Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 25
Mahesa tidak menjawab. Dia menatap bibir Inara yang kini memerah pekat, sedikit berdarah di sudutnya akibat pagutan brutalnya tadi. Ada rasa puas yang gelap di dalam hatinya, namun di saat yang sama, dadanya berdenyut nyeri melihat air mata Inara yang terus mengalir tanpa suara. Pria itu menyandarkan keningnya di bahu Inara, menghirup aroma lavender dari rambut istrinya yang entah sejak kapan menjadi satu-satunya penenang bagi saraf-sarafnya yang tegang.
Ketukan Pintu yang Membakar Suasana
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan keras di pintu kayu mahoni itu seketika memecah keheningan yang intim sekaligus menyakitkan di antara mereka.
"Pak Mahesa? Anda di dalam?"
Itu suara Arga. Pria itu rupanya menyadari ada yang tidak beres saat sekretaris Anna mengatakan Inara dipanggil dengan nada penuh amarah oleh sang Direktur Utama. Mengetahui kondisi fisik Inara yang sedang sakit, Arga nekat menyusul ke lantai atas.
"Pak, saya ingin menyerahkan laporan sisa audit Surabaya yang tadi tertinggal di mobil saya."
Mendengar nama Arga dan fakta bahwa dokumen Inara masih tertinggal di mobil pria itu, rahang Mahesa kembali mengeras. Aura membunuh kembali menguar dari tubuh tegapnya. Dia menegakkan tubuh, menatap Inara yang langsung menegang ketakutan bukan takut pada Arga, melainkan takut akan apa yang bisa dilakukan Mahesa pada karier atau nyawa pria baik itu.
"Jangan... Mas, tolong jangan lakukan apa-apa pada Pak Arga," bisik Inara spontan, memegang kerah kemeja Mahesa dengan tatapan memohon. Dia tahu betul seberapa kejam seorang Dirgantara jika sedang murka.
Namun, tindakan Inara yang membela Arga justru menjadi bensin yang menyiram api cemburu Mahesa. Pria itu tersenyum sinis, sebuah senyuman dingin yang sangat mengerikan.
"Kamu takut pahlawanmu terluka, hm?" desis Mahesa kejam.
Mahesa tidak membukakan pintu. Sebaliknya, dia justru mencengkeram pinggang Inara, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah, dan mendudukkannya di atas meja kerja besarnya yang super rapi. Dokumen-dokumen di atas meja sedikit berantakan, namun Mahesa tidak peduli.
Dia berdiri di antara kedua kaki Inara, mengungkung tubuh istrinya sepenuhnya, menyembunyikan Inara di balik tubuh bidangnya jika pintu itu tiba-tiba dibuka.
"Pak Mahesa?" Panggilan Arga kembali terdengar, lebih mendesak.
Mahesa meraih gagang interkom di mejanya tanpa mengalihkan pandangan matanya yang mengunci manik mata Inara yang bergetar hebat. Dia menekan tombol sambungan ke luar pintu.
"Pak Arga," sahut Mahesa.
Suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang, berwibawa, dan dingin seolah tidak terjadi apa-apa di dalam ruangan.
"Letakkan saja dokumen itu di meja sekretaris saya. Saya sedang ada urusan penting yang tidak bisa diganggu dengan Bu Inara."
Di luar, Arga sempat terdiam lama sebelum akhirnya menjawab dengan nada kaku.
"Baik... Baik, Pak. Permisi."
Begitu langkah kaki Arga terdengar menjauh, Mahesa melepaskan gagang interkom. Dia kembali menunduk, menatap wajah Inara yang kini dipenuhi rasa syok atas kelakuan gila suaminya.
"Lihat? Dia tidak akan bisa menolongmu di tempat ini, Inara," bisik Mahesa, jemarinya perlahan mengusap sudut bibir Inara yang berdarah, menghapus noda merah itu dengan tatapan yang kembali meremang penuh candu.
