NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Perjalanan Menuju Ibu Kota

Sinar matahari pagi menerobos celah-celah awan, memantulkan kilau keemasan di atas jajaran gedung pencakar langit kota pelabuhan. Di pelataran parkir privat *safehouse*, dua unit SUV lapis baja berwarna hitam telah bersiap dengan mesin yang meraung halus.

Alya berdiri di samping pintu mobil, mengenakan setelan blazer elegan berwarna krem yang dipadukan dengan celana kain tegap. Wajahnya yang dulu sering dibayangi keraguan kini memancarkan ketenangan dan tekad yang kuat. Di sampingnya, Reno berdiri dengan kemeja hitam yang dibalut jas kustom berwarna senada. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke depan, siap melangkah ke panggung persaingan terbesar di negeri ini.

"Nona Alya," Bagas melangkah mendekat seraya menyodorkan sebuah dokumen tebal berstempel resmi. "Ini adalah berkas ekspansi cabang Perusahaan Zena untuk wilayah ibu kota. Tim direksi telah menyetujui seluruh rencana pengembangan yang Anda susun kemarin."

Alya menerima berkas tersebut dan mengangguk mantap. "Terima kasih, Bagas. Saya akan memastikan Perusahaan Zena tidak hanya berdiri sebagai anak perusahaan Naga Hitam, tetapi juga menjadi pemain utama di pasar ibu kota."

Reno menatap Alya dari samping, sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa bangga terbit di sudut bibirnya. Alya tidak lagi datang sebagai sosok wanita yang mencari perlindungan di balik ketiaknya, melainkan sebagai seorang manajer eksekutif mandiri yang siap menaklukkan arena bisnis yang lebih besar.

"Panggung di ibu kota jauh lebih ganas daripada apa yang kamu lihat di kota ini, Alya," ujar Reno dengan suara rendah dan bernada hangat. "Klan Cendana menguasai hampir seluruh lini pemerintahan dan jaringan ekonomi di sana. Mereka tidak akan segan menggunakan cara-cara kotor."

Alya menoleh, membalas tatapan Reno dengan sepasang mata yang jernih dan penuh tekad. "Aku tahu, Reno. Tapi selama aku berdiri di sisimu dan melakukan hal yang benar, aku tidak akan takut lagi pada bayang-bayang klan mana pun."

Reno mengangguk tipis. Ia membukakan pintu mobil untuk Alya secara personal—sebuah gestur sederhana yang membuat dada Alya berdesir hangat. Setelah Alya masuk, Reno menyusul duduk di sampingnya, dan iring-iringan kendaraan lapis baja itu meluncur mulus menuju bandara internasional.

Sementara itu, di sebuah kediaman megah berarsitektur klasik di pusat ibu kota, atmosfer terasa sangat mencekik.

Victor Cendana berdiri di tengah aula utama dengan napas terengah-engah. Di tangannya, selembar laporan intelijen telah remuk menjadi bola kertas. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini memerah padam akibat perpaduan antara amarah dan rasa tidak percaya.

"Bagaimana mungkin?!" bentak Victor pada tiga orang utusannya yang berlutut di atas lantai marmer. "Tiga eksekutor terbaik dari *Tengkorak Hitam* tewas hanya dalam waktu hitungan detik?! Siapa sebenarnya pria dari kota pelabuhan itu?!"

Salah seorang utusan mengangkat kepala dengan tubuh gemetar. "Tuan Muda... pria itu bukan sekadar pimpinan cabang biasa. Menurut sumber dalam yang berhasil kami hubungi, pria bernama Reno itu memegang wewenang komando tertinggi atas seluruh armada dan kekuatan finansial Konsorsium Naga Hitam!"

*CRASH!*

Victor melempar gelas kristal di tangannya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "Penguasa tertinggi Naga Hitam?! Pria yang selama tiga tahun ini dirumorkan menjadi menantu benalu di keluarga kecil daerah adalah Pemimpin Tertinggi Naga Hitam?!"

Victor memijat pelipisnya yang berdenyut keras. Namun, alih-alih mundur, sifat angkuh dan haus kekuasaan yang diwariskan oleh organisasinya justru membakar akal sehatnya. Bagi Klan Cendana, ibu kota adalah kandang kekuasaan mutlak mereka. Tidak ada satu pun klan dari luar daerah yang boleh mengusik wilayah kekuasaan mereka, bahkan jika itu adalah Konsorsium Naga Hitam sekalipun.

"Biarkan dia datang," desis Victor dengan senyuman yang berubah menjadi kejam dan penuh intrik. "Ibu kota adalah wilayah kita. Di sini, aturan main berada di bawah kendali Klan Cendana. Aktifkan seluruh jaringan media, koordinasikan dengan otoritas bandara, dan siapkan sambutan yang akan mempermalukan mereka di hadapan publik nasional!"

Dua jam kemudian, di area apron khusus penerbangan privat Bandara Internasional Ibu Kota.

