Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Rindu Yang Membuncah
Dengan langkah gontai dan hati yang bergetar hebat, Nadia masuk ke dalam ruangan. Udara di dalam sana terasa begitu menyesakkan, seolah setiap sudutnya menyimpan kenangan yang berusaha ia kubur dalam‑dalam selama delapan tahun terakhir. Aga mundur perlahan, matanya tak pernah sekalipun beralih dari wajah Nadia, seolah takut jika ia berkedip sesaat, sosok itu akan lenyap kembali seperti kabut pagi.
“Kakek, aku datang membawakan makanan kesukaan Kakek,” ucap Nadia.
Kakek Santoso yang bersandar di bantal menatap Nadia dan Aga bergantian dengan pandangan sendu namun penuh pengertian. Ia menghela napas panjang, lalu menunjuk kursi di sisi ranjang. “Duduklah, Nak Nadia. Terima kasih sudah membawakan makanan untukku. Kamu selalu tahu, apa yang kakek tua ini butuhkan. Masakanmu itu selalu jadi favorit Kakek.”
Nadia tersenyum tipis, kemudian meletakkan wadah makanan di meja kecil dengan tangan yang masih gemetar. “Sama‑sama, Kakek. Semoga Kakek suka.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, berat dan menyakitkan. Aga masih berdiri terpaku di tempat, matanya menatap lekat wajah wanita yang selama ini ia cari ke mana saja—wajah yang kini terlihat lebih dewasa, lebih kuat, namun juga menyimpan jejak perjuangan yang tak pernah ia ketahui.
“Kamu tahu, Aga?” suara Kakek memecah keheningan itu pelan namun tegas. “Selama kamu pergi dan sibuk dengan duniamu, Nadia inilah yang menjaga segala urusan perkebunan ini. Dialah yang bekerja keras siang malam, dialah yang menjaga kakek tua ini saat tidak ada satu pun dari kalian yang peduli.”
Aga menatap Nadia tak percaya. “Jadi selama ini… kamu bekerja di sini? Di kebun teh milik Kakek?”
Nadia mengangguk pelan, matanya menunduk menghindari tatapan tajam itu. “Iya.”
“Lalu kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?” suara Aga mulai meninggi, campuran antara rasa lega dan amarah yang bercampur aduk. “Kenapa kamu menghilang begitu saja tanpa kabar sedikit pun? Kamu tahu betapa aku mencarimu ke mana‑mana?”
“Cukup, Pak Aga!” potong Nadia tiba‑tiba, suaranya bergetar namun penuh ketegasan. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. “Untuk apa saya memberitahu Bapak? Lagipula kalau saya beritahu Bapak, memangnya apa yang bisa Bapak lakukan? Bapak sudah menikah dengan wanita lain, Bapak sudah memiliki kehidupan yang sempurna. Apa gunanya saya datang kembali dan merusak semuanya? Lagian saya enggak mau jadi pelakor! Saya enggak tertarik menjadi perusak rumah tangga orang.”
Setiap kata yang keluar dari bibir Nadia terasa seperti tusukan jarum tajam yang menusuk ulu hati Aga. Ia terdiam terpukul, tak sanggup membantah satu kalimat pun. Kata‑kata itu benar adanya. Dulu ia memang tak punya kuasa, tak punya kebebasan, dan tak bisa melindungi wanita yang dicintainya.
“Tapi tetap saja Nadia, tidak seharusnya kamu pergi tanpa memberitahuku. Kamu tidak tahu betapa beratnya hari‑hari itu bagiku, Nadia,” ucap Aga, pelan, suaranya pecah. “Kamu tidak tahu betapa aku membenci diriku sendiri karena tidak mampu melawan takdir. Tapi aku… aku tidak pernah berhenti mencarimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”
“Sudahlah, Pak Aga,” potong Nadia lemah, ia mengusap air matanya dengan kasar. “Masa lalu sudah berlalu. Tidak ada gunanya lagi dibahas. Kita sudah melangkah jauh dari sana.”
Kakek Santoso menatap mereka dengan hati yang perih. “Kalian berdua sama saja keras kepalanya. Padahal takdir sudah mempertemukan kalian kembali, tapi kalian masih saja menutup hati.”
