Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Istana Ilusi
Dinding-dinding lorong rumah sakit jiwa itu seolah berputar dan menyempit, mengurung Glen dalam labirin kenyataan yang teramat runtuh. Kertas-kertas dokumen yang disodorkan Melanie masih melayang di udara sebelum akhirnya terlepas dari jemari gadis itu yang gemetar, jatuh berserakan di atas lantai semen yang dingin. Glen menatap lembaran-lembaran itu dengan pandangan kosong. Nama Hermawan tercetak jelas di sana, lengkap dengan rincian aliran dana yang selama dua belas tahun ini ia yakini sebagai milik keluarga Melanie.
Seluruh sendi di tubuh Glen mendadak mati rasa. Istana ilusi yang ia bangun dengan fondasi kebencian murni, tempat ia berlindung dari rasa perih dan kemiskinan, kini hancur lebur menjadi debu tak bersisa.
"Glen..." panggil Thone lirih, melangkah mendekat dan memegang pundak sahabatnya yang kaku bagai patung. "Kamu harus melihatnya sendiri. Kebenaran ini tidak akan berubah hanya karena kamu memalingkan wajah."
"Diam, Thone! Diam!" desis Glen, suaranya terdengar begitu parau dan rapuh, kehilangan seluruh keangkuhan sastra yang biasa ia pamerkan di kampus Airrawan. Ia menepis tangan Thone, lalu berbalik perlahan menghadapi Melanie.
Tatapan mata elangnya kini meredup, menyiratkan kekosongan dan badai penyesalan yang teramat pekat. Melihat wajah Melanie yang basah oleh air mata, Glen merasa seperti melihat cermin dari monster yang ia ciptakan sendiri. Segala caci maki di Tamansari, bab-bab novel Thornless Red Rose yang ia gubah dengan tinta racun, semuanya adalah peluru yang salah sasaran peluru yang ia tembakkan tepat ke jantung wanita yang, terlepas dari segala penyangalannya, teramat ia cintai.
Melanie melangkah maju satu tapak, membiarkan gaun anggunnya menyapu lembaran kertas di lantai. "Aku tidak memintamu untuk memaafkan ayahku karena telah menyembunyikan ini, Glen. Aku hanya ingin kamu tahu... bahwa mawar yang selama ini ingin kamu hancurkan di dalam novelmu, tidak pernah menyimpan duri untuk melukaimu."
Glen menatap telapak tangannya yang gemetar hebat. Kenyataan ini terlalu kejam untuk jiwanya yang sudah lelah digerus penderitaan. Di satu sisi, ia merasa terbebas dari beban kebencian yang melelahkan; namun di sisi lain, rasa bersalah yang baru kini menghantamnya jauh lebih dahsyat. Ia telah menyiksa gadis yang tidak bersalah. Ia telah menjadikan ketulusan Melanie sebagai tumbal dari ego dan kesalahpahamannya sendiri.
"Pergi, Melanie..." bisik Glen, kali ini tanpa nada amarah, hanya ada keputusasaan yang teramat dalam di dalam suaranya. Ia menunduk, menolak menatap mata Melanie karena rasa malu yang teramat sangat telah membakar habis harga dirinya. "Pergi dari sini. Jangan lihat aku lagi... aku tidak pantas berada di depanmu setelah semua yang kulakukan."
"Mboten, Glen. Kula mboten badhe kesah," jawab Melanie dengan logat Jawa yang kental, air matanya luruh namun tatapannya mengunci seluruh kerapuhan Glen. (Tidak, Glen. Saya tidak akan pergi).
"Aku tidak akan membiarkanmu mengunci dirimu lagi di dalam kegelapan ini sendirian, bahkan jika kamu harus membenciku seumur hidupmu."
Thone yang menyaksikan momen itu hanya bisa menghela napas berat, menyadari bahwa benang merah di antara kedua anak manusia ini tidak benar-benar putus. Benang itu hanya sedang terikat kusut di dalam badai kebenaran, menunggu apakah sang pangeran yang telah kehilangan takhtanya itu berani membuka hatinya untuk menyembuhkan luka yang selama ini ia pelihara sendiri.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...