Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 keterlibatan mertua
Malam semakin larut, jam di dinding apartemen menunjukkan pukul sembilan malam.
Namun pintu apartemen tetap tidak terbuka.
Nadia masih duduk di ruang makan yang telah ia dekorasi sejak pagi. Lilin-lilin kecil sudah dinyalakan beberapa jam lalu, sebagian bahkan mulai habis meleleh. Makanan yang semula masih hangat kini perlahan dingin di atas meja.
Gaun yang ia kenakan sejak sore masih terlihat rapi.
Terlalu rapi untuk seseorang yang sedang menunggu sendirian.
Tatapannya sesekali jatuh pada layar ponsel.
Hanya keheningan yang semakin menyesakkan dada.
Sementara itu, Adrian justru berada di sebuah restoran yang terletak di puncak bukit dengan pemandangan lampu kota yang membentang indah di bawah sana.
Restoran itu milik teman lama Bianca.
Suasananya hangat.
Lampu-lampu temaram menerangi setiap sudut ruangan, sementara alunan musik lembut mengisi udara malam.
Di meja dekat jendela, Adrian duduk berhadapan dengan Bianca.
Wanita itu mengenakan gaun sederhana berwarna gelap yang membuat penampilannya terlihat elegan tanpa berusaha terlalu keras.
Angin malam sesekali masuk melalui jendela terbuka, membuat rambut Bianca bergerak pelan.
Entah sejak kapan, Adrian mulai menikmati momen-momen seperti ini.
"Kamu kelihatan lebih santai malam ini."
Bianca tersenyum sambil meletakkan gelasnya.
Adrian tertawa kecil.
"Mungkin karena nggak ada yang membicarakan pekerjaan."
"Atau mungkin karena nggak ada yang membandingkan kamu dengan siapa pun."
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
Tatapannya turun ke meja.
Senyum tipis yang tadi muncul perlahan memudar.
Selama bertahun-tahun, hidupnya selalu dipenuhi perbandingan.
Dibandingkan dengan ayahnya. Dibandingkan dengan pengusaha lain.
Dan yang paling menyakitkan Dibandingkan dengan Nadia.
Istrinya sendiri. Wanita yang begitu hebat hingga semua orang mengaguminya. Wanita yang selalu berhasil.
Wanita yang selalu menjadi kebanggaan firma.
Sementara dirinya...
Selalu berada satu langkah di belakang.
"Aku tahu ini terdengar buruk," ucap Adrian pelan.
"Tapi kadang aku merasa... sendirian."
Bianca tidak menyela.
Ia hanya mendengarkan.
Memberi ruang bagi Adrian untuk berbicara.
"Aku bangga sama Nadia."
Suara Adrian terdengar lebih lirih.
"Dia luar biasa."
"Terlalu luar biasa bahkan."
Tatapannya menerawang ke luar jendela.
Ke arah lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.
"Semua orang mengaguminya."
"Semua orang menghormatinya."
"Lalu aku pulang ke rumah..."
Adrian terdiam sesaat.
Seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.
"Dan aku merasa seperti seseorang yang tidak dibutuhkan."
Bianca menatap pria di depannya dengan ekspresi sulit dibaca.
Ada simpati di matanya.
Mungkin juga sesuatu yang lain.
"Aku rasa Nadia tetap mencintaimu."
Adrian tersenyum hambar.
"Mungkin."
"Tapi dia selalu sibuk."
"Kami selalu sibuk."
Suara Adrian dipenuhi kelelahan yang selama ini ia simpan sendiri.
"Setelah keguguran itu..."
Kalimatnya menggantung.
Dada Adrian terasa sesak, Luka itu ternyata belum benar-benar sembuh.
"Rumah terasa kosong."
"Sangat kosong."
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Hanya suara musik lembut yang terdengar di sekitar mereka.
Lalu Bianca mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Adrian dengan pelan. Gerakan sederhana.
Namun cukup membuat Adrian menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Adrian merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.
"Aneh ya," gumam Adrian pelan.
Bianca mengangkat alisnya.
"Apa?"
Adrian tersenyum kecil.
Senyum yang kali ini terlihat lebih tulus.
"Setiap kali sama kamu..."
Ia menghela napas perlahan.
"Entah kenapa aku merasa tenang."
Mata Bianca sedikit melembut.
Sementara di luar restoran, lampu-lampu kota terus bersinar indah.
Dan jauh di tempat lain, seorang wanita bernama Nadia masih menunggu di depan meja anniversary yang telah ia siapkan dengan penuh cinta.
Tanpa mengetahui bahwa malam yang seharusnya menjadi perayaan pernikahan mereka justru sedang menjadi awal dari retakan yang semakin sulit diperbaiki.
Jarum jam sudah melewati tengah malam ketika suara pintu apartemen akhirnya terdengar.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Adrian melangkah masuk dengan wajah lelah. Aroma makanan dari restoran masih samar menempel di pakaiannya. Namun langkahnya langsung terhenti begitu memasuki ruang makan.
