Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Tangan Besi di Usia Enam Puluh
Pagi setelah prosesi kremasi, nama Kho Group terbakar di internet.
Kho Group Intimidasi Wartawan.
Judul itu naik ke posisi pertama dalam beberapa jam. Potongan video reporter digiring keluar dari Rumah Duka diputar ulang tanpa konteks. Narasi yang beredar sederhana dan berbahaya: keluarga konglomerat memakai kekuasaan untuk membungkam pers.
Tidak ada yang menampilkan peti Oma Ong.
Tidak ada yang menampilkan pertanyaan tentang ibu Eve.
Tidak ada yang peduli bahwa rumah duka adalah ruang privat untuk orang berduka, bukan panggung pembantaian karakter.
Saham Kho Group turun lima poin sebelum makan siang.
Edric membaca laporan di ruang kerjanya tanpa mengubah ekspresi. Eve masih istirahat di Vila Kemang Hills, belum diberi tahu soal kehamilan maupun badai media. Dokter Sari meminta suasana tenang. Untuk pertama kalinya, Edric bersyukur Eve terlalu lelah untuk membuka ponsel.
Fajar masuk dengan map tipis.
"Kami identifikasi koordinator reporter," katanya. "Yolanda dari Majalah Bintang. Rekeningnya menerima dana dari perusahaan yang terhubung ke grup Sia."
Jerry meletakkan tablet di meja. "Transaksinya diputar lewat beberapa rekening. Belum cukup kuat untuk langsung menunjuk Calista Sia."
"Tapi arahnya jelas," kata Edric.
"Jelas untuk kita. Belum untuk pengadilan atau publik."
Edric menutup map.
Calista pintar memilih kabut. Cukup tebal untuk menyembunyikan tangan, cukup tipis untuk membuat semua orang mencium asap.
"Simpan semua bukti. Jangan bergerak sampai rantainya lengkap."
"RUPS darurat diminta sore ini," kata Jerry. "Beberapa pemegang saham minoritas sudah berkumpul. Valen hadir."
Tentu saja Valen hadir.
Ruang rapat utama Kho Group terasa lebih dingin daripada biasanya.
Para pemegang saham duduk dengan wajah tegang. Di layar besar, grafik saham merah turun tajam. Hendra duduk di sisi kiri, diam, tangan terlipat. Valen memilih kursi di sudut, tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang. Posisi sempurna untuk terlihat tidak memimpin, tetapi tetap menikmati api.
Edric masuk tepat pukul tiga.
Semua orang berdiri.
Ia tidak meminta mereka duduk sampai ia mencapai kursi utama.
"Mulai," katanya.
Seorang pemegang saham tua membuka suara lebih dulu. "Pak Edric, kami memahami situasi pribadi Anda. Tapi perusahaan bukan ruang keluarga. Dua ratus miliar untuk kalung, kontrak Linguara, insiden wartawan di rumah duka. Semua ini memengaruhi persepsi pasar."
Yang lain menambahkan, "Investor bertanya apakah keputusan operasional Kho Group kini dipengaruhi pernikahan Anda."
"Kho Group bukan drama rumah tangga," kata suara ketiga.
Jerry menegang.
Hendra menatap pria itu dengan mata tajam, tetapi Edric mengangkat tangan kecil. Ia ingin mendengar semuanya.
Valen tetap diam. Hanya sudut bibirnya yang hampir tersenyum.
Edric berdiri.
Ruangan langsung senyap.
"Saya memegang enam puluh persen saham Kho Group," katanya. "Menurut Anggaran Dasar, keputusan operasional tidak membutuhkan persetujuan pemegang saham minoritas."
Tidak ada yang membantah. Angka enam puluh persen adalah tembok. Semua orang di ruangan itu bisa tidak suka, tetapi mereka tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya.
"Linguara dipilih karena kualitas kerja. Akuisisi terkait Hartono Mulya dilakukan karena risiko reputasi dan bisnis. Donasi gala amal adalah bagian dari strategi filantropi dan citra, yang malam itu berhasil menaikkan eksposur program sosial kita sebelum sabotase media terjadi."
