Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan pergi Aurora *
"Aurora! Please jangan pergi Aurora. Bangun Aurora. Maafkan aku Aurora."
Aldi meneteskan air mata melihat keadaan Aurora. Pria itu menyesal, padahal bukan seperti ini yang ia inginkan.
Edward yang mendapat kabar jika Aurora tertembak, langsung berlari untuk melihat keadaan Aurora. Brian ia serahkan pada Kiran dan memintanya untuk lebih dulu ke rumah sakit.
Pria itu memendam marah ketika melihat Aldi yang menjadi biang kerok dari semua masalah ini memangku kepala Aurora. Ingin sekali pria itu menendang Aldi sampai mati untuk memuaskan rasa bencinya.
Edward berjongkok dan memeriksa nadi Aurora. Ucapan syukur karena Aurora ternyata masih hidup walau nadinya melemah.
"Minggir bodoh! Aku harus segera membawanya ke rumah sakit!"
Edward langsung mengambil alih tubuh Aurora dan menendang dada Aldi hingga tersungkur. Jika saja tak ingat Aurora yang sedang kritis, pasti ia akan puaskan dirinya untuk menghajarnya.
Sampai dirumah sakit, Edward meletakkan Aurora diatas brankar dan mengatakan kondisi Aurora serta alibinya sebagai korban perampokan agar tak terlalu panjang urusannya.
Lama berdiri dan berjalan mondar mandir menunggu, akhirnya seorang dokter keluar dari ruang operasi diikuti brankar Aurora yang ikut didorong keluar.
"Operasi berjalan lancar. Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU untuk pemantauan."
Akhirnya Edward bisa bernafas lega. Pria itu mengangguk dan duduk lemas di kursi. Batinnya bersyukur, Aurora tak mengalami hal serius. Jika sampai itu terjadi, ia pasti akan menyesali keputusannya saat itu.
Ditempat lain.
Seorang pria paruh baya murka dan mengamuk pada anak angkatnya yang dinilai bodoh dan ceroboh dalam bertindak. Pria itu memukul benda benda disekitarnya dengan tongkat baseball untuk melampiaskan kekesalannya.
"Anak bodoh! apa yang kau lakukan hah! Kau membuat anak buahku mati konyol! Apa kamu mabuk! Tidak berguna!" pekik orang tua itu.
Aldi diam dan tertunduk. Tak tau apa yang harus ia jelaskan pada orang itu. Pasalnya dia sama sekali tak membicarakan hal ini padanya.
"Maafkan aku Ayah."
"Maaf? apa sekarang kamu sedang menyesali kebodohanmu hah! Kenapa baru sekarang menyesalnya! Kenapa tidak dari awal kamu memikirkan akibatnya! Apa kamu tau, siapa backingnya hah!" Ujarnya berang.
Aldi hanya tertunduk lemas. Ia menyesali perbuatannya. Padahal dia sangat menyayangi Aurora, tapi ketika ingat rasa sakit kehilangan sosok ayahnya, apalagi mendengar jika Aurora telah bertunangan, membuatnya hilang kendali.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, ayah."
"Huhh..!! Kau itu sudah berbuat , sekarang kamu tanya bagaimana? Benar benar kau ini! Pergi dan jangan memunculkan diri! Urus sana markas di Rusia!" ucapnya geram.
"Bagaimana dengan ibu?"
"Aku yang akan mengurusnya!" Tandas pria tua itu.
Aldi tak lagi membantah. Pria itu berlalu dari hadapan ayahnya sebelum pria itu lebih murka lagi.
.
.
Edward membelai wajah Aurora yang masih belum sadarkan diri. Pria itu menyesalkan keadaan yang harus dialami gadis itu.
Sudah berjam jam pria itu duduk disana, tapi Aurora belum mau membuka matanya.
"Bangun Ra, ini sudah waktunya kamu bangun. Apa mimpimu lebih indah daripada kehadiranku disini?"
Edward terus berbicara walau Aurora tak meresponnya. Ia pikir harus membantu Aurora agar segera sadar dan melewati masa kritisnya.
"Tuan."
Lukas masuk ke dalam membawa paperbag ditangannya.
"Saya membawa makanan untuk anda. Sebaiknya anda makan dulu. Saya yakin, nona akan segera sadar."
"Aku tak selera makan. Bagaimana keadaan Brian."
"Putra anda baik-baik saja, tadi sempat menangis mencari anda, tapi sekarang sudah tidur."
Edward mengangguk.
"Ayah anda..."
"Ck! Jangan bahas ayah sekarang Lukas. Aku memang sengaja mematikan ponsel. Kamu beritahu saja garis besarnya." Potong Edward yang tak ingin mendengar. Ia sudah tahu jika pasti akan dimarahi habis habisan karena kejadian ini.
