Warning! Khusus dewasa.
☕☕☕
Nuraini Safaruddin 19 tahun tidak menyangka, suami yang menikahinya adalah seorang pria loyo yang tidak bisa memenuhi nafkah batin istrinya.
Meskipun dirinya dianggap menjadi penyebab kedua orang tua suaminya itu meninggal, perempuan yang sehari-hari dipanggil Anik itu setuju dirinya dijadikan alat shock terapi membantu pria itu kembali normal.
Menjalani nikah kontrak dengan Agung Mahendra 27 tahun, di dalam kehidupan rumah tangga mereka yang masih seumur jagung, hadir wanita yang mirip dengan seseorang dari masa lalu suaminya itu yang dirasa mampu membuatnya menjadi pria sejati.
Akankah Agung akan berpaling dari istrinya?
Akankah Anik pasrah dengan nasibnya ataukah akan berjuang merebut cinta suaminya?
Selamat mengikuti, like dan vote sebanyak-banyaknya ya, thanks.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Pagi-pagi, Anik terbangun sudah tidak ada Agung.
"Kamu masih berjaga?" Tanya Anik pada Santi seperti biasanya duduk manis di sofa.
"Iya. Maaf membuat anda kecewa karena saya tidak jadi dipecat Nyonya," jawab Santi datar.
"Tidak kecewa kok, Agung kemana?" Lanjut Anik bertanya.
Santi berpikir sejenak sebelum bicara masalah sensitif, tapi sebagai anak, Nyonya muda berhak tau keadaan ibunya. Pak Mahendra juga tidak lagi melarangnya membahas masalah kamar sebelah.
"Suami anda pergi mengurus masalah surat pemutusan alat sambung nafas Nyonya Ningsih, beliau memutuskan untuk membatalkannya sampai pasien menyerah sendiri dengan hidupnya," jelasnya sambil melihat ekspresi Anik.
"Oh." Anik antara senang dan sedih.
Senang karena masih punya ibu, sedih karena tidak tahan melihat ibunya yang koma pasti sangat menderita.
Bagaimana aku harus bersikap ya Allah, tunjukkan lah pilihan terbaik.
"Nyonya, makan siang anda Pak Mahendra yang langsung memesan. Tidak boleh pilih-pilih menu, sekarang akan saya minta diantar langsung. Mereka sudah menyiapkannya setiap kali jam makan tiba," lanjut Santi lagi.
"Baiklah, aku akan membersihkan diri dulu. Apakah kamu mau ikut?" Anik bertanya asal, karena tubuhnya tidak dalam keadaan lemas dan tidak ada juga infus di tangan seperti biasa setiap kali dia pingsan.
"Itu sudah tugas saya," jawab Santi menghampiri Anik.
Serius mau ikut.
Dalam hati Anik. "Tidak perlu saya bisa sendiri," tolaknya. "Lagipula aku hanya bercanda ditanggapi serius olehmu. Santai saja kak Santi," lanjut Anik menurunkan kakinya dari kasur.
Santi membantunya berdiri. "Tidak Nyonya, saya akan mengikuti anda kemanapun kecuali ada Pak Mahendra bersama anda."
"Sebaiknya untuk ke kamar mandi tidak perlu begitu ketat," ujar Anik namun tidak menolak saat Santi membantunya berjalan ke kamar mandi.
"Untuk saat ini sebaiknya kita patuhi saja dulu perintah Pak Mahendra, silahkan Nyonya!" Santi membawa Anik ke bawah shower. "Saya akan menunggu anda di sana." Santi menunjuk satu sudut lalu meninggalkan Anik di dalam ruangan kaca berbentuk kotak persegi itu.
"Terserah kamu saja," ujar Anik segera menanggalkan pakaian luarnya. Hm, memandang malu pada pakaian dalamnya.
Sama saja pake gak pake, ini kelihatan juga bah..
Anik membuka ikatan rambutnya lalu menghidupkan shower air dingin, terasa segar menyentuh kulitnya.
'Ponselku masih sama Agung, untuk apa dia simpan. Letakkan saja di nakas kan bisa," gumamnya sambil menggosok rambutnya yang berbuih wangi.
Santi dengan setia menunggunya menyender di dekat pintu.
*
Di sebuah ruangan di rumah sakit juga, Agung bersama Doni si asisten setia mengawal Bosnya. Mereka baru selesai pertemuan dengan detektif dari kepolisian.
"Putra biologis Suganda dirawat disini," Agung bergumam.
Setelah tadi ia mendengar keterangan lengkap dan langsung dari Budi tentang hasil penyelidikan polisi mengenai ledakan mobil termasuk mengenai masalah kemarin malam di belakang gedung.
"Benar Mas, sekarang bagaimana?" tanya Doni.
"Sistem keamanan rumah sakit tidak perlu diragukan, tapi aku serba salah terhadap Anik. Dilehernya ada kamera pengintai, orang ahli IT pro bisa saja meretasnya. Oh tidak!"
Agung gegas berdiri, kemudian berlari menuju ruang inap Anik.
"Hais, kenapa mesti lari sih! Bisa sakit perut baru selesai makan juga," gerutu Doni segera mengejar Bosnya.
Sampai di ruang inap Anik tidak ada orang, Agung mendengar bunyi suara air di kamar mandi.
Gubrak!
Agung mendobrak pintu yang memang tidak ditutup rapat.
"Aduh!"
Terdengar jerit kesakitan, Agung sudah khawatir mengira itu Anik. Melihat Santi penyet kegencet di balik pintu, hah! "Kenapa kamu sembunyi disitu?" Bentaknya. "Silahkan anda keluar sekarang," lanjut Agung memerintah berang.
"Astagfirullah," ucap Santi menahan geram.
Dia yang asal main dobrak, dia pula yang marah.
