SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Emas di Balik Kabut
Bab 9: Mata Emas di Balik Kabut
Keheningan menyelimuti taman.
Bukan keheningan yang damai, melainkan keheningan yang lahir dari tekanan luar biasa. Seluruh udara seolah membeku. Rumput-rumput di sekitar kolam merunduk, sementara air yang masih berputar di pusaran hitam berhenti bergelombang seakan tunduk pada sosok yang baru muncul.
Sepasang mata emas itu menatap lurus ke arah Ethan.
"Akhirnya... pewaris Kaisar Bayangan telah kutemukan."
Suara itu menggema langsung di dalam benak setiap orang yang berada di taman. Beberapa anggota Divisi Khusus memegangi kepala mereka sambil mengerang kesakitan. Dua di antaranya bahkan jatuh berlutut karena tekanan mental yang begitu kuat.
Kapten Arga menggertakkan gigi.
"Apa... benda itu?"
Master Raka, pemimpin tiga kultivator berjubah putih, tampak jauh lebih pucat dibanding sebelumnya.
"Itu bukan tubuh asli."
"Sebuah proyeksi jiwa..."
"Tapi... bagaimana mungkin tekanannya sebesar ini?"
Tatapannya berubah serius.
Bahkan sebagai kultivator Alam Pengumpulan Qi Bintang 1, ia merasakan ancaman yang tidak sanggup dijelaskan.
Ethan tetap berdiri tenang.
Tatapannya tidak meninggalkan mata emas tersebut.
Di dalam benaknya, ingatan selama lima ratus tahun mulai berputar cepat.
"Aku tidak pernah melihat aura ini di Alam Kultivasi."
Namun ada sesuatu yang terasa sangat familiar.
Bukan auranya.
Melainkan teknik yang digunakan.
Proyeksi jiwa semacam ini hanya mungkin dibuat oleh seseorang yang memahami Dao Jiwa hingga tingkat yang sangat tinggi.
Di dunia kultivasi dahulu, hanya sedikit orang yang mampu melakukannya.
Setidaknya...
Mereka telah mencapai Alam Abadi.
Jelas mustahil makhluk seperti itu muncul begitu saja di Bumi.
Berarti...
Rahasia dunia ini jauh lebih dalam daripada yang ia duga.
Kabut hitam perlahan bergerak.
Sosok tanpa wajah itu tidak benar-benar menyerang.
Ia hanya mengangkat satu tangan.
Rantai-rantai hitam yang sebelumnya membelit tubuh Penjaga Simpul mulai terlepas satu demi satu.
Pria malang itu jatuh berlutut.
Tubuhnya gemetar hebat.
Warna hitam di separuh wajahnya perlahan memudar.
Tatapannya yang kosong kini dipenuhi kebingungan.
"A... aku..."
Ia memandang kedua tangannya.
"Aku... masih hidup?"
Pria tua yang sejak tadi berdiri di samping Ethan mengembuskan napas lega.
"Kesadarannya kembali."
Namun Ethan tidak ikut merasa lega.
Kalau sosok itu rela melepaskan kendali atas Penjaga Simpul...
Artinya ada tujuan lain yang lebih penting.
Benar saja.
Tatapan mata emas itu kembali tertuju pada Ethan.
"Ikutlah denganku."
Nada suaranya datar.
Bukan ajakan.
Melainkan perintah.
Ethan menjawab singkat.
"Tidak."
Jawaban itu membuat semua orang di taman menoleh kepadanya.
Master Raka bahkan memandang Ethan seperti orang gila.
Menolak makhluk sekuat itu secara langsung?
Namun ekspresi Ethan tetap tidak berubah.
Ia tidak tahu siapa sosok itu.
Dan selama tidak mengetahui tujuan sebenarnya...
Ia tidak akan mengikuti siapa pun.
Kabut hitam bergolak perlahan.
"Menarik."
"Watakmu memang tidak berubah."
Kalimat itu membuat mata Ethan sedikit menyipit.
"Siapa kau?"
Sosok itu tertawa pelan.
"Tidak penting."
"Yang penting..."
"...kau membawa sesuatu yang seharusnya tidak berada di tanganmu."
Tatapan Ethan langsung jatuh pada kotak kayu hitam di pinggangnya.
Jadi...
Tujuan sebenarnya bukan dirinya.
Melainkan artefak itu.
Master Raka akhirnya mengambil keputusan.
"Serang!"
Ketiga kultivator berjubah putih bergerak bersamaan.
Mereka membentuk segitiga.
Qi putih mengalir dari telapak tangan masing-masing.
Dalam sekejap, sebuah formasi cahaya muncul di udara.
Delapan belas simbol kuno berputar mengelilingi sosok berkabut.
"Formasi Penyegel Roh!"
Master Raka mengayunkan cermin perunggunya.
Cahaya putih menyambar lurus menuju kabut hitam.
Sesaat kemudian...
Ledakan besar mengguncang taman.
BOOM!
Gelombang kejut menghancurkan beberapa lampu taman dan memecahkan kaca gedung di seberangnya.
Namun ketika debu menghilang...
Kabut hitam masih berdiri.
Tidak terluka sedikit pun.
Sebaliknya, salah satu simbol formasi mulai retak.
Master Raka membelalak.
"Mustahil!"
Sosok berkabut hanya mengangkat satu jari.
Seluruh simbol penyegel hancur seperti kaca.
Ketiga kultivator terpental belasan meter.
