NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap yang Tak Terduga

“Nona, Anda begitu baik hati. Bukankah lebih baik meminta mereka dihadirkan ke pejabat untuk diperiksa dan diinterogasi? Mereka sudah membuat suasana menjadi tegang dan menakutkan,” ujar Li Xia dengan nada masih kesal. Hatinya merasa tidak puas melihat para pengawal itu hanya pergi begitu saja tanpa mendapatkan teguran yang setimpal, padahal mereka telah mengganggu ketenangan majikannya secara sembarangan.

Yanfei menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, “Li Xia, itu terlalu berlebihan. Mereka hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh atasan mereka. Tidak ada niat buruk secara pribadi, hanya saja cara mereka bertindak memang kurang tepat.”

Ia kembali mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan, menikmati rasa hangat yang menjalar di tenggorokan. “Di ibu kota yang besar ini, ada begitu banyak orang dengan latar belakang dan tugas yang berbeda-beda. Hal baik dan buruk selalu berdampingan, dan kita tidak bisa menghindari semuanya. Lebih baik bersikap bijak daripada membesarkan masalah yang sebenarnya tidak perlu.”

Li Xia hanya mendengus pelan, namun ia tidak berani membantah lagi. Ia tahu sang nonanya selalu memiliki pertimbangan yang matang dalam setiap keputusan yang diambil.

“Tuan Muda, mereka sudah pergi. Kamu boleh keluar sekarang,” ujar Yanfei dengan nada ringan dan santai seolah sedang berbicara dengan teman lama.

Mendengar itu, kepala kecil yang sedari tadi bersembunyi di bawah meja langsung muncul perlahan. si bocah menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang penuh kekaguman dan rasa takjub yang mendalam. Ia mengenali seragam yang dipakai orang-orang tadi—itu adalah bawahan langsung ayahnya. Ia tahu betul sifat mereka yang keras kepala, kaku, dan hampir tidak bisa diajak berbicara dengan alasan apa pun. Namun hari ini, hanya dengan beberapa kalimat tenang dan tegas dari wanita di hadapannya itu, para pengawal yang biasanya sulit diatur itu langsung mengurungkan niatnya dan pergi begitu saja.

Sebelumnya, saat ia nekat masuk dan bersembunyi di ruangan ini, ia sama sekali tidak memiliki harapan besar untuk bisa lolos. Ini bukan pertama kalinya ia mencoba kabur dari pengawasan. Ia sudah tahu betul betapa gigih dan tegasnya anak buah ayahnya. Meskipun pada akhirnya pasti akan ketahuan juga, setidaknya ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari rasa terkekang yang selalu diberikan oleh para pengawal dingin itu.

Begitu ia berdiri tegak dan membersihkan debu di bajunya, sikapnya yang sombong dan angkuh kembali muncul. Ia mendekat lalu duduk di kursi kosong tepat di samping Yanfei, dengan kepala sedikit terangkat tinggi.

“Kau sangat beruntung, tahu tidak? Hari ini kau diberi kesempatan langka untuk menjadi penyelamat Tuan Muda ini. Nanti mungkin aku bisa meminta ayahku memberi hadiah kecil sebagai tanda terima kasih,” ujarnya dengan nada yang terdengar bangga, seolah ia sedang memberikan kebaikan besar kepada wanita itu.

Namun, apa yang didapatkannya justru sangat berbeda dari yang ia bayangkan. Yanfei hanya melirik sekilas sekilas, lalu kembali menunduk menyantap kue di piringnya dengan wajah yang terlihat acuh tak acuh dan santai seolah tidak mendengar apa pun.

Melihat reaksi itu, ia merasa sedikit tersinggung. Ia menoleh lagi dan menegaskan suaranya, “Hei! Mengapa kau diam saja? Apakah kau tidak mengerti apa yang baru saja aku katakan?”

