NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20.Pengumuman di tengah pesta.

Keheningan menyelimuti seluruh ruangan besar itu seketika. Suara musik yang tadinya mengalun lembut seolah terhenti, percakapan antar tamu mati, dan semua mata tertuju hanya pada satu sosok—Rama Cahya. Pengakuannya barusan terlalu mengejutkan, seolah melemparkan batu besar ke tengah danau yang tenang.

Namun, dalam sekejap, pandangan semua orang perlahan beralih dan tertuju tepat ke arah tempat duduk Oliv. Di benak setiap orang yang hadir, hanya ada satu kemungkinan: jika yang dimaksud adalah putri keluarga Dermawan, tentu saja itu adalah Oliv. Selama ini, Oliv yang selalu tampil di depan umum, yang dididik layaknya putri sejati, dan yang sudah dijodohkan dengan Brian, keponakan Rama sendiri.

Wajah Oliv memerah karena campuran rasa bangga, terkejut, dan sedikit gugup. Jantungnya berdebar kencang, pikirannya berputar cepat menyusun strategi. Jika benar Rama menyukainya, itu berarti posisinya di keluarga Dermawan akan semakin kokoh, bahkan mungkin bisa mengalahkan Ivy selamanya. Namun, ia sadar ia tidak boleh terlihat terlalu mudah, apalagi ia sudah memiliki ikatan dengan Brian.

Brian yang duduk di sampingnya juga tertegun, tatapannya menatap Oliv dengan pandangan bingung sekaligus sedikit cemburu. Ia meremas gagang gelas di tangannya, merasa ada yang tidak beres namun belum berani bersuara.

Mengumpulkan keberanian sekuat tenaga, Oliv berdiri perlahan, mencoba terlihat anggun dan lembut meski hatinya sedang bergolak. Ia menunduk sopan, lalu mengangkat wajahnya menatap Rama dengan senyum yang dibuat sedemikian rupa agar terlihat tulus.

“Tuan Rama… saya sungguh terkejut mendengar ucapan Anda,” ucapnya dengan suara lembut namun cukup jelas terdengar oleh seluruh ruangan. “Saya merasa sangat terhormat dan tersanjung jika memang saya yang dimaksudkan. Namun, saya rasa ada kesalahpahaman di sini. Jujur saja, saya belum pernah berinteraksi lama dan tidak begitu mengenal Tuan Rama secara pribadi. Dan yang paling penting…” ia melirik sekilas ke arah Brian, lalu melanjutkan dengan nada yang terdengar tulus, “saya sudah memiliki tunangan yang saya cintai, yaitu Brian. Saya mohon maaf sebesar-besarnya, saya tidak bisa menerima perasaan Tuan Rama karena hati saya sudah dimiliki orang lain.”

Setelah mengucapkannya, Oliv merasa bangga dalam hati. Ia berhasil terlihat sebagai gadis yang setia dan berprinsip, sekaligus menghindari situasi yang membingungkan itu. Namun, rasa bangga itu segera lenyap begitu mendengar jawaban Rama yang terdengar tegas, dingin, dan tanpa ragu sedikit pun.

Rama tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya dan justru terasa menusuk. Ia menggeleng pelan, lalu berbicara dengan nada yang tenang namun memiliki bobot yang membuat seluruh ruangan kembali hening.

“Kau salah paham sepenuhnya, Nona Oliv. Aku tidak pernah menyebut namamu, dan sama sekali tidak bermaksud menyebutmu,” ucapnya terus terang tanpa berbasa-basi. “Yang kumaksudkan bukanlah putri angkat keluarga Dermawan, melainkan putri kandung Tuan Tio dan Nyonya Lusi—yaitu Ivy Dermawan.”

Kalimat itu diucapkan dengan jelas, dan penekanan pada kata “putri angkat” terasa sangat tajam, seolah ingin menegaskan perbedaan derajat dan posisi di hadapan semua orang. Bagi Rama, Oliv bukanlah bagian yang sah dan tidak pantas untuk dikaitkan dengan nama keluarga Cahya.

Wajah Oliv seketika berubah pucat pasi, darah seolah mengalir keluar dari seluruh tubuhnya. Ia merasa malu yang luar biasa, seolah baru saja dihantam di depan ratusan orang yang hadir. Kakinya terasa lemas, dan ia harus berpegangan pada sandaran kursi agar tidak terjatuh. Tatapan orang-orang di sekelilingnya kini terasa mengejek dan merendahkan, membuatnya ingin segera menghilang dari tempat itu.

Brian yang melihat kekasihnya terlihat sangat terpukul segera berdiri dan membela dengan nada agak tinggi, “Paman Rama, tolong bicaralah dengan lebih sopan! Oliv adalah bagian dari keluarga kami, dia tidak pantas diperlakukan seperti itu.”

Namun, Rama hanya menatap keponakannya itu dengan tatapan datar dan acuh tak acuh. “Aku hanya mengatakan kebenaran, Brian. Jika kau merasa tersinggung, itu urusanmu, bukan urusanku.”

Sebelum pertengkaran semakin memanas, suara Kakek Candra terdengar memecah suasana, nada bicaranya terdengar antusias dan gembira. “Sudah cukup! Jika memang gadis yang kau pilih adalah Ivy Dermawan, itu kabar yang jauh lebih baik! Aku pernah mendengar tentang gadis itu—sederhana, jujur, dan tidak suka bermegah-megah. Itu tipe yang cocok untuk masuk ke dalam keluarga Cahya kita.”

