Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Saat Nana kembali ke Rumah Besar Sie, langit sudah terang.
Rumah itu masih berdiri, lampunya masih menyala, lantainya masih mengilap. Namun setelah semalam, Nana tahu rumah besar bisa tampak utuh meski orang-orang di dalamnya retak sedikit demi sedikit.
Stella berlari dari tangga begitu melihatnya.
"Nana!"
Ia memeluk Nana hati-hati, lalu langsung melepas karena melihat wajah Nana menahan sakit.
"Rambutmu?"
"Cuma tertarik."
"Cuma?" Stella menatapnya tidak percaya. "Kalau aku tarik rambutmu sekarang, boleh kubilang cuma?"
Nana hampir tertawa, tapi kepalanya berdenyut. "Jangan."
Stella menggigit bibir, lalu menarik Nana ke ruang makan kecil. Di atas meja sudah ada bubur hangat, obat pereda nyeri, dan segelas air.
"Cici Tamara yang suruh. Aku yang memaksa kepala pelayan menaruh gula merah. Kau butuh manis."
Nana duduk pelan. Tubuhnya baru sadar bahwa semalam ia belum benar-benar makan.
"Paman Albert aman?" tanya Stella.
"Aman."
Stella mengembuskan napas. "Syukurlah."
Nana memegang sendok. Kata itu ikut menghangatkan dadanya. Syukurlah. Semalam berarti berhasil. Bukan hanya dokumen, bukan hanya tas, tapi orang.
Ia baru menyuap bubur pertama ketika suara ribut datang dari arah aula depan.
Langkah cepat.
Suara kepala pelayan tertahan.
Lalu William memanggil, "Steven."
Stella berdiri. Nana ikut berdiri.
"Kau makan dulu," kata Stella.
"Aku ikut."
Aula depan dipenuhi orang. William berdiri di dekat meja konsol. Tamara memegang ponsel. Lusia duduk dengan wajah pucat, kipasnya terbuka tapi tidak bergerak. Steven dan Irwan baru masuk dari pintu samping.
Di atas meja, ada paket.
Kotaknya kecil, dibungkus plastik bening. Di dalamnya bukan foto.
Jaket gelap Nana.
Jaket yang semalam ditinggalkan di tangan penyerang, kini terlipat rapi. Di atasnya ada seikat rambut hitam yang diikat benang merah.
Nana merasa perutnya jatuh.
Stella langsung menutup mulut.
Steven melihat Nana hanya sepersekian detik, lalu menatap Irwan. "Siapa yang menerima?"
"Ditinggal di pos depan," jawab kepala pelayan gemetar. "Tidak ada kurir. Penjaga baru sadar setelah melihat kamera."
Irwan mengambil ponsel kecil yang diselipkan di bawah jaket. "Ada pesan video."
"Putar," kata William.
Video itu tidak lama. Layarnya gelap di beberapa bagian, seperti direkam di dalam mobil. Suara laki-laki terdengar kasar, dekat, dan tidak terburu-buru.
"Semalam kalian pintar."
Nana tidak mengenal suara itu.
"Anak kecil itu lebih pintar dari kelihatannya. Sayang kalau dipakai keluarga yang sudah hampir tenggelam."
Tangan Stella mencari tangan Nana.
Nana diam.
Suara itu lanjut, "Sampaikan pada William Sie. Sembunyikan Albert di mana pun, kami tetap tahu cara membuat orang keluar dari lubang. Sampaikan juga pada Steven. Mainmu bagus, tapi aku belum ikut main."
Video berakhir dengan satu kalimat.
"Hasan."
Nama itu jatuh di aula seperti benda berat.
Lusia berbisik, "Hasan sudah turun tangan?"
Tamara menatapnya. "Kau tahu dia?"
"Semua orang yang pernah berurusan dengan Victoria Wan tahu nama itu." Suara Lusia kehilangan manisnya. "Dia bukan negosiator. Dia orang yang dikirim kalau negosiasi dianggap terlalu lambat."
