Litha Kusuma Jaya Nagara adalah siswi kelas 1 SMA. Gadis itu mempunyai sifat pendiam pada orang asing. Tetapi jika dengan orang terdekatnya, dia akan menunjukkan sikap aslinya yang cerewet binti bawel banget dan sedikit bar-bar.
Dingin tanpa ekspresi itu adalah Raka Adelard Pangestu. Raka menyandang gelar sebagai ketua OSIS yang selalu meraih juara umum di sekolahnya.
Raka memiliki perawakan tinggi dengan wajah tampan serta berkulit putih, hampir semua kaum hawa yang melihatnya akan terpanah dengan pesonanya. Hanya Litha saja yang tidak terpanah oleh pesona manusia tampan itu. Tetapi berbanding terbalik dengan Raka yang sepertinya.....
"Lo tau nomor gue dari mana?" tanya Litha.
"Kutub Utara," jawab Raka dingin dan datar.
"Ha ha ha lucu. Oh.. iya habitat lo kan emang disana," ujar Litha sambil mengeluarkan suara tertawa palsu.
'Dasar beruang kutub,' batin Litha. Karena memang beruang kutub habitatnya berada di kutub Utara.
Ini bukan kisah tentang gadis yang berusaha untuk mendekati dan mencairkan manusia tampan yang memiliki sifat dan sikap sedingin es batu. Cerita ini tentang masa-masa remaja yang dibumbui tentang persahabatan, solidaritas, dan rasa sayang yang melebihi kata cinta.
Note: Novel ini hanya karangan semata, tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun.
Facebook: Riskyselly
ig: rskyselly
e-mail: riskisellyns@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganteng-ganteng Kerokan
"Woiii... berisik," teriak Umran. Umran itu memang tidak tahu terimakasih, kalau bukan karena Sarah mungkin besok pagi dia bisa masuk angin lagi.
"Kalo bukan karena gue, gue jamin besok lu kerokan lagi, lama-lama kulit punggung lo bisa abis karena dikerokin mulu," ledek Sarah.
"Bodo amat," ujar Umran. Hampir setiap hari punggung Umran yang putih dan mulus itu, selalu dipenuhi bekas warna merah. Setiap masuk angin Umran selalu meminta kerokan oleh ART yang telah lama bekerja dengan keluarga Nagara.
ART tersebut sudah bekerja pada keluarga Nagara sejak Umran masih kecil. Mbok Inah adalah nama dari ART yang sudah dipercayai dan sudah dianggap keluarga oleh keluarga Nagara. Usia mbok Inah itu kurang lebih sekitar 65-an. Umran dan Litha sejak kecil sudah dirawat oleh mbok Inah, jadi wajar saja kalau mereka berdua sudah menganggap mbok Inah sebagai orang tuanya yang ke dua.
Dari dulu sampai sekarang orang tuanya Umran dan Litha sibuk dengan urusannya masing-masing. Sehingga orang tuanya tidak ada waktu untuk merawat anak-anaknya. Dari dulu sampai sekarang ayahnya sibuk dengan pekerjaannya yang mengurus perusahaan keluarganya. Sedangkan bundanya dulu sibuk menempuh pendidikannya di luar negeri, agar dapat menjadi dosen.
Tapi Umran dan Litha tetap menyayangi orang tuanya kok, mereka berdua memahami bahwa yang dilakukan oleh orang tuanya itu, adalah untuk kebahagiaan dan masa depan mereka juga.
"Malu noh sama mukanya, ganteng-ganteng, tapi tiap hari kerokan mulu," Sarah itu memang hobby-nya ngeledekin orang terus.
"Akhirnya lo ngakuin juga kalo gue ganteng," ujar Umran sangat sombong, sambil berjalan menghampiri Sarah. Umran berjalan dengan gaya dan pose bak model pria yang profesional.
"Dih.. apaan sih.. beruntung aja lo karena punya sodara good looking, jadi ketularan deh," ucap Sarah. Sebenarnya tadi Sarah keceplosan, Sarah juga mengakui kalau Umran itu ganteng. Tapi entah kenapa Sarah tidak mengakui isi hatinya yang sebenarnya, dia malah mengalihkan topik pembicaraannya.
"Kebalik be*o, yang lahir duluan di dunia ini, itu gue. Jadi Litha nohh yang beruntung karena punya abang kek gue yang good looking-nya gak kalah saing sama yang namanya Raka," ujar Umran.
"Lhoh.. kok bang Umran bisa tahu soal kak Raka?" tanya Sarah penasaran.
"Napa? Lo ngira kalo gue dukun?" tanya Umran. Sarah hanya menatap tajam ke arah Umran.
