Kisah yang banyak mengandung misteri dan kekerasan, berusaha mempertahankan milik dan merebut milik yang lain.
"Aku memang terlatih menjadi senjata, jadi tidak salah bukan jika aku kejam dan beringas. Dulunya aku adalah seorang Wakil Pemimpin anggota mafia, tapi sekarang ... aku adalah Ratu kejam untuk Raja Dingin." ~ Freya.
"Dia memang kejam, keras kepala namun cerdas. Semua sikapnya membuatku semakin tertarik padanya, dia Lebah Kecilku, dia Ratuku." ~ Sean.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Lepas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Jika Aku
Freya duduk tenang di kursinya dengan pandangan fokus kepada secarik kertas yang sedang dia tulis begitu serius. Di depannya, Alison yang sudah datang sejak beberapa waktu lalu berdiri dalam diam, berusaha menebak apa yang akan Freya rencanakan tentang keinginan gadis itu menguasai dunia perdagangan.
Setelah cukup lama ruang itu hening, Freya membuka suara, "Pasang kertas ini di tempat terbuka, pastikan semua rakyat dapat membacanya." Freya menggeser kertas yang baru saja selesai dia tulis ke arah Alison dan pria tua segera mengambil lalu membaca isi kertas tersebut.
"Ini?" Alison beralih menatap Freya terkejut setelah selesai membaca isi kertas itu, "Apakah Nona sungguh ingin melakukan ini? Tapi tidak banyak rakyat mempercayai anda. Maaf jika perkataan saya lancang, tapi anda sudah sangat terkenal sebagai penjahat." Alison sangat terkejut mengetahui isi kertas itu adalah pencarian tenaga kerja untuk para rakyat pengangguran, bukan itu inti kenapa Alison sangat terkejut tapi karena Freya menera namanya sendiri sebagai penanggung jawab. Tentu saja rakyat tidak akan memedulikan kertas itu dan justru bisa saja menyerang Freya atas sikapnya yang berlagak menempel kertas seperti itu di depan umum.
"Aku mengerti masalah ini, tapi aku tidak bisa mempercayai siapa pun untuk bertanggung jawab masalah ini. Selain dua pelayanku dan Kepala Alison, tidak ada lagi yang bisa kupercayai di kerajaan ini. Yang Mulia telah pergi, sekarang keadaan kerajaan mungkin akan kurang stabil sampai Yang Mulia kembali. Dan untuk selama beberapa waktu itu, aku hanya bisa memeprcayaimu, Kepala Alison." Freya memberikan tatapan tegas seolah mengatakan bahwa apa yang baru saja dia katakan bukanlah sekadar pujian atau sebuah kebohongan. Freya menyandarkan punggungnya pada kursi, duduk dengan posisi lebih nyaman, "Bukan tanpa alasan juga aku mempercayaimu, Kepala Alison. Sejak awal kita bertemu, kau memperlakukan secara baik, tidak seperti pelayan lainnya. Meski kau hanya diam dan tidak peduli, bukan berarti aku tidak tahu kerap kali anda diam-diam memberikan bahan pokok kepada Elis. Dan sekarang keadaanku sedikit berbeda dan mereka semua berbondong-bondong ingin menjilat kakiku karena aku telah menjadi wanita kesayangan Yang Mulia. Sedangkan anda tetap bersikap seperti biasa seolah anda tidak pernah mengenalku."
Alison tertegun mendengar ucapan Freya, tatapan tenang dan ucapan dingin sungguh menggores ketenangan Alison. Yang dikatakan Freya memang benar, selama dua tahun Freya berada di dalam kekangan Sean, hanya Elis dan Alison yang masih peduli padanya, meski Alison tidak menunjukkan secara terang-terangan namun sikap Alison yang selalu diam dan tidak menindas Freya, siapa tidak bisa menebak jika Alison tidak ingin menyakiti Freya?
