NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan yang Tak Terlihat

Aroma minyak aromaterapi lavender bercampur keringat memenuhi ruangan berlantai kayu di lantai satu sanggar aerobik Sangkar Hati.

Musik berirama cepat dengan dentum bas yang menghentak dada baru saja dimatikan, menyisakan suara deru napas terengah-engah dari sekitar lima belas wanita yang memenuhi kelas sore itu.

"Oke, cooling down... Tarik napas dalam-dalam dari hidung... buang perlahan dari mulut," seru suara bariton yang dalam namun feminin dari depan ruangan.

Alya mengikuti instruksi itu dengan patuh. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, merentangkannya perlahan, lalu menurunkannya seiring dengan hembusan napas.

Kaus kuning terang seragam sanggar yang ia kenakan kini tampak basah di bagian punggung dan dada. Kulitnya yang putih tampak bersemu merah muda karena hawa panas tubuh, dan beberapa helai rambut hitamnya menempel di pelipis yang berkeringat.

Di depan kaca besar, sosok sang trainer berdiri dengan postur yang luar biasa tegap. Namanya Diana. Wanita itu bertubuh tinggi, sekitar 172 sentimeter, dengan otot-otot lengan dan paha yang padat terukir sempurna—hasil dari bertahun-tahun disiplin dalam dunia kebugaran.

Usianya mungkin sudah menginjak akhir tiga puluhan, sekitar 38 atau 40 tahun, namun wajahnya yang berahang tegas dengan potongan rambut pixie-cut yang maskulin membuatnya terlihat sangat karismatik dan jauh lebih muda.

Diana tidak banyak bicara sepanjang kelas. Ia hanya memberikan instruksi gerakan yang tegas, namun sepasang matanya yang elang dan tajam di balik alis tebal itu tidak pernah benar-benar lepas dari sosok Alya sejak menit pertama kelas dimulai.

"Cukup untuk hari ini. Silakan istirahat, minum yang banyak, dan jangan langsung duduk ya," ucap Diana datar sembari mematikan pemutar musik. Ia berjalan menuju meja instruktur, meraih botol minumannya, namun pandangannya tetap mengunci gerakan Alya yang sedang berjalan pelan menuju sudut ruangan.

Alya meraih botol air mineralnya yang tergeletak di dekat loker kecil. Rasa lelah fisik ini terasa melegakan, setidaknya mampu mengalihkan pikirannya dari ketegangan rumah besar Reza.

"Aduh, Mbak yang baju kuning... lincah banget gerakannya tadi! Anggota baru ya?" sebuah suara melengking ramah tiba-tiba menyapa Alya.

Seorang wanita paruh baya bertubuh agak gempal dengan handuk kecil melingkar di leher mendekatinya sambil tersenyum lebar. Di belakangnya, tiga orang ibu-ibu komplek lainnya ikut mendekat, membawa botol minum masing-masing.

Alya menoleh, langsung memasang senyum manisnya yang sopan—topeng yang biasa ia gunakan di depan orang asing.

"Iya, Tante. Saya Alya. Baru hari pertama gabung hari ini."

"Panggil Mbak Retno aja, jangan Tante, ah, berasa tua banget saya," sahut wanita itu sambil tertawa renyah, membuat ibu-ibu di sebelahnya ikut terkekeh.

"Tinggal di komplek perumahan depan itu juga, Mbak Alya?"

"Iya, Mbak Retno. Di Blok C-12," jawab Alya jujur.

"Lho, Blok C-12? Itu kan rumahnya Pak Reza Ardiansyah yang pengusaha kontraktor besar itu, kan? Yang rumahnya tingkat dua pagar jati ukir?" sela seorang ibu berambut sasak tinggi di sebelah Retno dengan mata berbinar penasaran.

"Kamu... siapanya Pak Reza? Adiknya? Atau saudaranya dari kampung?"

Alya tersenyum tipis, ada rasa canggung yang tiba-tiba mengganjal di tenggorokannya.

"Saya... istri Mas Reza, Mbak."

Suasana di sudut ruangan itu mendadak hening selama dua detik. Empat pasang mata di hadapan Alya membelalak sempurna.

Bahkan sekelompok ibu-ibu lain yang sedang mengobrol di dekat dispenser air langsung menoleh, menghentikan pembicaraan mereka karena menguping kata "istri Pak Reza".

