NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Pagi itu, gerbang utama SMA Pelita seperti biasa dipadati oleh deretan mobil mewah keluaran terbaru. Namun, suasana yang tadinya bising oleh obrolan murid-murid mendadak sunyi senyap begitu mobil sport hitam milik Zayn Dominic berbelok masuk dan mengambil posisi parkir tepat di area VIP.

Kabar mengenai makan malam resmi di kediaman utama keluarga Dominic sudah bocor ke telinga para orang tua murid yang merupakan kalangan pebisnis elite Jakarta. Hanya dalam waktu semalam, status Elva Ileana berubah seratus delapan puluh derajat di mata satu sekolah. Dia bukan lagi gadis terabaikan dari keluarga Ileana yang hampir bangkrut. Kini, Elva adalah calon menantu resmi keluarga Dominic—kasta tertinggi yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.

Zayn turun dari mobil, berputar dengan langkah tegap, lalu membukakan pintu untuk Elva. Pagi ini, Elva tampil sangat anggun. Seragam sekolahnya pas melekat di tubuh mungilnya yang kini tampak lebih segar. Rambut hitam panjangnya yang halus digerai dengan rapi, berkilau diterpa sinar matahari pagi. Sifat lugu dan polosnya tidak hilang, namun kini memancar bersama dengan rasa percaya diri yang baru.

Zayn mengulurkan tangannya, dan Elva menyambutnya dengan senyuman murni. Jemari mereka bertautan erat saat melangkah memasuki koridor utama sekolah.

Di sepanjang selasar, murid-murid berdiri kaku di sisi dinding, memberikan jalan layaknya menyambut anggota kerajaan. Di sudut koridor dekat loker, Clarissa bersama dua dayangnya tampak berdiri dengan wajah pucat pasi.

Mengetahui bahwa Elva sekarang dilindungi langsung oleh Alexander Dominic, nyali Clarissa benar-benar habis. Jangankan merundung, menatap mata Elva saja dia tidak berani lagi. Clarissa buru-buru membuang muka dan menunduk dalam saat Elva dan Zayn berjalan melewati mereka.

Namun, status baru Elva ternyata memicu jenis masalah yang berbeda di sekolah. Jika dulu semua orang menjauhinya karena takut, kini murid-murid justru berlomba-lomba untuk mendekatinya demi mencari muka dan keuntungan sosial.

Saat jam istirahat tiba, Zayn harus pergi ke ruang yayasan selama beberapa menit untuk menandatangani berkas kepindahan hak asuh legal Elva. Elva memutuskan untuk menunggu di kelas IPS sambil membaca buku novelnya.

Baru lima menit Zayn pergi, meja Elva langsung dikerumuni oleh beberapa murid laki-laki dari kelas sebelah yang terkenal populer, dipimpin oleh seorang murid baru pindahan dari Surabaya bernama Rendy.

"Hai, Elva," sapa Rendy sambil mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Elva dengan senyum yang dibuat semenarik mungkin.

"Kenalin, gue Rendy. Anak baru di kelas sebelah. Gue liat lo dari kemarin suka baca fiksi, ya? Kebetulan gue punya koleksi buku bagus di rumah, kapan-kapan boleh dong kita tukeran?"

Elva mendongak, merasa sedikit canggung dengan keramahan mendadak ini. "Ah... iya, salam kenal, Rendy. Tapi aku biasanya beli buku sendiri..."

"Santai aja kali, Elva. Nggak usah sekaku itu sama kita," timpal cowok lain di belakang Rendy sambil menyodorkan sebuah kotak berisi cokelat mahal.

"Nih, buat lo. Kita denger lo sempat sakit minggu lalu, jadi kita mau kasih ini biar lo semangat lagi belajarnya."

"Terima kasih, tapi aku—" Sebelum Elva sempat menyelesaikan kalimat penolakannya, sebuah bayangan tegap mendadak runtuh di atas meja mereka, menghalangi cahaya lampu kelas.

Atmosfer di dalam kelas IPS seketika turun hingga ke titik beku. Suasana yang tadinya ramai oleh bujuk rayu para cowok langsung senyap total.

Zayn Dominic sudah berdiri di samping meja Elva. Kedua tangannya terbenam di dalam saku jaket kulit hitamnya, namun rahang tegasnya mengeras sempurna. Sepasang mata elangnya berkilat tajam, menatap Rendy dan cowok-cowok di sekelilingnya dengan pandangan membunuh yang sangat dingin.

