Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Terendah
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Malam-malam berikutnya setelah kehancuran alat ekstraksinya, cuaca di Kota Qingyun berubah tak bersahabat. Hujan turun tanpa henti selama tiga hari berturut-turut, membanjiri sudut-sudut gudang tua yang sudah lama bocor, membuat Xiao Bai tak punya tempat kering untuk sekadar merebahkan tubuh.
Ia sudah mencoba memperbaiki sebagian atap dengan dedaunan dan ranting, namun usahanya tak banyak membantu. Dingin yang menusuk, ditambah luka di lengannya yang belum sepenuhnya pulih, dan kekurangan makanan yang sudah berlangsung berhari-hari, akhirnya menuntut bayarannya.
Pada hari ketiga hujan, Xiao Bai terbangun dengan tubuh menggigil hebat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya meski udara di sekitarnya begitu dingin. Kepalanya berdenyut hebat, pandangannya berputar setiap kali ia mencoba bangkit.
"Demam," gumamnya lemah, suaranya nyaris tak terdengar di tengah suara hujan yang menghantam atap gudang. "Kenapa harus sekarang..."
Ia mencoba merangkak menuju sudut gudang yang masih relatif kering, tubuhnya terasa seringan kapas namun seberat batu di saat bersamaan. Setiap gerakan terasa seperti mendaki gunung, napasnya memburu meski ia hanya berbaring diam.
> **[Host, suhu tubuhmu meningkat drastis. Ini adalah kombinasi dari infeksi ringan pada luka yang belum sepenuhnya sembuh, kekurangan nutrisi berkepanjangan, dan paparan dingin berlebihan. Kondisi ini berbahaya jika tidak segera ditangani.]**
"Aku tahu," bisik Xiao Bai, matanya setengah terpejam. "Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak punya uang untuk membeli obat, tidak punya bahan untuk mengekstrak apa pun, bahkan alatku sudah hancur."
> **[Aku dapat mencoba melakukan ekstraksi darurat dari sisa-sisa herbal yang masih ada di kantungmu. Namun tanpa alat bantu, prosesnya akan sepenuhnya bergantung pada konsentrasi Host, yang dalam kondisi seperti ini sangat sulit dijaga stabil.]**
Xiao Bai meraih kantung kecil di pinggangnya dengan tangan gemetar, menemukan beberapa lembar sisa Rumput Bulan yang mengering, tak lebih dari segenggam. Ia mencoba fokus, memejamkan mata, membayangkan cahaya keemasan Tungku mengalir seperti biasa—namun kali ini, demam yang membakar tubuhnya membuat konsentrasinya pecah berkali-kali, bayangan cahaya itu berkedip tak menentu di benaknya, seperti lilin yang hampir padam ditiup angin.
Setelah beberapa kali gagal, tubuhnya ambruk lemas ke lantai gudang yang dingin, napasnya memburu, keringat dan air hujan yang menetes dari atap yang bocor membasahi seluruh tubuhnya.
"Aku tidak bisa," bisiknya putus asa, suaranya nyaris hilang ditelan suara hujan. "Aku bahkan tidak bisa melakukan hal sederhana ini."
Untuk pertama kalinya sejak menerima Tungku Ekstraksi Surgawi, keraguan yang lebih dalam dari sekadar rasa lelah mulai merayapi pikiran Xiao Bai—sebuah pertanyaan gelap yang selama ini ia tolak mentah-mentah, namun kini, di titik terlemahnya, mulai terasa sulit dibantah.
"Atau mungkin," gumamnya, matanya menerawang kosong ke atap gudang yang bocor, "kau memang tidak pernah nyata. Mungkin aku hanya berhalusinasi karena putus asa waktu itu di tepi jurang. Mungkin semua pil yang berhasil kubuat hanyalah kebetulan, dan sebentar lagi aku akan mati di gudang kotor ini, sendirian, tanpa seorang pun yang peduli, persis seperti yang semua orang harapkan sejak awal."
> **[Host—]**
"Tidak ada yang datang mencariku," Xiao Bai memotong, suaranya kini bergetar antara demam dan keputusasaan yang lebih dalam. "Tidak keluarga, karena aku sudah tidak punya siapa-siapa sejak ibu meninggal. Tidak sekte, karena mereka sudah membuangku. Bahkan Li Ling'er, yang sempat menolongku, kini pasti sudah dilarang mendekatiku lagi. Aku benar-benar sendirian, Tungku. Sama seperti sebelum kau muncul."
