Kehidupan punya kenyataan, karena hidup terus mengikuti takdir. Seperti kehidupan yang dijalani oleh gadis bernama Jingga. Di saat usianya masih remaja, dia harus kehilangan ibunya.
Namun Jingga tak pernah menyerah untuk menjalani kehidupannya. Walaupun dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak dia sukai.
Beruntung saat dia berusia dewasa, dia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Hingga tak butuh waktu lama untuk Jingga menyandang status sebagai istri dari seorang manager restoran bernama Ken. Namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, saat suaminya harus menikahi seorang gadis yang sedang mengandung anak dari suaminya.
Jingga berusaha mempertahankan rumah tangga yang baru dibangun, dia juga rela harus berbagi suami dengan wanita lain. Tetapi, kehidupan Jingga yang sebenarnya baru dimulai saat itu, saat dia harus rela melihat rumah tangganya yang hancur. Sampai dia berada dititik keputusasaan, hadirlah seorang laki-laki tampan bernama Ray Alfendra. Seorang pengusaha muda yang tampan, dengan ketulusannya dia bisa membawa Jingga pada kebahagiaan yang diimpikan Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Ken pulang dengan wajah bengkaknya, membuat Jingga dan Resti begitu panik. Jingga sangat khawatir dengan keadaan suaminya, bahkan dia berniat akan memanggilkan dokter tapi suaminya itu menolak.
"Sudahlah sayang, aku baik-baik aja. Kamu gak usah khawatir ya, ini cuma luka kecil kok," ucap Ken sambil melirik kearah wajah cemas istrinya.
"Tapi kenapa kamu jadi seperti ini? Apa kamu habis berkelahi Mas?" tanya Jingga dengan wajah cemasnya.
"Enggak sayang, itu e---Mas cuma jatuh sayang," jawab Ken sedikit bingung, haruskah dia mengatakan keributan yang terjadi direstoran tadi.
"Ini Kak!" ucap Resti sambil menyodorkan wadah berisi air es.
"Makasih ya Res," balas Jingga yang langsung segera mengambil wadah itu.
Kemudian Jingga mengompreskan air es nya pada pipi dan ujung bibir Ken yang bengkak dan sudah membiru itu.
"Aw, sakit sayang," ucap Ken yang meringis kala air es nya menyentuh permukaan kulitnya yang lebam.
"Maaf Mas, kamu harus tahan. Biar luka kamu tidak semakin membengkak," ucap Jingga yang sedikit kasihan pada Ken yang meringis.
"Gak papa sayang," balas Ken.
"Mas, sebenarnya kamu habis berkelahi kan?" tanya Resti penasaran. Karena dia tahu, luka seperti itu tidak mungkin hanya karena terjatuh, pasti suaminya itu habis berkelahi.
"Kan saya udah bilang tadi, kalo saya cuma terjatuh dan pipi saya membentur meja," jawab Ken sambil melirik kearah istri keduanya.
"Iya Mas," ucap Resti yang hanya mengiyakan ucapan suaminya.
Akhirnya Jingga pun selesai mengompres luka suaminya.
"Makasih sayang," ucap Ken pada Jingga dan hanya dibalas anggukan oleh istrinya itu.
"Hmm Mas, aku kangen sama ayah. Kalo bulan depan aku nemuin ayah gimana?" tanya Jingga sedikit ragu-ragu.
"Memangnya ayah kenapa sayang? Dia baik-baik aja kan?" tanya balik Ken.
"Ayah baik-baik aja Mas. Hanya saja aku rindu sama ayah, juga rindu sama Keyla Mas," jawab Jingga yang membuat Ken menarik nafas lega.
"Syukur kalo begitu sayang. Ya udah bulan depan kita ke Malang, jenguk ayah sama adik kamu ya," balas Ken.
"Makasih banyak Mas," ucap Jingga yang begitu bahagia. Akhirnya dia akan menemui ayahnya yang sangat dia rindukan.
"Iya sayang, sama-sama," balas Ken.
"Mas, nanti kalo kamu sama Kak Jingga pergi ke Malang, aku disini sama siapa?" tanya Resti sedikit manja.
"Kamu suruh mama kamu aja nginep disini, buat nemenin kamu," ucap Ken memberi saran.
"Mama kan lagi ada perjalanan bisnis ke luar negeri Mas. Datangnya juga 2 bulanan lagi," jawab Resti.
"Ya siapa aja, temen wanita kamu atau sodara kamu yang kira-kira bisa nemenin kamu, selama saya dan Jingga pergi," ucap Ken enteng.
"Serius Mas, kamu ngijinin temen aku buat tinggal disini nemenin aku?" tanya Resti sedikit tersenyum penuh makna.
"Iya, selama temen kamu bisa jagain kamu," ucap Ken asal saja.
"Ya udah, aku seneng kalo gitu Mas. Nanti kalo dia tahu hubungan kita, bahwa aku sudah menikah dengan kamu, kamu gak boleh marah ya, karena ini ide dari kamu," ucap Resti yang langsung membuat Ken terdiam.
Benar juga, kalo sampai temannya tahu, rahasia yang dijaga rapat-rapat pasti akan terbongkar, pikir Ken sedikit bingung.
"Ya udah jangan, kalo begitu. Kamu sendiri aja, lagian saya sama Jingga juga sebentar ke Malang nya," ucap Ken yang tak mau mengambil resiko.
"Mas kamu disini aja jagain Resti. Nanti aku berangkat sendiri aja. Kasian kan kalo kamu harus membiarkan Resti tinggal sendiri, apalagi kandungan dia akan memasuki bulan ke 7," ucap Jingga memberi solusi.
