Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Gue bingung apa yang gue harus lakuin saat itu. Akhirnya gue putuskan pergi dari rumah dan meninggalkan surat untuk Nyokap. Gue langsung pergi ke rumah Bima, dan menyuruh Bima untuk membawa gue.
"Sayang aku mau di bawa ke Jakarta, bawa aku pergi yah! aku gak mau jauh dan pisah dari kamu!" jawab gue panik.
"Tapi aku belum kerja sayang, belum bisa bahagiakan kamu!" bantah Bima.
"Aku gak peduli kamu gak kerja, itu bisa kita cari! yang penting tolong bawa aku pergi yah!" ajak gue.
Gak lama, Bokap dan Tio datang ke rumah Bima dan menyeret gue untuk pulang. Bima nekat berkata bohong ke Bokap gue, padahal gue gak hamil. Bima terpaksa agar gue gak di bawa pergi Bokap gue.
"BAGUS! BAGUS! UDAH MERASA DEWASA KAMU! KAMU SEKARANG SUDAH JADI ANAK DURHAKA! SEKARANG PULANG!" Bokap menyeret gue sampai siku gue berdarah.
"Om, jangan sakitin Zahra Om! jangan pisahkan saya dengan Zahra Om!" Bima menarik gue dan memegang gue.
"LEPASKAN ANAK SAYA! LEPASKAN! KALAU KAMU TIDAK MAU MELEPASKAN SAYA AKAN BAKAR RUMAH KAMU!" sahut Bokap gue dengan amarahnya.
"Saya gak akan melepaskan Zahra Om, karena Zahra sudah mengandung anak saya dua bulan." Jawab Bima berbohong.
"APA? JREG- JREG-JREG..." Bima habis di pukuli tukang pukul Bokap gue.
"BERHENTI!" Bokap menangis sambil berjalan pulang.
Akhirnya, Bokap, Tio dan tukang pukul Bokap pergi. Mereka percaya gue hamil. Dimas pun bertanya pada gue dan Bima. Bima memberi kode ke gue, kalau Dimas nanya kebenarannya bilang aja iya.
Gue mengobati Bima, Bima juga mengobati tangan gue. Dimas bilang gue dan Bima sudah gila.
"Kalau aku gak bohong, kamu pasti di bawa! aku bisa gila kalau kamu di bawa." Sahut Bima.
Akhirnya, gue dan Bima menikah muda. Meskipun tidak di ramaikan, tapi gue bersyukur bisa nikah dengan orang yang gue cinta. Kata Bima berbohong itu boleh asalkan bohong untuk kebenaran dan cinta.
Setelah kami menikah, gue di usir dari rumah sama Bokap gue. Meskipun Nyokap menghalangi tapi Bokap gue sudah tidak sudi menerima Bima di rumahnya. Akhirnya gue dan Bima pun pergi. Untuk mengontrak rumah yang jauh dari rumah gue.
"Maafin aku gak bisa bahagiakan kamu, tapi aku janji aku akan cari kerja buat kamu, buat bahagiakan kamu." Sahut Bima sambil memegang pinggang gue.
"Sayang, aku bahagia kok! meskipun kecil rumah kita, asal aku bisa sama-sama terus sampai akhir hayat aku sama kamu." Ucap gue sambil tersenyum menatap Bima.
"Sekarang kita ngapain?" sahut Bima sambil merangkul dan memegang pinggang gue."
"Ngapain apanya?" gue yang gugup dan dada bergetar.
"Ya bikin yang benarannya, ha-ha... kalau nolak aku kelitiki kamu sampai nyerah!" Bima meledek gue sambil menggelitiki gue.
Akhirnya gue bisa melakukan kewajiban gue sebagai istri Bima. Gue gak menyangka cinta kami bisa bersatu meskipun banyak sekali rintangan. gue meminta sama Allah semoga dalam rumah tangga gue selalu langgeng menjadi keluarga mawadah sakinah.
Pagi pun tiba, saat gue bangun Bima tidak ada di kasur, gue melihat ia sedang memasak. Harusnya gue sebagai istri masakin dia. Ini malah pintaran dia yang masak.
"Sayang, ajarin aku masak dong!" gue merayu Bima.
"Hei, gadisku udah bangun, ajarin masak?" tanya Bima sambil meledek.
"Dari pada aku ajarin kamu masak, mendingan aku ajarin kamu bercinta! ha-ha." Bima meledek gue.
