadine memfokuskan dirinya untuk mendengarkan pendapat Elliot, Setidaknya dia butuh alasan atas kebohongan paling purna yang dibuat oleh Aileen.
"Pertama, jika kau tahu dia bukan manusia kau akan menjauh darinya atau lebih buruk lagi kau membencinya." Nadine tak punya kata untuk membalas alasan pertama itu karena respon normal memang menjauh dari makhluk yang berbeda, tapi harusnya Aileen sadar bahwa Nadine bukanlah gadis normal. Lihat saja sekarang dia berteman dengan raja iblis.
"Kedua?"
"Kedua, dia dalam pelarian, aku tak tahu bagaimana ceritanya tapi kudengar anak dream pergi dan sepertinya itu teman galakmu itu." Kalimat pelarian membuat Nadine mengingat dongeng yang pernah dituturkan oleh Aileen.
“Dia tercipta sebagai pembuat sejati mimpi buruk di setiap tidur manusia."
"Hanya saja, mengetahui bagaimana mimpi buruk bereaksi sangat buruk bagi kehidupan manusia, sang Nightmare mengalami kekecewaan dan menganggap apa yang dia lakukan tidak di sukai kebanyakan manusia."
“Sejak saat itu sang Nightmare berubah, dia mencari cara untuk lepas dari fungsinya dan berhenti membuat mimpi buruk. Dream, tentu menegur Nightmare dan menjelaskan mengenai keseimbangan yang mereka jaga. Nightmare merasa perannya jauh dari kebaikan merasa jika dia tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk orang lain maka sebaiknya tidak melakukannya sama sekali. Dengan tekad sebesar itu Nightmare mulai membaca buku dari segala buku, sumber dari segala sumber, dan mulai melakukan petualangan seorang diri.
“Dia harus mendatangi raja dari segala raja iblis dan melakukan pertukaran, tetapi sebelum itu terjadi niat Nightmare diketahui oleh Dream dan itu membuatnya murka."
"Nightmare pun di kurung selama puluhan tahun.”
"****! Kenapa aku baru mengingatnya sekarang?" tanya Nadine pada dirinya sendiri setelah memutar ulang memori yang tiba-tiba saja muncul.
Sebuah cerita dongeng yang pernah Aileen ceritakan. Cerita yang tidak akan ditulis di buku manapun karena cerita itu sedang terjadi padanya. Seharusnya Nadine bisa sadar dari awal jika Nightmare yang Aileen ceritakan itu adalah dirinya sendiri.
"Ada apa?" tanya Elliot.
"Kita harus segera membawa Aileen kembali. Dia … dia dalam bahaya. Elliot, ayo pergi dan jemput Aileen." Nadine bangkit dan hendak menarik Elliot untuk melakukan hal yang sama. Namun, laki-laki itu justru tetap diamdi tempatnya.
Elliot menggeleng pelan dengan senyum getir. "Aku tak bisa Nadine."
"Kenapa? Bukankah kau berkuasa?" Anggapan ini tak salah, tapi sekalipun berkuasa, dunia yang Elliot tinggali memiliki peraturan yang dia sendiri tak bisa melanggarnya.
“Aku dan Dream tak boleh bersinggungan. Kami punya aturan tak tertulis untuk tak saling ikut campur.” Itu benar, setiap penguasa memiliki batas masing-masing pada setiap daerah kekuasaan. Karena kepentingan mereka bukanlah kepentingan pribadi semata.
“Jadi kau tak bisa membantuku?” Elliot menghela napas kemudian menggeleng. Aturan tetaplah aturan.
Nadine menatap Elliot nyalang untuk memberitahu bahwa gadis itu marah padanya, tak cukup dengan itu dia membanting garpu. “Kau pengecut!”
“Apa aku terlalu memanjakanmu sampai kau lupa apa yang bisa ku lakukan padamu?” Elliot membalas tatapan Nadine tajam, dia ingin memberitahu Nadine bahwa purusannya final tak peduli bujuk rayu Nadine dia tak akan ikut campur urusan Dream.
“Aku tahu kau raja iblis, kau bisa membunuhku sekarang juga. Aku tahu!” Napas Nadine terenggah-enggah dimakan emosinya.
“Kau marah. Aku akan pergi dulu, kau tenangkan dirimu. Aku tak ingin bertengkar denganmu,” katanya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Nadine yang masih emosi.
...****************...
Nadine membuka kelopak matanya membiarkan manik coklat matanya menyusuri tempat yang begitu asing baginya. Bukan tempat kerja, bukan pula rumahnya, ini juga bukan kotanya. Nadine tak tahu ini tempat apa.
Lorong yang sunyi, Nadine tak dapat melihat apapun sejauh mata memandang. Hanya jeruji besi yang ada di samping, depan, maupun belakangnya.
“Apa ini?” Sekalipun tak tahu dia berada di mana, gadis yang tak punya rasa takut itu menyusuri koridor putih tanpa ada penghuni lain.
Langkah tungkainya yang ragu-ragu membawanya pada sebuah ruangan di pojok. Pintu di sana putih bersih bak sebuah laboratorium asing yang sering muncul di series barat.
“Aileen,” pekiknya tertahan tatkala melihat Aileen tengah meringkuk di dalam ruangan sambil terus menangis melalui jendela.
Baru kali ini Nadine melihat Aileen terpuruk. Gadis itu terlalu angkuh untuk menangis dan ketika Nadine menyaksikan Aileen menangis hatinya ikut teriris.
“BERHENTI!” Nadine membatu berpikir Aileen menyuruhnya berhenti.
“HENTIKAN! KUMOHON! AKU TAK INGIN MELIHAT MIMPI BURUK LAGI!” Nadine menutup matanya ketika menyadari bahwa di sekitar Aileen seolah ada layar tak kasat mata yang memutar mimpi buruk orang-orang yang tak pernah dia kenal.
“Aileen! Aileen!” Nadine mencoba membuka pintu, dia harus membawa Nadine keluar dari neraka gadis itu. Namun, sejauh apa pun dia mencoba pintu itu tak terbuka dan hanya melukai tangannya.
“Aileen!” Nadine kini dengan beringas mencoba memecahkan kaca jendela ruangan itu dan berhasil.
“Aileen ayo pulang!” Aileen mendongak menatap Nadine dengan tatapan putus asa.
“Nadine, tolong aku.”
“Hah!” Nadine membuka mata, napasnya terenggah-enggah. “Mimpi,” gumamnya sembari menghapus peluh yang bercucuran.
Nadine merasa bahwa mimpinya itu mengandung arti tersendiri. Mimpinya terasa sangat nyata bahkan tangannya juga ikut terasa sakit. Nadine yakin bahwa ini adalah petunjuk untuk Nadine agar segera membawa pergi Aileen.
“I will save you, Leen.”
...****************...