Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.
Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.
Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Kesempatan Kerja
Perubahan yang terjadi dalam hidup Maya perlahan membawa banyak hal baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Bukan hanya soal kepercayaan diri.
Bukan hanya tentang keberanian untuk kembali tersenyum.
Tetapi juga tentang kesempatan-kesempatan yang selama ini seolah tidak pernah datang menghampirinya.
Hari-hari setelah percakapannya dengan tetangga tua itu berjalan cukup tenang.
Gosip masih ada.
Bisik-bisik masih terdengar sesekali.
Namun Maya sudah tidak lagi membiarkannya mengganggu pikirannya.
Ia mulai fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.
Dika.
Pekerjaannya.
Dan dirinya sendiri.
Suatu pagi, setelah mengantar Dika ke sekolah, Maya mampir ke sebuah warung kopi kecil yang baru dibuka di dekat pusat kota.
Tempat itu tidak terlalu ramai.
Hanya beberapa pengunjung yang duduk sambil menikmati minuman mereka.
Maya memilih meja di dekat jendela.
Ia membawa laptop lama yang sudah beberapa tahun digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan freelance yang selama ini menjadi sumber penghasilannya.
Sambil menunggu pesanannya datang, ia membuka email.
Seperti biasa, sebagian besar berisi promosi dan pemberitahuan yang tidak terlalu penting.
Namun satu email membuatnya berhenti.
Pengirimnya adalah sebuah perusahaan lokal yang namanya cukup dikenal di kota mereka.
Maya mengernyit.
Ia merasa tidak pernah berhubungan dengan perusahaan tersebut sebelumnya.
Dengan rasa penasaran, ia membuka email itu.
Isinya singkat.
Perusahaan tersebut sedang berkembang dan membutuhkan seseorang dengan kemampuan administrasi serta pengelolaan data.
Nama Maya direkomendasikan oleh seseorang yang pernah bekerja sama dengannya beberapa tahun lalu.
Mereka ingin mengundangnya untuk wawancara.
Maya membaca email itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Seolah memastikan dirinya tidak salah memahami isi pesan tersebut.
Dadanya mulai berdebar.
Sudah lama sekali ia tidak menerima tawaran seperti ini.
Sejak Rendi meninggal, hidupnya lebih banyak dihabiskan dengan pekerjaan sambilan yang bisa dikerjakan dari rumah.
Pilihan itu memang memudahkannya mengurus Dika.
Namun penghasilannya tidak selalu stabil.
Kadang cukup.
Kadang pas-pasan.
Kadang ia harus mengatur keuangan dengan sangat hati-hati agar kebutuhan bulanan tetap terpenuhi.
Karena itu, tawaran tersebut terasa begitu besar.
Sekaligus menakutkan.
Saat pulang ke rumah, Maya masih memikirkan email itu.
Ia duduk di ruang tamu sambil memandangi layar laptop.
Jari-jarinya beberapa kali bergerak menuju tombol balas.
Namun kemudian berhenti.
Bagaimana jika ia tidak cukup mampu?
Bagaimana jika ia gagal saat wawancara?
Bagaimana jika setelah sekian lama bekerja sendiri, ia tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kantor?
Keraguan-keraguan lama mulai bermunculan kembali.
Keraguan yang selama ini berusaha ia tinggalkan.
Malam harinya, saat berbicara melalui telepon dengan Rina, Maya menceritakan semuanya.
"Apa?" suara Rina langsung terdengar bersemangat.
"Itu kabar bagus!"
Maya tersenyum kecil.
"Aku belum tentu diterima."
"Tapi mereka menghubungimu lebih dulu."
Maya terdiam.
"Itu berarti mereka melihat sesuatu dalam dirimu."
"Aku tidak tahu."
"Kamu terlalu sering meremehkan dirimu sendiri."
Maya tertawa pelan.
Kalimat itu sudah berkali-kali ia dengar dari sahabatnya.
Namun entah mengapa, kali ini terasa lebih mengena.
Rina kembali berkata,
"Maya, selama ini kamu mengurus rumah sendirian."
"Iya."
"Kamu membesarkan Dika."
"Iya."
"Kamu bekerja sambil mengurus semuanya."
Maya mengangguk meskipun Rina tidak bisa melihatnya.
"Kalau kamu mampu melakukan semua itu, kenapa kamu berpikir tidak mampu bekerja di kantor?"
Pertanyaan itu membuat Maya terdiam cukup lama.
Karena sebenarnya ia tidak memiliki jawaban.