"Maksud saya, ayah calon mertua anda Tuan. Beliau sedang perjalanan kemari." Ujar Lukas meluruskan. Jika masalah Tuan besar, sudah ia bereskan sejak tadi batinnya.
Edward terdiam. Entah apa yang akan terjadi setelah ini pikirnya.
"Kirim saja orang untuk menjemput mereka di Bandara. Aku ingin tidur sebentar. Kamu urus anggota kita."
Lukas mengangguk dan pamit pergi.
Keesokan harinya, Aurora tampak mulai membuka matanya. Gadis itu meringis kala merasakan nyeri dibagian dadanya. Dilihatnya Edward yang sedang tertidur menungguinya dengan kepala tertunduk di bed pasien.
Edward menaikkan pandangan karena merasa ada pergerakan diranjang itu.
"Oh! Kamu mau kemana!" Seru Edward terkejut melihat Aurora yang bersiap turun dari ranjang.
"Aku ingin ke kamar mandi." Lirih Aurora.
"Aku bantu."
Edward dengan sigap menuntun Aurora ke dalam kamar mandi sambil membawa kantong infus. Pria itu sebenarnya ingin membopong, tapi melihat luka itu ada di bagian dada, ia jadi mengurungkannya.
"Bagaimana perasaanmu." Tanya Edward setelah Aurora berbaring kembali ke bed pasien.
"Aku tak apa, hanya nyeri di tubuh bagian atas saja."
"Aku akan meminta dokter untuk memberikan yang terbaik agar kamu lekas pulih. Maaf, ini semua salahku. Harusnya aku tak gegabah dalam mengambil tindakan."
"Tidak. Ini bukan salahmu. Masalah ini berawal dari keluargaku sendiri. Aku sekarang jadi mengerti maksud kakak bertanya ambigu waktu lalu. Apa kakak sudah tahu tentang kejadian silam itu? Aku bahkan masih tak percaya jika papa bisa sekeji itu pada Aldi."
"Itu hanya masa lalu Aurora. Setiap orang pasti juga punya masa lalu. Kita tidak tahu perasaan seperti apa yang ayahmu rasakan saat itu. Bukankah cinta butuh diperjuangkan?"
"Kakak membenarkan perbuatan papa? Jika saja peristiwa itu sebelum adanya pernikahan, mungkin aku masih bisa memahami, tapi ini lain. Papa sudah merusak ikatan rumah tangganya sendiri dan orang lain. Dia bahkan tidak memikirkan akibat yang ditimbulkan. Ini gila."
Edward terdiam. Kisah cinta ini sebenarnya hampir mirip dengannya. Ia pasti akan berbuat seperti itu jika terjadi padanya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Membenci ayahmu sendiri? Meluruskan juga sudah tak berguna. Lihatlah, pada akhirnya papamu juga bahagia bersama mamamu. Tidak ada gunanya mengungkit masa lalu. Jangan merusak kehidupan bahagia yang sudah tertata dengan baik. Aku yang akan mengurus temanmu itu. Orang asing tak berhak menghancurkan tatanan yang sudah ada."
"Stop. Jangan ikut campur masalah ini. Jangan pernah mengusik Aldi. Dia hanya korban dan hanya butuh keadilan. Aku memahami perasaannya. Aku bahkan akan merelakan papa untuk menebus kesalahannya. Semua tergantung keputusan Aldi."
"What! Kamu akan menghancurkan keluargamu sendiri! Please jangan lakukan itu. Bersikaplah dewasa dalam memahami ini. Kamu tak memikirkan perasaan mamamu?"
Aurora bergeming. Itu yang sedang dalam benaknya, tapi ini juga sangat tidak adil untuk Aldi. Ia akan menyerahkan sepenuhnya keputusan pada pria itu.
"Bagaimana keadaan Brian. Apa dia baik-baik saja? Sebaiknya setelah ini kalian semua pulang. Tak perlu mengunjungiku lagi. Kita fokus saja dengan rencana masing-masing. Aku pastikan akan pulang tepat waktu."
"Aku tak bisa menahan rindu selama itu."
"Bisa!" Potong Aurora cepat.
Edward menggaruk kepalanya frustasi. Ia pikir kenapa Aurora bisa keras kepala seperti itu.
"Oke. Jika itu yang kamu inginkan, tapi biarkan aku disini sampai masalah disini clear. Jangan membantahku atau aku akan menikahimu sekarang juga. Papa dan mamamu sedang perjalanan kemari. Pikirkan apa yang aku katakan barusan. Keputusan besar ada ditanganmu. Kau mengerti girl."
Aurora memejamkan mata. Bukan tidur, tapi sedang menimbang keputusannya. Tak yakin, tapi sebisa mungkin ia akan menerima takdir hidup yang mungkin tidak mudah. Ia akan menjadi seperti air kali ini. Ia akan pasrah akan dibawa kemana kehidupannya setelah ini.
.
.
.
#####
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya