Surya Aditama tak pernah menyangka bahwa upacara pemakaman aneh yang tak sengaja ia hadiri membuatnya menjadi pewaris seorang triliuner. Namun demi mencegah perhatian dari orang - orang yang tak diinginkan, ia harus menunggu selama seminggu agar bisa mewarisi kekayaan lima belas milyar dolar Amerika.
Kejadian ini menjadi titik balik kebangkitan siswa pecundang yang selalu jadi sasaran perundungan. Simak ceritanya untuk membalas setiap perbuatan buruk pada dirinya dengan cara yang elegan dan berkilau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djennar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Primadona Baru
"Selamat pagi semua! Perkenalkan nama saya Indriani Sutedja. Untuk lebih akrab biasa dipanggil Indri. Saya berasal dari Jakarta, karena suatu keperluan saya harus pindah ke Semarang. Sebelumnya saya bersekolah di SMA Putri Panca Murni di Jakarta Pusat. Untuk kedepannya saya ingin berteman dengan semuanya. Terima kasih." Indri mengakhiri perkenalannya dengan senyum lebar.
Seisi kelas seperti terhipnotis oleh bidadari khayangan yang memperkenalkan diri di depan mereka. Tak terkecuali dengan Surya sendiri.
"Ya terima kasih atas perkenalannya. Silakan duduk di tempat yang sudah disediakan." Kata Pak Tama setelah hening beberapa saat.
Indriani hanya mengangguk hormat dan berjalan menuju ke meja yang kebetulan berada di depan Surya. Saat jarak mereka hanya satu meter pandangan mereka bertemu. Satu senyuman dari Indri benar-benar membuat Surya kembali melayang ke awang-awang. Beberapa detik yang serasa lama itu pandangan meraka saling beradu.
Sebuah deheman membuyarkan khayalan kedua sejoli itu. Keduanya merasa saling tingkah. Sekilas tampak oleh Surya wajah Indri yang memerah.
Kejadian canggung ini tak lepas dari pandangan iri dari beberapa pasang mata. Tak terkecuali pandangan penuh ketidaksukaan yang ditampakkan oleh Bella dan kawan-kawannya.
Selanjutnya pelajaran berjalan seperti biasa tanpa ada kejadian yang mengganggu.
Saat jam istirahat beberapa siswa langsung menghampiri dan berkerumun di sekitar meja Indri. Mereka ingin berkenalan langsung dengan Indri. Sebagian besar adalah dari siswa cowok.
Surya merasa sedikit terganggu dengan kerumunan yang berada tepat di depan mejanya itu. Bahkan mereka saling dorong sampai membuat meja Surya berantakan. Karena tak berdaya menyelamatkan Indri dari kepungan massa Surya memutuskan untuk keluar ke kantin.
Tak disangka ternyata ada banyak siswa baik dari yang setingkat maupun yang dari tingkat bawah berkerumun di lorong depan kelasnya. Mereka sepertinya juga ingin melihat Indri secara langsung.
"Kampungan banget." Gumam Surya lirih sambil menatap kerumunan itu dengan jijik.
Pemuda tujuh belas tahun itu menuju kantin untuk makan siang. Rawon masih menjadi makanan kesukaannya, karena nasinya bisa nambah sesuka hati. Kalau biasanya hanya tahu yang jadi lauknya kini ia menambahkan dua potong daging.
Setelah membayar porsi makanannya ia segera mengambil tempat duduk di pojok yang jauh dari keramaian. tempat ini menjadi tempat makannya sejak ia kelas satu. Di sini Surya bisa makan tanpa gangguan sama sekali.
"Boleh gabung, Kak?" Sebuah suara menghentikan aktivitas mengunyah dagingnya. Mulutnya masih penuh saat mendongak ke arah sumber suara. Karena kaget, tanpa sadar Surya bernafas lewat jalur yang salah. Nasi yang masuk ke saluran nafasnya membuatnya tersedak dan batuk parah. Mukanya memerah, entah karena kesulitan bernafas atau karena malu.
Segelas minuman dingin disodorkan ke arahnya. Tanpa menunggu komando, Surya langsung menenggaknya sampai tandas. Matanya masih berair tapi batuknya sudah mereda. Usapan lembut berkali-kali mendarat di punggungnya. Menjalarkan perasaan hangat di sekujur tubuhnya.
"Maaf ya udah buat Kak Surya kaget." Sesal Indri.
Surya yang wajahnya masih memerah hanya bisa menggeleng. "Nggak apa-apa. Jarang aja yang ikut duduk di sini. Maaf minumannya aku habisin."
"Minumannya tadi emang aku bawa buat Kak Surya. Aku tadi lihat Kak Surya belum bawa minum."
"Benar juga. Biasanya juga nggak pernah beli minuman. Minumnya di keran depan kantin biasanya." Jawab Surya sambil nyengir.
"Kenapa Kak Surya duduk di sini? Kenapa nggak duduk di sebelah sana yang agak ramai?" Tanya Indri penasaran.
"Karena..."
Belum sempat Surya menjawab tiba-tiba sekelompok siswa cowok berpenampila sedikit urakan mendatangi meja mereka. Surya mengenali mereka karena sering mengganggunya. Yendri dan teman se-gengnya dari kelas XII IPS 4.