Darah menyembur dari mulut mereka.
Kapten Arga langsung memberi perintah.
"Evakuasi semuanya!"
"Tapi Kapten—"
"Itu perintah!"
Anggota Divisi segera membawa warga sipil menjauh.
Mereka sadar...
Pertempuran ini bukan lagi sesuatu yang bisa mereka campuri.
Sementara itu Ethan terus mengamati.
Ia belum bergerak.
Bukan karena takut.
Melainkan karena sedang mencari kelemahan.
Makhluk itu memang sangat kuat.
Namun...
Proyeksi jiwa selalu memiliki keterbatasan.
Ia tidak mungkin berada terlalu jauh dari sumbernya.
Dan tidak mungkin bertahan lama tanpa media.
Tatapan Ethan perlahan bergeser.
Kabut.
Pusaran.
Retakan segel.
Kemudian...
Ia melihat sesuatu.
Di dalam pusaran hitam terdapat sebuah paku batu berwarna gelap yang tertancap di dasar kolam.
Paku itu dipenuhi rune kuno.
Setiap denyut cahaya dari paku tersebut selalu diikuti perubahan pada kabut hitam.
"Media..."
Mata Ethan berbinar tipis.
Ia akhirnya menemukan pusatnya.
Sosok berkabut tampaknya menyadari arah pandangan Ethan.
"Kau masih setajam dulu."
Kabut hitam tiba-tiba bergerak.
Bukan menuju Ethan.
Melainkan menuju kolam.
Seolah ingin melindungi sesuatu.
Gerakan itu justru memastikan dugaan Ethan.
Tanpa membuang waktu, ia berlari.
Pria tua langsung berseru,
"Jangan!"
"Itu jebakan!"
Namun Ethan tetap maju.
Ia tahu dirinya tidak mampu mengalahkan proyeksi itu.
Tetapi...
Ia tidak perlu mengalahkannya.
Cukup memutus medianya.
Kabut hitam membentuk puluhan tombak.
Semuanya meluncur ke arah Ethan.
Ia menghindar semampunya.
Satu tombak menggores bahunya.
Darah mengalir.
Tombak kedua menghancurkan tanah di dekat kakinya.
Gelombang kejut membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Namun ia tetap berlari.
Setiap langkah terasa semakin berat.
Tekanan jiwa lawan terus menghantam kesadarannya.
Seandainya bukan karena pengalaman lima abad menempa jiwa...
Ia pasti sudah pingsan.
Saat jaraknya tinggal tiga meter dari kolam...
Seseorang tiba-tiba muncul di depannya.
Seorang pria berjubah abu-abu.
Topeng putih.
Orang yang pernah membawa pergi Binatang Bayangan.
Ia muncul tanpa suara.
Pedang hitam tipis sudah berada di tangannya.
"Kita bertemu lagi."
Ethan langsung berhenti.
"Kau."
Pria itu tersenyum tipis di balik topeng.
"Aku tidak bisa membiarkanmu menghancurkan media itu."
"Siapa kalian?"
"Kau akan tahu nanti."
"Tapi bukan hari ini."
Pedangnya perlahan terangkat.
Aura yang dipancarkannya membuat Ethan langsung memahami satu hal.
Lawan ini...
Bukan lagi Alam Pemurnian Tubuh.
Setidaknya Alam Pengumpulan Qi Bintang 2.
Selisih kekuatan mereka terlalu jauh.
Namun Ethan tidak mundur.
"Menarik."
Pria bertopeng itu tertawa kecil.
"Walaupun tahu tidak bisa menang..."
"...kau tetap memilih maju."
"Aku hanya memilih kemungkinan terbaik."
"Tidak takut mati?"
Ethan menjawab datar,
"Aku sudah pernah mati."
Untuk sesaat pria bertopeng itu terdiam.
Kemudian ia mengangguk pelan.
"Jawaban yang bagus."
Pedangnya mulai memancarkan cahaya hitam.
"Aku jadi semakin ingin menangkapmu hidup-hidup."
Pada saat yang sama, jauh di atas langit malam.
Alya Pramesti baru tiba di atas gedung tertinggi di sekitar taman bersama Bram.
Begitu melihat pria bertopeng itu, wajah Bram berubah.
"Itu..."
"Organisasi Gerhana."
Alya menyipitkan mata.
"Kau yakin?"
"Aku pernah melihat lambang pedang hitam itu."
"Kalau mereka sudah muncul..."
"...berarti perang perebutan artefak benar-benar dimulai."
Tatapan Alya kemudian jatuh pada Ethan yang kini berdiri sendirian menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.
Tanpa sadar jemarinya mengepal.
"Dia tidak mungkin menang sendirian."
Di bawah sana, pria bertopeng mengangkat pedangnya perlahan.
Kabut hitam di sekelilingnya berubah menjadi puluhan bilah kecil yang melayang di udara.
Ethan menarik napas panjang.
Qi di tubuhnya hampir habis.
Namun sorot matanya tetap setenang biasanya.
Saat kedua belah pihak bersiap bergerak...
Kotak kayu hitam di pinggang Ethan tiba-tiba bergetar keras.
Bukan hanya itu.
Paku batu di dasar kolam ikut memancarkan cahaya biru.
Keduanya seolah saling memanggil.
Wajah sosok berkabut untuk pertama kalinya berubah.
Nada suaranya yang tenang dipenuhi keterkejutan.
"Tidak... Mustahil! Artefak kedua telah bangkit?"