Freya tidak tahu jelas kenapa Alison melakukan semua itu kepada Freya sebelumnya, namun mau dilihat dari sudut mana pun Alison telah baik kepadanya dan sudah sepatutnya Freya membalas kebaikan Alison. Cara satu-satunya membalas kebaikan Alison ialah dengan mengikut sertakan Alison dalam perencanaan bisnisnya, dengan begitu ketika Freya berjaya nanti Alison juga ikut merasakannya.
"Tapi, Nona ... saya, saya, saya tidak pantas menerima kepercayaan anda." Alison menunduk merasa tidak enak menatap Freya begitu lama ditambah lagi menerima hadiah mewah seperti ini, "Dan juga meski pun Nona mempercayai saya, tetap saja akan sulit menemukan para pekerja yang mau berkerja di bawah perintah anda. Tapi, Nona bisa meminta persetujuan dari Penasihat Keith, mungkin saja Penasihat Keith akan mendengarkan anda." Alison membuang pandangannya ke samping disertai mimik wajah terlihat kesulitan. Menurutnya, saran yang dia berikan justru mempersulit Freya.
"Benar juga, siapa yang mau mempercayai penjahat sepertiku?" Freya bergumam pelan disertai seringai tipis, "Tapi apa mungkin bagiku mengeluarkan wewenang seperti ini tanpa izin dari Yang Mulia ataupun Penasihat Keith?" Freya kembali duduk tegap seraya tangan kanannya mengeluarkan satu kertas lain berwarna kuning. Freya memperlihatkan kertas itu kepada Alison.
"Surat izin perdagangan?!" sahut Alison cepat setelah dia membaca garis besar kertas itu, sontak saja pandangannya kembali menatap Freya dengan tatapan tidak percaya. Lagi-lagi Freya membuatnya terkejut, "Ini adalah tulisan tangan Yang Mulia dan sepertinya baru ditulis. Jadi ... Yang Mulia telah memberikan izin rencana perdagangan kepada Nona. Tidak heran Nona memintaku memasang kertas ini di depan umum." Alison berdecak kagum serta mengatai dirinya sendiri bodoh. Bagaimana mungkin dia tidak berpikir jika Freya sudah mendapat izin? Pantas saja Freya terus terlihat tenang meski Alison telah menyudutkannya dengan beberapa kata sebelumnya.
"Baiklah, Nona ... saya akan menjalankan tugas yang anda berikan dengan baik." Alison membungkuk rendah sambil tersenyum tipis.
Freya tersenyum tipis membalas senyuman Alison, "Ikuti seperti prosedur yang tertulis, aku hanya menerima pekerja dari usia sepuluh tahun hingga tiga puluh tahun. Sebarkan berita ini ke seluruh penjuru kota Damons, pastikan semua rakyat mengetahui pengumuman ini. Aku akan menunggu hingga sore, siapa saja yang akan datang," terang Freya menjelaskan isi kertas tulisannya meski dia tahu Alison telah membaca kertas itu secara keseluruhan, tapi Freya hanya ingin menegaskan lagi agar Alison mengerti.
"Baik, Nona. Karena urusan saya telah selesai, saya pamit undur diri." Alison membungkuk sebagai bentuk hormat sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangan itu. Tepat setelah Alison keluar, Elis dan Caroline masuk secara bersamaan. Perangai dua pelayan itu terlihat lebih tenang dari biasanya.
Freya beranjak berdiri, mengambil mantel bulu miliknya di meja kemudian menanggalnya di pundaknya. Dengan langkah tenang dia berjalan mendekati Caroline, "Aku akan pergi bersama Caroline untuk beberpa waktu. Elis siapkan semua bahan yang kuminta, pastikan juga para pelayan lain ikut berkerja, jika ada yang menentang tidak perlu pedulikan," ucap Freya begitu saja sambil dia berlalu melewati Elis yang kini menunduk memberi hormat padanya.
"Baik, Nona," balas Elis pelan dengan nada sopan.
***
"Apa kau tidak tahu, di alun kota Kepala Juru Dapur istana mengumumkan bahwa kerajaan Felix mencari tenaga kerja dari usia sepuluh tahun hingga tiga puluh tahun." Seorang pemuda yang baru saja dari alun kota segera menyebar luaskan berita yang baru saja dia dapat.