"Ingat baik-baik apa yang saya katakan semalam. Dan bersiaplah untuk nanti malam. Gunakan gaun terbaikmu untuk makan malam bersama Papa dan Mama. Jangan buat saya malu, atau saya pastikan pria bernama Arga itu tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya lagi di kantor ini besok pagi."
Mahesa mundur, merapikan setelan jasnya yang sedikit kusut, lalu berjalan menuju kursi kebesarannya dengan langkah angkuh. Dia kembali menjadi Direktur Utama yang dingin dan tak tersentuh, meninggalkan Inara yang terduduk lemas di atas meja kerjanya dengan hati yang semakin hancur berkeping-keping di tengah siksaan batin yang tiada akhir.
Pukul empat sore, Inara akhirnya diizinkan kembali ke kubikelnya setelah Mahesa meninggalkan kantor untuk urusan luar yang mendadak. Sepanjang sisa jam kerja, Inara hanya menatap layar monitor dengan pandangan kosong. Bibirnya yang masih terasa sedikit perih menjadi saksi bisu kegilaan suaminya di ruang kerja tadi siang.
Tepat saat dia bersiap-siap untuk mengemas barangnya berniat pulang menggunakan taksi demi menghindari konflik lebih lanjut ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah panggilan video masuk dari ibu mertuanya. Mama Kania.
Inara menarik napas dalam-dalam, memaksakan sebuah senyum manis muncul di wajahnya yang lelah sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, Mama," sapa Inara selembut mungkin.
"Inara, Sayang!" wajah anggun Mama Kania muncul di layar, tersenyum sumringah.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih sehat? Mahesa menyakiti kamu lagi kan?"
"Inara sudah jauh lebih baik, Ma," dusta Inara, tenggorokannya terasa pahit saat mengucapkan kalimat itu.
"Inara, Papa dan Mama menelpon untuk memberi tahu hal penting. Makan malam nanti malam terpaksa Papa undur. Tapi, dua hari lagi, Dirgantara Group akan mengadakan Gala Dinner perayaan ulang tahun perusahaan sekaligus pengumuman resmi serah terima jabatan Direktur Utama yang baru untuk Mahesa."
Jantung Inara mencelos. Dua hari lagi? Itu artinya pengumuman resmi itu dipercepat dari jadwal semula.
"Kalian berdua wajib hadir dan tampil sempurna," lanjut Papa Hendra dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.
"Seluruh relasi bisnis, media nasional, dan dewan komisaris akan hadir. Ini adalah panggung pertama kalian sebagai pasangan nomor satu di Dirgantara Group. Papa sudah memesankan gaun haute couture khusus dari Paris untukmu, nanti malam akan dikirim ke rumah. Bersiaplah, Sayang."
Setelah obrolan singkat itu selesai, Inara menutup telepon. Tubuhnya seketika melemas, bersandar pada kursi kerjanya. Dua hari lagi. Panggung sandiwara terbesar dalam hidupnya akan segera digelar. Di satu sisi, itu adalah tanda bahwa masa kontrak siksaannya akan segera berakhir setelah Mahesa resmi menjabat. Namun di sisi lain, tampil mesra di depan ratusan pasang mata dan kamera media bersama pria yang baru saja melecehkan batinnya adalah bentuk siksaan baru yang mengerikan.
Saat Inara melangkah keluar dari lobi gedung, sebuah mobil sedan mewah sudah berhenti tepat di depannya. Kaca jendela diturunkan, menampilkan wajah Mahesa yang kembali datar dan dingin.
"Masuk," ujar Mahesa tanpa ekspresi.
Kali ini Inara tidak membantah. Dia terlalu lelah untuk berdebat. Wanita itu masuk dan duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan tanpa sudi melirik suaminya. Mobil pun melaju membelah kemacetan Jakarta yang padat.
"Papa dan Mama sudah mengabari kamu?" Mahesa membuka suara setelah keheningan yang panjang, matanya tetap fokus pada jalanan.
"Sudah. Dua hari lagi," jawab Inara singkat, suaranya sedingin es.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