"Pagi nona manis. Kenapa duduk di pojokan sini?" Kata Yendri dengan tatapan sinis ke arah Surya. Seringai ganas menghiasi wajahnya. Matanya yang liar menatap Indri seperti Serigala yang kelaparan .
"Kok diem aja, sih?"
"Yok gabung sama kita. Kita yang traktir, kok."
"Iya nih. Bosen tahu duduk di sini sama orang nggak gaul."
"Bisa ketularan kampungan kita."
Mereka tertawa-tawa sambil menggoda Indri. Suasana menjadi riuh dan tidak nyaman. Namun tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena reputasi Yendri.
Yendri berasal dari keluarga kaya namun kurang mendapat perhatian karena kesibukan orang tuanya. Sejak kecil orang tuanya hanya memberi mainan dan uang, sehingga remaja yang sering dijuluki badboy-nya sekolah itu menganggap apa pun bisa didapatkan asal punya uang.
Dikerumuni begitu banyak orang yang menggodanya membuat Indri ketakutan. Berbeda dengan ketika di kelas yang semuanya berkata dengan ramah. Orang-orang ini berperilaku seperti preman. Lupakan tentang penampilan mereka, perkataan mereka saja sudah tidak pantas diucapkan di lingkungan sekolah
Surya yang melihat perubahan ekspresi Indri segera berinisiatif untuk mengajak gadis itu kembali ke kelas.
"Kita ba..." Belum selesai kalimat Surya, tiba-tiba Yendri mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Indri. Tak ingin Indri mendapat perlakuan kasar, Surya langsung menyergap tangan Yendri yang hampir sama kekarnya dengan tangannya itu. Tatapan mata tajam keduanya langsung bertumbuk sarat akan kebencian.
"Apa-apaan kamu beraninya memegang tangan bos kami!" Seru salah seorang anak buah Yendri.
"Sudah bosan hidup kamu? Lupa siapa kita?"
Seorang anak buah Yendri maju selangkah ke arah Surya."Kuperingatkan kamu ji.."
Surya sudah muak melihat wajah mereka. Ia langsung menangkap wajah orang itu dan membantingnya ke meja dan menekannya. Si empunya wajah hanya bisa meronta-ronta karena kesulitan bernafas.
"Jauhkan tangan kamu dari Indri." Surya mencengkeram tangan Yendri lebih kuat. Yendri berusaha menahan sakit, namun alisnya berkedut menandakan bahwa tangannya cukup kesakitan. "Berani kamu menyentuh Indri,
Sebenarnya Yendri cukup terkejut melihat Surya berani melawannya. Selama ini dengan menggunakan kekuatan dan uang yang dimilikinya, ia bisa berbuat sesuka hati. Namun baru kali ini ada orang yang berani melawannya secara langsung. Diam-diam ada rasa takut menjalar di hatinya.
"Heh gembel! Berani kamu ya lawan bos Yendri!" Gertak anak buah Yendri yang lain.
Wajah Yendri berubah sinis untuk menyembunyikan rasa takutnya. Dia kembali tersadar kalau yang dihadapinnya ini adalah Surya. Siswa yang dikenal miskin dan yatim piatu.
"Temui aku setelah pulang sekolah di gudang belakang. Jangan macam-macam atau kuhabisi kamu!" Yendri mengibaskan tangannya yang kebas karena dicengkeram kuat oleh Surya.
Surya menatap punggung para berandalan itu. Mereka sudah berbuat sejauh ini mengganggu Indri. Jika dibiarkan saja, Surya takut akan terjadi sesuatu pada Indri. Meskipun hubungan antara dirinya dan gadis manis itu belum jelas statusnya, Surya punya kewajiban untuk melindungi Indri sesuai permintaan Pak Rama.
Suara isak tangis kecil membuyarkan lamunannya. Surya menatap ke arah Indri melihat Indri menatapnya dengan pandangan penuh rasa takut.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Surya khawatir.
Indri hanya menggeleng. Namun itu belum bisa membuat Surya yakin.
"Kak Surya maafin Indri karena udah buat Kak Surya kena masalah. Sebaiknya kita lapor ke guru saja. Kak Surya nggak perlu memenuhi ancaman mereka." Suara indri bergetar. Air mata mulai meleleh di pipinya.
Melihat itu Surya merasa tidak tiga. Ia sudah berjanji untuk melindungi dan menjaga gadis itu tetap aman dari apapun dan siapapun. Dan Surya tidak akan mundur dari janjinya.
"Kamu tenang aja. Kalau kita lapor, besok-besok mereka akan datang lagi. Orang seperti mereka tidak akan jera hanya dengan omongan. mereka yang sudah terbiasa menindas orang lain dengan kekerasan hanya bisa ditaklukan dengan kekerasan oleh orang yang lebih kuat dari mereka. Lagipula sudah saatnya mereka berhenti membuat masalah." Jawab Surya mantap.
"Tapi kak..."
"Kamu nggak usah khawatir. Begini-begini aku bisa bela diri lho." Surya mengguratkan senyum untuk menenangkan Indriani. Menghadapi Yendri dan kroco-kroconya bukanlah hal sulit bagi Surya. Ia sudah pernah menghajar mereka tahun lalu, tapi karena khawatir akan dikeluarkan, Surya akhirnya mengalah. Namun jika mereka sudah mendesak Surya sampai seperti ini, maka dia akan bertindak.