Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Gala Berdarah - Bagian 1
Gunawan Salim tersenyum seolah ia tidak pernah menjual anaknya.
Itu yang paling membuat Momo ingin muntah.
Pria itu berdiri di dekat meja champagne, memakai jas abu-abu dan dasi merah tua. Rambutnya disisir rapi, perutnya sedikit maju, wajahnya penuh percaya diri seorang lelaki yang yakin uang bisa mencuci semua dosa selama cukup banyak orang melihatnya tersenyum.
"Tuan Widjaja," sapa Gunawan hangat. "Akhirnya kita bertemu langsung."
Renard tidak segera menjawab.
Tangannya masih menggenggam tangan Momo. Genggaman itu menguat sedikit ketika tubuh Momo menegang. Bukan cukup keras untuk menyakitinya, tetapi cukup untuk menahan ia agar tidak mundur, atau mungkin menahan Renard sendiri agar tidak maju.
Gunawan menoleh kepada Momo.
"Momo," katanya, seperti seorang ayah yang menyapa anak pulang sekolah. "Kau terlihat baik. Tuan Widjaja merawatmu dengan baik, rupanya."
Sesuatu pecah di dalam dada Momo.
"Kamu tidak berhak bicara seolah peduli."
Senyum Gunawan tidak hilang. Ia bahkan tertawa kecil, seolah Momo hanya anak nakal yang perlu dimaklumi. Beberapa tamu di sekitar menoleh. Kamera ponsel mulai terangkat diam-diam.
"Anak muda memang emosional," kata Gunawan. "Aku hanya senang kau berada di tangan orang yang tepat."
Di tangan.
Momo merasa kuku Renard menyentuh punggung tangannya. Panas dari tubuh pria itu merambat ke lengannya. Biasanya ia membenci rasa itu. Malam ini, di depan Gunawan, panas itu seperti dinding.
Renard akhirnya bersuara.
"Kau masih hidup karena aku belum memutuskan sebaliknya."
Senyum Gunawan membeku setengah detik.
Momo menoleh cepat. Suara Renard sangat pelan, hampir ramah, tetapi mata ambernya tidak menyisakan ruang untuk salah paham.
Gunawan memaksa tawa. "Tuan suka bercanda."
"Tidak."
Udara di sekitar mereka langsung berubah.
Sebelum Gunawan sempat menjawab, suara perempuan masuk dari samping.
"Oh, si anak haram datang juga?"
Momo menoleh.
Queenie Salim berdiri dengan gaun perak yang berkilau di bawah lampu ballroom. Cantik, muda, dagu terangkat, mata yang sama dinginnya dengan Gunawan tetapi lebih tajam. Putri sah. Anak yang namanya pernah disebut tetangga dengan nada hormat, sementara Momo hanya menjadi bisikan belakang pintu.
Queenie memegang lengan Darren Surya, pria berjas navy yang tampak tenang tetapi matanya menghitung semua hal.
"Queenie," Gunawan menegur setengah hati.
"Apa? Aku hanya kaget." Queenie tersenyum manis. "Kak Momo biasanya tidak cocok dengan tempat seperti ini."
Kak.
Kata itu keluar seperti pisau kecil.
Momo menatapnya. "Tempat seperti ini?"
"Tempat orang tahu asal-usulnya."
Renard bergerak sangat sedikit. Hanya pinggang Momo yang disentuhnya, telapak tangannya menempel di sisi tubuh Momo, menahan sekaligus mengklaim. Momo hampir tersentak karena sentuhan itu terlalu dekat, terlalu terbuka di depan banyak orang. Tetapi ia tidak menepis.
Queenie melihatnya. Senyumnya menegang.
"Tuan Widjaja memang murah hati. Mengangkat barang yang sudah dibuang orang lain."
Darren menoleh kepada Queenie. "Nona Salim."
Peringatan itu halus, tetapi jelas.
Queenie pura-pura tidak mendengar.
Renard menatap Queenie seperti menatap noda di lantai marmer. "Barang yang dibuang Gunawan ternyata lebih berharga daripada seluruh meja keluargamu."
Wajah Queenie berubah merah.
Bisik-bisik bergerak di sekitar mereka.
