Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Perhatian kecil.
Malam ini, Bang Hernando duduk merenung memikirkan banyak hal. Entah berapa batang rokok yang sudah habis, tapi semua tak sedikitpun mampu melegakan perasaannya.
'Kenapa rasanya berat sekali?? Riegan.. Taukah kau.. Kau menitipkan nya padaku sebagai tanggung jawab. Tapi takdir membiarkan hatiku memilihnya. Aku tak pernah berniat merebutnya darimu, aku takkan pernah memaksanya lupa padamu. Aku hanya berusaha memenuhi janjiku untuk menjaganya dan.... mencintainya dalam diam, sampai kau datang, dan membawanya pada hidup yang membuatnya bahagia.'
Bang Hernando menengadah. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipi.
"Astaghfirullah hal adzim..!!!!" Ucapnya lirih sambil mengusap dadanya yang sampai saat ini belum bisa tenang.
***
Bang Hernando membuka pintu kamar, ia sengaja menunggu Phia sampai tertidur. Semua bukan tanpa alasan. Ia ingin sedikit lebih bisa menjaga hatinya agar tidak terus memandangi wanita yang bukan menjadi miliknya.
Setelah yakin Phia tidur pulas, ia mematikan lampu dan mengistirahatkan tubuh lelahnya di hari ini.
...
Hal yang sama terjadi lagi, tubuh Bang Hernando serasa tertindih. Ia menyalakan lampu tidur paling kecil. Benar saja, Phia sudah tidur di lantai bersamanya sambil memeluknya.
Bang Hernando sampai menepuk keningnya. "Ini bagaimana kisahnya, nggak mau hamil tapi saban malam kau uji kelayakan senjata api." Gumam Bang Hernando resah. "Kalau begini caranya.. lama-lama kau bisa kena tembak juga, dek."
"Abaaaang.. Sakiiitt.." Rintih kecil Phia.
Tangan Bang Hernando langsung mengusap lembut perut datar istri kecilnya. Ia tau, tubuh istrinya itu masih 'trauma' pasca keguguran. Hari ini Phia masih juga menangis, menangisi sahabatnya yang entah berada dimana, juga menangisi kepergian calon bayi kecilnya.
Dalam dinginnya angin malam, ada desir rasa yang tidak ia pahami, rasa yang mendorongnya untuk mendekati wajah Phia. Namun ia segera sadar dan mengalihkan kecupan itu di kening Phia.
"Kamu masih menunggunya ya? Tunggu dia sebentar lagi, dia pasti pulang menjemputmu. Saya rela menahan diri, asal kamu tidak menangis..!!" Bisik Bang Hernando. "Salah atau benar, biar kita cukup seperti ini saja."
...
Phia terbangun, hati-hati sekali ia beralih naik ke atas tempat tidur. Rasanya lega karena Bang Hernando tidak pernah tau jika dirinya selalu ikut menyelinap tidur. Tapi tiba-tiba tangisnya meleleh, Phia menyembunyikan wajahnya di balik selimut, jantungnya berdegup kencang. Saat bersama Bang Hernando, ia mengakui merasa lebih di perhatikan meskipun cara bicara Bang Hernando lumayan kaku dan kasar.
Dalam matanya yang terpejam, Bang Hernando mendengar isak tangis. Isakan yang membuat hatinya terasa pilu.
'Tak apa, Dek. Tahan sebentar rasa sakit dan rindumu itu. Peluklah harapanmu dengan erat. Biar saya saja yang merasakan beratnya merindu, rindu yang sulit di harapkan. Biar saya yang terluka, asalkan senyummu tak pernah hilang dari pandang mataku dan biar saya saja yang terus menjagamu, sampai hatimu bisa kembali memilih, pulang bersamanya atau menurut kehendak Tuhan.'
