PART DUA Novel KETIKA KEHORMATAN KU DI PERTANYAKAN.
"BISMILLAH CINTA" seru Khadijah sebelum ia bersujud di sepertiga malam nya. Setelah pagi tadi ia merasakan gugup dan jantung nya berdetak kencang untuk pertama kali nya saat dekat dengan seorang laki-laki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumtazah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
"Maaf cari siapa ya, pak?"
Seorang santri celingak-celinguk, saat pria di depan nya ini bisa sampai area ndalem tanpa ada seorang pun yang mengawal nya.
"Ohh, maaf. Ini Anak saya mau ketemu Ning Khadijah, saya sama Mama saya, cuma Mama masih on the way"
"Ohh, sebentar ya, pak. Karena di dalam rumah gak ada orang selain saya dan ning Khadijah" Santriwati tersebut berniat ingin meminta izin kepada Khadijah, namun langsung di cegah.
"Tidak, saya tunggu di luar. Yang mau ketemu Ning Khadijah adalah Anak saya" Ucap nya sambil menarik tangan Asyifa.
"Hanik, biarkan Asyifa masuk" Suara Khadijah berada di balik tirai "mohon maaf papa nya Asyifa, karena tidak ada orang di rumah. Maka dengan sangat menyesal saya meminta bapak duduk di luar saja"
"Oh, iya. Tidak apa-apa"
Gadis kecil itupun di gandeng oleh Hanik, membawa nya masuk menemui Khadijah.
"Ustadzah, Asyifa kangen" Gadis itu nampak lemah, bibir nya juga pucat.
"Asyifa sakit?"
Gadis itu mengangguk lemah, lalu memeluk Khadijah. "Bolehkan Asyifa tidur di sini? Seperti dulu?"
"Heh?"
Khadijah menatap Hanik yang juga masih ada di sana. "Kamu buatin papa nya Asyifa kopi dulu, ya. Sebentar lagi Abi juga pulang"
"Nenek sama Kakek lagi ke Jakarta, Asyifa di rumah sama mbak jijah, dia marah-marah terus. Papa juga gak pulang-pulang"
"Ya sudah, sini duduk sama Aunty," Khadijah mengangkat tubuh gadis kecil tersebut, lalu memangku nya.
Khadijah mengajak Asyifa berbicara, gadis itu mulai bercerita bagaimana kebosanan nya di rumah, nenek nya tidak ada dan kakek nya juga tidak ada.
Dia sepanjang hari bersama babysitter nya, yang paling membuat terkejut. Babysitter Asyifa slalu memaksanya untuk tidur dan diam di dalam kamar.
"Kenapa Asyifa tidak bilang sama nenek dan Papa, kalau mbak jijah nakal?"
"Sudah, tapi papa selalu sibuk sama handphone nya. Dia sibuk ber telepon, sibuk dengan laptop, walaupun Asyifa bercerita, papa hanya jawab iya saja"
Anak kecil tidak pernah berbohong, todak mungkin Asyifa mengarang cerita se dramatis itu, tidak mungkin!
Diluar rumah, nampak sepasang suami-istri yang sudah tidak lagi muda datang.
"Bagus pergi dulu, mi" Melihat orang tua nya sudah datang, pria ini langsung beranjak, bahkan segelas kopi di meja belum ia sentuh.
"Kamu benar-benar ya!" Kesal nenek Asyifa, Heny.
"Ayolah, mami. Bagus banyak sekali pekerjaan"
"Kau ini bos nya, tapi seolah-olah kau ini buruh"
"See you, mami, papi. Assalamualaikum" Seolah tak mau mendengarkan kata-kata orang tua nya, bagus langsung berlalu begitu saja.
"Waalaikumsalam"
Laki-lali tiga puluh tahunan itu pergi begitu saja, kaki panjang nya melangkah dengan sangat cepat, membawa tubuh tinggi besar itu masuk ke sebuah mobil berwarna Hitam mengkilat.
"Papi tunggu sini, mami saja yang masuk nemuin ning Khadijah sama Asyifa"
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Khadijah langsung keluar saat ia mendengar suara nenek Asyifa dari luar.
"Asyifa sayang, maafin nenek ya"
"Maaf ya, ning"
"Tidak apa-apa bu Hany," Jawab khadijah sambil tersenyum
"Saya ada keperluan, menyelesaikan beberapa dokumen di Jakarta. Asyifa sengaja tak tinggal karena kami ingin sekali menyelesaikan nya"
Khadijah bingung, ia takut jika mengatakan semua cerita dari Asyifa membuat semua salah paham.
"Hanik, tolong buat kan teh dan kopi untuk tamu kita"
"Tidak, ning. Kami langsung pulang saja"
"Kenapa terburu-buru, bu Heny?"
"Nenek, Asyifa masih mau ngaji dulu"
Wanita setengah abad itu menghembuskan nafas nya kasar, ia sungguh tak tega melihat wajah pucat sang cucu yang menatap nya penuh permohonan.
"Begini, ning. Asyifa ini tidak mau ngaji kalau tidak sama sampean, satu bulan terakhir ini, sejak ning Khadijah libur. Dia juga tidak mau mengaji"
Khadijah terkejut, ia memang sama sekali tidak bertanya tentang perkembangan TPQ nya, ia terlalu larut dalam kesedihan. Di pikiran nya hanya ada tentang kegagalan nya bersama Rafa.
"Kalau boleh, saya minta ning Khadijah bisa mengajarkan secara privat cucu saya. Saya bersedia membayar berapa pun, mungkin cuma satu tahun saja. Dia masih kecil, di jelaskan juga tidak akan mengerti"
"Baiklah, bu Heny. Setiap sore bisa di antar Asyifa ke rumah sini ya. Saya bersedia mengajar nya"
Tanpa berpikir Khadijah menerima nya, lumayanlah untuk mengisi waktu nya. Lagipula hari-hari nya sekarang tidak produktif, ia sepanjang hari ada di rumah.
Setelah di bujuk, akhir nya Asyifa pulang di gendong oleh sang kakek.
"Papa kemana, nek?"
"Papa kerja, sayang"
"Tadi papa janji, mau kelonin Asyifa" Ucap nya sambil menatap mata Sang kakek.
"Kakek saja yang kelonin ya sayang, kita tidur di kamar Papa. Biar saja papa tidur di luar, ya" Rayu kakek nya, Cipto.
Penasaran ......
ko gak up
lama lohh nunggu nya...