Davino Agata, pria dengan sejuta pesona yang mampu memikat banyak gadis. Ketampanan yang ia miliki tak membuatnya merasa sombong. Meski banyak gadis yang mengejarnya, hal itu tak lantas membuatnya berbangga diri.
Banyak yang mengira bahwa dirinya Playboy sejati, karena saking banyaknya wanita yang ia pacari dan kencani. Hal itu tak luput dari adik dan juga mama angkatnya. Karena kemauan mereka lah Davino mau berkencan dan bahkan mempacari mereka. Tapi sayangnya, tak ada satu pun di antara mereka yang mampu memikat hati Davino.
Dina Anindita Ahnal Ihsan, gadis yang mempunyai sejuta pesona. Kecantikannya sudah tak di ragukan lagi. Adik dari Fatur itu mampu memikat siapapun yang memandangnya, termasuk Davino.
Mampukah Davino Agata mendapatkan hati Dina Anindita Ahnal Ihsan? Sedang gadis itu punya prinsip. Hanya sang suami lah nantinya yang akan mendapatkan cintanya.
Bagaimana perjuangan Davino meluluhkan hati Dina? dan apakah ia akan berhasil mempersunting sang tuan putri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Resepsi
Malam ini merupakan malam resepsi pernikahan Davino Agata dan juga Dina Anindita Ahnal Ihsan. Resepsi pernikahan keduanya di langsungkan di hotel milik Navin papanya Davino. Kedua keluarga sangat bahagia melihat senyum yang ada di wajah kedua mempelai. Tanpa mereka sadari, bahwa senyum yang Davino tampakkan merupakan senyum keterpaksaan. Davino sendiri terpaksa tersenyum pada semua tamu undangan demi menyelamatkan kehormatan keluarga dan juga keluarga Dina. Meski sebenarnya ia sangat kesal karena sedari tadi harus menyalami tamu yang entah sampai kapan selesainya. Melihat masih banyak tamu yang mencoba mendekatinya hatinya semakin dongkol.
"Kapan acara ini selesai sih....kok gak kelar-kelar acaranya. Padahal tangan dan juga badanku serasa sakit semuanya." ucap Davino dalam hati.
Dina melihat ada rasa kesal di wajah suaminya pun membisikkan sesuatu padanya.
" Jangan kesal, ini acara bahagia buat kita dan juga keluarga. Sebentar lagi juga selesai, tahan sebentar ya." ucap Dina seraya tersenyum pada Davino.
Davino pun merasa sangat bahagia karena bisikan Dina barusan. Serasa ada kupu-kupu yang terbang di hatinya saat itu. Bukan kata romantis yang terucap dari mulut istrinya. Tapi kata-kata Dina mampu menenangkan hatinya yang kesal.
Davino pun hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya. Ia jadi merasa tak enak pada Dina, padahal Dina saja yang memakai gaun berat dan juga sepatu high heels tak mengeluh sama sekali. Masak ia yang hanya menggunakan kemeja dan juga jas yang tak seberapa beratnya mengeluh. Sungguh sangat malu dirinya saat itu.
...****************...
Setelah acara resepsi selesai dan tamu sudah pada pulang. Ananta mengantarkan Dina ke kamar yang sudah di siapkan oleh pihak hotel. Kamar presiden suite yang sangat luas. kamar khusus untuk keluarga Navirendra Sanjaya. Kamar yang sudah di desain sebagaimana mestinya kamar seorang pengantin. Sedangkan Davino berada di bawah tempat resepsinya bersama dengan keluarganya.
Setelah selesai berbincang dengan keluarganya, Davino pun pergi ke kamar pengantinnya yang di dalamnya sudah ada Dina. Davino merasa sangat gugup antara mau membuka pintu kamar atau malah berbalik saja. Tak sanggup jika harus berhadapan dengan Dina apalagi satu kamar dengannya. Haruskah ia masuk kedalam menemui istrinya.
" Ya Tuhan kenapa aku merasa sangat gugup begini? Bukankah yang di dalam sudah sah menjadi istriku. Bahkan ia telah halal untukku, tapi kenapa aku merasa sangat gugup begini."
Tak jauh beda dengan Davino yang gugup di luar pintu kamarnya. Dina pun merasakan hal yang sama di dalam kamarnya. Merasa tak tau apa yang akan ia lakukan jika sang suami tiba-tiba masuk ke kamarnya nanti.
Setelah lama berada di depan pintu kamarnya, Davino pun masuk ke kamarnya. Alangkah terkejutnya ia mendapati Dina dan masih setia duduk di salah satu sisi ranjang kamarnya dengan menggunakan gaun dan makeup yang masih utuh.
