NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Jaring yang Semakin Rapat dan Halus

Gagal menabur keraguan lewat selisih‑selisih kecil, Rendra makin tidak sabar namun juga makin berhati‑hati. Ia sadar sepenuhnya: selagi Dika bekerja dengan ketelitian luar biasa, membuat catatan ganda, dan menyimpan setiap bukti di tempat aman, celah untuk menyerang makin sempit dan sulit ditembus. Maka ia menyusun rencana yang jauh lebih besar, lebih rapi, dan jauh lebih berbahaya — rencana yang melibatkan urusan pembelian besar, keuangan keluarga, dan hubungan dagang yang dianggap terpercaya.

Beberapa hari kemudian, Rendra datang kembali dengan wajah penuh keyakinan dan senyum yang tak tergoyahkan. Di hadapan Nyonya Wijaya, Kirana, dan beberapa pengurus rumah, ia mengajukan usulan kerja sama pembelian bibit serta pupuk dalam jumlah besar untuk kebutuhan kebun utama dan lahan milik Tuan Suryo yang sedang diurus.

“Harganya jauh lebih murah dibandingkan harga di pasar biasa,” ujarnya sambil menyerahkan lembaran daftar yang tampak sangat rapi dan meyakinkan. “Penjualnya adalah kenalan lama dan mitra tetap ayah saya, sudah terpercaya bertahun‑tahun. Ini kesempatan sangat baik untuk menghemat biaya sekaligus memperluas hasil panen dua kali lipat.”

Nyonya Wijaya memandang kertas itu sambil mengerutkan kening sedikit, lalu menoleh ke arah Dika yang berdiri tenang namun waspada di sisi ruangan. “Bagaimana menurut pendapatmu, Dika? Kamu yang paling paham kebutuhan dan mutu yang kami perlukan.”

Dika melangkah maju perlahan, mengambil lembaran itu, dan membacanya baris demi baris dengan sangat teliti. Angka‑angkanya memang terlihat sangat menguntungkan, namun ada hal‑hal yang membuatnya merasa ragu: nama alamat lengkap pemasok tidak tercantum jelas, keterangan mutu barang hanya ditulis secara umum tanpa rincian teknis, dan tidak ada contoh spesimen yang disertakan untuk diperiksa terlebih dahulu.

“Harganya memang tampak sangat menarik dan menghemat biaya,” ujar Dika tenang namun tegas, suaranya terdengar jelas namun tetap sopan. “Tetapi sebelum kami menyetujui dan membayar sejumlah besar ini, sebaiknya kami memeriksa dulu mutu barangnya secara langsung, melihat tempat penyimpanan dan cara pengolahannya, serta memastikan asal‑usulnya benar‑benar jelas. Pengalaman mengajarkan kami: barang yang harganya terlalu rendah tanpa alasan yang masuk akal sering kali menyimpan risiko yang belum terlihat.”

Wajah Rendra sedikit berubah rona, namun ia segera menutupinya kembali dengan senyum santai yang sudah terlatih. “Wah, sepertinya kamu terlalu berhati‑hati sekali. Semua hal itu sudah saya jamin sepenuhnya kebenaran dan keamanannya.”

“Jaminan ucapan memang baik,” jawab Dika tanpa memalingkan pandangan, “tetapi jaminan yang disertai bukti nyata dan pemeriksaan bersama akan jauh lebih kuat dan meyakinkan. Bukan karena tidak percaya pada ucapan Tuan, melainkan karena ini adalah amanah yang dipercayakan kepada saya, dan harus dijaga sebaik‑baiknya agar tidak merugikan usaha maupun nama baik keluarga.”

Kirana yang mendengarkan dari sisi ruangan tersenyum samar dalam hati. Ia tahu betul: Dika tidak menolak karena keras kepala atau curiga sembarangan, melainkan karena ia berpegang teguh pada prinsip kehati‑hatian dan kebenaran — jalan yang memang tidak mudah, namun aman.

Namun penolakan halus dan ketelitian itu justru membuat Rendra makin bertekad melancarkan rencananya sampai tuntas. Ia mulai bergerak diam‑diam: menghubungi salah satu petugas gudang yang sejak dulu merasa kurang diperhatikan dan sering merasa iri pada kemajuan Dika, lalu menjanjikan keuntungan tambahan yang cukup besar jika mau membantu menyusun keadaan sesuai rencananya.