Sebuah pesawat jet pribadi berlogo Naga Hitam emas membelah awan, mendarat dengan sangat mulus di atas landasan pacu. Roda-roda pesawat berhenti tepat di depan dermaga kedatangan privat yang telah disterilkan.

Di dalam kabin jet yang mewah, Alya menatap keluar jendela. Dari kejauhan, ia melihat puluhan awak media, kamera televisi nasional, serta barisan wartawan yang berkumpul di balik pagar pembatas. Tampak jelas bahwa kedatangan mereka telah dibocorkan secara sengaja ke publik untuk menciptakan panggung tekanan politik.

"Mereka sudah menunggu kita," gumam Alya pelan.

Reno berdiri, merapikan kancing jas hitamnya dengan tenang. "Biarkan mereka menonton. Seorang penguasa tidak pernah bersembunyi dari sorotan kamera."

Pintu hidrolik pesawat terbuka perlahan, menurunkan tangga otomatis menuju landasan. Reno melangkah keluar terlebih dahulu, diikuti oleh Alya yang berjalan anggun di sampingnya.

Seketika itu juga, kilatan lampu kilat dari ratusan kamera wartawan menyala bagaikan ribuan bintang di siang hari. Suara jepretan kamera bergema riuh menembus kebisingan mesin pesawat. Para wartawan saling berdesakan, mencoba mengarahkan mikrofon mereka ke arah tangga kedatangan.

Namun, sebelum para wartawan sempat melontarkan pertanyaan provokatif yang telah dirancang oleh jaringan Klan Cendana, sebuah pemandangan fantastis terjadi di atas landasan!

*BAM! BAM! BAM!*

Suara derap langkah kaki ratusan pria berseragam tegap bergema serentak. Dari empat penjuru apron, lebih dari lima puluh unit mobil mewah Rolls-Royce hitam dan SUV lapis baja bergerak membentuk formasi barikade raksasa. Ratusan pengawal pribadi bertubuh tinggi besar dalam balutan setelan jas hitam keluar secara bersamaan, berbaris rapi membentuk koridor kehormatan sepanjang seratus meter dari tangga pesawat hingga ke barisan kendaraan.

"Selamat datang kembali di Ibu Kota, Tuan Muda Reno!"

Seruan membahana dari ratusan pengawal itu bergema serentak, disusul oleh gerakan membungkuk 90 derajat yang teratur dan penuh kepatuhan mutlak.

Pemandangan yang begitu megah dan kolosal itu seketika membungkam seluruh awak media dan wartawan yang hadir. Para juru kamera terpana, tangan mereka membeku di atas tombol jepretan. Tidak ada satu pun wartawan yang berani berteriak atau melontarkan pertanyaan lancang saat menyaksikan aura kekuasaan tak bertepi yang dipamerkan di depan mata mereka.

Alya yang berjalan di samping Reno menahan napasnya. Meskipun ia tahu Reno adalah pria berkuasa, menyaksikan penghormatan sebesar ini di panggung utama ibu kota tetap membuat dadanya bergetar hebat. Ini adalah tingkat kekuasaan yang jauh melampaui imajinasinya.

Reno tetap melangkah dengan tenang, pandangan matanya lurus menembus barisan pengawal. Tangannya terangkat perlahan, secara alami menggenggam jemari Alya dengan erat dan hangat di hadapan ratusan kamera media nasional.

Genggaman tangan Reno memberikan kepastian mutlak bagi Alya. Di tengah megahnya panggung ibu kota yang penuh dengan serigala berdarah dingin, Alya tahu bahwa ia tidak lagi berdiri di bawah bayang-bayang ketakutan.

Bagas melangkah cepat mendekati Reno seraya menyodorkan sebuah kartu undangan bersepuh emas murni.

"Tuan Muda," bisik Bagas seraya menyesuaikan langkahnya. "Victor Cendana baru saja mengirimkan undangan resmi ini. Malam ini, Klan Cendana menggelar pesta pertunangan politik skala nasional di Grand Ballroom Palace. Seluruh elit dan pejabat negara akan hadir di sana."

Reno menerima kartu undangan bersepuh emas itu, menatap nama Victor Cendana yang tertulis dengan tinta mewah. Ukiran senyum tipis yang amat dingin terbit di sudut bibirnya.

"Pesta pertunangan?" ujar Reno dengan suara rendah yang begitu berwibawa. "Panggung yang sangat sempurna untuk mengumumkan kehancuran Klan Cendana kepada seluruh negeri."

Reno meremas kartu undangan bernilai tinggi itu hingga melengkung, lalu menyerahkannya kembali pada Bagas. Ia menoleh ke arah Alya, menatap wanita itu dengan kehangatan yang kontras.

"Persiapkan gaun terbaikmu malam ini, Alya," kata Reno pelan. "Kita punya pesta besar yang harus dihadiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!