"Istri?!" Retno memekik pelan, menutup mulutnya tidak percaya. Matanya meneliti wajah Alya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Aduh, maaf ya, Mbak Alya... tapi wajahmu itu masih imut-imut sekali. Masih kayak anak kuliahan baru masuk. Maaf, maaf banget nih... kalau boleh tahu, umurnya berapa sekarang?"

"Delapan belas tahun, Mbak. Baru lulus SMA bulan kemarin," jawab Alya dengan nada suara yang tetap ia jaga agar terdengar wajar, meskipun dadanya berdenyut getir.

"Delapan belas tahun?!"

Kali ini seruan itu terdengar lebih kompak dari kelompok ibu-ibu tersebut. Kasak-kusuk langsung pecah dalam sekejap bagai lebah yang sarangnya diganggu.

"Ya ampun, muda sekali! Pak Reza kan umurnya sudah kepala tiga, kan? Wah, menang banyak itu Pak Reza dapat daun muda," bisik ibu berambut sasak dengan nada yang agak sinis namun sarat akan rasa iri.

"Eh jaman sekarang mah biasa, Jeng. Yang penting kan mapan. Hidup enak tinggal tunjuk, gak usah pusing mikirin cicilan," sahut ibu yang lain sambil menyikut lengan temannya.

"Tapi ya ampun, delapan belas tahun... kalau anak saya umur segitu masih pusing mikirin kuota internet sama cowok monyet di sekolah. Ini sudah jadi nyonya besar di rumah mewah."

Retno menatap Alya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kagum, kasihan, dan rasa ingin tahu yang mendalam.

"Hebat ya kamu, Mbak Alya. Masih muda banget sudah berani ambil keputusan besar buat nikah. Apa nggak pengen kuliah dulu? Eman-eman lho wajah cantik begini kalau cuma di rumah aja."

Alya merasakan tenggorokannya mengering. Kata "kuliah" itu seperti hantaman palu tersembunyi yang mengenai lukanya yang belum sembuh. Ia mencengkeram botol minumnya sedikit lebih erat.

"Mas Reza... lebih suka saya di rumah saja, Mbak Retno."

"Ah, iya sih, tipikal laki-laki kaya dan sukses biasanya posesif, nggak mau istrinya dilihat orang luar," potong ibu berambut sasak lagi dengan nada sok tahu.

"Tapi ya disyukuri aja, Mbak Alya. Banyak perempuan di luar sana yang antre mau di posisi kamu."

Alya hanya bisa mengangguk kaku, memaksakan sebuah senyuman hampa melekat di wajahnya. Mereka tidak tahu.

Tidak ada satu pun dari wanita-wanita yang bergosip di sini yang tahu bahwa di balik status "nyonya besar" dan "hidup enak" yang mereka irikan, ada tubuh yang dipenuhi memar tersembunyi dan jiwa yang diperkosa setiap malam.

Di depan kaca besar, Diana sang trainer masih berdiri diam sambil meneguk air dari botolnya. Sepasang matanya yang tajam tidak melewatkan ekspresi mikro di wajah Alya—bagaimana sudut bibir gadis itu bergetar halus saat kata "kuliah" diucapkan, bagaimana jemarinya memutih karena mencengkeram botol, dan bagaimana sorot mata bulat yang indah itu menyimpan kehampaan yang teramat dalam.

Diana meletakkan botol minumnya ke meja dengan bunyi ketukan yang disengaja. Suara itu cukup tegas untuk membubarkan kerumunan gosip ibu-ibu di sudut ruangan.

"Kelas selesai. Yang mau mandi atau ganti baju silakan naik ke lantai dua. Jaga kebersihan ruang loker," ucap Diana dengan suara baritonnya yang dingin.

Ibu-ibu komplek itu segera membubarkan diri sambil berpamitan ramah pada Alya. Alya menghela napas lega yang panjang setelah mereka menjauh. Ia merapikan handuk kecilnya, bersiap untuk naik ke lantai dua untuk berganti pakaian sebelum pulang.

Namun, saat ia melangkah melewati meja instruktur, suara Diana menghentikannya.

"Alya."

Alya tersentak, menghentikan langkahnya, lalu menoleh ragu. "Iya, Mbak Diana?"

Diana berdiri, postur tubuhnya yang tinggi membuat Alya harus sedikit mendongak. Wanita dengan potongan rambut pixie itu menatap Alya lekat-lekat, tatapan yang begitu intens hingga membuat Alya merasa seolah seluruh rahasianya sedang ditelanjangi.

Tidak ada senyuman di wajah tegas Diana, namun sorot matanya melembut, memancarkan ketertarikan yang tidak biasa—sebuah ketertarikan yang jauh melampaui batas hubungan antara seorang guru olahraga dan muridnya.