Ia menggeser slide. Angka donasi malam gala, nilai publikasi, dan daftar calon mitra sosial muncul rapi. Dua ratus miliar yang dipakai untuk Heart of the Ocean tidak tercatat sebagai pemborosan pribadi perusahaan, melainkan donasi amal atas nama keluarga, dengan efek pajak dan eksposur merek yang sudah dihitung. Beberapa pemegang saham yang tadi paling keras mulai membaca layar dengan wajah lebih hati-hati. Mereka boleh tidak menyukai Edric, tetapi sulit membantah tabel yang bersih dan angka yang dingin.
"Romantis atau tidak," kata Edric, "angka tetap angka. Saya tidak meminta perusahaan membayar perasaan saya. Tidak pernah, dan tidak akan."
Ia berhenti, menatap satu per satu.
"Tentang rumah duka. Wartawan masuk ke ruang privat keluarga yang sedang berduka, melempar pertanyaan tentang kematian ibu istri saya, dan hampir menyentuh peti almarhumah. Kalau ada di antara Anda yang menganggap saya harus tersenyum demi harga saham, silakan katakan sekarang."
Tidak ada suara.
Edric melanjutkan, lebih rendah.
"Saya tidak akan meminta maaf karena melindungi keluarga saya."
Hendra menunduk sedikit. Bukan setuju terbuka, tetapi cukup bagi orang yang mengenalnya.
Seorang direktur independen berkata hati-hati, "Pasar tetap membutuhkan jaminan."
"Saya beri jaminan."
Edric menekan tombol. Grafik proyeksi muncul di layar, bukan grafik defensif, melainkan rencana ekspansi.
"Dua bulan. Kalau saham tidak naik sepuluh poin dalam dua bulan, saya siap menerima konsekuensi apa pun dari dewan."
Ruangan kembali hening.
Jerry yang berdiri di belakang hampir tidak bergerak, tetapi jantungnya mencelos. Janji itu tidak ada di naskah. Hendra juga mengetahuinya dari cara alisnya bergerak sedikit. Edric baru saja mengubah rapat defensif menjadi taruhan terbuka, dan semua orang di ruangan itu akan mengingat tanggalnya.
Janji itu terlalu besar untuk disebut retorika. Sepuluh poin dalam dua bulan, setelah krisis reputasi, berarti Edric mempertaruhkan bukan hanya harga saham, tetapi kredibilitasnya sebagai pemimpin.
Hendra akhirnya berbicara. "Kamu yakin?"
Edric menatap ayahnya. "Ya."
Valen mengubah posisi duduk.
Salah satu pemegang saham bertanya, "Dengan proyek apa?"
"Proyek Teluk Naga."
Beberapa orang langsung saling pandang. Proyek itu sudah lama dibicarakan sebagai kawasan terpadu bernilai raksasa, tetapi risikonya tinggi, izinnya rumit, dan pesaingnya banyak.
"Dokumen awal akan dibagikan setelah rapat," kata Edric. "Untuk sekarang, keputusan saya jelas. Perusahaan tetap berjalan. Keluarga saya tetap saya lindungi. Dua hal itu tidak saling bertentangan."
Ia menutup map.
"Ada keberatan lain?"
Tidak ada yang cukup berani menjawab.
Sebelum meninggalkan ruangan, Edric berhenti di dekat pintu. Pandangannya menyapu seluruh meja, lalu berhenti dua detik pada Valen.
"Saya harap semua anggota keluarga ingat siapa musuh sebenarnya."
Senyum kecil Valen hilang.
Rapat selesai.
Di luar, Fajar menunggu.
"Siapkan seluruh berkas Proyek Teluk Naga," kata Edric. "Legal, lahan, izin lingkungan, koneksi pemerintah daerah, semua."
"Baik."
"Dan periksa perusahaan baru yang bergerak di sekitar wilayah itu. Jangan hanya nama besar. Periksa nominee, pemegang saham kecil, dan perusahaan properti yang baru berdiri."
Fajar menatapnya. "Anda mencurigai Valen sudah masuk?"
Edric melihat ke arah ruang rapat yang mulai kosong.
"Valen tidak pernah datang hanya untuk menonton."
Di sudut lain gedung, Valen masuk lift sambil membaca pesan dari seseorang.
PT Valiant Properti sudah terdaftar.
Ia tersenyum lagi.
Dua bulan, pikirnya, adalah waktu yang cukup untuk menjatuhkan seorang raja jika lantainya sudah retak.