Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 001
Suami yang Tak Kukenal
"Ki, pulang bareng gue aja. Udah malam."
Kiara Song baru saja mematikan komputer kantor ketika Cici muncul dari balik sekat meja dengan ransel menggantung di satu bahu. Ruang redaksi Kota Barat Post tinggal menyisakan lampu putih yang terlalu terang, gelas kopi kosong, dan suara pendingin ruangan yang berdengung seperti orang kelelahan.
"Nggak usah, Ci." Kiara memasukkan notes kecil, pulpen, dan ponsel ke tote bag kanvasnya. "Aku dijemput."
Alis Cici langsung naik.
"Dijemput siapa?"
Pertanyaan itu membuat jari Kiara tersangkut sebentar pada resleting tas. Di layar ponselnya, notifikasi WhatsApp dari nomor yang tidak pernah memakai foto profil muncul singkat.
Rayhan Tan:
Aku di depan.
Hanya tiga kata. Tanpa emotikon. Tanpa panggilan sayang. Bahkan tanpa tanda tanya.
Tiga kata itu tetap membuat dada Kiara seperti diketuk dari dalam.
"Tetangga," jawab Kiara cepat.
Cici memicingkan mata. "Tetangga yang tiap malam bisa muncul tepat waktu kayak sopir pribadi?"
"Kebetulan aja."
"Kebetulan terus selama enam bulan?"
Kiara pura-pura tidak mendengar. Ia mengambil kartu pers magang dari meja, lalu melirik tumpukan tagihan rumah sakit yang tadi sengaja ia lipat kecil dan simpan di sela notes. Nama Kevin Song tercetak jelas di bagian atas. Empat tahun koma, empat tahun angka di kertas itu terus tumbuh, seperti tanaman liar yang tidak pernah mati.
Sebelum Rayhan masuk ke hidupnya, setiap dering telepon dari rumah sakit selalu membuat lutut Kiara lemas. Sebelum Rayhan, setiap suara motor berhenti di depan kontrakan membuatnya takut Pak Song atau penagih utang kembali datang.
Lalu enam bulan lalu, di sebuah ruang kecil di Rumah Besar keluarga Tan, Rayhan berdiri di sampingnya dengan kemeja putih dan wajah sedingin kaca.
Pemberkatan sederhana. Opa Tan sebagai saksi. Kevin terbaring di rumah sakit, hanya namanya yang disebut dengan suara berat oleh pendeta. Setelah itu, Kiara menjadi istri Rayhan Tan.
Istri secara agama.
Rahasia bagi dunia.
Dan orang asing di rumah sendiri.
"Ki?" Cici melambaikan tangan di depan wajahnya. "Lo pucat. Mau gue pesenin Grab?"
Kiara tersenyum kecil. "Beneran nggak apa-apa. Kamu pulang duluan. Besok kan masih harus ikut rapat Bu Ratna."
Cici tampak belum puas, tapi akhirnya menghela napas. "Oke. Tapi kalau tetangga misterius itu nyebelin, chat gue. Gue siap jadi saksi hidup."
Kiara hampir tertawa. "Saksi apa?"
"Saksi kalau lo diculik cowok ganteng."
Panas naik ke pipi Kiara sebelum ia sempat menahannya. Ia cepat-cepat mematikan lampu meja dan berjalan keluar. Di lift, bayangannya di pintu stainless tampak kecil dengan blus krem murah, rok hitam, dan rambut yang diikat asal. Di pinggang kirinya, tersembunyi di balik kain, ada rahasia lama yang kadang terasa lebih panas setiap kali nama Rayhan disebut.
Rahasia yang bahkan suaminya sendiri tidak tahu.
Lobi kantor sudah sepi. Satpam mengangguk ketika Kiara lewat. Di luar, hujan tipis baru saja berhenti, meninggalkan bau aspal basah dan lampu jalan yang memantul di genangan kecil.
Fortuner hitam berhenti tepat di bawah kanopi.
Kiara mengenali mobil itu bahkan sebelum kaca depannya turun. Mobil itu terlalu bersih untuk seseorang yang bekerja di unit reskrim. Terlalu mahal untuk seorang polisi biasa. Tapi Rayhan memang tidak pernah benar-benar bisa disederhanakan hanya dengan satu kata.
Ia polisi.
Ia cucu Opa Tan.
Ia pria yang menandatangani hidup Kiara tanpa pernah menyentuhnya.
Pintu sisi penumpang terbuka dari dalam.
"Masuk," kata Rayhan.
Suara itu rendah. Tidak keras, tapi cukup membuat Kiara otomatis melangkah.
Rayhan masih memakai seragam dinas cokelat. Lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan garis otot di bawah kulit sawo matang. Rambutnya sedikit basah, mungkin karena hujan atau karena ia baru pulang dari lapangan. Wajahnya campuran tajam yang selalu membuat orang lain menoleh, rahang tegas, hidung tinggi, mata gelap yang seperti selalu tahu lebih banyak dari yang ia ucapkan.