Yang ia miliki hanyalah rasa takut.
Takut mencoba.
Takut gagal.
Takut kecewa.
Dan ketakutan sering kali jauh lebih besar daripada kenyataan yang sebenarnya.
Malam itu, setelah berpikir cukup lama, Maya akhirnya membalas email tersebut.
Ia mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan dan menyatakan kesediaannya untuk mengikuti wawancara.
Begitu pesan terkirim, jantungnya berdegup lebih cepat.
Tidak ada jalan mundur lagi.
Dua hari kemudian, jadwal wawancara pun ditetapkan.
Pagi itu Maya bangun lebih awal dari biasanya.
Ia menyiapkan sarapan untuk Dika.
Membantu putranya bersiap ke sekolah.
Lalu kembali ke kamar untuk mempersiapkan dirinya sendiri.
Di depan lemari pakaian, ia berdiri cukup lama.
Ia tidak memiliki banyak pakaian formal.
Sebagian besar pakaiannya sederhana dan nyaman digunakan sehari-hari.
Namun akhirnya ia memilih blus berwarna biru muda yang rapi dipadukan dengan celana panjang hitam.
Penampilannya sederhana.
Tetapi bersih dan profesional.
Saat berdiri di depan cermin, Maya menarik napas panjang.
Untuk sesaat, ia kembali melihat perempuan yang beberapa bulan lalu hampir kehilangan kepercayaan dirinya.
Perempuan yang selalu merasa tidak cukup baik.
Tidak cukup cantik.
Tidak cukup mampu.
Namun kini ada sesuatu yang berbeda di matanya.
Keberanian.
Mungkin belum besar.
Mungkin masih rapuh.
Tetapi keberanian itu ada.
Dan itu sudah cukup.
Gedung perusahaan tersebut terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Bangunannya tidak sebesar perusahaan-perusahaan besar yang sering terlihat di televisi.
Namun tampak modern dan tertata rapi.
Saat memasuki area kantor, Maya merasakan gugup yang luar biasa.
Tangannya sedikit dingin.
Telapak tangannya berkeringat.
Tetapi ia terus melangkah.
Di ruang tunggu, beberapa pelamar lain sudah duduk menunggu giliran.
Sebagian tampak lebih muda.
Sebagian terlihat sangat percaya diri.
Maya sempat merasa minder.
Namun ia segera mengingat sesuatu yang pernah dikatakan Rina.
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
Tidak ada gunanya membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Ketika namanya dipanggil, Maya berdiri dan masuk ke ruang wawancara.
Di dalam ruangan itu terdapat dua orang pewawancara.
Seorang pria paruh baya dan seorang perempuan yang tampak berusia sekitar tiga puluh tahun.
Mereka menyambut Maya dengan ramah.
Percakapan awal berjalan cukup santai.
Mereka menanyakan pengalaman kerjanya.
Kemampuan administrasi yang dimiliki.
Serta berbagai pekerjaan yang pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.
Semakin lama, Maya mulai merasa lebih nyaman.
Ia menjawab dengan jujur.
Tidak berusaha melebih-lebihkan kemampuannya.
Tidak mencoba menjadi orang lain.
Ia hanya menjadi dirinya sendiri.
Saat wawancara hampir selesai, salah satu pewawancara bertanya,
"Bu Maya, setelah sekian lama bekerja secara mandiri, kenapa ingin kembali bekerja di kantor?"
Maya terdiam sejenak.
Lalu menjawab dengan pelan.
"Karena saya ingin berkembang."
Kedua pewawancara memperhatikannya.
Maya melanjutkan,
"Selama beberapa tahun terakhir saya hanya fokus bertahan."
Matanya sedikit melembut.
"Sekarang saya ingin kembali melangkah."
Ruangan itu mendadak terasa hening beberapa detik.
Kemudian kedua pewawancara tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke sana, Maya merasa jawabannya tepat.
Setelah wawancara selesai, ia pulang dengan perasaan campur aduk.
Lega karena semuanya telah berlalu.
Namun juga cemas menunggu hasilnya.
Hari-hari berikutnya terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Setiap kali ponselnya berbunyi, jantung Maya langsung berdebar.
Setiap kali ada email masuk, ia segera memeriksanya.
Namun belum ada kabar.
Sampai akhirnya, empat hari kemudian, sebuah telepon masuk saat Maya sedang mencuci piring.
Nomor yang tidak dikenal.
Maya segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Selamat siang. Apakah saya sedang berbicara dengan Bu Maya?"
