Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang tak lagi sama 3
Deru motor memecah jalanan sore yang mulai lengang, rumah sederhana itu mulai hilang dari kaca spion motornya.
Zafran melaju tanpa tujuan yang jelas dia hanya berjalan berharap bertemu sesuatu yang mungkin bisa membuatnya merasa nyaman untuk pulang
Angin menerpa wajahnya, tetapi tak sedikit pun mampu meredakan sesak di dadanya.
Di lampu merah, motornya berhenti.
Tanpa sadar ia menoleh ke kaca spion.
Bayangan dirinya sendiri menatap balik.
Tindik kecil di hidung kirinya...
Tato di lengan kanannya...
Beberapa bulan lalu, ia bahkan tak pernah membayangkan akan mengubah penampilannya seperti ini.
Lampu berubah hijau.
Motor kembali melaju.
---
Tak lama kemudian, ia berhenti di sebuah warung kopi sederhana yang menjadi tempat berkumpul teman-temannya.
"Asyik..."
"Anak hilang datang."
Suara seseorang langsung menyambutnya.
Kamal tertawa kecil sambil melemparkan sebungkus keripik ke arah Zafran.
"Lama nggak nongol."
Zafran menangkap bungkus itu tanpa banyak ekspresi.
"Baru sempat."
Ia duduk di bangku kayu paling ujung.
Tas ranselnya diletakkan di lantai.
"Nih, minum dulu."
Salah seorang temannya menggeser segelas kopi ke hadapannya.
"Makasih."
Zafran menerimanya.
"Kok bawa tas?"
tanya Kamal.
"Nggak pulang lagi?"
Zafran menatap permukaan kopi yang masih mengepulkan uap.
"Diusir."
Jawabannya singkat.
Kamal mengernyit.
"Serius?"
Zafran mengangkat bahu.
"Nggak tahu."
"Yang jelas... aku keluar."
Tak ada lagi yang bertanya.
Mereka saling berpandangan.
Meski sering bercanda, mereka tahu kapan harus berhenti mengorek luka seseorang.
Beberapa saat kemudian, obrolan beralih ke hal-hal lain.
Tentang pertandingan futsal.
Tentang motor.
Tentang pekerjaan sambilan.
Zafran mendengarkan tanpa benar-benar ikut berbicara.
Sesekali ia tersenyum tipis.
Namun pikirannya masih tertinggal di rumah.
Masih teringat wajah Haseena yang berdiri di depan pintu.
"Pintu rumah ini nggak akan pernah ditutup buat Abang."
Kalimat itu terus terngiang.
Tanpa sadar, jemarinya mengepal.
"Bro."
Kamal menyenggol lengannya.
"Hah?"
"Lu ngelamun mulu."
Zafran menggeleng pelan.
"Nggak."
Kamal mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.
"Nyoba?"
Zafran menatap rokok itu cukup lama.
Dulu...
Ia pasti akan menolak.
Bahkan mungkin akan menasihati teman-temannya.
Namun sekarang...
Entah kenapa...
Semua prinsip yang selama ini ia pegang terasa mulai goyah.
Ia mengambil satu batang.
Tangannya sedikit gemetar.
"Korek."
Kamal menyodorkan pemantik.
Api kecil menyala.
Zafran menatapnya beberapa detik.
Lalu...
Clek.
Ujung rokok itu mulai membara.
Ia mengisapnya pelan.
Batuk.
Sekali.
Dua kali.
Teman-temannya tertawa kecil.
"Pelan, Bro."
"Baru pertama kali ya?"
Zafran ikut tersenyum tipis.
"Iya."
Malam mulai turun.
Lampu-lampu jalan perlahan menyala.
Di sudut lain kota...
Sebuah rumah masih menyisakan satu piring makan yang belum disentuh.
Haseena sengaja tidak membereskannya.
Entah untuk siapa.
Mungkin...
Untuk seseorang yang ia yakini akan pulang malam ini.
Atau mungkin...
Untuk seseorang yang diam-diam sedang belajar menjauh dari rumahnya sendiri.
Tak ada yang menyadari...
Bahwa malam itu bukan hanya menjadi awal dari perubahan penampilan Zafran.
Melainkan juga awal dari jarak yang semakin lebar antara dirinya...
dan keluarga yang masih menunggunya.
---
Sudut Pandang Zafran
> Orang-orang selalu mengira aku berubah karena salah pergaulan.
Padahal mereka tidak pernah bertanya... kenapa aku memilih pergi.
Mungkin benar, rumah adalah tempat pulang.
Tapi bagaimana jika rumah justru menjadi tempat yang paling membuatmu merasa asing?
Aku tidak membenci Abah.
Aku juga tidak membenci Haseena.
Aku hanya... tidak tahu lagi bagaimana cara menjadi diriku sendiri.