Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Bella dan Pertolongan Meilan
Karena kemiripan itu sudah tidak bisa dijelaskan sebagai kebetulan.
Tetapi hidup tidak memberi Meilan waktu untuk duduk lama di samping tempat tidur dan mengguncang seluruh masa lalunya.
Pagi berikutnya, Patrick mengirim alamat Rumah Permadi di BSD City. Keluarga Permadi memesan satu set busana Cantika untuk acara keluarga akhir pekan. Jumlahnya besar, cukup untuk membayar bahan produksi satu bulan. Bagi Cantika yang baru lahir, ini kesempatan bagus untuk masuk ke lingkaran orang kaya lokal.
Meilan datang membawa dua asisten trainee, meteran, katalog kain, dan wajah yang cukup tenang untuk menyembunyikan malam tanpa tidur.
Rumah Permadi berdiri di area yang lebih tua daripada cluster baru BSD, tetapi luas dan terawat. Halamannya rapi, kolam renang biru terlihat dari ruang tamu, dan di dinding ada foto keluarga besar dengan bingkai emas.
Di foto itu, seorang gadis berdiri sedikit terpisah.
Wajahnya sangat cantik, dingin seperti kaca, tetapi matanya kosong.
"Itu Bella," kata seorang perempuan anggun yang memperkenalkan diri sebagai Bu Permadi. Senyumnya manis, tetapi matanya menghitung. "Anak perempuan tertua keluarga kami."
Meilan menangkap tekanan pada kata tertua.
Bella Permadi turun beberapa menit kemudian. Ia memakai kemeja putih sederhana dan rok panjang, rambutnya diikat rendah. Kecantikannya tidak perlu bantuan perhiasan. Justru karena terlalu mencolok, ruangan seperti diam sebentar saat ia masuk.
Bu Permadi segera berkata, "Untuk Bella, jangan buat terlalu mencolok. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian."
Bella tidak membantah. Ia hanya berdiri di depan Meilan, membiarkan meteran menyentuh bahu dan pinggangnya.
Meilan mengukur dengan tenang. "Cantika tidak membuat orang menjadi pusat perhatian kalau orang itu tidak mau. Tapi pakaian yang bagus tidak boleh sengaja membuat pemakainya terlihat kusam."
Senyum Bu Permadi menegang.
"Maksud saya, Bella anak yang sederhana."
"Sederhana bukan berarti harus disembunyikan."
Di sudut ruangan, adik tiri Bella tertawa kecil. "Ci Bella memang cocok pakai warna gelap. Kalau terlalu terang, nanti orang salah sangka dia mau mencuri perhatian."
Bella menurunkan mata.
Meilan menutup buku ukuran. "Kalau seseorang hanya bisa bersinar ketika orang lain diredupkan, masalahnya bukan pada pakaian."
Ruangan menjadi hening. Bu Permadi masih tersenyum, tetapi jarinya mengetuk sandaran kursi.
Pengukuran berikutnya membuat ketegangan itu makin jelas. Untuk adik tiri Bella, Bu Permadi memilih Sutra Serasi warna champagne dan meminta detail bordir halus di pinggang. Untuk dirinya sendiri, ia memilih outer Batik Mekar dengan potongan paling anggun. Namun ketika katalog kembali ke Bella, ia mendorong kain katun gelap ke depan.
"Yang ini cukup. Bella tidak suka repot."
Bella tidak melihat katalog. Tangannya terlipat di pangkuan, kukunya menekan kulit. Meilan mengenali bahasa tubuh itu. Bukan patuh karena setuju, melainkan patuh karena sudah terlalu sering kalah sebelum sempat bicara.
"Cantika tidak memaksakan warna," kata Meilan sambil membuka lembar lain. "Tapi berdasarkan warna kulit dan bentuk bahu Bella, biru malam dengan sedikit perak akan lebih tepat. Elegan, tidak ramai, tetapi tidak bisa diabaikan."
Adik tirinya mencibir. "Kakak saya tidak perlu tidak bisa diabaikan."
"Setiap perempuan berhak ada di fotonya sendiri."
Bella mengangkat mata. Hanya satu detik, tetapi di sana ada sesuatu yang retak.
Setelah pengukuran keluarga selesai, Bella mengantar Meilan ke ruang kaca kecil yang menghadap taman. Ia baru berbicara ketika tidak ada orang lain di dekat mereka.