Matanya membelalak sesaat.
Ruangan itu dipenuhi dekorasi sederhana namun hangat.
Lilin-lilin kecil yang sebagian sudah habis meleleh.
Rangkaian bunga putih yang mulai layu.
Makanan yang masih tersusun rapi di atas meja.
Dan sebuah kue anniversary yang belum tersentuh sedikit pun.
Untuk beberapa detik Adrian hanya berdiri diam.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Hari anniversary.
Malam itu adalah anniversary pernikahan mereka.
Dan ia benar-benar lupa.
Pandangan Adrian perlahan bergeser ke arah sofa dekat ruang makan.
Di sana Nadia tertidur dengan posisi tidak nyaman.
Masih mengenakan gaun cantik yang jelas dipersiapkan khusus untuk malam ini.
Kepalanya bersandar di sandaran sofa.
Salah satu tangannya masih menggenggam ponsel.
Seolah sejak tadi ia terus menunggu kabar darinya.
Sampai akhirnya tertidur karena kelelahan.
Perasaan bersalah tiba-tiba muncul di dada
Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Saat Adrian mendekat, Nadia perlahan terbangun.
Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya fokus pada sosok suaminya.
Untuk sesaat tidak ada yang berbicara.
Hanya keheningan yang memenuhi ruangan.
Nadia duduk perlahan.
Tatapannya jatuh pada Adrian, lalu pada jam dinding.
Kemudian kembali ke wajah pria itu.
"Kamu pulang."
Suaranya terdengar tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru itu yang membuat Adrian semakin tidak nyaman.
"Maaf."
Hanya itu yang mampu diucapkannya.
Nadia tersenyum tipis.
Senyum yang terlihat lelah.
"Kamu dari mana?"
Pertanyaan sederhana.
Namun entah kenapa membuat Adrian langsung mengalihkan pandangan.
"Aku kumpul sama teman-teman."
Jawaban itu keluar cepat.
Sudah terlalu sering digunakan. Sudah terlalu mudah diucapkan. Dan malam ini terdengar semakin kosong. Nadia menatapnya cukup lama.
Mencoba membaca wajah pria yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.
Namun Adrian justru terlihat menghindari tatapannya.
Hal kecil yang dulu tidak pernah terjadi.
"Teman-teman kantor?"
tanya Nadia pelan.
"Iya."
Jawaban singkat kembali terdengar.
Nadia hanya mengangguk.
Tidak membahasnya lebih jauh.
Meski jauh di dalam hatinya, keraguan yang sejak tadi tumbuh semakin sulit diabaikan, Beberapa saat kemudian Nadia berdiri.
Ia mematikan salah satu lilin yang masih menyala.
Api kecil itu padam seketika.
Meninggalkan kepulan asap tipis di udara.
"Pulang ke rumah Ayah tadi."
Adrian yang sedang membuka kancing jasnya menoleh.
"Hm?"
Nadia menatapnya.
"Ayahmu sekarang jadi bagian dari firma."
Adrian langsung berhenti bergerak.
Wajahnya menegang.
"Apa?"
Nada suaranya berubah, Nadia mengangguk pelan.
"Ayah mengakuisisi saham mayoritas."
Kalimat itu membuat rahang Adrian mengeras.
Seluruh rasa lelah di wajahnya menghilang dalam sekejap.
Digantikan keterkejutan yang nyata.
"Ayah melakukan itu?"
Nadia dapat melihat emosi yang mulai muncul di mata suaminya.
Dan mungkin juga ketakutan.
"Aku nggak tahu detailnya."
Nadia berbicara hati-hati.
"Tapi mulai sekarang pengaruh keluarga Mahendra di firma akan jauh lebih besar."
Hal yang selama ini paling ia hindari akhirnya terjadi.
Campur tangan keluarganya dalam karier yang selama ini berusaha ia bangun sendiri.
Nadia memperhatikan wajah suaminya.
Untuk pertama kalinya malam itu ia melihat Adrian benar-benar gelisah.
Lalu tanpa sadar kalimat yang tadi ia pendam akhirnya keluar.
"Mas..."
Adrian menoleh.
Nadia menarik napas pelan.
"Ayahmu sekarang akan melihat semuanya lebih dekat."
Tatapannya jatuh pada mata Adrian.
"Lebih baik kamu mulai lebih serius dan lebih giat lagi dalam pekerjaan."
Kalimat itu sebenarnya tidak bermaksud menyakiti.
Nadia mengatakannya dengan tulus.
Sebagai seseorang yang selama ini selalu berusaha melindungi Adrian.
Namun entah mengapa, di telinga Adrian, kalimat itu terdengar seperti pengingat atas semua kegagalan yang selama ini berusaha ia lupakan.
Dan malam anniversary yang seharusnya menjadi perayaan cinta mereka justru berakhir dengan keheningan yang terasa semakin jauh di antara keduanya.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah