Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Suamiku Anak Mami
Siang harinya, ujian pertama bagi Aisyah di rumah megah itu dimulai lebih cepat dari yang diperkirakan.
Sekitar pukul satu siang, Bu Rosma melangkah ke dapur utama yang dilapisi interior stainless steel dan marmer hitam yang mengkilap. Di sana, Aisyah sedang membantu Mbok Nah memotong sayuran untuk makan siang.
Rosma melipat tangannya di dada, dan menatap Aisyah dengan pandangan menilai.
"Aisyah," panggil Rosma dingin.
Aisyah yang mendengar panggilan Rosma segera meletakkan pisau dapur dan berbalik sopan. "Iya, Mami?"
"Siang ini relasi bisnis saya, Ibu Sandra dan beberapa anggotanya dari yayasan sosial elite, mau datang berkunjung ke rumah untuk minum teh sore," ujar Rosma dengan nada memerintah. "Saya mau kamu yang buatkan kudapan dan racikan tehnya!"
Mbok Nah yang mendengar hal itu terperanjat pelan. "Lho, Bu Rosma... biasanya kan Mbok yang buatkan kue sus atau tartlet impor dari toko berlangganan..."
"Diam, Mbok Nah!" potong Rosma tegas. "Saya mau lihat sejauh mana kemampuan menantu baru saya ini! Katanya wanita salehah dan pandai mengurus rumah tangga, masa bikin kudapan teh saja tidak bisa?"
Rosma menatap Aisyah dengan senyum miring yang penuh intrik. "Saya mau kamu buatkan kue tradisional yang layak disajikan di meja saya. Ingat, Ibu Sandra itu lidahnya sangat pemilih dan serba bersih. Kalau makanan kamu tidak enak atau kelihatan kampungan... kamu tau sendiri konsekuensinya!"
Setelah menyampaikan tantangan yang sarat niat menjatuhkan itu, Rosma berlalu meninggalkan dapur.
Mbok Nah kemudian mendekati Aisyah dengan raut wajah panik dan penuh rasa kasihan. "Aduh, Neng Aisyah... Bu Rosma itu sengaja mau ngerjain Neng. Ibu Sandra itu orangnya memang sangat sombong dan suka mengkritik. Biasanya makanan dari restoran bintang lima aja masih dikritik sama dia!"
Aisyah menarik napas untuk menenangkan diri. Ia tidak boleh menyerah sebelum bertanding. Ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa kebaikan dan kesederhanaannya bukanlah hal yang bisa diinjak-injak begitu saja.
Aisyah lalu menatap Mbok Nah dengan senyum tenang. "Tidak apa-apa, Mbok Nah. Bismillah... Insya Allah kita usahakan yang terbaik. Mbok Nah ada bahan-bahan untuk buat kue lupis, klepon pandan suji, dan kue lumpur kentang?"
Mbok Nah mengedipkan matanya karena heran. "A-ada Neng... bahan-bahan tradisional di kulkas lengkap..."
"Bagus," ujar Aisyah penuh keyakinan. "Mari kita mulai buat sekarang."
**
Dua jam kemudian, ruang tamu mewah keluarga Wiraguna telah diramaikan oleh gelak tawa tiga orang wanita paruh baya berpenampilan sangat mewah.
Mereka adalah Bu Sandra, istri pengusaha properti ternama, bersama dua rekan sosialitanya. Mereka mengenakan pakaian dari desainer ternama, lengkap dengan tas dan perhiasan mahal yang dipamerkan secara terang-terangan.
Adapun Rosma, ia duduk di tengah-tengah mereka, tertawa anggun sambil berbincang tentang proyek-proyek amal dan liburan ke luar negeri.
"Oh ya, Rosma..." ujar Bu Sandra seraya mengipas badannya dengan kipas bulu elegan. "Dengar-dengar Dimas sudah menikah ya kemarin? Katanya acaranya sangat mendadak di hotel bintang lima. Mana menantu barumu itu? Kami penasaran sekali mau lihat wanita beruntung mana yang berhasil mendapatkan anak tunggalmu!"
Rosma tersenyum kaku, seraya menyembunyikan rasa canggungnya. "Oh iya, Sandra. Pernikahan mereka memang sengaja dibuat privat awal mulanya. Aisyah sedang menyiap makanan ringan untuk kalian di dapur."
Tepat pada saat itu, Aisyah melangkah keluar dari arah lorong dapur.
