Tanisha Elajar, seorang gadis yang mempunyai paras begitu cantik bak boneka Barbie. Karena sebuah kebohongan yang dia ciptakan, membuat gadis cantik ini kehilangan kekasihnya.
Tanisha melakukan berbagai macam rayuan untuk memikat mantannya itu. Hingga suatu hari, ada masalah yang besar menimpa dirinya. Membuat gadis ini tak lagi mengejar mantan tercintanya itu.
Devan Pratama, hatinya begitu sakit saat mengetahui kebenaran yang selama ini tik ia ketahui. Sehingga mengharuskan dirinya memutus hubungannya dengan sang kekasih.
Entah sampai kapan Devan bisa bertahan dari godaan sang mantan? Dan apakah dirinya akan kembali menjalin cinta dengan gadis yang telah lama ia kejar itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertahankan Dia
Akhirnya Tanisha pulang bersama sosok pria yang mempunyai ketampanan paripurna tadi. Ya, sosok pria itu ialah Erlangga Elajar, kakaknya Tanisha.
"Kamu masih mau nangis terus?" tanya Erlangga seraya menoleh ke samping. Dimana adiknya berada sambil terisak.
Tanisha tak menghiraukan pertanyaan dari sang kakak. Dia lebih memilih mengeluarkan ponselnya. Mengusap layarnya, mencari sebuah aplikasi yang menyimpan foto-foto kenangan dirinya saat bersama dengan Devan.
Tanisha geser satu per satu foto di galery tersebut, bibirnya mengulas sebuah senyuman tipis, tapi matanya kembali mengeluarkan air yang tidak dapat ia cegah.
Hatinya kembali sakit, mengingat hubungan yang tidak sebentar itu kandas sebelum naik peringkat, hanya karena satu kebohongan saja. Erlangga hanya bisa memberi semangat kepada adiknya yang tengah patah hati tersebut. Tangannya yang bebas, mengusap pelan puncak kepala Tanisha.
Sementara itu, mobil yang dikendarai oleh Devan berhenti di salah satu rumah yang berada disebuah komplek perumahan premium. Devan turun dari mobilnya, melangkah menuju rumah yang berwarna abu-abu.
Sebelum sampai Devan memencet bel, pintu rumah tersebut terbuka dari dalam. Munculah sosok pria yang mempunyai badan kekar, serta wajah yang datar. Pria itu menatap bingung ke arah Devan.
"Kenapa lo kesini?" tanya pria itu yang tak lain adalah Samuel.
Sementara Devan diam tak menjawab. Dia malah melenggang masuk ke dalam rumah sahabatnya itu tanpa permisi. Berjalan menuju sofa yang ada terdapat diruang tamu. Menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, tubuh dan pikirannya sangat capek saat ini. Bahkan bisa dibilang lebih dari capek.
"Ada masalah apa?" tanya Samuel menyusul Devan yang sudah terlebih dulu duduk di sofa miliknya.
"Gue putus," jawab Devan. Kepalanya menengadah ke atas, matanya tertutup oleh lengannya. Pikirannya sangat kacau saat ini.
"Kok bisa? Bukannya selama ini lo lengket-lengket aja sama dia?" Samuel tak percaya. Karena selama yang ia tahu, hubungan Devan dan Tanisha baik-baik saja. Bahkan mereka tidak pernah bertengkar yang serius. Hanya perdebatan-perdebatan kecil yang wajar seperti pasangan pada umumnya.
Devan terlihat menghela napasnya dengan sangat berat. Kedua sikunya tertumpu pada lutut. Posisinya berubah membungkuk sedikit, lalu jemari-jemarinya menyugar rambutnya dengan kasar.
"Ternyata dia adik dari Erlangga Elajar, partner bisnis Langit. Dan lo tau, kan? Keluarga dia bukan keluarga yang sembarangan," Devan masih tidak percaya dengan semua kenyataan ini.
"Lo minder? Ato ngerasa di bohong sama lo, karena nggak percaya sama lo?" dan semua pertanyaan yang terlontar dari Samuel adalah apa yang dirasakan oleh Devan saat ini.
"Iya," jawab Devan singkat. Karena memang itulah kenyataannya.
"Nggak pinter banget, sih lo! Lo nggak ingat, masa-masa dimana lo berusaha ngedapetin dia? Dan sekarang lo buang dia setelah tau dia yang sebenarnya?" Samuel berdecik heran pada Devan. Lalu meninggalkan Devan diruang tamu.
Devan mengingat kembali masa-masa saat dirinya setiap hari mengganggu Tanisha, untuk mencari perhatian gadisnya itu. Dia sendiri sedikit ragu tentang tindakan yang diambilnya saat ini.
Samuel kembali ke ruang tamu rumahnya dengan membawa dua botol minuman di tangannya. Lalu memberikan satu botol itu pada Devan.
"Kalo menurut gue, sih. Mending lo pertahanin dia, dia yang udah ngerubah hidup lo selama satu tahun ini menjadi lebih berarti, kan?" ucap Samuel seraya meminum minuman yang ada di botol ia bawa barusan.
"Aku ingin memantaskan diriku dulu, Sam. Kau tau, kan? Dia keluarganya itu siapa? Dengan kondisiku yang saat ini, apa menurut lo gue pantas bersanding dengannya? Bagaimana nanti tanggapan keluarganya?" itulah alasan Devan memilih putus dengan Tanisha. Ia ingin fokus pada usahanya, agar pantas bersanding dengan Tanisha, kelak. Tapi, jika mereka masih berjodoh. Devan pasrah akan itu.