"Ngapain lo semua di meja cewek gue?" tanya Zayn, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan sarat akan ancaman yang berbahaya.

Rendy yang belum sepenuhnya paham seberapa mengerikannya sifat posesif Zayn mencoba berdiri dan tersenyum tenang. "Oh, santai, Zayn. Kita cuma mau kenalan dan temenan sama Elva. Lagian ini kan jam istirahat—"

BRAKK!

Zayn menendang kaki kursi di depan Rendy dengan satu sentakan keras hingga kursi besi itu bergeser kasar dan menimbulkan bunyi nyaring yang memilu telinga. Langkah Zayn maju satu sekon, membuat tubuh tegapnya menjulang intimidatif di depan Rendy.

"Gue nggak peduli lo anak baru atau anak lama," bisik Zayn tepat di depan wajah Rendy yang kini mulai berkeringat dingin karena ketakutan.

"Gue udah pernah bilang, siapa pun yang berani deket-deket atau coba cari muka ke Elva, artinya lo semua bosan hidup. Lo mau gue bikin bokap lo pindah tugas dari kota ini siang ini juga?"

"Z-Zayn, nggak usah... maaf, kita permisi dulu," cicit teman Rendy di belakang. Dengan wajah pucat pasi, mereka buru-buru menarik Rendy mundur dan lari terbirit-birit keluar dari kelas IPS sebelum amarah sang tuan muda meledak sepenuhnya.

Zayn mendengus muak melihat mereka kabur. Dia mengalihkan pandangannya ke atas meja Elva, dan matanya tertuju pada kotak cokelat pemberian murid tadi. Tanpa babibu, Zayn menyambar kotak cokelat itu dan langsung melemparkannya dengan akurat ke dalam tong sampah di sudut kelas.

"Zayn! Kenapa dibuang? Kan mubazir," tegur Elva polos, mendongak menatap Zayn dengan mata bulatnya.

Zayn tidak menjawab. Dia justru menarik kursi di sebelah Elva dengan kasar, lalu mendudukinya dengan posisi tubuh menghadap penuh ke arah Elva. Wajah tampannya ditekuk, bibirnya sedikit maju, dan dia melipat kedua tangannya di depan dada—sebuah ekspresi cemburu yang sangat kentara dan terlihat begitu menggemaskan di mata Elva.

"Gue nggak suka lo senyum-senyum ke cowok lain," ketus Zayn, membuang muka ke arah jendela dengan kesal.

Elva tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang sangat renyah lolos dari bibirnya. Dia mengerti sekarang. Tuan muda yang biasanya ditakuti satu sekolah ini ternyata sedang cemburu berat hanya karena ada cowok yang mengajaknya berkenalan.

Elva mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh lengan kekar Zayn yang berbalut jaket kulit dengan lembut. "Zayn... aku kan nggak ada senyum sama sekali ke mereka. Tadi aku malah bingung harus jawab apa."

Zayn melirik Elva dari sudut matanya, masih dengan wajah merengut kesal. "Tetep aja. Mulai besok, lo nggak boleh ditinggal sendirian di kelas. Gue bakal suruh Leo atau Arkan buat jaga di depan pintu kalau gue lagi ada urusan di ruang yayasan."

"Posesif banget sih," goda Elva sambil tersenyum manis, mencubit pelan lengan Zayn.

"Biarin," sahut Zayn lempeng, namun genggaman tangan Elva di lengannya membuat rasa kesal di hatinya menguap begitu saja. Zayn menghela napas pendek, lalu memutar tubuhnya kembali menghadap Elva. Dia meraih jemari tangan Elva, menggenggamnya dengan sangat erat di atas meja, memastikan seisi kelas yang diam-diam mengintip tahu bahwa posisi Elva di hatinya tidak akan pernah bisa digeser oleh siapa pun.

"Lo itu cuma punya gue, Elva. Dan gue nggak akan pernah membiarkan lalat-lalat itu mengganggu ketenangan rumah gue," ucap Zayn tegas, matanya kembali menatap Elva dengan kelembutan yang tiada tara. Di bawah pengawasan penuh dan kecemburuan sang tuan muda yang posesif, Elva tahu bahwa kehidupan sekolahnya ke depan tidak akan pernah lagi terasa sepi.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!