"Iya."
Suara di seberang terdengar ramah.
"Kami dari perusahaan Aruna Kreasi."
Jantung Maya langsung berdegup lebih cepat.
"Kami ingin mengucapkan selamat."
Maya memejamkan mata sesaat.
Tangannya gemetar.
"Selamat?"
"Iya. Kami ingin menawarkan posisi administrasi kepada Ibu."
Beberapa detik berikutnya terasa seperti mimpi.
Maya hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ia mendengarkan penjelasan mengenai posisi pekerjaan, jadwal kerja, dan berbagai hal lainnya.
Namun sebagian pikirannya masih berusaha memahami satu kenyataan.
Ia diterima.
Setelah telepon berakhir, Maya berdiri diam di dapur.
Air keran masih mengalir.
Piring-piring masih berada di wastafel.
Tetapi ia tidak bergerak.
Perlahan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena lega.
Karena bahagia.
Karena setelah sekian lama merasa hidupnya berjalan di tempat, akhirnya ada pintu baru yang terbuka.
Malam itu, ia langsung menceritakan kabar tersebut kepada Dika.
Mata bocah itu langsung berbinar.
"Benarkah, Bu?"
Maya tersenyum.
"Iya."
"Wah, hebat!"
Dika memeluk ibunya erat.
Pelukan sederhana itu membuat hati Maya menghangat.
Karena ia tahu semua perjuangannya selama ini bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Tetapi juga untuk anak yang kini sedang memeluknya dengan bangga.
Rina tentu menjadi orang berikutnya yang menerima kabar tersebut.
Begitu telepon diangkat, Maya belum sempat berbicara.
Namun Rina sudah lebih dulu berkata,
"Kamu diterima, kan?"
Maya tertawa.
"Kok tahu?"
"Karena kalau tidak diterima, kamu tidak akan menelepon dengan suara seceria itu."
Keduanya tertawa bersama.
Malam itu mereka berbicara cukup lama.
Membicarakan banyak hal.
Tentang harapan baru.
Tentang tantangan yang mungkin akan datang.
Dan tentang kehidupan yang perlahan mulai berubah.
Namun di balik kebahagiaan itu, Maya juga menyadari satu hal.
Pekerjaan baru berarti perubahan besar.
Rutinitas baru.
Lingkungan baru.
Tanggung jawab baru.
Ia harus belajar membagi waktu antara pekerjaan dan Dika.
Ia harus beradaptasi kembali dengan dunia kerja yang sudah lama ia tinggalkan.
Dan tentu saja, ia harus menghadapi berbagai komentar baru dari lingkungan sekitarnya.
Karena berita tentang dirinya yang mendapatkan pekerjaan tidak membutuhkan waktu lama untuk menyebar.
Beberapa orang memberikan ucapan selamat dengan tulus.
Beberapa lainnya tampak terkejut.
Ada pula yang kembali memberikan komentar miring.
Namun kali ini, Maya tidak terlalu memikirkannya.
Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, fokusnya bukan lagi pada apa yang dipikirkan orang lain.
Fokusnya adalah pada masa depan yang perlahan mulai terbuka di hadapannya.
Malam sebelum hari pertamanya bekerja, Maya duduk di kamar sambil menatap langit melalui jendela.
Udara malam terasa sejuk.
Bintang-bintang tampak samar di kejauhan.
Di atas meja, surat penerimaan kerja masih tersimpan rapi.
Sesekali ia melihatnya dan tersenyum sendiri.
Perjalanan panjang yang selama ini ia tempuh ternyata membawanya sampai ke titik ini.
Bukan akhir dari perjuangan.
Melainkan awal dari babak baru.
Babak yang mungkin akan menghadirkan tantangan lebih besar.
Namun juga kesempatan yang lebih luas.
Dan jauh di dalam hatinya, Maya mulai merasakan sesuatu yang sudah lama hilang.
Harapan.
Sementara itu, tanpa disadarinya, seseorang yang beberapa waktu lalu mendengar namanya dari sebuah percakapan kini mulai mengetahui lebih banyak tentang dirinya.
Seseorang yang kebetulan memiliki hubungan dengan perusahaan tempat Maya akan bekerja.
Takdir perlahan mulai mempertemukan jalur kehidupan mereka.
Belum hari ini.
Belum besok.
Tetapi waktunya semakin dekat.
Dan ketika pertemuan itu akhirnya terjadi, hidup Maya akan kembali berubah dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.