Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 24 : Manusia jenis apa lu?
Teng... teng... teng...
Bel tanda berakhirnya jam pelajaran matematika berbunyi nyaring menembus seluruh sudut sekolah.
Pak Rudi menutup buku presensi hitamnya di meja depan. "Baik. Waktu pengerjaan sudah habis. Siapa yang belum mengumpulkan tugas?"
Beliau menyapu pandangannya ke seisi kelas. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat. Lima siswa cowok yang tadi sempat terdampar di koridor luar pun kini sudah kembali duduk di tempat masing-masing.
Bima menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah... Lolos dari maut!"
Pak Rudi mengangguk-angguk tipis. "Bagus. Terima kasih atas ketertibannya."
Beliau mengangkat tumpukan lembar jawaban dan buku tugas yang sudah disusun rapi oleh ketua kelas. "Buku-buku ini akan saya periksa minggu ini, dan minggu depan kita bahas bersama hasil pengerjaannya. Selamat beristirahat."
"Terima kasih banyak, Pak!" sahut seisi kelas kompak.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Begitu sosok tegas Pak Rudi menghilang di balik pintu kelas, atmosfer XII IPA 1 yang tadinya tegang seketika pecah oleh keriuhan.
"Akhirnya kelar jugaa!" "Gila, sepuluh soal berasa sepuluh bab!" "Nomor delapan bener-bener bikin kepala mau pecah!" "Tangan gue pegel banget, kram anjir!"
Bima langsung menjatuhkan jidatnya ke meja kayu dengan dramatis. Arga yang melihat tingkah temannya hanya terkekeh pelan sambil merapikan alat tulisnya ke dalam ransel. Di sebelahnya, Nadira menutup tempat pensil pastelnya, merapikan letak buku cetak Matematika ke dalam bag.
Tak lama berselang, seorang siswa bertubuh jangkung mengenakan jaket varsity basket muncul di ambang pintu kelas.
"Ga!" panggil cowok itu.
Arga menoleh. "Oh, Fahri."
Fahri adalah murid kelas XII IPA 6 yang menjabat sebagai Wakil Kapten tim basket sekolah.
"Kenapa, Ri?" tanya Arga.
Fahri melangkah masuk dua tapak. "Ke aula bentar yuk. Pelatih nyuruh kumpul sebentar, mau bahas persiapan teknis seleksi anggota baru minggu depan."
Arga mengangguk paham. "Oh iya, bener. Ketinggalan info gue. Bentar-bentar..."
Arga buru-buru memasukkan kalkulator dan pensilnya. Sebelum beranjak berdiri, ia menoleh ke samping.
"Diraa..."
Nadira yang sedang menyleting ranselnya mengangkat wajah. "Hm?"
"Ikut ke aula nggak?"
Nadira berpikir sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis sambil menggeleng pelan. "Enggak deh, Ga. Aku mau ke kantin bareng Aul sama Rika."
"Oh, oke," Arga mengangguk santai. "Yaudah, nanti ketemu lagi pas jam masuk."
"Iya, hati-hati ya."
"Siip."
Arga lantas berbalik melangkah bersama Fahri menelusuri koridor lantai dua. Derap langkah siswa-siswi yang hendak menuju kantin, perpustakaan, maupun nongkrong di taman sekolah meramaikan selasar.
Saat menuruni anak tangga menuju lantai bawah, Fahri tiba-tiba melirik Arga dengan kening berkerut penasaran.
"Ga..."
"Hm?"
"Lu tuh... apa-apa pasti ngajak Alya mulu ya?"
Arga menoleh, dahinya berkerut bingung. "Hah? Maksud lu?"
"Iya," Fahri memutar bola matanya geli. "Mau ke aula... nanya Alya. Mau ke kantin... nanya Alya. Mau balik sekolah... nungguin Alya. Lu udah kayak satu paket hemat tau gak."
Arga terkekeh renyah. "Lah... kan gue cuma sekadar nawarin, basa-basi aja."
Fahri mendelik, lalu menyenggol bahu Arga gemas. "Pacaran lu berdua ya?"
Arga mendengkus, menggeleng mantap. "Kagaklah."
"Serius lu?"
"Serius, Fahri."
"Bohong lu ah."
"Seriusan, anjir."
Fahri meledakkan tawa kecil, tidak percaya. "Nggak mungkin banget."