Hening sejenak, hanya suara hujan yang mengisi kekosongan gudang tua itu. Ketika suara di dalam kepalanya kembali muncul, nadanya terdengar berbeda dari analisis dingin yang biasa—lebih lambat, seolah benar-benar mempertimbangkan kata-katanya.
> **[Host, aku tidak bisa membantah rasa sepi yang kau rasakan, karena itu adalah sesuatu yang nyata dan valid. Namun izinkan aku menyampaikan satu hal: jika aku hanya ilusi ciptaan pikiran Host yang putus asa, ilusi semacam itu tidak akan mampu menganalisis komposisi kimia tumbuhan yang bahkan tidak pernah Host pelajari sebelumnya. Ilusi tidak akan bisa memberi peringatan akurat tentang kondisi medismu saat ini. Host menciptakan banyak hal dalam hidupnya yang dihancurkan orang lain—rumah, kepercayaan diri, bahkan alat ekstraksi sederhana. Tapi aku bukan salah satu hal yang bisa dihancurkan semudah itu. Aku nyata, Host. Dan aku akan tetap ada, bahkan di titik terendah ini.]**
Xiao Bai terdiam, matanya yang mulai berkabut karena demam terasa panas oleh sesuatu yang bukan hanya suhu tubuhnya yang tinggi. Untuk pertama kalinya, kata-kata Tungku terasa bukan sekadar analisis dingin dan fungsional—ada sesuatu yang hampir menyerupai ketulusan di dalamnya.
"Kenapa..." bisiknya lemah, "kenapa kau begitu peduli? Kau hanya sistem. Alat. Kenapa kau tidak biarkan saja aku menyerah di sini?"
> **[Aku tidak memiliki jawaban pasti untuk pertanyaan itu, Host. Mungkin karena aku terikat pada keberlangsungan hidupmu secara fungsional. Atau mungkin, dalam proses menyaksikan setiap perjuanganmu selama beberapa hari terakhir—penolakan yang kau terima, kebangkitan yang kau perjuangkan, kesabaran yang kau paksakan meski dunia terus mendorongmu jatuh—ada sesuatu dalam diriku yang mulai... menghargai keberadaanmu, melampaui sekadar fungsi dasar sebuah sistem.]**
Air mata yang sudah lama Xiao Bai tahan sejak hari pengusirannya akhirnya lolos, bercampur dengan keringat demam dan tetesan air hujan yang menembus atap gudang. Bukan tangisan putus asa, melainkan tangisan seseorang yang, di titik paling rapuh dalam hidupnya, akhirnya menyadari bahwa ia tidak benar-benar sendirian—bahkan jika yang menemaninya hanyalah suara di dalam kepalanya sendiri.
"Baiklah," bisiknya akhirnya, suaranya lemah namun ada sesuatu yang mengeras di baliknya. "Kalau begitu, bantu aku bertahan malam ini, Tungku. Aku akan percaya padamu. Aku akan percaya bahwa semua ini nyata, dan bahwa aku masih punya alasan untuk bangkit besok pagi."
> **[Baik, Host. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menstabilkan kondisimu malam ini. Namun aku memerlukan kerja sama Host: fokuskan pikiranmu, sekecil apa pun kekuatan yang tersisa, untuk membantu proses ini.]**
Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Xiao Bai memejamkan mata, mencoba sekali lagi mengalirkan konsentrasinya menuju Tungku di dalam dadanya—kali ini bukan didorong oleh rasa putus asa atau ketakutan, melainkan oleh sesuatu yang lebih tenang: kepercayaan kecil yang baru saja tumbuh di tengah malam paling gelap dalam hidupnya.
Cahaya keemasan mulai berdenyut stabil, perlahan menyerap sisa-sisa Rumput Bulan yang tergenggam di tangannya, membentuk sebuah pil kecil yang langsung ia telan tanpa ragu. Rasa hangat mulai menjalar dari perutnya ke seluruh tubuh, perlahan meredakan demam yang membakar, meski belum sepenuhnya hilang.
Di tengah gudang tua yang bocor, diterpa suara hujan yang tak kunjung reda, Xiao Bai akhirnya tertidur—bukan tidur karena menyerah, melainkan tidur karena tubuhnya yang lelah akhirnya mendapatkan sedikit kedamaian, ditemani denyut cahaya keemasan yang setia berjaga sepanjang malam, seolah berjanji bahwa esok hari akan menjadi awal dari sesuatu yang berbeda.