"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23 Taktik nekat Daren
Pagi-pagi sekali, Daren membuat kehebohan di rumah. Dia memanggil tukang bangunan dan menyuruh mereka merenovasi atau membongkar kamar tidur Nadia di lantai bawah dengan alasan ada pipa air yang pecah padahal itu hanya akal-akalan Daren saja.
Daren mengetuk kamar itu tapi tidak ada jawaban dari Nadia dan tanpa pikir panjang Daren langsung membuka pintu kamar itu, mata Daren menyapu ke seluruh ruangan kamar dan dia tidak melihat Nadia di sana.
Kemudian Daren menyuruh para tukang bayarannya itu untuk segera melaksanakan tugas seperti yang dia perintahkan semalam.
"Cepat kerjakan," perintah Daren pada dua tukang bayarannya yang sudah membawa sekotak perlengkapan tukangnya.
"Baik boss," ucap tukang-tukang itu hampir serempak.
Kemudian kedua tukang itupun mulai memecahkan keramik yang ada di kamar Nadia satu persatu dengan menggunakan palu yang mereka bawa. Sementara itu Daren berdiri di tempat untuk mengawasi para tukang bayarannya itu sambil menunggu Nadia keluar dari kamar mandi.
Nadia yang sedang berada di dalam kamar mandi merasa terganggu oleh suara berisik para tukang itu dan dengan segera Nadia keluar dari kamar mandi untuk memeriksa suara apa itu yang ada di dalam kamarnya.
Nadia yang baru keluar dari kamar mandi itupun terkejut melihat kamarnya sudah diacak-acak.
"Kenapa ini? Ada apa? Kenapa kamar aku di bongkar seperti ini?" tanya Nadia kebingungan sambil memperhatikan para tukang yang menghancurkan semua keramik lantai kamarnya itu.
"Tuan Daren yang menyuruh kami untuk renovasi kamar nyonya," ucap salah satu tukang itu pada Nadia.
Nadia membalikan badannya menatap Daren yang berdiri di ambang pintu kamarnya itu sambil memperhatikan para tukang bekerja.
"Kenapa dengan kamar saya Tuan?"tanya Nadia pada Daren.
Saat Nadia meminta penjelasan, Daren dengan wajah lempeng dan sok berwibawa berkata, "Kamarmu tidak bisa ditempati selama seminggu ke depan karena renovasi. Demi keamanan dan karena Nenek Lusi mau berkunjung mendadak dalam waktu dekat, mulai malam ini kamu harus pindah ke kamarku di lantai dua."
Nadia dengan jelas menolak permintaan Daren untuk dia pindah kamar, "Tuan Daren, di kertas perjanjian tertulis kita tidur di kamar terpisah. Saya bisa tidur di kamar tamu yang lain atau di sofa," ucap Nadia menatap lurus mata Daren.
Daren yang tidak mau kalah langsung mengeluarkan jurus bos besarnya, "Di rumah ini tidak ada sofa yang boleh ditiduri, dan kamar tamu sedang dikunci untuk disterilkan. Ini rumahku, peraturanku. Lagipula, kakimu masih pincang, kalau kamu tidur di atas, aku bisa mengawasimu agar tidak jatuh lagi dari tangga, Lagipula aku sudah bilang kalau perjanjian itu sudah tidak berlaku lagi sekarang." Nadia hanya bisa menghela napas panjang, sadar kalau suaminya ini sedang mendadak kumat egoisnya.
Karena kesal tidak bisa membantah lagi akhirnya Nadia pun pergi begitu saja dari hadapan Daren menuju ke kamar mandi yang ada di dekat dapur, Di sana Nadia melanjutkan mandinya yang tadi sempat tertunda karena ada renovasi mendadak di kamarnya.
Daren sudah duduk di meja makan menunggu Nadia selesai mandi, Dan tak lama kemudian Nadia pun sudah berjalan menuju ke arah ruang meja makan.
"Silahkan Tuan," ucap Nadia dingin seperti pagi-pagi sebelumnya saat mereka sarapan bersama.
"Ya," ucap Daren sudah tidak perduli dengan sikap dingin Nadia karena nanti malam dia akan tidur sekamar dengan Nadia. Daren tersenyum dalam hatinya merasa puas dengan taktiknya merenovasi kamar Nadia.
Setelah menyelesaikan makannya Daren berkata mengingatkan Nadia untuk nanti malam," Oh ya jangan lupa nanti kamu harus bereskan semua barang-barang kamu yang ada di kamar bawah untuk di pindahkan ke kamar atas."
"Iya Tuan ," jawab Nadia datar sambil merapikan meja makan tanpa menoleh pada Daren yang masih duduk di hadapannya itu.
Kemudian Daren beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Nadia yang masih membereskan meja makan itu.