Momo seharusnya merasa puas. Tetapi tangan Renard di pinggangnya membuat seluruh tubuhnya tegang. Ia tidak tahu apakah ia sedang dilindungi atau dipamerkan. Mungkin keduanya. Dan bagian paling berbahaya adalah, di depan Gunawan dan Queenie, ia tidak sepenuhnya membenci perlindungan itu.
Malam bergerak seperti perang yang memakai musik.
Renard berbicara dengan para direktur, pemilik bank, pejabat lama, dan pewaris keluarga besar. Momo berdiri di sisinya, kadang ditanya siapa dirinya, kadang hanya ditatap dari ujung mata. Renard tidak pernah menyebutnya kekasih, istri, atau tamu.
Ia hanya berkata, "Momo."
Satu nama. Seolah cukup.
Setiap kali ada pria yang menatap terlalu lama, Renard menggeser posisinya. Tidak mencolok. Tetapi tubuhnya selalu menjadi pembatas. Bahunya, lengannya, telapak tangannya di punggung bawah Momo. Sentuhan-sentuhan kecil itu membuat Momo marah, malu, dan anehnya lebih mudah bernapas di tengah mata orang-orang yang ingin mengulitinya dengan senyum.
Di sisi ballroom, Queenie memperhatikan.
Ia mengambil gelas dari pelayan, berbicara dengan seorang perempuan bergaun hijau, lalu tertawa. Namun matanya tetap kembali ke Momo. Saat Renard dipanggil sebentar oleh Darren, Queenie bergerak.
"Haus, Kak?"
Momo menatap gelas yang disodorkan Queenie.
"Aku bisa ambil sendiri."
"Jangan terlalu tegang. Kau sudah naik kelas malam ini." Queenie tersenyum. "Minum sedikit. Biar tidak kelihatan seperti baru pertama masuk ballroom."
Momo tidak mengambilnya.
Dari sudut mata, ia melihat Gunawan berbicara dengan dua pria di dekat panggung kecil. Sesekali Gunawan melirik Momo, senyumnya makin lebar. Ada sesuatu yang salah malam ini. Terlalu banyak orang yang menunggu sesuatu.
Queenie mendekat setengah langkah. "Takut aku racuni?"
"Kalau kau harus bertanya, berarti jawabannya jelas."
Mata Queenie dingin.
Renard belum kembali. Albert berdiri jauh di dekat pintu, tetapi Momo tahu pria itu melihat. Darren sedang menerima telepon. Musik naik sedikit.
Queenie menurunkan gelas itu ke meja koktail dekat Momo, seolah menyerah. "Terserah."
Ia berbalik.
Namun saat Momo menoleh ke arah panggung, Queenie menyeringai.
Tangannya yang tersembunyi di balik lipatan gaun menjatuhkan bubuk putih sangat halus ke gelas lain yang sudah disiapkan di meja. Gerakannya cepat. Hampir tidak terlihat.
Hampir.
Di balkon atas, kamera kecil bergerak mengikuti.
Queenie mengaduk gelas itu dengan ujung sedotan, lalu mengangkatnya kembali.
Senyumnya manis.
Queenie tidak langsung pergi setelah hinaan pertama.
Ia justru mendekat, senyum manisnya menempel seperti gula di pisau. "Kakakku selalu punya selera unik," katanya, cukup keras untuk didengar lingkaran sosial di sekitar mereka. "Dulu dia suka barang antik yang rusak. Sekarang rupanya suka anak haram yang dipoles."
Momo merasakan tangan Renard di pinggangnya mengencang.
Tidak sakit.
Cukup untuk memberi tahu bahwa pria itu hampir bergerak.
Momo menahan napas. Jari Renard berada di atas kain gaunnya, tetapi panasnya menembus sampai kulit. Di hadapan ratusan orang, sentuhan itu tampak sopan. Dari dalam tubuh Momo, sentuhan itu seperti tanda bakar: diam, publik, tidak bisa disangkal.
"Queenie," kata Renard.
Satu nama. Seluruh meja dekat mereka langsung sunyi.
Queenie tertawa kecil. "Apa? Aku hanya menyambut calon... apa sebutannya? Tahanan keluarga?"
Momo menoleh sebelum Renard bicara. "Kalau ingin menghina, pilih kata yang lebih mahal. Ballroom seperti ini sayang kalau dipakai untuk kalimat murah."