Yanfei baru mengangkat wajahnya, menatap bocah kecil itu dengan tatapan datar tanpa ekspresi, lalu berkata dengan nada dingin namun tenang, “Jika kau tidak ingin makan camilan yang ada di sini, lebih baik pergilah. Jangan menghalangi cahaya dan mengganggu ketenanganku.” Ia sudah melakukan ini lebih dahulu, lari lari dan kabur kabur tanpa pengawasan di tengah keramaian seperti ini adalah hal yang sangat gegabah dan membahayakan diri sendiri

“Kau…?” ia tertegun, matanya membulat besar karena kaget. Apakah ia baru saja diusir?

Ini adalah hal yang paling memalukan dan aneh yang pernah ia alami sepanjang hidupnya. Di seluruh wilayah ibu kota ini, tidak ada satu pun orang yang berani bersikap seperti ini kepadanya. Semua orang selalu berusaha bersikap manis, menjilat, atau berpura-pura ramah hanya untuk mendapatkan perhatian atau keuntungan dari keluarganya. Namun wanita ini? Ia tidak hanya tidak menganggap dirinya penting, bahkan dengan mudahnya bisa mengendalikan orang-orang yang paling ditakuti di rumahnya sendiri.

Belum sempat ia menyusun kata-kata untuk membalas, Li Xia yang sejak tadi mengamati akhirnya membuka mulut. Suaranya tetap lembut dan sopan, namun terdengar tegas dan tidak memberi ruang untuk berdebat.

“Tuan Muda, jika sudah merasa cukup beristirahat, pelayan bisa mengantar Anda kembali ke tempat yang seharusnya. Jangan sampai membuat orang tua Anda semakin cemas mencari keberadaan Anda,” ujarnya.

Meskipun kata-katanya halus, namun baginya kalimat itu terdengar seperti mantra buruk yang harus segera dihentikan sebelum menjadi kenyataan. Ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya menunjukkan rasa takut yang tiba-tiba muncul.

“Tidak, tidak, tidak! Aku tidak ingin kembali dulu! Hari masih terlalu sore dan langit masih terang. Bahkan anak ayam pun belum tidur saat ini, mengapa aku harus segera pulang?” serunya dengan nada protes yang keras namun tidak berani terlalu berisik.

Li Xia tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada sedikit menyindir namun tetap sopan, “Tuan Muda, Anda masih di bawah umur. Tubuh kecil ini butuh istirahat yang cukup agar bisa tumbuh tinggi dan sehat. Jika sering begadang atau berlarian tanpa tujuan, bagaimana nanti bisa menjadi orang yang kuat dan pintar?”

Mendengar ucapan itu, wajahnya memerah menahan marah. “Kau… pelayan lancang!”

Namun, sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya, perhatiannya teralihkan kembali ke arah Yanfei. Wanita itu duduk tenang di sampingnya, terus menyantap makanannya dengan gerakan anggun dan teratur, seolah keberadaannya tidak ada apa-apanya dan tidak mengganggu sedikit pun. Ia sama sekali tidak memandang ke arahnya, tidak bertanya siapa asal-usulnya, tidak memuji, dan tidak memohon apa pun seperti yang biasa dilakukan orang lain.

Sikap acuh itu justru membuat rasa ingin tahu dan rasa hormat perlahan tumbuh di hatinya. Ia duduk diam kembali, namun kali ini dengan sikap yang lebih tenang, matanya terus mengamati setiap gerakan Yanfei. Ia merasa bahwa di depan wanita ini, semua kesombongannya terasa tidak berarti dan tidak ada gunanya sama sekali.

Di luar jendela, langit perlahan mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Suara keramaian dari jalanan semakin terdengar jelas, menandakan bahwa malam festival lentera akan segera dimulai. Namun di dalam ruangan yang tenang ini, suasana terasa berbeda—sebuah pertemuan tak terduga yang perlahan membuka jalan bagi hubungan yang belum diketahui akhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!