"Gerakanmu bagus untuk hari pertama. Tubuhmu fleksibel," ucap Diana pelan, suaranya terdengar sangat intim di tengah ruangan yang mulai sepi.

"Tapi... ritme napasmu terlalu tegang di awal kelas tadi. Seperti ada beban besar yang sedang kau tahan di dadamu."

Jantung Alya berdegup kencang karena terkejut. Ia buru-buru menunduk, menyembunyikan matanya.

"Ah... mungkin karena saya belum terbiasa dengan ritme musiknya yang cepat, Mbak."

Diana melangkah satu langkah lebih dekat. Langkahnya begitu halus, namun auranya yang dominan mengunci ruang gerak Alya.

Jari-jari tangan Diana yang panjang dan berotot terangkat, berniat mengusap sebutir keringat yang meleleh di pelipis Alya, namun gerakannya terhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuh kulit gadis itu saat melihat Alya secara naluriah menyusut mundur dengan bahu yang menegang kaku—sebuah gerak refleks dari tubuh yang mengalami trauma kekerasan.

Mata Diana menyipit tajam melihat reaksi ketakutan itu. Ia menarik tangannya kembali perlahan, lalu memasukkannya ke dalam saku celana olahraga hitamnya.

"Jangan terlalu memaksakan diri jika tubuhmu sedang lelah, Alya," bisik Diana, suaranya kini terdengar sangat rendah dan sarat akan makna tersembunyi.

"Jika ada bagian tubuhmu yang... sakit, katakan padaku sebelum kelas dimulai di sesi berikutnya. Aku bisa menyesuaikan gerakannya untukmu."

"I-iya, Mbak. Terima kasih banyak. Saya... saya permisi ke atas dulu," ucap Alya terbata-bata.

Tanpa menunggu jawaban Diana, ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju tangga lantai dua dengan hati yang berdebar tidak karuan.

Ada sesuatu dari cara Diana menatapnya yang membuat Alya merasa tidak nyaman, sebuah perhatian yang terasa terlalu dalam dan... berbeda.

Alya tidak pernah tahu. Ada satu hal krusial yang berada di luar jangkauan pengetahuannya yang masih polos tentang dunia bisnis orang dewasa.

Di lantai bawah, di dalam ruangan kantor administrasi sanggar yang tertutup rapat oleh kaca film gelap, sebuah monitor komputer menyala.

Layar itu menampilkan rekaman langsung dari empat kamera pengawas yang terpasang di setiap sudut sanggar—termasuk kamera tersembunyi yang mengarah tepat ke meja administrasi dan sudut tempat istirahat para member.

Pemilik sanggar aerobik Sangkar Hati ini adalah Adrian, salah satu teman dekat sekaligus rekan bisnis properti Reza di asosiasi pengusaha kota.

Dan sore itu, sebuah sistem integrasi digital yang sah secara hukum bisnis telah terpasang atas permintaan khusus dari Reza dua hari lalu.

Setiap kali kartu anggota berwarna merah muda milik Alya digesek di meja depan, sebuah notifikasi otomatis beserta cuplikan video langsung dari kamera pengawas akan terkirim ke ponsel pintar milik Reza Ardiansyah.

Di dalam mobil mewahnya yang sedang terjebak kemacetan di pusat kota, Reza menurunkan layar ponselnya. Matanya yang dingin menatap cuplikan video bisu yang memperlihatkan Alya sedang dikerumuni ibu-ibu komplek, lalu video saat Alya berbicara dengan Diana di dekat meja instruktur.

Reza memperhatikan bagaimana istrinya tersenyum kaku, bagaimana Alya mengenakan kaos kuning terang itu, dan bagaimana gadis itu akhirnya berjalan naik ke lantai dua.

Tidak ada tanda-tanda Alya mencoba melarikan diri. Tidak ada tanda-tanda Alya mencoba menghubungi orang asing atau pergi ke arah kampus swasta yang ia curigai kemarin.

Istrinya benar-benar berada di tempat aerobik yang ia izinkan, menghabiskan waktu seperti boneka penurut yang mencari kesibukan.

Reza mengunci layar ponselnya, meletakkannya kembali di dasbor mobil dengan helaan napas lega yang penuh kemenangan.

"Bagus," gumamnya dingin pada kegelapan di dalam mobil. "Tetaplah di sana, Alya. Jangan pernah mencoba keluar dari batas yang sudah kutentukan."

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!