Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Terima kasih yang sudah vote yang belum silahkan vote ya.
🌸🌸🌸
Chef Robi masih terus memandang gadis di depannya.
"Pak, mohon terima saya kerja di sini," ujar Giwang memohon.
Mendengar di panggil Bapak membuat Chef Robi tersenyum.
"Panggil saya, Chef Robi," ujar Chef Robi sembari tersenyum.
"Chef tolong terima saya kerja di sini, saya bisa bersih-bersih dan memasak," ujar Giwang sembari menyerahkan amplop yang di dalamnya ada ijazah sekolahnya.
Chef Robi membuka amplop itu dan membaca isinya. Lusi yang ada di samping chef Robi tertawa.
"Jurusan tata boga mau masak di restoran," ejek Lusi.
Giwang tertunduk, ijazah sekolahnya sangat tidak mungkin membuatnya di terima bekerja di restoran. Kecuali dia sekolah dari luar negeri mungkin akan dengan cepat restoran itu menerimanya.
"Tapi saya bisa mencuci piring," ujar Giwang bersikeras untuk dapat di terima di Restoran Zero.
"Sayangnya restoran memakai mesin untuk mencuci piring," sahut Lusi.
Giwang terdiam. "Saya bisa bersih-bersih," ujar Giwang lagi.
"Pelayan kami bisa membersihkan Restoran dengan sangat bersih jadi dengan kata lain tidak ada pekerjaan untuk kamu," sahut Lusi.
Pupus sudah harapan Giwang untuk dapat bekerja di Restoran Zero. Dengan langkah gontai dia pergi meninggalkan Restoran.
"Tunggu!" teriak Chef Robi.
Giwang membalikkan badannya dan kembali mendekat.
"Apa kamu bisa bersih-bersih di dapur?" tanya Chef Robi.
"Bisa," sahut Giwang cepat.
"Baik mulai sekarang kamu bisa bekerja di sini, masuk dari pintu belakang, saya akan menjelaskan ke kamu," ujar chef Robi.
"Terima kasih Chef," Giwang mengulurkan tangannya ke hadapan pria itu. Pria itu menyambut uluran tangan itu dan membuat Chef Robi diam sembari memandang gadis manis di depannya. Giwang menuju belakang sedangkan Lusi masih ada di samping Chef Robi.
"Kita sudah mempunyai banyak pelayan dan sekarang kamu menambah orang lagi?" tanya Lusi tidak suka.
"Biarlah mungkin dengan kehadirannya di dapur akan banyak membantu para koki," sahut Chef Robi dan segera masuk ke dalam restorannya.
"Tante mana Adlan?" tanya Jelita.
"Hem sebentar ya," wanita paruh baya itu berpura-pura menghubungi anaknya.
"Adlan di mana?" tanya Ibu Ana yang berpura-pura menghubungi anaknya. Sengaja dilakukannya di depan Jelita agar gadis itu tidak kecewa dengan sikap Adlan.
"Baiklah," ujar Ibu Ana dan pura-pura menutup panggilannya sembari menatap Jelita.
"Maaf sayang, Adlan ada janji dengan klien," ujar Ibu Ana bohong.
"Tidak apa-apa Tante, memang pekerjaan Adlan sangat banyak wajar kalau waktunya sangat sempit," sahut Jelita memaklumi.
Giwang masuk ke dalam dapur yang semuanya terbuat dari stainles. Dia tercengang melihat para asisten chef Robi memasak dengan sangat terampil dan cepat.
Chef Robi memperkenalkan Giwang ke timnya. Semua pria yang menatapnya sangat terpukau dengan aura yang ditampilkannya. Cantik natural itu kesan pertama yang di lihat.
Chef Robi menjelaskan berapa gaji yang di dapat Giwang. Mendengar nominal yang di sebutkan membuatnya senang. Dia terus mengucapkan terima kasih ke Chef Robi.
"Silakan mulai bekerja, kamu bisa membersihkan peralatan dapur yang di pakai para koki dan yang lainnya," jelas chef Robi.
"Baik Chef," sahut Giwang senang.
"Satu lagi, berhubung kamu tidak mempunyai pengalaman jadi saran saya jangan masuk ke bagian restoran," ujar Chef Robi khawatir jika Giwang melakukan kesalahan dalam melayani pengunjung restorannya.
"Baik Chef," sahutnya dan segera beranjak.
"Siapa nama kamu?" tanya Chef Robi. Giwang kembali membalikkan badannya dan menatap pria ganteng itu.
"Nama saya Giwang biasa di panggil Gigi," sahutnya.