Rencananya disusun sangat rapi: jika usulan pembelian itu akhirnya tetap disetujui, mereka akan mengirim barang bermutu rendah dan tidak sesuai janji, namun menyertakan surat jalan dan catatan seolah mutunya sudah diperiksa dan disetujui oleh Dika sendiri. Jika terjadi kerugian atau kegagalan tanaman kemudian, segala kesalahan dan tuduhan akan jatuh sepenuhnya ke pundak Dika, seolah dialah yang lalai atau bahkan sengaja membeli barang murah demi keuntungan sendiri.

Sore harinya, saat pekerjaan sudah selesai dan suasana mulai tenang, Kirana menyusul menemui Dika di tempat paling aman dan tenang: di bawah pohon beringin tua yang rindang di ujung taman. Angin sore berhembus pelan, membawa kabar segar namun juga menyisakan sedikit hawa dingin yang mengingatkan akan bahaya yang masih mengintai.

“Saya tidak sengaja mendengar percakapan rendah antara Rendra dan salah satu orang di gudang tadi,” ujar Kirana berbisik, mendekat agar tak terdengar orang lain. “Ia berjanji akan memberikan uang tambahan cukup besar jika segala catatan dan surat jalan disusun persis sesuai keinginannya tanpa banyak bertanya. Jelas sekali, ia sedang menyiapkan jebakan yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari sebelumnya.”

Dika mengangguk perlahan, matanya tampak tenang namun tajam seperti orang yang sudah lama menduga hal serupa. Ia menatap jauh ke arah gerbang utama lalu kembali menatap Kirana dengan pandangan yang teguh.

“Saya sudah menduga ada sesuatu yang tersembunyi di balik usulan yang terlalu menguntungkan itu,” jawabnya pelan namun jelas. “Keuntungan yang terlalu besar dan mudah didapat biasanya hanyalah umpan halus sebelum jaring ditutup rapat‑rapat di sekeliling kaki kita.”

Ia melanjutkan dengan suara yang semakin mantap, seolah ingin menguatkan hati mereka berdua: “Tetapi ingatlah hal ini baik‑baik: selagi kita berjalan di jalan yang terang, mencatat segala hal secara ganda dan rapi, memeriksa barang dan surat bersama saksi‑saksi yang jujur dan terpercaya, serta tidak melanggar aturan kebenaran sekecil apa pun — maka jaring yang mereka rajut akan justru menjerat diri mereka sendiri oleh benang kebohongannya yang rapuh. Cahaya ketulusan dan kejujuran tidak hanya melindungi hati kita, tetapi juga menerangi setiap sudut gelap tempat bahaya bersembunyi.”

“Maka kita harus bergerak lebih cermat dan lebih cerdas dari sebelumnya,” sambung Kirana dengan nada tegas dan penuh keyakinan. “Bukan untuk melawan kejahatan dengan cara yang sama buruknya, melainkan untuk menjaga kebenaran tetap terlihat jelas dan terbuka bagi semua orang, hingga akhirnya setiap orang dapat melihat siapa yang berjalan di terang dan siapa yang bersembunyi di bayang‑bayang.”

Malam itu, setelah seluruh rumah mulai sepi dan lampu‑lampu dipadamkan satu per satu, Dika kembali duduk di ruang kerjanya yang sederhana namun rapi. Ia menyusun berkas tambahan secara rinci: mencatat siapa yang mengusulkan, siapa yang menyarankan pemasok, hal‑hal apa yang belum jelas dan perlu diperiksa, serta siapa saja yang akan hadir saat pemeriksaan dan penerimaan barang nanti. Semua ditulis rapi, ditandatangani, dan disimpan di dua tempat berbeda yang aman, serta salinannya sudah diketahui dan diserahkan kepada Nyonya Wijaya sendiri.

Di sisi lain, Rendra merasa makin yakin rencananya pasti akan berhasil. Ia berpikir: lambat‑laun atau cepat, meski hati Dika bersih dan teliti, pasti akan ada satu celah kecil yang bisa dimanfaatkan — atau setidaknya cukup keraguan yang berhasil ditimbulkan hingga membuat kedudukannya tak lagi kuat seperti dulu.

Namun satu hal penting belum disadari oleh Rendra: lawan yang sedang dihadapinya bukan sekadar pemuda cerdas dan rajin saja, melainkan seseorang yang berjalan di jalan yang terang menderang, sehingga setiap gerakan yang dilakukan dalam kegelapan di sekelilingnya justru makin mudah terlihat dan dilacak asal‑usulnya.

Angin malam berhembus cukup dingin melewati celah‑celah jendela, membawa pertanda jelas: pertemuan besar antara kebenaran yang kokoh dan kebohongan yang rapi namun rapuh semakin dekat waktunya, dan tak lama lagi semuanya akan terungkap sepenuhnya di hadapan semua orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!