"Benarkah? Itu berita bagus! Lalu apa kau akan berkerja di kerajaan?" tanya teman pria itu, berbaju hitam kusam dengan celana coklat tua. Pandangan pria itu lurus menatap temannya yang membawa kabar bagus baginya.
"Sebenarnya aku ingin, tapi ... aku membatalkan niatku." Pria itu berubah murung, sebuah kesempatan besar agar bisa memiliki uang sudah ada di depan matanya, namun karena sesuatu lain dia jadi membatalkan niatnya.
"Kenapa? Bukankah bagus bisa berkerja di kerajaan? Uang yang dihasilkan lumayan," sahut pria berbaju hitam cepat, raut wajahnya terlihat geram ketika mendengar temannya itu tidak jadi berkerja. Padahal rakyat miskin seperti mereka sangat membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi entah karena alasan apa temannya itu lebih memilih tidak tertarik dengan pekerjaan dari kerajaan.
"Karena penanggung jawab pekerjaan itu adalah si pembunuh Putri Selena! Bagaimana mungkin aku berkerja untuk pembunuh sepertinya!" Sekejap saja nada bicara pria itu berubah tinggi, bahkan tanpa sadar pria itu juga menggenggam tangannya kuat, tampak seperti sedang kesal dan marah. Seakan tidak terima seorang penjahat yang terkenal kini berkeliaran bebas bahkan menyebar luaskan berita pencarian tenaga kerja.
"Apa? Apa maksudmu si Freya? Tapi bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu juga alasannya."
Inilah yang menjadi pertanyaan banyak orang setelah mengetahui bahwa yang mencari tenaga kerja itu adalah Freya. Mereka sempat ingin datang ke kerajaan dan mengutarakan protes mereka kepada para pejabat sebab telah membiarkan Freya mendapat izin khusus berdagang. Tapi setelah mengetahui bahwa Raja mereka lah yang menyetujuinya, betapa terkejutnya mereka seperti disambar petir di waktu cerahnya langit. Alison tanpa ragu memberitahukan bahwa surat izin itu ditulis langsung oleh Yang Mulia.
"Aku juga tidak tahu, tapi tampaknya Yang Mulia tergoda akan rayuan wanita jalang itu. Aku yakin dia menggoda dan menghasut Yang Mulia selama dua tahun ini!" jelas pria itu tegas, sangat yakin dengan tebakannya sendiri. Lantas jika bukan karena godaan lalu apa? Semua orang tahu Freya hanyalah istri tahanan yang telah terdakwa membunuh Putri Selena.
"Yang kau katakan benar juga, selama ini dia hidup di dekat Yang Mulia, tidak aku sangka dia malah menggoda Yang Mulia dan bukannya bertobat atas dosanya membunuh keluarga kerajaan!" Pria baju hitam kusam itu mengepal geram, jika saja dia diperbolehkan masuk ke kerajaan untuk memaki dan menghajar pembunuh Putri Selena, tentu saja akan dia lakukan demi membalas dendam atas kematian Putri Selena yang sangat terkenal sebagai Putri baik dan lemah lembut kepada semua rakyat.
"Hemp! Bagaimana jika kita buat rencananya itu gagal dengan menyebarkan berita bahwa si pembunuh itu ingin mengumpulkan pekerja baru untuk disiksa? Dengan begitu aku yakin tidak seorang pun akan mau berkerja padanya." Pria itu memberikan ide dengan seringai jahat memenuhi wajahnya. Tidak berniat membuat apa yang Freya harapkan akan terkabul begitu saja selama wanita itu masih belum menebus dosa-dosanya telah membunuh Putri Selena mereka.
"Aku setuju!" Teman pria itu balas menyeringai, "Demi keadilan Putri Selena! Mari kita lakukan pembelaan untuknya!"
Di sela-sela ke dua pria itu berbincang hebat tentang rencana mereka, sebuah kereta kuda sederhana lewat dengan perlahan menyusuri luasnya kota pelabuhan. Di dalam kereta, Freya duduk dengan tenang sembari dia mengamati beberapa lembar kertas di tangannya, kereta itu berisikan gambar-gambar benda yang tidak pernah Caroline lihat semasa hidupnya. Tapi semalam majikannya menggambar semua gambar sangat lama setelah pulang dari ruang kerja Sean.