"Dulu sebelum gue lulus SMA, Raka kan pernah jadi adek kelas gue. Jadi gue tau kalo di sekolah lo ada manusia tampan kayak gue," ucap Umran panjang lebar.
"Oh.. iya juga yaa.. elo kan alumni dari sekolah gue juga," ucap Sarah.
"Bisa dibilang yang namanya Raka-Raka itu, dia jadi penerus ketampanan gue," Umran itu emang sombong banget sih..
"Jelas beda, elo itu gak terlalu kenal sama kak Raka. Kak Raka itu cool, gak sombong sama ketampanan yang dimilikinya. Nah.. elo? Absurd banget, sombong banget. Dan satu lagi kak Raka juga gak suka tebar pesona kayak lo gini," ujar Sarah.
**Kamar Litha__
Litha membuka matanya, dengan tubuh yang masih tertutupi selimut bulu tebalnya. Litha melihat ke arah samping kanannya, seperti ada seseorang yang sedang menatapnya sambil duduk di atas sofa empuk yang tidak terlalu panjang.
Namun Litha belum mengetahui pasti, siapa orang yang sedang menatapnya tersebut. Litha mencoba memfokuskan penglihatannya pada orang tersebut, tetapi tetap masih samar-samar, mungkin efek karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Siapa? Bang Umran?" tanya Litha dengan nada malas, karena masih ngantuk.
"Bukan," suara seseorang, datar dan dingin. Tentunya Litha sangat hafal dengan suara itu. Jika kalian menebak itu adalah Raka, maka tebakan kalian benar.
Sontak suara itu membuat Litha sangat terkejut, dan seketika nyawa yang sedari tadi belum terkumpul sepenuhnya, langsung terkumpul sepenuhnya dalam hitungan detik. Bagaimana mungkin pagi-pagi buta seperti ini, Raka dapat masuk ke dalam kamarnya?
Litha segera duduk diatas kasurnya dan mengangkat selimutnya sampai keatas dadanya serta menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya. Seolah-olah ingin jaga-jaga, takut jika Raka berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya, Litha lagi parno dan berfikir negatif lagi nihh terhadap Raka yang sekarang resmi berstatus sebagai pacarnya.
Ya, walaupun pakaiannya masih lengkap, tetap setia pada kaos oblong dan celana jeans pendek. Ya iyalah masih lengkap, Raka mana mungkin berani berbuat yang tidak-tidak, Raka itu sangat menghargai perempuan. Apalagi yang ada dihadapannya sekarang ini, adalah perempuan yang disayanginya. Jelas Raka tidak ada niatan sedikit pun untuk mengotori tubuhnya apalagi melukai hatinya, yang keduanya sama-sama cantik bagi Raka.
Karena kalau tidak ada perempuan, Raka tidak akan hadir di dunia ini yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman, bagi seseorang yang mengalami perekonomian yang kritis. Kan ibunya Raka juga seorang perempuan yang melahirkannya tanpa mempedulikan keselamatannya, yang rela mempertaruhkan nyawanya demi Raka. Itulah alasannya, mengapa Raka tidak pernah merendahkan harga diri dan martabat seorang perempuan.
Justru Raka malah menganggap kalau perempuan itu hebat, perempuan bisa menjadi ibu yang mendidik anak-anaknya menjadi orang yang kuat, sehingga bisa bertahan hidup di dunia luar, yang sangat kejam dan keras.
"Ngapain lo?" tanya Litha dengan nada ngegas.
"Biasa aja kali!" perintah Raka.
"Serah gue lah..." ucap Litha masih ngegas.
"Dari pertama gue masuk kesini, gue cuman duduk disini," ujar Raka.
"Terus?" tanya Litha masih ngegas.
"Cuman ngeliatin lo yang lagi tidur," jawab Raka. Memang dari awal Raka masuk ke dalam kamar yang didominasi oleh warna krem, yang mewah, besar dan bagus, yang juga dipenuhi komik yang berceceran dimana-mana itu, Raka hanya memandangi wajah cantik Litha yang sangat natural.
Biasanya pun, saat hendak bepergian Litha juga selalu tampil natural, tanpa makeup. Karena bibir mungilnya sudah berwarna merah muda alami, tanpa harus diberi lipstik. Dan bulu matanya sudah lentik, tanpa harus menggunakan penjepit bulu mata dan maskara.
"Terus?" tanya Litha lagi dan masih ngegas juga... Karena Litha merasa kalau penjelasan yang diberikan Raka itu kurang jelas dan kurang rinci.
Aku selalu setia nungguin update nihh