"Terima kasih tadi."
"Aku hanya bicara soal kain."
Bella tersenyum tipis. "Di rumah ini, kain pun bisa jadi senjata."
Meilan memandangnya lebih serius. "Kamu ingin bajumu dibuat seperti apa?"
Bella terdiam lama. "Indah. Sekali saja. Bukan untuk mereka. Untuk diri saya sendiri."
Kalimat itu membuat dada Meilan terasa ditusuk halus. Ia teringat tubuh pemilik kehidupan ini, gadis yang dulu juga diatur, dijual, dipaksa masuk ke pernikahan yang tidak ia pilih.
"Ada masalah?" tanya Meilan.
Bella menatap taman. "Ibu tiri saya sedang memilih calon suami untuk saya. Pilihannya dua. Seorang pengusaha empat puluh tahun yang sudah punya dua mantan istri, atau anak keluarga kaya yang terkenal suka memukul pacarnya."
Meilan menahan ekspresi. "Ayahmu setuju?"
"Papa lelah bertengkar. Bu Permadi bilang ini untuk menjaga hubungan bisnis. Saya bukan anak kandungnya. Jadi kalau saya pergi ke rumah yang buruk, itu bukan kehilangan besar."
Suara Bella tetap datar. Justru datar itu membuatnya lebih menyakitkan.
"Kamu punya orang yang kamu suka?"
Wajah Bella akhirnya berubah. Sangat kecil, tetapi cukup.
"Charles Purnomo. Dia mahasiswa teknik. Tidak kaya. Dia memberi les matematika untuk anak tetangga. Dia pernah membantu saya waktu mobil saya mogok di parkiran kampus. Sejak itu..." Bella tertawa tanpa suara. "Kedengarannya bodoh, ya?"
"Tidak."
"Saya tahu dia menyukai saya. Tapi dia tidak berani mendekat. Keluarga saya akan menghancurkannya."
"Kalau dia diberi kesempatan untuk berdiri di depan keluargamu?"
Bella menatap Meilan, bingung.
Meilan berjalan ke jendela dan melihat kolam renang di taman. Airnya tenang, biru, dikelilingi lantai batu yang cukup luas untuk acara.
"Akhir pekan ini ada pesta?"
"Iya. Untuk ulang tahun Papa. Banyak tamu bisnis."
"Charles bisa masuk?"
"Tidak mungkin. Kecuali sebagai staf vendor atau tamu seseorang."
Meilan tersenyum pelan. "Cantika butuh kru tambahan untuk membawa koleksi dan melakukan fitting darurat. Mahasiswa teknik bisa mengangkat rak, kan?"
Mata Bella melebar. "Mbak Mei..."
"Aku tidak bisa memaksamu menikah dengan orang yang kamu suka. Tapi aku bisa menciptakan panggung agar dia menunjukkan keberanian di depan ayahmu."
"Panggung seperti apa?"
Meilan menatap kolam lagi. Ia memikirkan adik tiri yang suka menyindir, ibu tiri yang ingin Bella tampak redup, ayah yang lelah, dan tamu-tamu yang akan lebih percaya pada adegan nyata daripada permohonan seorang anak perempuan.
"Kamu bisa berenang?"
"Bisa."
"Charles?"
Bella menggeleng. "Dia tidak terlalu bisa."
"Lebih bagus."
Bella terkejut. "Mbak mau membuat dia tenggelam?"
"Aku mau membuat semua orang melihat siapa yang berani melompat lebih dulu."
Bella menatapnya lama. Ketakutan, harapan, dan sesuatu yang hampir seperti keberanian mulai menyala di matanya.
"Kalau gagal?"
"Kalau gagal, aku tetap punya cara lain. Tapi kalau berhasil, ayahmu akan sulit menolak pria yang menyelamatkan putrinya di depan semua tamu."
Bella menutup mata sebentar. Ketika membukanya lagi, suaranya masih pelan, tetapi tidak kosong.
"Saya ikut."
Malam itu, Meilan pulang membawa ukuran tubuh keluarga Permadi, pesanan bernilai besar, dan satu rencana yang akan membuat pesta akhir pekan jauh lebih basah daripada yang Bu Permadi bayangkan.
Di meja kerjanya, ia menulis nama Charles Purnomo di sudut catatan.
Lalu ia menggambar satu panah kecil menuju kolam renang.