Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Hana tergesa-gesa mendorong pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Wajahnya pucat pasi, dan butiran keringat dingin masih membasahi dahinya.
Langkah kakinya sangat cepat, sampai ia tidak menghiraukan Roni yang sedang duduk bersantai di teras sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Roni, yang melihat Hana melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata pun, mengernyitkan dahi. "Hana, kamu kenapa?" tanyanya keheranan. Namun, Hana sama sekali tidak menggubris. Ia langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan membanting pintu di belakangnya dengan keras.
Jederrrr...!
"Uhuk... uhuk...!" Roni kaget bukan kepalang hingga kopi yang baru saja ia sesap tersembur keluar dari mulutnya.
Di dalam rumah, Hana bersandar gemetar pada daun pintu, berusaha menenangkan napasnya yang memburu hebat. Pikirannya masih di hantui akan wajah Bu Lilik yang tersenyum mengerikan serta suara aneh yang didengarnya tadi, suara yang amat sangat mirip dengan suara Nina, wanita yang seharusnya sudah tewas terbakar. Hana menggigil ketakutan.
Roni perlahan bangkit dari kursinya, membuka pintu rumah, dan menghampiri Hana yang tampak amat gelisah. Ia memegang kedua bahu istrinya, mencoba menenangkan.
"Kamu kenapa, Han? Kayak orang dikejar setan aja," tanyanya heran.
Hana menatap Roni dengan mata melotot penuh teror. "Iya! Aku memang dikejar setan. Setan Nina!" jawab Hana dengan suara bergetar ketakutan.
Roni tertegun mendengarnya. "Apa maksudmu, Hana? Nina sudah meninggal di hutan, dia tidak mungkin kembali lagi," ucap Roni tegas, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal di tengah situasi yang mulai terasa tidak beres ini.
Namun, Hana menggelengkan kepala keras-keras. "Memang ia tidak akan kembali dalam keadaan hidup. Tapi... Aku tadi sewaktu menagih di rumah Bu Lilik, mendengar suaranya. Suara Nina, tapi keluar dari mulut Bu Lilik. Bu Lilik juga bertingkah aneh sekali. Aku tidak salah dengar, itu suara Nina!" Hana seperti orang depresi menjelaskan kejadian tadi.
Roni terdiam kaku. Pikiran logisnya mencoba menyangkal segala hal mistis, tapi melihat ketakutan yang begitu nyata di wajah Hana membuatnya merasa ada sesuatu yang aneh. Meski demikian, Roni memilih mengenyahkan rasa janggal itu. "Aku tidak percaya hal begituan. Sudahlah jangan halusinasi terus." sahut Roni tegas, merasa jengah dengan tingkah Hana. Ia menggelengkan kepala dan melangkah keluar kembali ke teras.
"Aku tidak halusinasi mas. Mantan istrimu memang menjadi setan." Teriaknya. Hana merasa geram. Ia ingin Roni memahami bahwa apa yang dialaminya adalah nyata, tetapi suaminya lebih memilih mengabaikannya.
Di teras, Roni berusaha meneguk sisa kopinya yang mulai mendingin, meski bayang-bayang cerita Hana terus mengusik pikirannya.
"Apa benar yang di katakan Hana." Gumamnyanya pelan di iringi hembusan angin yang membuatnya merinding.
Di dalam rumah, Hana berjalan menuju ke dapur dan meneguk air dingin hingga tandas, berharap sensasi kering di tenggorokannya mereda. Namun, ketegangan di otaknya sama sekali tidak luntur. Dengan tubuh lelah, ia merebahkan diri di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang temaram.
"Apa mungkin Nina bangkit dan akan menuntut balas?" gumamnya dalam hati penuh cemas.
Bruk... Sreeekkkk...!
Hana yang baru saja hendak memejamkan mata seketika tersentak kaget. Ia mendengar suara yang sangat bising dari arah bekas kamar Nek Nilam, yang saat ini di alih fungsikan menjadi gudang. Kamar kosong itu terletak di ujung lorong rumah tersebut. Suara itu terdengar seperti perabotan berat yang digeser atau barang-barang yang dipindahkan.