"Aku berangkat ke kantor," pamit Daren pada Nadia yang dulu tidak pernah dia lakukan dan sekarang ini dari hal-hal yang kecil seperti ini yang akan menimbulkan perhatian Nadia pada dirinya dan Daren sudah mulai membiasakan diri untuk melakukannya dari sekarang.
"Ya Tuan," jawab Nadia biasa saja.
Setelah itu Daren berjalan menuju ke garasinya tempat di mana mobil mewahnya terparkir di sana.
Daren pergi ke kantor dengan perasaan sedikit menang karena berhasil memaksa Nadia pindah kamar. Namun, konsentrasinya buyar saat asisten pribadinya melaporkan hal lain, Dokter Adrian ternyata mengirimkan sebuah parsel buah-buahan segar dan vitamin premium langsung ke kantor Daren, ditujukan khusus untuk Nadia.
"Maaf Pak Daren, tadi ada yang mengirimkan parcel buat bapak," ucap sekertaris Daren saat Daren melintas di depan meja sekertaris nya itu.
"Dari siapa?" tanya Daren sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Maaf pak, Saya tadi tidak membacanya dan langsung saya taruh di meja kerja bapak," sekertaris itu menjelaskan.
"Baiklah, Aku akan cek," ucap Daren yang kemudian melangkah menuju ke ruang kantornya.
Setelah membuka pintu ruangannya, Mata Daren langsung tertuju pada sebuah parcel buah-buahan yang ada diatas meja kerjanya. Daren melangkah perlahan mendekati meja kerjanya itu.
Di dalam parsel itu ada kartu ucapan kecil "Semoga cepat sembuh, Nona Nadia. Jangan lupa jadwal kontrol berikutnya." Daren yang membaca kartu itu langsung meremasnya sampai hancur. Dia langsung menelepon rumah sakit tempat Adrian bekerja dan mencoba menggunakan kekuasaannya untuk memindahkan jadwal kontrol Nadia ke dokter lain, namun pihak rumah sakit menolak karena Adrian adalah dokter spesialis terbaik di sana.
"Mulai besok pindahkan jadwal kontrol Nadia ke Dokter yang lain selain Dokter Adrian!" perintah Daren penuh amarah pada salah satu staff rumah sakit Medika.
"Maaf Pak Daren, Nenek anda kemaren meminta Dokter spesialis terbaik untuk menangani luka di kaki Nona Nadia, Dan Dokter spesialis terbaik di sini yang ada hanya dokter Adrian," ucap staff rumah sakit Medika itu menjelaskan pada Daren.
Daren mendengus kesal mendengar penuturan dari staff rumah sakit Medika tersebut. Rencananya untuk menjauhkan Adrian dari Nadia gagal sudah.
...----------------...
Malam harinya, Nadia terpaksa membawa bantal dan pakaiannya ke kamar mewah Daren di lantai dua. Suasana di dalam kamar tidur super luas itu terasa sangat canggung dan dingin. Nadia dengan tahu diri berniat tidur di lantai beralaskan selimut tebal.
"Tuan, Saya tidur di lantai saja," ucap Nadia sambil meletakkan selimut tebalnya di atas lantai kamar tidur Daren.
"Jangan Nadia, kamu tidur diatas kasur juga sama aku," Daren menarik halus selimut tebal yang masih tersisa di tangan Nadia.
"Tapi Tuan,"Nadia ragu menatap Daren.
"Kita tidur berjauhan kok, kamu di ujung kanan dan aku di ujung kiri dan masih ada jarak yang luas di tengahnya kamu tidak perlu khawatir terjadi sesuatu pada kamu," ucap Daren menegaskan pada Nadia.
"Baiklah Tuan," Kemudian Nadia menarik selimutnya lagi yang sudah terlanjur ada di lantai.
Karena waktu sudah sangat larut dan Nadia sudah mulai mengantuk akhirnya Nadia pun naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sisi kanan tempat tidur itu.
Tanpa mengucapkan kata selamat tidur pada Daren dengan cueknya Nadia pun mulai memejamkan matanya dan akhirnya tertidur juga.
Sementara itu Daren yang masih duduk di atas sofa memperhatikan Nadia yang sudah memejamkan matanya. Dan karena lelah Daren pun naik ke atas tempat tidur di sisi sebelah kiri Nadia, Daren membaringkan tubuhnya dan mulai untuk memejamkan matanya.
Posisi mereka yang tidur di satu ranjang yang sama tapi terpisah jarak yang sangat jauh di ujung kanan dan ujung kiri. Daren tidak bisa memejamkan mata karena mencium aroma harum tubuh Nadia yang menenangkan, sementara Nadia justru tertidur dengan sangat pulas dan cuek, membuat Daren hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil merutuki nasibnya sendiri yang tersiksa lahir batin.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang