Drama, Romance
Amyra Rahma, seorang gadis pendiam yang cukup peka dan juga cuek pada sekitarnya di saat bersamaan. Tapi, Isna Syifa -biasa dipanggil Isyi- adalah pengecualian, karena ia adalah satu-satunya sahabat Ara. Ara, begitulah gadis itu dipanggil.
Pada suatu hari, tiba-tiba Isyi mengajukan sebuah permintaan yang sangat aneh menurut Ara. Isyi meminta Ara untuk menjadi madunya! Isyi, are you crazy!?
Namun, pada akhirnya Ara tetap tidak bisa menolak permintaan Isyi, pun dengan Imran -suami Isyi- yang dengan berat hati harus memenuhi permintaan konyol istrinya, Isyi.
Dan kemudian, seiring waktu, sebuah peristiwa yang masih menjadi misteri mulai terbuka secara perlahan..
Cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau alur, itu adalah ketidaksengajaan.
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grayalfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 23
Selesai menyiapkan sarapan bersama Isyi, Ara pamit kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap.
"Isyi, aku mau mandi dulu terus siap-siap, nggak apa-apa 'kan!?"
Isyi mengangguk sambil menata sarapan di meja.
"Nggak apa-apa, udah cepet siap-siap."
Imran baru saja turun ketika Ara memasuki kamarnya.
"Pagi." Sapa Imran.
"Pagi." Jawab Isyi sambil tersenyum.
Imran menyeruput kopi yang sudah terhidang, tanpa mendudukkan dirinya.
"Duduk dulu mas. Kok buru-buru?" Tanya Isyi hendak mengisi piring buat Imran.
"Ada meeting dadakan pagi ini. Mas sarapan di kantor saja nanti." Ucap Imran kemudian menempelkan bibirnya di kening Isyi.
"Ara?" Tanya Isyi.
Imran melirik pada pintu kamar Ara.
"Ah, iya. Tolong sampaikan maafku pada Ara karena tidak bisa mengantar nya. Kalo begitu mas berangkat sekarang ya.."
Isyi mengangguk kemudian mengantar suaminya sampai depan.
"Hati-hati" Ucapnya melepaskan kepergian Imran. Tak lupa lambaian tangannya yang mengiringi kepergian mobil Imran.
Setelah menutup pintu, Isyi kembali ke dapur untuk membereskan sisa-sisa pertempurannya di dapur.
Setengah jam kemudian Ara melenggang keluar dari kamarnya. Berjalan menuju meja makan dengan langkah pasti.
Matanya sibuk mencari sosok yang biasanya sudah duduk siap di meja makan.
"Ayo sarapan dulu, Ra." Ajak Isyi sambil menarik kursi yang hendak didudukinya.
"Ah, iya." Ara juga menarik kursinya. Tapi matanya belum menemukan yang ia cari.
"Mas Imran belum turun?" Tanya Ara pada akhirnya.
"Nggak biasa-"
"Oh itu, mas Imran udah berangkat tadi. Ada meeting dadakan katanya." Jawab Isyi.
Tangan Ara yang hendak mengambil nasi, tergantung kaku.
"O-oh gitu ya."
"Mas Imran minta maaf karena tidak bisa mengantar mu." Lanjut Isyi.
"Ah iya, nggak apa-apa. Aku bisa naik taksi." Jawab Ara tenang, tapi percayalah hatinya tak setenang itu. Ada kecemasan yang mengganggunya.
Ara sebenarnya sudah tak ***** makan lagi, tapi ia paksakan menelan makanan tersebut karena tak mau membuat Isyi kepikiran.
Apa mas Imran menghindari ku?
Pikiran Ara jadi tak tenang. Dari semalam ia merasa Imran seperti menghindarinya. Karena setelah selesai makan malam, Imran pamit dan naik ke kamar lebih dulu membiarkan Isyi dan Ara berbincang berdua sambil menonton televisi.
Dan pagi ini ia sudah berangkat bahkan tanpa menampakkan wajah di depan Ara. Ara sedikit terganggu.
Sementara itu, Imran sedang disibukkan dengan meeting dadakan pagi ini. Untunglah ia bisa datang tepat waktu. Ia sedikit menyesal karena tak bisa mengantar Ara, tapi mau bagaimana lagi, ia juga punya tanggung jawab yang lain disini, di perusahaannya.
Imran tak kepikiran untuk sekedar mengirim pesan pada Ara. Padahal Ara menunggu kalau-kalau ada pesan masuk dari Imran.
Ara duduk dengan sedikit gelisah di kursi belakang.
"Sudah sampai, neng." Ucap pria paruh baya yang mengemudikan taksi itu.
"Ah iya ya pak." Ara membayar tarif sesuai dengan nominal yang tertera di argo dan mengucapkan terima kasih setelah nya.
Ara bekerja seperti biasa tapi dia jadi sedikit pendiam walau biasanya juga tak banyak bercakap ketika bekerja.