Kakek Candra segera menoleh ke arah Nyonya Lusi yang duduk termenung antara kaget dan senang. “Lusi, tolong segera panggil Ivy ke sini. Aku ingin melihatnya sendiri dan mengenalnya lebih dekat. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama.”

Mendengar perintah itu, Nyonya Lusi segera mengangguk cepat. Jantungnya berdegup kencang, rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon Bibi Nora yang saat itu sedang menemani Ivy di rumah.

“Halo, Nora… dengarkan baik-baik. Segera siapkan Ivy, dandani dia sebaik mungkin, dan bawa dia ke kediaman keluarga Cahya sekarang juga. Ini sangat penting dan mendesak. Jangan tanya banyak hal, lakukan saja secepatnya,” perintah Nyonya Lusi dengan suara bergetar karena rasa haru dan gembira.

Sementara itu, di kamar tidurnya yang tenang, Ivy sedang berbaring santai sambil memandangi angka yang melayang di atas kepalanya. Angka itu saat ini tertera “47 Hari”. Meskipun tidak bertambah banyak setidaknya belum berkurang drastis sejak kejadian tadi sore. Ia berusaha menenangkan pikirannya, mencoba menerima kenyataan bahwa mencari cara untuk mendekati Rama mungkin tidak semudah yang ia bayangkan.

Namun, ketenangan itu terganggu ketika pintu kamarnya terbuka lebar dan Bibi Nora masuk dengan wajah berseri-seri, diikuti oleh dua orang penata gaya dan penata rias yang langsung disiapkan Nyonya Lusi.

“Nyonya Ivy, cepatlah bersiap! Kita harus segera pergi ke pesta ulang tahun Kakek Candra. Nyonya menyuruh kami datang khusus untuk mendandanimu,” ujar Bibi Nora sambil tersenyum lebar.

Ivy mengerutkan dahi bingung. “Tapi tadi aku sudah bilang tidak akan ikut, Bibi. Kenapa mendadak jadi harus pergi?”

“Nanti saja tanya nyonya, sekarang percayalah padaku. Ini kesempatan emas, dan kau harus tampil sempurna malam ini,” jawab Bibi Nora tanpa menjelaskan lebih lanjut, langsung mempersilakan para penata gaya untuk mulai bekerja.

Selama satu jam penuh, mereka sibuk merapikan Ivy. Rambut panjangnya yang lurus diubah menjadi gelombang lembut yang jatuh mengalir di bahu dan punggungnya, dengan sehelai jepit rambut berhias permata biru dipasang di sisi kiri, menambah kesan anggun. Riasan yang dipilih tidak berlebihan, hanya cukup menonjolkan kelembutan wajah dan kulit putih bersihnya.

Ketika gaun malam berwarna biru laut yang berkilau seperti permata dikenakan, perubahan itu terasa luar biasa. Gaun itu pas di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping namun tetap terlihat sopan dan berkelas. Begitu melihat hasil akhirnya, Bibi Nora menutup mulutnya takjub.

“Ya Tuhan… kau benar-benar seperti bidadari yang turun dari langit. Tidak ada yang bisa menandingimu malam ini,” gumam Bibi Nora dengan mata berkaca-kaca.

Ivy sendiri menatap bayangannya di cermin dengan perasaan asing namun nyaman. Ia terlihat cantik, namun tetap menjadi dirinya sendiri. Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera berangkat menuju kediaman keluarga Cahya.

Sesampainya di tempat tujuan, suasana pesta masih berlangsung meriah namun seolah menunggu kedatangan seseorang. Begitu pintu utama ruang pesta dibuka lebar, seluruh sorotan lampu dan pandangan mata seketika beralih ke arah pintu masuk.

Melangkah perlahan dan anggun, Ivy masuk ke dalam ruangan. Cahaya lampu gantung yang terang memantul pada gaun birunya, membuatnya terlihat bersinar dari segala arah. Rambutnya yang bergelombang berayun lembut mengikuti langkah kakinya, dan jepit rambut di sisi kiri wajahnya menambah pesona yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Wajahnya yang putih bersih dengan senyum lembut namun penuh ketenangan membuat siapa pun yang melihatnya terpesona. Tidak ada kesan sombong atau berlebihan, hanya keanggunan alami yang terpancar dari dalam dirinya.

Rama yang sedang berdiri di dekat Kakek Candra langsung menegakkan badannya, matanya terbelalak sedikit dan tatapannya terpaku pada sosok yang baru masuk itu. Jantungnya yang biasanya tenang tiba-tiba berdegup lebih cepat, seolah ada sesuatu yang menggetarkan hatinya. Di benaknya terlintas kembali kejadian sore tadi, tatapan tajam dan keberanian gadis itu, yang kini berdiri di hadapannya dengan penampilan yang sangat memukau.

Di sisi lain, wajah Oliv terlihat semakin pucat dan kesal. Ia tahu, malam ini ia telah kalah telak. Semua pandangan, semua perhatian, kini beralih pada Ivy.

Sementara itu, Ivy melangkah terus masuk, matanya menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya bertemu dengan tatapan Rama. Dalam sekejap, ia merasakan hawa yang berbeda, dan secara tidak sadar matanya melirik ke atas kepala pria itu—namun ia tidak melihat angka apa pun, hanya merasakan getaran energi yang bisa memberinya harapan untuk memperpanjang hidupnya.

Malam itu baru saja dimulai, dan takdir telah mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh lebih rumit dan penuh kejutan.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!