'Jika saja waktu itu aku mendengarkan Cellia, mungkin gambarku tidak akan seburuk ini.' Freya menatap buruk hasil gambarannya sendiri yang tidak jauh lebih berbeda dengan garis-garis gambar buruk. Freya memang baik dalam hal berimajinasi, namun buruk dalam hal menggambar. Freya menghela pelan, diletakkannya kembali lembaran kertas itu di pangkuannya. Pandangan Freya beralih pada jendela kereta, dan untuk pertama kalinya dia melihat kehidupan rakyat zaman dulu begitu sederhana namun sibuk layaknya pasar pagi di zaman modern.
"Kudengar mayat Count Blade akan dipasang siang ini di alun kota, apakah keluarga Count Blade tidak ingin mengunjungi kepala keluarga mereka?" tanya Freya memecah keheningan antaranya dan Caroline tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Dia sedikit penasaran seperti apa jadinya keluarga itu setelah mengetahui kepala keluarga mereka berkhianat dan telah dieksekusi dalam penjara dengan cara terhormat. Cukup terhormat sebab Count itu mati di tangan Jenderal bukan algojo kerajaan.
Caroline masih duduk tenang dengan posisi tubuh tegap, raut wajahnya berubah serius ketika mendengar pertanyaan dari majikannya, "Kabarnya Countess Dwyne segera mendatangi kerajaan setelah para prajurit kerajaan diutus memberitahukan kabar pengkhianatan yang dilakukan Count Blade kepada kerajaan. Seluruh pihak keluarga Count terkejut dan langsung menolak keras atas tuduhan pengkhianatan. Mengatakan bahwa Count Blade tidak mungkin melakukan pengkhianatan kepada kerajaan Felix," jelas Caroline begitu serius.
Freya mengalihkan pandangannya, menatap Caroline yang kini menatapnya dengan pandangan begitu serius, jelas sekali kalau pelayannya itu khawatir dengan keselamatan Freya. Keluarga Count pasti telah tahu siapa yang membuat kepala keluarga mereka berakhir mengenaskan.
"Aku salut dengan Countess Dwyne, meski pun dia tahu tindakannya akan semakin memperburuk keselamatan keluarganya tapi dia tetap memilih menegakkan keadilan untuk suaminya. Sungguh istri yang berbakti." Freya tersenyum tipis, sedikit kagum mendengar bahwa Countess Dwyne berani mengatakan suaminya tidak bersalah sedangkan sidang telah memutuskan suaminya melakukan pengkhianatan besar.
"Nona, tidakkah anda merasa khawatir? Bagaimana jika mereka mencari anda dan akan membalas dendam atas kematian Count Blade? Saat ini Yang Mulia tidak ada, aku khawatir mereka akan bertindak kasar kepada anda." Caroline tidak habis pikir kenapa Freya justru memuji Countess Dwyne yang jelas bahwa Countess itu adalah musuh berbahaya untuk Freya saat ini. Tidak ada yang tahu bukan jika tiba-tiba keluarga Count melakukan pemberontakan demi membalas dendam kematian Count Blade.
Freya tertawa kecil merasa lucu mendengar kekhawatiran Caroline, "Caroline, kau terlalu berpikir jauh. Mereka hanya keluarga bangsawan rendah, jika mereka ingin membalas dendam dengan cara melakukan pemberontakan tentu saja kematian Count Blade akan menjadi sia-sia," balas Freya begitu saja tanpa merasa bahwa ucapannya barusan telah mengejutkan pelayanannya.
"Apa maksud anda, Nona? Mati sia-sia? Saya tidak mengerti." Seakan mengerti sesuatu Caroline menatap lekat majikannya, menunggu penjelasan lebih terang mengenai maksud ucapan Freya sebelumnya.