Hati Phia sedang bergelut dengan perasaannya, sungguh ia merasa di permainkan. Awal pertama ia jumpa dengan Bang Riegan, ia menolaknya hingga kemudian jatuh cinta. Namun kini, rasa cinta itu terkikis saat ia merasa terkhianati dan di tinggalkan tanpa sebab, Bang Riegan bahkan tidak tau dirinya sudah kehilangan anak.
Di saat hati itu mulai rapuh, Bang Hernando datang. Phia merasakan ketulusan dan pengorbanan yang tak pernah meminta balasan. Semua tentang Bang Riegan kini tergantikan oleh pria yang rela menjadi bayang pelindungnya, pria yang menghargainya dengan cara paling sunyi namun paling kokoh yang pernah ia rasakan.
'Aku biasa manja pada Abang-abangku. Apakah Bang Hernando bisa menerima sikap manja ku?? Apakah Bang Hernando bisa menerima diriku yang sudah tidak suci lagi??'
...
Suasana pagi masih tampak gelap, Phia sudah mengedarkan pandangan, Bang Hernando sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Phia melangkah mencari pria tersebut, sampai ia melihat Bang Hernando di dapur rumahnya. Ia mendekat ke arah Bang Hernando yang sedang duduk menyeduh kopi di beranda rumah. Pelan dan hati-hati Phia mencoba memeluk pinggang pria itu dari belakang, menempelkan pipinya ke punggung tegap itu.
"Abaaang... dingiiiin." gumamnya pelan. Secara natural saja Phia menggesekkan hidungnya di balik kaos Bang Hernando.
Tangan besar itu berhenti mengaduk kopi, tak menoleh, tak banyak bicara. Namun tangan Bang Hernando meraih selimut tebal yang tadi ia sampirkan lalu melilitkan pada tubuh Phia, tangan Bang Hernando mencengkeram jemari dingin istrinya, menggenggamnya dengan satu tangan lalu kembali mengaduk kopi.
"Perutnya masih sakit atau tidak??" Tanya Bang Hernando.
Phia menggeleng pelan. "Nggak, rasanya sudah nggak terasa."
"Pagi belum terbit, jangan keluar kalau belum pakai jaket." ucapnya datar. Bang Hernando kemudian memutar badan, membiarkan punggungnya menghadang angin, badannya menahan hembusan hawa dingin agar tak menyentuh Phia. "Duduk di kursi itu. Nanti saya bawakan teh hangat."
"Phia mau di gendong." Rengeknya.
Bang Hernando tertegun sejenak, ia menatap wajah Phia. "Kenapa tiba-tiba kamu manja sekali." Namun kalimat itu belum selesai terucap, ia sudah mengangkat tubuh mungil itu dengan mudahnya, lalu duduk di kursi panjang sambil membiarkan Phia duduk di kursi. Ia bahkan menyelipkan bantal kecil di bawah punggung Phia tanpa gadis itu meminta.
Sejenak Bang Hernando meninggalkannya, di depan mata Phia sudah ada perapian untuk menghangatkan tubuh. Tak lama Bang Hernando kembali lagi sambil membawa segelas teh hangat.
Phia sedikit melirik Bang Hernando yang masih memakai sarungnya. "Suka sekali Abang pakai sarung??"
"Tadi selesai sholat. Malas bongkarnya, apalagi dingin begini." Jawab Bang Hernando.
"Hmm.. Bang. Pernahkah Abang memanjakan seorang wanita??" Tanya Phia.
Bang Hernando mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya. Jemari itu kemudian membenahi letak selimut Phia sambil menatapnya. "Pernah."
"Abang mencintainya??"
"Sangat."
Kening Phia berkerut, raut wajahnya mulai masam. "Kenapa Abang tidak menikahinya????"
"Allah lebih mencintainya. Lagipula, mungkin kepergiannya menjadi jalan terbaik, agar dia tidak menanggung beban batinnya sendiri." Bang Hernando mengalihkan pandangan matanya dari Phia. "Dia gadis kecil kesayangan saya, adik perempuan yang saya dan keluarga nantikan, tapi harus pergi karena sosok yang tidak bertanggung jawab."
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