Bahkan ketika istirahat makan siang pun ia hanya termenung dengan segelas jus mangga di depannya. Fikri memilih tak banyak bertanya lagi, karena sedari tadi ia menanyakan ada apa, Ara akan menjawab tidak ada apa-apa, dan Fikri yakin Jawaban yang akan ia dapat jika bertanya lagi tak akan berubah.
Lia masih belum masuk, jadi mereka hanya duduk berdua.
Berkali-kali Ara mengecek handphone nya ketika di dengarnya handphone nya bergetar. Tapi lagi-lagi ia menelan kekecewaan karena bukan yang ia tunggu yang ia dapat.
"Nungguin pesan dari siapa sih?" Tanya Fikri jengah.
"Hm?! Emang keliatan lagi nungguin ya?"
"Ya iyalah, dari tadi Lo ngecek handphone Mulu." Jawab Fikri.
"Kenapa nggak Lo kirim pesan duluan?" Lanjut Fikri.
Ara tampak menimbang-nimbang. Harus kirim pesan apa?
Ara mulai mengetik sesuatu. Ia berpikir harus mengirim pesan apa, beberapa kali mengetik dan menghapusnya. Beberapa saat kemudian ia membaca kembali pesan yang hendak dikirimnya.
^^^[Mas, nanti bisa jemput aku?]^^^
^^^Send^^^
Tak apa-apa kan aku bertanya seperti itu?!
Tanda centang dua.
Dimasukkannya kembali handphone itu ke dalam saku. Tiba-tiba saja ia berdebar menunggu pesan balasan. Berdebar karena takutnya balasan yang di dapatnya tak sesuai harapan.
"Udah lega?" Tanya Fikri membuat Ara mengalihkan pandangannya pada pria itu.
"Hah?! Ya lumayan, tapi aku jadi khawatir sekarang, khawatir sama balasannya nanti."
"Ck, astaga, jangan terlalu khawatir. Buang jauh-jauh pikiran negatif Lo. Pikirin yang positif-positif aja." Nasihat Fikri bijak.
"Kenapa malah senyum-senyum Lo?" Tanya Fikri heran.
"Abisnya kata-kata kamu bijak banget. Nggak biasanya.. haha."
"Ck."
Selesai makan siang, mereka kembali bekerja. Ara tak mengecek lagi handphone nya, padahal sebuah pesan yang sedari tadi ia tunggu-tunggu tengah menunggunya. Pesan yang mungkin akan membuat Ara merasakan debaran lagi.
"Mau gue anter pulang nggak?" Tanya Fikri pada Ara.
"Hm, kayaknya nggak usah deh."
"Mau dijemput bebeb ya.." Goda Fikri dengan seringainya.
Ara tersipu mendengarnya. Sedetik kemudian ia menyadarkan dirinya.
"Bebeb, bebeb apaan sih. Sok tau." Ucap Ara sok tenang.
Fikri terkekeh.
"Ya udah, gue duluan deh. Good luck ya." Ucapnya sambil melambaikan tangan dan meninggalkan Ara yang masih akan membereskan mejanya.
Ara geleng-geleng kepala mendengarnya. Good luck apanya. Dasar. Tapi senyum Ara mengembang.
Ara mengecek handphone nya dengan was-was.
Positive thinking..
Positive thinking..
Benar saja, jantung Ara yang sudah berdebar tak karuan dari tadi tambah tak karuan ketika ia mendapati sebuah pesan masuk di aplikasi chat nya.
[Ara maaf, mas tidak bisa menjemputmu.]
13.03
[Sekali lagi, maaf.]
13.03
[Mas sibuk banget. Kayaknya hari ini bakal lembur.]
13.04
[Nggak apa-apa 'kan!?]
13.05
[Ara..]
16.45
[Nggak apa-apa pulang sendiri?]
16.47
[Sudah pulang?]
16.50
[Sudah dapat taksi? Apa perlu mas jemput saja?]
16.57
Ara menatap serentetan pesan yang dikirim suaminya, Imran. Terlihat Imran sedang mengetik..
[Mas berangkat sekarang buat jemput kamu.]
Satu lagi pesan masuk. Segera Ara membalas pesannya.
^^^[Nggak apa-apa, mas. Ara bisa pulang sendiri.. ^^]^^^
Ara tak boleh egois. Imran memang tak akan selalu bisa mengantar atau menjemputnya. Ia mengingatkan dirinya agar selalu mengerti.
^^^[Mas pasti sibuk, Ara mengerti. Jangan lupa makan mas]^^^
Ara ingat Imran bahkan tak sempat sarapan tadi pagi.
Tanpa Ara tahu, Imran juga sedikit gelisah di tempatnya. Meski Ara sudah membalas pesannya dan mengerti kesibukannya, tetap saja ia merasa bersalah karena biasanya ia akan selalu menjemput sang istri.
[Ya, terima kasih. Hati-hati di jalan.]
Itulah pesan terakhir yang Ara baca.
To be continued~