"Kudengar Countess Dwyne adalah wanita pejabat yang sangat terkenal kepintarannya dalam berdebat." Freya mengalihkan sejenak pertanyaan Caroline dengan rumor tentang Countess Dwyne yang tersebar, "Wanita pintar tentu tahu apa yang harus dilakukan. Lagi pula, jika dia memang pintar seharusnya dia datang kepada orang yang tepat." Freya menyeringai tipis sembari dia kembali menatap ke jendela. Caroline mengenyitkan alisnya, masih belum menangkap makna ucapan Freya tentang semua yang Freya katakan, semua perkataan Freya seperti teka-teki sulit yang harus dipecahkan membuat kepada Caroline ingin meledak.
Caroline memilih diam sambil dia mencermati perkataan Freya barusan. Sedangkan Freya tampak fokus menatap kegiatan para rakyat dari dalam kereta. Sebenarnya Freya ingin menampakan wajahnya di depan umum, tapi Freya merasa untuk saat ini tindakan itu bukanlah hal yang tepat.
"Lalu bagaimana dengan keluarga Earl Kerry? Apakah mereka semua telah musnah?" Freya kembali bersuara setelah cukup lama terdiam membuat kereta kudanya terasa dingin. Pandangannya beralih kepada Caroline, menunggu jawaban dari pelayannya itu. Karena Freya tidak diberi kebebasan dalam ikut campur masalah politik kerajaan membuatnya terbatas akan informasi yang ada, Sean bahkan tidak sungkan memberikan begitu banyak pelayan untuk menjaga dirinya, atau mungkin lebih tepat mengawasi pergerakannya.
"Benar, Nona. Tadi malam pembantaian dipimpin oleh Jenderal Bryan," jawab Caroline pelan namun tegas. Tanpa ragu Caroline membeberkan semua informasi yang dia tahu, toh Freya juga majikannya, tidak ada salahnya jika dia menbagi informasi.
Freya kembali terdiam namun otaknya segera berpikir keras, pantas sejak keluar dari penjara Freya tidak melihat pemuda itu, ternyata Bryan mendapat perintah melenyapkan keluarga Earl. Freya tersenyum sinis, mengasihani dalam hati nasib keluarga Earl sebab pada akhirnya keluarga itu hanya dimanfaatkan dan berakhir dengan tragis sebagai umpan. Tapi tampaknya keluarga Earl masih belum tahu kematian mereka semua terjadi Karena Tuan mereka sendiri.
"Apakah tim penyelidik telah menemukan kepala keluarga Earl?" Pertanyaan Freya kali ini membuat Caroline sedikit mengernyit.
"Belum, Nona. Sepertinya pembunuh Earl Kerry adalah pembunuh yang handal, bahkan para prajurit tidak dapat menemukan kepala Earl Kerry hingga sekarang." Caroline meringis pelan disertai mimik wajah terlihat sedang bergidik. Membahas tentang kepala membuatnya sedikit geli, meski Caroline petarung handal tapi dia tidak pernah membunuh seseorang sekejam pembunuh Earl Kerry, karena dari kabar yang Caroline dengar selain kepala Earl Kerry yang hilang, lima jari kaki dan lima jari tangan juga dinyatakan hilang. Benar-benar pembunuhan yang sadis, bahkan setelah memotong kepala Earl Kerry pembunuh itu mengambil jari dan kaki secara rapi.
"Handal? Aku rasa iya atau tidak juga, tapi jika aku menjadi pembunuh itu aku tidak hanya akan memenggal kepalanya tapi kaki dan tangannya juga. Penyelundup emas kerajaan tidak pantas di mati dengan tubuh yang utuh." Freya menopang dagunya malas, memberikan tatapan dingin di sana. Seakan ingin menyatakan kebenciannya kepada Earl Kerry secara nyata tapi sayangnya keterbatasan membuatnya tidak bisa berleluasa.
Tepat saat itu juga sang kasir kereta berteriak dari luar, "Nona, kita telah sampai!"
______________
A/N : Judulnya ganti ke bahasa inggris tapi artinya tetep sama, (maknanya 👌)
smngat thor upnyaa
jngan lam² thor..ditnggu ya thor kelanjutannya😉