Sekuel dari "Bukan Salah Cinta"
Siapkan tissu, lap, atau kanebo ya readers 🤧
Takdir seseorang tidak ada yang bisa menebak. Takdir mampu mempertemukan seseorang, takdir juga yang mampu memisahkan orang itu.
Pertemuan tidak sengaja oleh takdir antara Melodi dengan pemuda hangat dan humble bernama Ben Damian Ezra.
Disaat cinta mulai tumbuh, terjadilah sebuah tragedi yang mengharuskan Melodi meninggalkan Ben.
Tahun-tahun berlalu, bagaimanakah kehidupan mereka?
Akankah takdir mampu mempertemukan mereka kembali?
Mampukah Melodi memaafkan Ben hingga mereka bersatu kembali?
"Dunia mungkin akan mampu mengubah hidupku, tapi tidak dengan rasa cintaku padamu."
"Kamulah Takdirku"
Happy reading ya guys, i hope you'll enjoy it😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Happy reading
💕💕💕💕💕
"Siska ...."
"Aku sempat bahagia saat mengetahui kepergian Angel," potong Siska, "aku pikir akan dapat kesempatan setelahnya. Aku bisa lebih dekat denganmu karena kita melalui hari tanpa harus ada Angel lagi di dalamnya. Tapi, sepertinya harapan tinggal harapan, karena kau malah lebih memperhatikan Melodi, " kecamnya dengan berapi-api. Emosinya meluap hingga ke ubun-ubun, sedangkan Ben masih bergeming.
Kali ini Ben seolah bertukar posisi dengan Siska, menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya itu. Pandangannya mengiba melihat Siska yang menunduk di hadapannya dengan wajah yang basah akan air mata. Sekian lama mereka bersama, ini pertama kalinya dia melihat sahabatnya itu meneteskan air mata, dan itu adalah karena keegoisannya.
Ben menatap Siska dengan pandangan menerawang, mengingat kembali masa-masa yang dia lalui bersama Siska dan Angel. Dua gadis yang sama-sama cantik dan menarik, serta bintang sekolah. Siska benar, meski dirinya berbeda sekolah Siska selalu ada waktu untuknya. Mengorbankan waktunya demi mendengar keluh kesahnya, menghiburnya di kala sedih, dan membantunya mengerjakan tugas-tugas sekolah di saat dirinya akan berkencan dengan Angel.
Harusnya Ben lebih peka supaya bisa melihat betapa besar cinta Siska untuknya. Nyatanya saat itu dia dibutakan oleh cinta Angel. Angel yang pada kenyataannya tidak pernah berkorban apa pun untuknya. Termasuk sekarang, Angel masih tidak berani mengorbankan waktu untuk mimpinya barang sedetik demi diri Ben.
"Cih! Sekarang penghalangku bukan Angel lagi, tapi si Cupu itu." Napas Siska memburu setelah mengucapkan kalimat itu.
"Sis, aku minta maaf karena sudah mengabaikanmu. Aku akui aku salah karena tidak menghargaimu selama ini. Aku benar-benar minta maaf soal itu, tapi bukan berarti aku membenarkan tindakan yang kamu lakukan pada Melodi. Gadis itu tidak tau apa-apa, dia tidak bersalah dalam hubungan rumit kita bertiga," ujar Ben lembut. Dia kembali memegang kedua bahu Siska.
"Selama ini aku mengenalmu sebagai gadis yang baik dan juga gadis yang ceria. Aku menyayangimu Sis, please, don't be change! Jangan berubah karena aku." Siska bertambah sesegukan.
"Sekarang aku sadar, kenapa Angel tidak menghargaiku, tidak mengerti aku, dan tidak mau berkorban untukku. Semua adalah karmaku, karma untukku karena tidak pernah menganggapmu selama ini."
"Ben ...." Siska mendongak, menatap Ben dengan wajah berlinang air mata dan mata sembabnya.
"Iya Sis, hubunganku dan Angel sedang tidak baik, tapi bukan karena Melodi. Beberapa bulan terakhir ini, Angel semakin sibuk dengan karirnya." Ben tersenyum miris. Dia melepaskan bahu Siska,. Kemudian, pandangannya menerawang.
"Aku sudah memutuskan untuk menyerah. Hubungan kami tidak lagi hangat. Selain terpisah jarak dan waktu, komunikasi di antara kami juga tidak seintens dulu. Padahal, selama ini aku sudah berusaha mengerti mimpinya, hanya saja aku ingin dia meluangkan sedikit waktunya walau hanya sekedar menyapa lewat telpon. Nyatanya, tidak pernah lagi kalau bukan aku yang menghubunginya lebih dulu. Itu pun hanya beberapa menit karena dia dikejar deadline. Bahkan sekarang dia memberi pernyataan akan menambah kontrak dua tahun lagi di sana." Ben menggeleng lemah.
"Apa artinya sebuah hubungan tanpa kebersamaan dan komunikasi."
"Ben, maafkan aku." Siska memeluk Ben. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang pemuda itu.
"Jangan berubah egois karena cinta Sis, nanti kau bisa seperti aku. Bisa meraih orang yang dicintai, tapi tidak bisa merasakan kebahagiaan bersamanya." Siska mengangguk di dada Ben.
"Sekarang katakan padaku, di mana Melodi?"
❤️❤️❤️❤️❤️
Masih mau lanjut? Jangan lupa jempol kalian ya guys😘😘😘
"Mel!" Ben meraih dagu Melodi membuat wajah gadis itu mendongak dengan mata yang masih terpejam. Dia menjadi semakin panik melihat wajah Melodi yang pucat. Bergegas Ben melepas tali yang melilit tubuh Melodi. Kemudian, menangkap tubuh lemah Melodi.
Dukung aku yuk dilapak sebelah, bacanya juga sama tanpa koin,
Jgn lupa mampir ya krna ada give away di akhir bulan,
Aku tunggu 😊