Kiara duduk, menarik sabuk pengaman, lalu menyadari Rayhan menatap tangannya.
"Kamu gemetar."
"AC kantor dingin."
Rayhan tidak langsung menyalakan mobil. Matanya turun ke tote bag Kiara yang terbuka sedikit, ke sudut kertas tagihan yang menyembul.
Kiara cepat-cepat menutup tasnya.
"Aku sudah transfer ke RS Harapan sore tadi," kata Rayhan.
Jantung Kiara jatuh pelan.
"Kak Rayhan..." Suaranya mengecil. "Aku kan sudah bilang, gaji magangku masuk minggu depan. Tagihan Kak Kevin biar aku cicil."
"Kevin tanggung jawabku juga."
Kiara menoleh. "Kenapa?"
Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari pikirannya.
Rayhan menatap jalan di depan mereka. Hujan meninggalkan garis air di kaca. Wiper bergerak sekali, lambat, seperti memotong hening di antara mereka.
"Karena dia teman satu angkatanku."
Jawaban itu masuk akal. Terlalu masuk akal sampai Kiara tidak punya alasan untuk kecewa.
Tentu saja karena Kevin.
Bukan karena dia.
Kiara menunduk, memainkan ujung lengan blusnya. "Terima kasih."
Rayhan akhirnya menjalankan mobil. Sepanjang jalan menuju Perumahan Graha Perwira, mereka hanya ditemani suara ban di atas aspal basah dan siaran radio yang volumenya sangat kecil. Kiara ingin bertanya apakah Rayhan sudah makan. Ingin berkata bahwa ia melihat bekas luka baru di punggung tangan Rayhan. Ingin tahu kenapa pria itu selalu tahu jam pulangnya, tapi hampir tidak pernah bertanya tentang harinya.
Namun seperti biasa, semua pertanyaan itu berhenti di tenggorokan.
Di mata orang lain, Rayhan Tan mungkin suami yang sempurna. Ia menjemput, membayar tagihan, memberi rumah aman di cluster dengan security dua puluh empat jam. Ia tidak pernah membentak. Tidak pernah memaksa. Tidak pernah mempermalukan Kiara.
Tapi di dalam rumah besar mereka yang terlalu rapi, ada dua kamar tidur yang selalu tertutup.
Ada meja makan yang sering hanya dipakai satu orang.
Ada status suami istri yang terasa seperti jas hujan, melindungi dari luar, tetapi dingin menempel di kulit.
Ketika mobil masuk ke garasi rumah, jam di dashboard menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh. Kiara turun lebih dulu. Udara malam Perumahan Graha Perwira berbau rumput basah dan bunga kamboja dari taman depan. Rumah itu menyala hangat, tetapi setiap kali Kiara berdiri di depannya, ia masih merasa seperti tamu yang terlalu lama menginap.
Rayhan membuka pintu utama dengan kartu akses, lalu menyalakan lampu foyer.
"Aku mandi dulu," kata Kiara.
Ia baru melangkah dua anak tangga ketika suara Rayhan menghentikannya.
"Kiara."
Kiara menoleh. "Iya?"
Rayhan berdiri di bawah tangga, satu tangan masih memegang kunci mobil. Tatapannya naik ke wajah Kiara, lalu turun sebentar ke bibirnya yang tanpa sadar ia gigit sejak tadi.
"Kamu belum makan, kan?"
Kiara membeku.
"Aku makan roti di kantor."
"Jam berapa?"
Kiara diam.
Rayhan melepas jam tangan, meletakkannya di meja dekat pintu, lalu berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal dua anak tangga. Posisi itu membuat wajah Kiara hampir sejajar dengan wajahnya. Terlalu dekat. Aroma hujan, sabun maskulin, dan sedikit bau kopi pahit dari tubuh Rayhan membuat napas Kiara tersangkut.
Ia mundur setengah langkah, tetapi tumitnya menyentuh anak tangga berikutnya.
Rayhan mengangkat tangan.
Kiara refleks menahan napas.
Jari Rayhan tidak menyentuh wajahnya. Hanya berhenti di sisi pipinya, mengambil sehelai rambut yang menempel basah di sana, lalu melepaskannya dengan hati-hati.
"Ganti baju," katanya pelan. "Aku masak."
"Kak Rayhan nggak perlu..."
"Perlu."
Satu kata itu jatuh rendah, tegas, dan anehnya hangat.
Kiara menatapnya, lupa bagaimana caranya berkedip.
Rayhan sedikit menunduk. Bayangannya menutup cahaya lampu di belakang Kiara, membuat dunia di sekeliling mereka mengecil hanya menjadi napas dan detak jantung.
"Kamu belum makan, kan?"