Menghampiri istrinya Davino merasa ia jauh lebih gugup dari pada mengungkapkan perasaannya pada saat melamar Dina untuk pertama kalinya. Davino pun duduk di sebelah Dina, sedang Dina masih tetap tertunduk.
" Din....tatap mataku Dina. Bukankah sudah halal bagimu dan bagiku untuk saling menatap." ucapnya sambil memegang tangan Dina.
Dina yang merasa mendapat perintah dari suaminya pun mencoba memberanikan diri menatap suami yang sudah halal baginya.
" Mas vino" Kata pertama yang Dina ucapnya setelah lama hening dalam kamarnya.
Kata yang membuat hati Davino serasa berbunga-bunga. Panggilan kehormatan yang Dina berikan untuknya sebagai seorang suami.
" Kau memanggilku apa Din, ucapkan sekali lagi."
" Kenapa harus sekali lagi mas, aku akan mengucapkannya berkali-kali saat memanggilmu nantinya."
Davino langsung mencium kening Dina sebagai tanda betapa ia bahagia mendapatkan panggilan itu dari istrinya. Dina yang mendapatkan ciuman pertama dari sang suami pun merasa sangat bahagia.
" Kenapa gak di lepas gaunnya sayang" Dina pun kaget dengan panggilan Davino barusan. "Sayang" apa dia gak salah dengar.
" Kenapa kau kaget begitu, gak mau aku memanggilmu sayang?" tanya Davino. Dina pun hanya bisa menggeleng dan tersenyum. Tanda ia tak keberatan dengan panggilan itu.
" Aku menunggumu mas, bagaimana bisa aku ganti pakaian dan berbenah diri sedang aku sendiri tau kau pun merasakan hal yang sama seperti yang aku rasa. Jika kau sendiri masih setia dengan jas yang kau kenakan kenapa aku harus melepas gaun ku."
" Jas yang ku pakai tak seberapa beratnya di bandingkan gaun yang kau kenakan din"
" Aku ingin setia padamu dalam segala hal mas, jika kau terluka maka aku juga akan merasakan luka itu, jika kau kelaparan maka aku pun juga tak akan makan. Jika kau kesusahan, maka kita akan hadapi bersama-sama mas." Meski bukan kata mutiara, namun kata itu mampu membuat seorang Davino Agata merasa seperti terbang di atas awan. Bagaimana bisa seorang gadis dari keluarga Ihsan yang sekarang menjadi istrinya mampu mengatakan hal yang sebegitu indahnya.
" Kalau begitu kita sama-sama melepas pakaian kita masing-masing ya."
" Iya, tapi....kau lepas di kamar mandi dan aku lepas di ruang ganti ya mas."
" Kenapa begitu??? tanya Davino keheranan, bukannya tadi Dina mengatakan iya kenapa harus ada tapi sih.
" Karena aku gak mau lihat kamu telanjang dan kamu lihat aku telanjang mas" ucapan Dina kali ini jauh membuat Davino tambah heran. Bukankah sudah halal satu sama lain? Kenapa dia justru tidak mau.
" Tapi kan Din, kita ini suami istri bukankah itu hal yang wajar?"
" Mas, kenapa melepas pakaian saja kita harus berdebat sih. Lagian kamu ganti di kamar mandi sekalian kamu mandi. kalau aku ganti di kamar ganti, karena aku gak mau mandi malam-malam begini. Nanti badan ku sakit malahan.
Tanpa mau berdebat lagi dengan istrinya, Davino pun akhirnya menurut saja dari pada ia harus pusing dengan penjelasan Dina yang pastinya tak akan ada habisnya. Mereka keluar dengan sudah memakai pakaian yang lengkap.
...****************...
" Gagal malam pertama nih ceritanya" goda mas Tomy. Ia bahkan tertawa terbahak-bahak. Memang teman minim akhlak ya gitu, bisa-bisanya dia bahagia di atas penderitaan temannya sendiri.
" Jangan lupa Tom, aku ini bos kamu. ku potong gaji mu baru tau rasa kamu." balas pak Vino.
" Gue gak takut, kalau loe berani potong gaji gue tinggal gue aduin loe sama Dina." balas mas Tomy tak mau kalah. Benar saja pak vino langsung tak berani membalasnya.
Sebegitu takutnya kah pak vino dengan Bu Dina. Muka garang tak menjamin orang itu juga garang ya ternyata. Terbukti dengan pak vino, dia akan terlihat garang jika di hadapan orang lain. Tapi, akan berubah imut jika mengenai Bu Dina.