"Tapi sayang, aku gak mau kamu pergi sendiri," ucap Ken.
"Enggak papa Mas, aku bisa jaga diri aku kok, kamu tenang aja. Kamu juga harus pikirin keadaan Resti," balas Jingga sambil melirik kearah Resti yang sedang mengelus perutnya.
Semakin lama perut Resti semakin terlihat besar, dan Jingga merasakan ada perasaan aneh, yang ingin sekali berada diposisi Resti. Sungguh dengan memikirkannya saja membuat hati Jingga merasa sakit, karena sampai saat ini dia belum juga ada tanda-tanda kehamilan.
"Sayang, hei sayang. Kenapa melamun?" tanya Ken lembut pada Jingga yang terlihat sedang melamun.
"Eh? Mas. Ah aku gak papa. Kamu mau kan jaga Resti disini? Aku sangat khawatir kalo harus ninggalin dia sendirian," ucap Jingga yang terus membujuk suaminya.
"Iya Mas, aku takut loh tinggal dirumah sendiri," ucap Resti ikut menimpali.
"Ya udah iya," balas Ken akhirnya pasrah.
...----------------...
"Ayo, sekarang ceritakan semuanya!" ucap Citra semangat. Bahkan dia lupa bahwa Dafa baru saja masuk kedalam rumahnya.
"Sabar dong, aku kan baru aja dateng. Kamu ini tuan rumah yang bagaimana, masa ada tamu bukannya diberi minum atau makanan, malah disuruh nyeritain masalah Resti," ucap Dafa kesal.
Sejak dafa pulang dari kampus, dia langsung diteror dengan pesan dari temannya ini. Bukan hanya lewat pesan, tapi Citra juga beberapa kali meneleponnya, sehingga mau tak mau dia menuruti permintaan dari Citra untuk segera datang kerumahnya, karena Citra begitu penasaran dengan hubungan Dafa dan Resti yang tidak diketahuinya.
"Ya maaf, aku lupa. Soalnya aku gak sabar pengen tahu hubungan kamu dengan istri kedua Ken itu," balas Citra yang sedikit merasa bersalah kala melihat wajah kesal Dafa.
"Ya udah, kamu mau minum apa?" tanya Citra.
"Aku pengen es teh lemon aja, tapi yang dingin ya," ucap Dafa.
"Kamu benar-benar bodoh ya, aku gak nyangka padahal kamu seorang mahasiswa," balas Citra.
"Apaan sih maksud kamu?" tanya Dafa tak mengerti. Dia juga sedikit kesal karena Resti menyebutnya bodoh, padahal dia mahasiswa paling cerdas dikampusnya.
"Ya kamu bodoh. Jelas-jelas yang namanya es pasti dingin lah, kalo panas namanya bukan es," gerutu Citra kesal.
"Hehe, aku lagi gak konsen Cit. Ya udah buruan bikinin aku minumannya, tenggorokan aku udah kering banget nih," ucap Dafa sambil nyengir kuda.
Tanpa menjawab lagi ucapan Dafa, Citra segera pergi ke dapur dengan langkah cepat, karena dia tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari temannya itu.
"Nih minumnya!" ucap Citra sambil menyodorkan es teh lemon pada Dafa.
"Makasih cantik. Cepet banget bikinnya," balas Dafa tersenyum manis.
"Iya lah, karena aku udah gak sabar pengen denger kamu nyeritain semuanya," ucap Citra.
Dafa hanya mendengus setelah melirik kearah Citra yang nampak tak sabar itu. Dia terus saja meminum minumannya karena memang dia sangat haus.
"Ish! Lama banget sih minum aja," ucap Citra kesal.
"Sabar dong sabar. Iya, ini juga udah selesai minumnya," balas Dafa.
Citra hanya mendelik menatap Dafa.
"Jadi gini, Resti itu mantan aku. Beberapa bulan lalu, hubungan kami baik-baik aja, namun entah kenapa tiba-tiba Resti mutusin aku begitu saja tanpa alasan yang masuk akal. Dia bilang dia akan menikah dengan laki-laki yang dicintainya, bahkan dia yang sudah membuat Resti hamil. Awalnya aku gak percaya dan hanya mengira bahwa itu hanya alasan dia aja buat mutusin aku. Bahkan dia tak peduli dengan ucapan aku yang menyebutnya selingkuh, dia sama sekali tak merasa bersalah setelah mutusin aku," jelas Dafa lalu dia menghela nafasnya.
Citra terus mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Dafa.
"Akhirnya aku berusaha menerima keputusannya, walau saat itu perasaan aku benar-benar kacau. Sampai akhirnya aku langsung menyangka bahwa ternyata dia menikah dengan suaminya Jingga, saat kamu bilang di taman waktu itu. Ya, sampe akhirnya aku melihat sendiri kebenarannya bahwa memang Resti menikah dengan suami Ken, saat aku tak sengaja bertemu dengan mereka di mall," jelas Dafa lagi.
"Kenapa kamu gak bilang saat kita ngobrol di taman?" tanya Citra sedikit kaget.
"Karena waktu itu aku belum yakin bahwa Resti yang kamu bilang menikah dengan Ken adalah Resti yang sama dengan mantan aku itu," jawab Dafa.
Citra hanya ber o ria saja. Namun dipikirannya tiba-tiba muncul prasangka buruk terhadap Resti. Dia memang wanita ulat yang sangat menjijikan, dia berusaha merusak rumah tangga Jingga dengan rencana liciknya, pikir Citra begitu kesal.
mampir ya
lanjutan ceritanya harus dobel lho tho, kalian lama nggak up nya
semoga urusan real nya cpt kelar
dan bisa update lagi 💞