Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. SBR
...~•Happy Reading•~...
Karena Janet prioritas keamanan perusahaan, mereka jadi tanggap, sigap dan cepat merespon sesuatu yang mengganggu Janet. "Bawa bapak ini ke pos." Perintah security kepada rekan yang datang membantu.
Walau belum melakukan sesuatu yang menyakiti Janet, tapi gerakan refleks dan wajahnya menunjukan bahwa dia sedang terancam. Sehingga security bertindak cepat untuk melindunginya.
"Saya Papanya." Bentak Papa Janet ngotot dan hendak menarik lengan Janet. "Janet, mengapa kau diam saja? Kita sudah lama gak bertemu. Papa ingin bicara denganmu." Papanya jadi emosi dan suaranya makin naik melihat sikap diam Janet yang membiarkan dia dibawa oleh security.
"Silahkan bapak jelaskan di pos. Jangan bikin ribut di sini. Atau kami bawa ke kantor polisi?" Bentak Security sambil berputar untuk menghalangi Janet dengan badannya.
"Apa mau bertemu anak, itu kejahatan?" Papa Janet masih protes sambil jalan.
"Kejahatan atau tidak, bicara di pos. Atau mau bicara di kantor polisi?" Security yang membawanya ikut mengancam. Sikap Papa Janet yang terus berusaha melepaskan tangan membuat mereka waspada.
Papa Janet tidak terima diabaikan, apa lagi melihat penampilan Janet yang sangat berbeda. Seperti wanita karier yang berkelas. Tidak seperti saat dibawa ke rumah Mami Devan.
'Dia bekerja di sini jadi apa? Apa dia sekolah lagi?' Papa Janet membatin, sebab dia tahu Janet hanya tamat SMA.
Penampilan dan penjagaan security membuat Papa Janet berpikir lain. 'Pasti sekarang dia punya jabatan bagus dan berpenghasilan besar?' Pemikiran itu makin membuat dia ingin berbicara dengan Janet.
Rasa penasaran akan perubahan Janet membuatnya berpikir lain. 'Atau dia sudah menikah dengan orang hebat?' Papa Janet terus membatin sambil dibawa security.
"Tenang, Bu. Di sini saja." Ucap security yang melihat Janet sangat pucat sambil memeluk tasnya dengan tangan gemetar. Janet hanya bisa mengangguk, mengiyakan. Suaranya tidak bisa keluar, seakan tersumbat di tenggorokan. Orang yang menghancurkan hidupnya tiba-tiba muncul dan mau memegangnya. Seluruh tubuhnya terasa gatal dan seperti ditusuk jarum.
Apa yang sudah dilupakan kembali menore rasa sakit. Dia ingat saat diminta pakai pakaian yang paling bagus lalu diajak pergi. Saat masuk halaman rumah besar dan bagus, dia berpikir akan bekerja di situ. Namun ketika dibilang ini hadiah ulang tahunmu kepada seorang pria, dia membeku. Seluruh tubuhnya terasa dingin saat dibawa pergi oleh Devan.
Dia ingat memukul dan mencakar Devan saat mau menyentuh tubuhnya untuk pertama kali. 'Mau saya ikat tanganmu?' Ancam Devan, membuat Janet diam ketakutan. Semua itu seperti slide film saat melihat Papanya.
Security yang melindungi Janet segera menghubungi kepala keamaan untuk melapor insiden yang terjadi di lobby atas sekretaris boss mereka. Dia harus melapor, agar tidak salah bertindak.
"Tahan orang itu di pos. Jangan sampai lepas." Perintah kepala keamaan yang langsung memeriksa cctv lobby. Kemudian Sony menghubungi Jensen.
"Mari Bu, kita ke pos keamanan." Ajak security. Janet menggeleng kuat. Dia tidak mau bersama Papanya dalam satu ruangan, agar peristiwa ditarik untuk dibawa pergi tidak terulang lagi.
"Ada kami, Bu. Tidak apa-apa." Security coba menenangkan dan meyakinkan Janet yang tetap berdiri seperti patung. Janet kembali menggeleng, kuat.
"Itu Pak Jensen sudah datang." Ucap security yang melihat Jensen keluar dari lift.
Janet menarik nafas panjang melihat Jensen. Ada sedikit kelegaan di dada mengetahui orang yang akan melindunginya datang. "Mari kita ke sana, Bu." Jensen mengajak Janet. "Jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu." Jensen mengingatkan. Janet mengangguk, lalu berjalan pelan dengan security di belakang Jensen.