Beberapa orang menahan napas.
Mata Queenie menyipit.
Renard menatap Momo. Bukan marah. Bukan bangga secara terbuka. Tetapi sudut matanya berubah, dan tangan di pinggang Momo tidak lagi menahan, melainkan menopang.
"Berani juga," gumam Queenie.
"Aku belajar dari orang yang mengurungku," kata Momo.
Kali ini Renard hampir tersenyum.
Queenie menangkap itu. Wajahnya menjadi lebih dingin. Ia mengambil gelas dari pelayan yang lewat, lalu mengangkatnya. "Untuk keberanian."
Momo tidak mengambil gelas itu.
Renard juga tidak.
Gunawan muncul tepat saat ketegangan mulai terlihat oleh terlalu banyak orang. Ia tertawa dengan nada ayah baik hati yang menjijikkan. "Momo, jangan kaku. Queenie hanya bercanda. Kita semua keluarga malam ini."
Kata keluarga membuat Momo ingin muntah.
Renard membungkuk sedikit ke telinganya. "Bernapas."
"Jangan mengatur napasku."
"Kalau kau pingsan, aku akan membawamu keluar di depan mereka semua."
"Ancaman yang sangat romantis."
"Aku bisa lebih buruk."
Ia mengatakannya dengan suara begitu rendah sampai kulit di leher Momo meremang. Di tengah ballroom, di depan ayah yang menjualnya dan perempuan yang menghinanya, Momo merasa Renard menarik seluruh perhatiannya ke satu titik kecil di pinggang: tangannya. Seolah selama tangan itu ada di sana, dunia boleh menyerang, tetapi tidak boleh masuk.
Lalu Queenie menukar gelasnya.
Gerakannya cepat. Terlalu halus untuk orang biasa. Tetapi Momo melihat karena ia sudah terbiasa mengamati tangan orang yang mungkin membuka kunci, menyembunyikan obat, atau memberi perintah. Gelas pertama kembali ke nampan. Gelas kedua diambil dari meja samping.
Cairannya sama-sama keemasan.
Namun Renard ikut melihat.
Mata mereka bertemu sebentar.
Jangan minum, kata tatapan Momo, meski bibirnya tidak bergerak.
Tatapan Renard menjawab dengan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Aku tahu.
Momo sempat menyentuh lengan Renard.
Hanya ujung jari. Isyarat kecil yang bisa disalahartikan sebagai gerakan pasangan dalam pesta. Tetapi Renard berhenti seketika, seolah sentuhan itu perintah yang lebih kuat daripada alarm bahaya di kepalanya.
"Jangan," kata Momo tanpa suara.
Renard membaca bibirnya.
Queenie makin dekat, gelas di tangan, senyum semakin manis. Di belakangnya, Gunawan menatap seperti pria yang sedang menghitung harga baru anaknya setelah melihat siapa yang berdiri di sampingnya.
Momo ingin menarik Renard menjauh.
Pikiran itu membuatnya marah. Ia seharusnya ingin Renard celaka. Seharusnya. Tetapi ketika melihat cara Queenie memegang gelas, ketika melihat Renard memilih tetap berdiri di depan, tubuh Momo bergerak sebelum kebencian sempat memberi instruksi.
Renard menunduk sedikit. "Percayalah padaku malam ini."
"Itu permintaan paling buruk yang pernah kudengar."
"Aku tahu."
Namun ia tetap berjalan.
Momo melihat tangan Queenie bergetar sangat halus.
Itu bukan tangan orang yang hanya ingin mempermalukan. Itu tangan orang yang sudah melewati garis dan tahu tidak bisa kembali. Renard juga melihatnya. Momo tahu dari cara bahunya menjadi diam total.
"Kalau kamu sudah tahu," bisik Momo, "jangan jadi bodoh."
Renard menjawab tanpa menoleh. "Kadang menjadi bodoh membuat orang lain menunjukkan wajah asli."
"Aku tidak butuh wajah asli kalau kamu mati."
Ia baru sadar apa yang ia katakan setelah kata itu keluar.
Renard menoleh. Matanya menangkapnya sepenuhnya.
Momo membuang muka.
Dan kali ini, ia berjalan menuju Momo dengan gelas yang berbeda.