Nana menatap jaketnya di dalam kotak.
Rambut itu miliknya.
Bukan luka besar. Bukan darah. Tapi justru karena kecil, karena personal, karena bisa dikirim ke meja keluarga seperti barang belanja, Nana merasa dingin sampai ujung jari.
"Kameranya?" tanya Steven.
Irwan menggeser layar ke rekaman lain. Di sana, seorang pedagang roti berhenti di depan pos, tertawa dengan penjaga, lalu menaruh kantong plastik di bawah bangku seolah lupa membawanya pergi. Wajahnya tertutup helm, tapi geraknya santai. Terlalu santai untuk orang asing yang baru pertama kali masuk ke jalan rumah itu.
"Dia tahu titik buta," kata Irwan. "Tiga detik antara kamera pos dan kamera pagar. Dia juga tahu penjaga shift pagi suka keluar beli kopi dari warung seberang."
Kepala pelayan memucat. "Kami akan pecat penjaga itu."
"Jangan," potong Steven.
Semua mata beralih padanya.
"Kalau Hasan sudah tahu jadwal lama, biarkan dia percaya jadwal itu masih dipakai." Steven menatap video yang membeku. "Mulai hari ini, yang diganti bukan orangnya. Yang diganti jalurnya."
Nana menelan ludah. Baru sekarang ia mengerti. Rumah besar ini punya pagar tinggi, satpam, kamera, dan nama Sie di pintu besi. Namun seseorang tetap bisa meletakkan rambutnya di meja keluarga sebelum buburnya sempat dingin.
Steven menutup kotak itu.
"Mulai sekarang, semua staf yang dekat dengan operasi dipindah jadwalnya."
William menatap Nana. "Dia termasuk."
"Tidak," kata Nana.
Semua orang menoleh.
Ia tidak tahu kenapa kata itu keluar.
Mungkin karena takut. Mungkin karena marah. Mungkin karena rambutnya sendiri tergeletak di kotak dan seseorang bernama Hasan baru saja menyebutnya anak kecil.
"Kalau saya dipindah karena dia mengirim jaket, berarti dia berhasil membuat saya takut."
Steven menatapnya dingin. "Kau memang harus takut."
"Saya takut."
Kalimat itu membuat ruangan diam.
Nana menggenggam tangan Stella yang masih memegangnya. "Tapi saya tidak mau dia memilihkan tempat saya berdiri."
William melihatnya lama.
Tamara perlahan menurunkan ponsel.
Lusia seperti ingin berkata sesuatu, tapi tidak jadi.
Steven berjalan mendekat. Suaranya rendah. "Ini bukan pasar. Di sini orang takut bukan untuk melindungi harga diri. Takut dipakai supaya kau hidup."
"Kalau begitu ajari saya memakai takut. Jangan hanya suruh saya bersembunyi."
Irwan menatap Steven.
Di wajah Steven, sesuatu bergerak cepat. Marah, mungkin. Atau lelah.
"Irwan," katanya akhirnya, "atur dua orang di sekitar paviliun belakang. Tanpa seragam. Jangan beri tahu dia jadwalnya."
"Baik."
Nana mengerutkan kening. "Aku baru saja bilang jangan sembunyikan."
"Aku mendengar." Steven mengambil kotak berisi jaketnya. "Aku tidak bilang akan menurut."
Ia pergi membawa kotak itu.
Nana tidak tahu bahwa sejak siang itu, dua orang Tim Lilin bergantian mengawasi jalur dari paviliun belakang ke dapur, ke taman, sampai ke pintu kecil dekat laundry.
Yang ia tahu hanya satu.
Nama Hasan membuat orang dewasa di Rumah Besar Sie berhenti berpura-pura bahwa semua bisa diselesaikan dengan angka, audit, atau senyum tenang.
Dan untuk pertama kalinya, Nana merasa bahaya yang mengejarnya punya wajah, suara, dan kesabaran.