"Astagaa.. apalagi ini.." Didorong rasa penasaran bercampur jengkel, Hana bangkit dari tempat tidurnya. "Apa yang sebenarnya di lakukan mas Roni di sana, berisik banget!" gerutunya. Ia berjalan dengan penuh emosi. Dengan kasar berjalan menuju kamar itu, Hana mendorong pintu kamar bekas Nek Nilam dengan tenaga penuh.
"Ngapain sih, Mas? Berisik banget!" sentaknya tajam.
Namun, seketika itu juga Hana tertegun. Ia sama sekali tidak menemukan Roni di dalam kamar tersebut. Tidak ada satu pun barang yang berpindah tempat, semuanya rapi dan berdebu seperti biasa.
Hana berdiri terpaku di ambang pintu, merasakan hawa dingin yang menusuk kulit meskipun tidak ada jendela yang terbuka.
"Mas. Kamu kah itu?" tanyanya ragu, suaranya hampir menyerupai bisikan. Namun tak ada jawaban, hanya hening dan hembusan angin.
Kamar itu tetap sunyi senyap. Dinding-dinding yang usang seolah menyimpan ribuan rahasia kelam, tetapi enggan memberi jawaban.
Dengan hati-hati yang diliputi rasa takut, Hana melangkah masuk. Namun, saat ia hendak berbalik untuk keluar...
Braakkk!
Pintu kamar di belakangnya tertutup dengan sendirinya dengan sangat keras.
Hana tersentak kaget, jantungnya berdegup liar. Ia berbalik cepat dan mencoba menarik gagang pintu, mendapatinya terkunci mati seolah ada kekuatan gaib yang menahannya dari luar. Kegelapan dan udara dingin kian pekat melingkupi ruangan. "Siapa di sini?!" teriaknya gemetar.
Sunyi. Lalu, sebuah suara serak yang mengerikan berbisik tepat di telinganya.
“Hanaaa...”
Suara itu datang dari segala arah, tanpa wujud namun begitu nyata. Hana memutar tubuhnya panik, mencari sumber suara. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya terasa kaku tak bisa digerakkan.
Saat ia membalikkan badan menghadap sudut kamar, napasnya seketika berhenti. Di hadapannya, sosok Nek Nilam muncul dengan wujud yang amat mengerikan. Wajah tua renta itu pucat pasi dengan mata cekung tanpa bola mata, menatap tajam menembus jiwanya. Kulitnya keriput mengerikan, dan mulutnya berdarah saat berbisik, "Kau yang telah membunuhku, Hanaaa...!"
"Wuaaaa... Setan tua. Pergi kau dri sini!!" Teriaknya lantang. Ia memukul-mukul udara dengan tangannya, seolah memukul nek Nilam di depannya.
Plak!
Hana menjerit histeris dan tersentak hebat saat sebuah tepukan mendarat di pundaknya.
Ia mengerjap-ngerjap cepat, mendapati dirinya ternyata masih berdiri di ambang pintu kamar kosong itu, bukan di dalam ruangan seperti bayangannya barusan. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu.
Ia memutar kepalanya dan melihat Roni berdiri tepat di belakangnya dengan alis terangkat bingung. "Ngapain di sini, Han?" tanya Roni nyata, suaranya jelas berbeda dari suara serak gaib tadi.
Hana menelan ludah dengan susah payah, berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. "Aku... aku cuma penasaran," jawabnya pelan, masih gemetar hebat.
Roni menatap curiga. "Penasaran apa? Tadi aku di teras terus."
"Tadi aku dengar suara berisik dari dalam kamar ini, Mas..." ucap Hana lirih.
Roni menghela napas panjang, menatap kamar kosong itu sekilas. "Kamar ini sudah lama kosong, Han. Nggak mungkin ada orang. Mungkin cuma tikus. Nggak usah aneh-aneh."
Namun Hana tahu betul, apa yang baru saja dialaminya bukanlah sekedar tikus atau angin. Wajah Nek Nilam masih membayang jelas di ingatannya. Namun ia tak mau menceritakannya.
Roni menatap Hana tajam dengan nada jenuh. "Kenapa sejak pulang dari rumah Bu Lilik, perilakumu jadi aneh begini, sih?"
Hana terdiam. Ia tahu ada sesuatu yang mengikuti dan mengitarinya.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