"Hmmm.... ya udah kalau gak mau ajarin." Gue cemberut dan buang muka.
"Hey, kok marah sih? ayo katanya mau di ajarin! ajarin masak? atau bercinta?" Bima meledek gue lagi sambil menyenggol kaki gue.
"Ikh...ikh... ajarin semuanya! he-he-he..." gue langsung memeluk Bima.
"Dih, malah maksa lagi." Sahut Bima tersenyum bahagia.
Bima pun pamit ke gue, untuk mencari pekerjaan. Gue di rumah sambil berdoa supaya Bima cepat mendapatkan pekerjaan. Gak lama di luar ada yang mengetuk pintu. Ternyata Manda.
"Manda, ya Allah Manda terima kasih yah udah mau main!" ucap gue.
"Iya Ra, gue kangen sama lo! gimana Bima? sama bayi yang ada di kandungan lo!" tanya Manda.
Gue memceritakan semua ke Manda, kalau gue itu gak hamil. Itu supaya orang tua merestui aja. Manda menangis mendengar cerita gue. Dan Bima itu benar-benar menunjukan kalau cinta harus di perjuangkan.
Gak lama Manda pulang, gue membereskan semua makanan dan minuman yang berantakan. Saat gue mencuci piring Bima pulang membawa kabar gembira.
"Sayang, aku pulang! sayang, aku punya berita bagus, aku di terima bekerja, sebagai pelayan restoran." Bima memeluk gue dan tersenyum lebar.
"Alhamdulillah, aku ikut senang sayang." Gue tersenyum manatap Bima.
"Sepertinya bekas ada tamu datang yah?" tanya Bima yang melihat banyak piring, gelas dan bungkus makanan.
"Iya, tadi Manda ke sini! aku banyak cerita sama dia." Jawab gue ke Bima sambil mencuci gelas dan piring.
"Ya gak apa-apa sayang, aku cuma nanya aja! biar kamu gak kesepian juga di rumah." Ucap Bima sambil membelai rambut gue.
"Oh iya, kamu belum makan yah? maafin aku belum bisa masakin kamu! tapi aku janji bakal belajar masak buat kamu." Sahut gue sambil tersenyum malu.
"Gak apa-apa sayang, di lemari ada tempe, biar aku yang masak yah!" Bima tersenyum sambil mengambil tempe yang ada di lemari.
"Kamu kan capek, harusnya aku yang masakin!" gue tertunduk malu dengan wajah memelas.
"Ssstt,, kamu diam! jangan bicara! oke!" Bima menunjukan telunjuknya ke bibir gue.
"Mmmm..." Gue terdiam dan merasa bersalah.
Bima menggoreng tempe goreng, sampai gue lupa belum memasak nasi. Sebenarnya Nyokap memberikan magic com untuk gue dan Bima. Tapi gue belum tahu cara memasak nasi ukuran airnya.
"Sayang?" gue memanggil Bima.
"Apa sayang? tempenya sudah mau matang nih!" Bima sambil membulak balikan tempe yang di goreng.
"Nasinya gak ada, aku gak tahu cara takaran berasnya." Gue semakin memelas di depan Bima.
"Aku ngerti kok sayang, nanti aku ajari kamu! sementara kita beli nasi jadi dulu aja yah." Jawab Bima tersenyum sambil mencium kening gue.
"Aku ke warung yah sayang!" gue pamit ke Bima untuk membeli nasi.
Gue ini istri macam apa sih, ngeladenin suami aja gak bisa memalukan banget.
Akhirnya gue kembali ke rumah membawa dua bungkus nasi. Bima pun sudah menyiapkan piring dan tempe yang sudah di goreng.
"Hiks-hiks-hiks..." sayang kenapa menangis? kamu kenapa?" Bima menghampiri gue dan menghapus air mata gue.
"Sebagai istri aku tuh gak bisa apa-apa, malah kamu yang siapin semua ini." Gue menangis dan merasa malu.
"Kata siapa kamu gak bisa apa-apa? kamu tuh bukan gak bisa apa-apa, tapi belum pernah belajar, kalau kamu belajar pasti bisa! aku gak menuntut kamu harus bisa semua, aku mengerti semua ini butuh waktu, jadi pelan-pelan yah kamu belajar!" Bima menasehati gue dengan penuh ke sabaran dan kasih sayang.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