“Saya minta maaf, Kakek,” ucap Nadia sambil menunduk hormat. “Saya sangat senang melihat Kakek sudah lebih baik. Tapi sepertinya saya harus pamit dulu. Saya masih ada urusan yang harus diselesaikan, dan Raka sedang menunggu di rumah.”
Menyebut nama Raka, Nadia seketika sadar ia harus segera pergi sebelum ia semakin kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.
“Tidak bisakah kita bicara sebentar lagi?” tanya Aga cepat, melangkah maju hendak menahan tangan Nadia, namun wanita itu mundur selangkah menjauh.
“Maaf, Pak Aga. Saya benar‑benar harus pergi.”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Nadia segera berpaling dan berjalan cepat menuju pintu. Ia tak berani menoleh ke belakang, tak berani melihat wajah pria itu lagi karena ia tahu pertahanannya akan runtuh seketika. Pintu tertutup pelan di belakangnya, menyisakan keheningan yang menyakitkan di dalam ruangan itu.
Aga berdiri terpaku sejenak, lalu seketika tersadar dan berlari mengejarnya. “Nadia! Tunggu!”
Ia menerobos keluar ruangan, menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah lebar dan napas memburu. Hatinya berteriak agar wanita itu berhenti, agar ia memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Namun saat ia tiba di lobi, sosok yang dicarinya sudah tak terlihat.
Nadia yang tadi berlari cepat keluar dari lorong rawat inap, melihat Aga mengejarnya dari kejauhan, seketika berbelok cepat menuju lorong samping yang sepi. Ia menekan punggungnya ke dinding dingin, menutup mulutnya dengan tangan agar tak terdengar isak tangisnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah berlari, tapi karena rasa takut jika ia tertangkap, ia akan kembali terjebak dalam perasaan yang sama menyakitkannya seperti delapan tahun lalu.
Dari balik tembok pembatas, ia mendengar langkah kaki berat Aga yang berhenti tak jauh dari sana.
“Nadia… kumohon….” Suara Aga terdengar serak dan penuh keputusasaan. “Aku tahu kamu masih ada di sini. Jangan sembunyi dariku. Beri aku waktu sebentar… aku hanya ingin bicara.”
Nadia memejamkan mata rapat, air mata mengalir deras di antara jari‑jarinya. Ia ingin sekali melangkah keluar, ingin sekali berlari memeluk pria itu dan meluapkan segala rindunya. Namun bayangan masa lalu, bayangan janji yang teringkari, serta kewajibannya menjaga keamanan Raka dari keluarga Santoso menahannya terpaku di tempat.
“Tolong… beri aku kesempatan untuk bicara denganmu,” ujar Aga, suaranya terdengar semakin parau, seolah ia juga sedang menahan tangis. “Ada beberapa hal yang ingin aku katakan.”
Nadia menggigit bibirnya kuat, berusaha menahan desakan hati yang ingin menyahut. Ia tahu jika ia bicara sekarang, semuanya akan berubah. Namun ia belum siap. Ia belum siap membuka luka yang baru saja mengering.
Perlahan, terdengar langkah kaki Aga yang mulai menjauh, menyusuri lorong lain mencari keberadaannya yang tak terlihat.
Sementara Nadia tetap diam di tempatnya sampai suara langkah itu benar-benar hilang. Ia meluruhkan tubuhnya ke lantai, memeluk lututnya erat, menangis sejadi‑jadinya di kesunyian lorong itu—menangis karena rindu, menangis karena takut, dan menangis karena takdir yang kembali mempertemukan mereka di saat yang paling tak terduga.
Di ujung lorong lain, Aga berdiri diam menatap sekeliling yang kosong. Ia meremas tangannya erat, merasa begitu gagal dan putus asa. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, tekadnya kembali menguat. Kali ini ia tak akan membiarkannya pergi lagi. Kali ini ia akan mencari tahu segalanya—termasuk siapa sosok Raka yang baru saja disebut Nadia.
hrusnya brp th lalu km bisa mnemukan nadia... kn kalian dlu tetanggaan🤣🤣🤣
demi hrga dirimu...