"Nama yang unik," ujar chef Robi dan mempersilakan Giwang untuk mulai bekerja. "Nama yang cantik seperti orangnya," gumam Chef Robi ketika sedang sendiri.
***
Adlan telah sampai di kantornya. Dia memanggil Rose ke ruangannya.
"Berapa kasus yang masih tertunda?" tanya Adlan. Wanita paruh baya itu menunjukkan beberapa kasus yang akan di tangani mereka beserta kendalanya.
Adlan membaca satu kasus perceraian yang sampai sekarang belum di proses. "Kenapa dengan kasus ini?" tanya Adlan bingung.
"Menurut klien kita istrinya menghilang, itu yang menyebabkan kasus ini tidak bisa masuk ke pengadilan," jelas Rose.
Adlan menghembuskan nafasnya secara kasar. Menurutnya kasus perceraian sangat gampang untuknya dengan cepat dia dan timnya dapat menyelesaikan tapi kasus yang sekarang di hadapinya menurutnya beda.
"Sepertinya ada yang di sembunyikan klien kita," ujar Adlan.
"Menurut saya, istrinya tidak mau di cerai jadi dengan sengaja dia menghilang," sahut Rose.
"Tapi di sini tertulis sudah lebih dari enam bulan dia tidak menafkahi istrinya, seharusnya istrinya yang menggugat cerai karena di dalam mata hukum dan agama itu sah," jelas Adlan.
"Iya Pak, tapi istrinya tidak ada menggugat klien kita," sahut Rose.
"Aneh, wanita yang aneh dengan sengaja dia mau pernikahannya di gantung seperti ini," ujar Adlan.
Tidak ada percakapan lagi dan Rose di persilakan Adlan untuk keluar dari ruangannya. Dan tidak lama Bobi masuk ke dalam ruangannya dengan membawa berkas yang harus di tanda tangani bosnya.
"Ada kasus besar," Bobi menjelaskan kasus yang akan mereka menangkan. Dan Adlan mencoba memahami kasus itu.
"Bagaimana gadis misterius itu?" tanya Bobi ketika selesai menjelaskan ke Adlan.
"Siang ini aku menungguinya di tempat kemarin tapi nihil," sahutnya kecewa.
"Apa yang akan kamu lakukan ketika bertemu dengannya?" tanya Bobi penasaran.
"Tidak ada, mungkin aku hanya menanyakan nama dan nomor teleponnya," sahut Adlan sembari tersenyum.
"Ah itu sudah biasa, aku berpikir kamu akan menyeretnya ke kantor KUA," gurau temannya sembari tertawa.
"Ha ha ha bagus juga ide kamu, kenapa tidak aku cium saja dia," sahut Adlan lucu. "Lalu muncul di berita Adlan melecehkan seorang gadis belia," ujarnya lagi.
"Belia?" tanya Bobi yang sekarang duduk dengan tegak awalnya dia duduk santai dengan mengangkat salah satu kakinya.
Adlan menganggukkan kepalanya. "Kamu suka dengan anak kecil?" tanya Bobi lagi.
"Hei anak kecil bagaimana maksudmu!" seru Adlan sewot.
"Kamu bilang gadis belia jadi yang aku pikirkan anak sekolah," sahut Bobi.
"Sepertinya dia masih kuliah, usianya mungkin dua puluh lebih atau malah kurang," jelas Adlan membayangkan berapa usia gadis misteriusnya.
"Wow kalau kamu menikah dengannya," Bobi menggelengkan kepalanya. "Pasti dia merasa menikah dengan om-oma," ujar Bobi lucu.
"Ngaco kamu," Adlan melempar penanya ke Bobi.
"Aku tidak terlalu tua seperti yang kamu pikirkan dan menikah dengan usia yang jauh lebih muda malah bisa membimbingnya," ujar Adlan.
"Membimbing bagaimana maksud kamu?" tanya Bobi.
"Membimbing lebih baik, memangnya apa yang kamu pikirkan?" tanya Adlan balik.
"Ya aku pikir kamu akan membimbingnya dalam berhubungan badan," sahut temannya dan Adlan kembali melempar temannya dengan pena.
"Keluar kamu!" usir Adlan.
"Ha ha ha tenang sobat, kamu itu sudah terlalu tua, umur kamu sebentar lagi tiga puluh dua jadi lebih baik menikah, aku takut alatmu tidak berproduksi dengan baik," ejek Bobi sembari tertawa dan berlalu.
Adlan tersenyum dengan kicauan temannya. Tapi apa yang di katakan temannya benar jika dia sudah cukup umur untuk menikah.
"Di mana kamu berada," gumam Adlan sembari membayangkan sosok gadis itu.
Bersambung...
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!