"Ish." Sambil meringis Santi segera keluar dari Kamar mandi.
Gleg.
Agung meneguk liurnya, melihat Anik mandi di shower memakai pakaian dalam.
BAM!
Lalu menutup pintu dengan satu kali tendangan, tak sabar menghampiri Anik.
Anik merasakan adanya sinyal bahaya melihat Agung seperti orang kesetanan. "Mau apa kamu?!" Bentaknya khawatir ketakutan.
Teringat semalam Agung mencium seluruh tubuhnya, hanya Anik yang pura-pura tidak sadar. Menikmati cumbuan seolah sedang bermimpi basah, sengaja mendesah-desah.
Mendatangi Anik ke Shower. "Aku membelikan liontin baru untuk kamu, sini!" Agung meraih tangan Anik membawanya keluar dari bawah pancuran shower.
"Bisa tidak nanti saja selesai mandi?" Berkata Anik, akan tetapi tetap saja dirinya mau diseret ke arah cermin.
"Tidak bisa, aku sudah tidak tahan melihatmu memakainya," jawab Agung segera melepaskan liontin lama, menggantinya dengan yang baru yang lebih aman dengan sistem yang lebih canggih.
"Bagus sekali," gumam Agung memuji liontin yang menggantung di selipan dua buah apel ranum.
Sembari mengantongi liontin lama, tatapan tak lepas dari dua bukit yang terbungkus. Liurnya menetes seketika menunduk menyesap kulit yang kelihatan separoh.
Akh!
Anik tidak bisa tidak mendesah, suaranya pelan ditahan. Tidak mau kedengaran sampai ke luar kamar mandi.
Agung semakin haus, gak tahan mengangkat tubuh Anik ke meja wastafel di depan cermin. Dengan nafas memburu melepaskan kain pembungkus, gerak cepat menyesap-nyesap ujung bukit mengeluarkan suara cap cap cap. "Malam ini aku akan mulai menyicil utang nafkah batin," ujar Agung disela hisapannya.
"Beserta bunganya sekaligus seratus persen, siapkan dirimu!" Mendengar perkataan Agung, Anik lemas antara takut dan terang sang.
Terakhir saat Agung memanggilnya ke kamar mandi, pria itu tidak memaksa Anik melakukan hal yang membuatnya muntah.
Apakah kali ini aku bisa lepas dari siksaan itu?
*
Siang hari di ruangan kantornya, Adelia memanggil kedua anak buahnya.
Ojak dan Opak datang menghadap, saling pandang melihat wajahnya tidak seperti biasanya. Ada senyuman mengembang dari bibir Adelia bersambung ke telinga naik sampai ke mata. Face full of smile, wajah penuh senyuman kalau diterjemahkan.
🎶 Nana nana, nana nana, nana nana.🎶
Bersenandung, senyum-senyum sendiri dengan mata terpejam.
"Mbak Adel kami masih disini lho, halloo." Opak memberanikan diri bersuara, hampir lima belas menit mereka berdiri dicuekin.
"Iya, tau. Berdirilah terus sampai saya bosan melihat kalian" jawab Adel santai, duduk bersandar mengangkat kakinya di atas meja. Bergoyang-goyang di depan kedua pria jomblo itu, pemandangan yang meruntuhkan iman.
🎶Nana nana, nana nana, nana.🎶
Gleg.
Opak dan Ojak tidak tau dimana lagi letak salahnya, karena tadi pagi saat datang kerja, mereka menghadap Adel aman-aman saja. Membahas santai masalah polisi yang mengawasinya.
Ternyata bukan pesawat saja yang delay, hukuman juga.
Dalam hati Opak. "Apa karena masalah kemarin malam, mbak?" tanyanya.
🎶Hm hm, hm hm, hm hm.🎶
Adel membuka mata sayu memandang Ojak dan Opak bergantian.
Apa saja yang mereka ketahui tentang kemarin malam..
Batin Adelia. Ada rindu dihatinya mengulang kejadian semalam, berjam-jam di lift sambung lagi ke ruangannya, Suga benar-benar tangguh. Tahan banting dan tahan lama ngalahin Alkalin baterai alat getarnya
"Kenapa mbak tidak konfirmasi dulu sebelum pergi?" Tanya Opak, gak rela dirinya dihukum yang bukan kesalahannya.
🎶 hm hum,..
Senandung Adelia terhenti. "Siapa bosnya?" Tanyanya membuka matanya lebar.
"Iya Mbak lah," jawab Opak mengkerut.
"Tapi lain kali kalau mau bertindak jangan diam-diam, apa mbak Adel mau kita awasi dua puluh empat jam!" Lanjut Opak mengencangkan suaranya satu oktaf di atas biasanya
Walaupun nyalinya ciut, tapi ia yakin tidak mungkin dipecat at least untuk saat ini karena Adelia sudah punya mood booster ori, hihi.
Tawa dalam hati Opak, dia kan salah satu admin juga di FFA grup. Jadi semua gosip di Wicaksana grup dia selalu dapat info fresh grade.
"Suka-suka aku dong mau konfirmasi atau enggak!" Adelia pasang tampang galak tapi senyuman tak lekang dari bibirnya jadi kayak ngelawak aja gitu.
"Tapi kalau ada apa-apa jangan kita yang disalahkan Mbak, pokoknya mulai saat ini mbak kami awasi dua puluh empat jam. No debat!" Tegas Opak.
"Kamu saya pecat!" Adelia berdiri dari duduknya menunjuk Opak.
"Ampun Mbak Adel!"
Opak disusul Ojak tersungkur, bertekuk lutut di lantai.
***Tbc.
Like, komen dan Share.
Jumpa lagi, 👍.
atau agung dgn Lia
ayo kak😅😅😅😅😅