Arga menghela napas pasrah melihat ekspresi temannya. "Beneran, Ri. Kita tuh sahabat dari kecil."
Fahri manggut-manggut pelan. "Iya sih, gue tau latar belakang lu berdua. Tapi..."
Fahri menghentikan langkahnya tepat di bordes tangga, menatap Arga lekat-lekat. "...lu selama belasan tahun duduk sebangku sama dia, sekelas terus, satu komplek, bertetangga dari balita... beneran nggak pernah ada secuil pun perasaan suka ke Alya?"
Arga sempat terdiam beberapa detik, tampak memikirkan pertanyaan itu secara rasional, sebelum akhirnya menjawab santai, "Enggak ada."
Fahri melotot kaget. "Seriusan lu?!"
"Iya, serius."
"Nggak ada greget atau baper gitu?"
"Nggak."
Fahri melongo lebar-lebar. "Anjir... manusia jenis apa lu, Ga?!"
Arga spontan tertawa terbahak-bahak melihat reaksi berlebihan wakil kaptennya itu. "Lah! Kenapa jadi bawa-bawa jenis manusia?"
"Ya iyalah! Masa nggak ada perasaan sama sekali?!" celetuk Fahri tak habis pikir.
Arga mengangkat bahunya ringan. "Ya emang nggak ada. Dira tuh... udah kayak keluarga gue sendiri, Ri. Karena dari kecil udah kebiasaan bareng-bareng—mau berangkat sekolah, pulang, belajar bareng, main, sampai orang tua kita berdua aja udah kayak saudara kandung. Jadi ya... biasa aja."
Fahri masih memandang Arga dengan tatapan ragu. "Biasa aja gimana? Bro, Alya tuh cantik, pinter banget, Ketua OSIS, baiknya nggak ketolongan lagi. Kalau gue jadi lu..." Fahri menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa iri, "...udah gue tembak dari zaman SMP, jir!"
Arga kembali tertawa renyah mendengar celotehan temannya. "Itu kan lu. Bukan gue."
Fahri menyenggol bahu Arga lagi saat mereka kembali melangkah di koridor bawah. "Serius nih? Nggak bohong?"
"Nggak, Fahri."
"Kalau misal suatu hari nanti Alya punya pacar cowok lain, lu gimana?"
Arga menjawab santai tanpa perlu berpikir panjang. "Ya baguslah. Berarti dia dapet cowok yang bisa bikin dia bahagia."
Fahri langsung memicingkan matanya curiga. "Hmm... sangat mencurigakan."
Arga mengerutkan kening. "Mencurigakan apanya lagi?"
"Biasanya nih ya, cowok yang jawabnya sok tegar gitu... diam-diam memendam rasa mendalam!" goda Fahri jenaka.
Arga terkekeh pelan seraya menepuk bahu Fahri. "Kebanyakan nonton sinetron lu."
Fahri tertawa. "Ya siapa tahu kan?"
Arga menggelengkan kepala seraya terus berjalan menuju aula. "Nggak lah. Udah nyaman banget jadi sahabat. Buat apa dipaksain berubah jadi hal lain."
Fahri mengembuskan napas dramatis. "Kalau gue sih... asli gak bakal kuat. Tiap hari duduk sebelahan sama cewek secantik Alya terus harus pura-pura lempeng gak jatuh hati... bisa gila gue."
Arga hanya menyunggingkan senyum tipis.
Bagi Arga, pertanyaan yang dilempar Fahri tadi memang terdengar menggelitik. Sebab sejak kecil, ia tidak pernah memandang Nadira sebagai sosok yang harus ia klaim atau miliki.
Yang Arga tahu hanyalah... Nadira adalah sosok tempatnya berbagi cerita, teman belajarnya, lawan berdebatnya, serta sahabat terdekat yang sudah menyatu rapat dalam ritme hidupnya sehari-hari.
Sementara itu, di sisi lain area sekolah...
Nadira sedang melangkah menuju kantin bersama Rika dan Aul, tertawa renyah mengenang betapa absurdnya nomor delapan pada latihan matematika tadi.
Gadis itu sama sekali tidak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya, namanya sempat menjadi bahan perdebatan hangat antara dua anak basket di sepanjang koridor sekolah.
Dan Arga pun sama sekali tidak menyadari... bahwa jawaban sederhana yang ia lontarkan hari itu—tentang Nadira yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.