"Akhirnya, kau datang juga." Ucap Papa Janet yang melihat Janet masuk.
"Catat namanya." Perintah Jensen.
"Dia tahu nama saya. Belum berubah. " Ucap Papa Janet yang kesal melihat Janet tetap diam dan tidak melihatnya.
"Ambil tanda pengenalnya." Perintah Jensen tidak bergeming.
"Marco." Papa Janet terpaksa menyebut namanya. Rasa khawatir mulai menjalar hatinya saat melihat Janet dikelilingi security.
"Akhirnya, Pak Devan datang juga. Ini dia, dibawa saja. Ternyata dia sembunyi di sini. Jangan biarkan dia kabur lagi." Wajah Papa Janet berubah senang.
"Bagus. hebat. Tahu dia di sini dari siapa?"
"Dari Mami. Mami yang antar ke sini. Ternyata dia sembunyi di sini." Papa Janet makin tersenyum.
'Dia kira, cuma dia yang bisa menyamar?' Gevaro berkata dalam hati, lalu keluar dari ruangan dan ambil jas yang dia titipkan sebelum masuk ke pos. Gevaro menyamar sebagai Devan untuk mengetahui siapa di balik kedatangan Papa Janet.
Dia langsung berjalan ke depan lobby dan telpon. 'Di mana pun kalian sedang memantau, tunggu saja.' Gevaro sengaja melakukan itu di depan lobby, agar bisa dilihat dari berbagai arah.
"Pak, tahan dia di sini sampai polisi tiba." Perintah Jensen yang sudah mendapat pesan dari Gevaro.
"Mengapa saya dibawa polisi?"
"Apa menjual anak, bukan kejahatan?" Bentak Jensen dengan suara keras.
"Jual, apa? Saya cuma mau bicara dengannya." Papa Janet pura-pura tidak mengerti maksud Jensen.
"Apa anda mau bicara untuk menghapus kejahatan masa lalumu?" Tanya Jensen yang sudah tahu cerita Janet soal judi dan utang piutang.
"Anda kira masa lalu orang tua bejat mudah dilupakan seorang anak?" Tanya Jensen dengan tatapan tajam. Semua security berjaga mendengar yang dikatakan pimpinan mereka.
"Anda tidak dengar tadi? Bagus. Anda sudah membawa diri sendiri. Jadi Bu Janet, tidak perlu mencari anda untuk lakukan tuntutan." Jensen menambahkan.
"Saya mau bicara dengan boss saya." Papa Janet berdiri dan langsung keluar. Jensen memberikan isyarat kepada security untuk membiarkan Papa Janet keluar.
Gevaro yang sudah masuk ke mobil, terus memantau. Terutama setelah melihat Papa Janet keluar dari lobby. Hal yang sama juga dilakukan oleh Mami Devan yang sedang menunggu dalam mobil.
'Oh, mereka pakai mobil itu.' Gevaro melihat Papa Janet masuk ke sebuah mobil biasa. 'Bagus.' Ucap Gevaro, lalu telpon.
"Jensen, antar Janet pulang. Saya sedang di depan untuk menghalangi mereka..." Gevaro menjelaskan yang harus dilakukan Jensen.
~▪︎▪︎
Di mobil Mami Devan, terjadi kepanikan. "Marco, apa yang terjadi? Mengapa kau tidak membawa anakmu?" Mami Devan jadi emosi melihat Marco langsung naik ke mobil. Padahal dia tahu, Gevaro sedang berada di dalam mobil di depan lobby.
"Saya sudah bilang Pak Devan ambil Janet, tapi dibiarkan saja. Malah pergi keluar meninggalkan kami." Marco menceritakan kejadian yang terjadi di pos security.
"Devan? Bodoo. Dia bukan..." Mami Devan jadi marah setelah mendengar cerita Marco. Dia tahu, Marco telah salah orang. 'Pantas mobil Devin tetap di situ.'
"Kau sudah tidak berharga lagi. Turun." Perintah Mami Devan kepada Papa Janet yang kebingungan.
"Saya mau pergi ke mana, Bu?" Tanya Papa Janet yang panik. Dia mengira dipanggil lagi akan diberi pekerjaan sebagai sopir pribadi, setelah dipecat empat tahun lalu.
"Pergi ke tempat judimu." Mami Devan jadi emosi karena rencananya berantakan.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...