Aisyah mengenakan gamis biru mudanya yang rapi, dilapisi apron putih yang bersih. Dengan langkah yang tenang, anggun, dan penuh tata krama, Aisyah membawa nampan perak berisi cangkir-cangkir porselen berisi teh herbal melati hangat yang harum merebak.
Di belakangnya, Mbok Nah menyusul membawa piring-piring porselen berisi susunan kue-kue tradisional yang dibentuk secara sangat cantik dan estetik.
Klepon hijau pandan bertabur kelapa muda yang dipotong presisi, Kue Lumpur Kentang yang lembut beraroma kayu manis, serta Lupis ketan bertabur gula aren cair yang disajikan dalam wadah daun pisang mungil berbentuk mangkuk.
Aisyah kemudian berlutut dengan sangat sopan di dekat meja kaca, lalu menyajikan cangkir teh dan piring kue satu per satu di hadapan para tamu.
"Silakan diminum tehnya, Ibu Sandra, Ibu-Ibu sekalian... Selamat menikmati kudapan sederhananya," tutur Aisyah dengan suara yang begitu lembut, merdu, dan penuh penghormatan, diakhiri dengan senyuman anggun tanpa rasa minder sedikit pun.
Bu Sandra dan teman-temannya terpana melihat penampilan dan kecantikan alami Aisyah yang begitu menyejukkan mata. Tidak ada kesan canggung atau kampungan, yang memancar dari Aisyah adalah keanggunan seorang wanita yang terdidik dengan akhlak yang tinggi.
Kemudian, Bu Sandra mengambil sepotong kue lumpur kentang buatan Aisyah menggunakan garpu kecil, lalu mencicipinya dengan pandangan ragu. Namun, begitu kue lembut itu menyentuh lidahnya, mata Bu Sandra langsung membelalak lebar.
"Masya Allah...!" seru Bu Sandra spontan, hingga mengejutkan Rosma yang duduk di sampingnya. "Ini... ini kue lumpur paling lembut dan enak yang pernah saya makan! Manisnya pas, aroma pandan dan kayu manisnya begitu segar! Rosma, ini buatan catering mana?!"
Tak lama, rekan sosialita di sampingnya ikut mencicipi klepon buatan Aisyah. "Iya! Kleponnya lumer sekali di mulut! Gulanya pakai gula aren asli ini! Rosma, kamu beli di mana kue-kue cantik ini?!"
Rosma membeku di tempat duduknya. Wajahnya yang semula bersiap melihat Aisyah dipermalukan kini berubah menjadi serba salah.
Aisyah lalu mendongak dengan pelan, dan menatap Bu Sandra dengan senyum yang tulus. "Alhamdulillah kalau Ibu-Ibu suka. Kue-kue ini bukan beli di luar, Bu... Ini Aisyah sendiri yang buat di dapur tadi khusus untuk menyambut kedatangan Ibu-Ibu sekalian."
"Hah?! Kamu yang buat sendiri?!" puji Bu Sandra heboh, seraya menatap Aisyah dengan pandangan kagum yang luar biasa. "Luar biasa! Sudah cantik, santun, pinter masak kue tradisional yang berkelas begini lagi! Rosma... kamu benar-benar beruntung dapat menantu seperti Aisyah! Jaman sekarang jarang sekali anak muda kaya yang mau dan pinter bikin kue tradisional semenarik ini!"
Glek!
Rosma menelan ludahnya yang terasa pahit. Mau tak mau, demi menjaga gengsinya di depan rekan-rekan elitenya, Rosma memaksa bibirnya mengukir senyum bangga yang palsu.
"O-oh tentu saja, Sandra..." puji Rosma kaku, sedangkan tangannya mengepal di balik gaunnya. "Aisyah memang menantu yang sangat berbakat dan rajin. Saya sendiri yang mengajarinya untuk selalu menyajikan yang terbaik buat tamu."
"Wah, hebat sekali kamu Rosma!" puji Bu Sandra lagi.
Aisyah yang melihat mertuanya harus "berpura-pura bangga" padanya hanya menundukkan kepala dengan senyuman yang tipis. Ujian pertama di dapur telah berhasil ia lewati dengan kemenangan yang anggun.
Sementara itu di sudut tangga lantai dua, Dimas mengintip seluruh kejadian itu dari balik pilar. Melihat istrinya berhasil memenangkan hati tamu-tamu ibunya dan membuat sang mami tak berkutik, Dimas tersenyum lebar dengan penuh kebanggaan.
"Itu baru istriku..."
Bersambung...