Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
“Oh, kau akhirnya datang,” sapa mama Maxime saat melihat kemunculan Maxime.
Maxime yang melihat ibunya yang masih terlihat muda dan terawat itu tersenyum. Namun, senyumnya berubah menjadi datar saat melihat Helena yang turun dari tangga dengan senyum lembut.
Tanpa sadar, ingatan bagaimana Helena yang memaksa masuk ke kamar mandi, bahkan berniat menggodanya membuatnya jijik.
“Lihatlah, kau semakin kurus. Sudah mama katakan, jangan terlalu memforsir diri. Kau bisa bekerja sekedarnya saja. Jangan seperti papamu. Lihat, dia bahkan tak bisa menikmati masa tuanya seperti orang tua di luar sana,” gerutu mama Maxime sambil meraih tangan putranya.
Seperti orang tua di luar sana, meskipun mulutnya mengeluarkan kata kata tajam, tapi luapan kasih sayang di matanya sama sekali bukan kebohongan.
“Ma, aku sudah dewasa. Berhenti melakukan semua ini,” uca Maxime lembut saat mamanya yang memeriksa setiap jengkal tubuhnya itu.
Mama Maxime melotot. “Tahu apa kau ini? Kau hanya tahu cara bekerja. Kapan kau memiliki waktu untuk bersenang senang.”
Maxime hanya tersenyum tipis. Tak ada tanggapan apa pun.
Mama Maxime yang melihat itu mendesah panjang. Matanya kini menatap ke arah Helena, meminta wanita itu untuk mendekat dan duduk di samping Maxime.
Helena yang akhirnya bisa berdekatan dengan Maxime tak bisa menahan senyum bahagianya.
“Kalian sudah menikah selama setengah tahun. Saat ini, sudah sepatutnya kalian memikirkan cara untuk memiliki anak.”
Mendengar itu, pipi Helena memerah. Ia melirik Maxime dengan tatapan malu malu.
Sementara Maxime yang mendengar itu menyipitkan mata.
“Mama suah memutuskan, kau akan mengambil cuti selama satu bulan. Satu bulan ini, habiskan wakumu dengan istrimu. Mama juga akan menyiapkan tiket bulan madu untuk kalian,” lanjut mama Maxime yang membuat Helena diam diam bahagia.
Namun, kebahagiannya tak bertahan lama saat Maxime menolak usulan itu tanpa ragu.
“Tidak bisa, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja.”
Mata mama Maxime melotot. “Apa maksudmu? Apa pentingnya pekerjaan dibanding melanjutkan garis keturunan keluarga.”
Maxime mendengus. Matanya tanpa sadar melirik ke arah Helena, seolah sudah bisa menebak, ide siapa hal ini.
“Mama membutuhkan garis keturunan keluarga ini?”
“Jika tidak, lalu kenapa Mama memintamu menikah!”
Maxim mengangguk. Namun, anggukan itu membuat Helene menegang.
“Jangan khawatir, Mama akan segera memiliki cucu tanpa harus melakukan bulan madu.”
Mama Maxime tercengang. Sementara Helena menatap Maxime tak percaya.
Pikiran pertamanya adalah, Maxime akan membuat Selina melahirkan anaknya. Lalu, jika benar pemikiran Maxime seperti itu, siapa dirinya bagi Maxime?
Mata Mama Maxime menyipit. “Kau benar benar tidak menginginkan tiket bulan madu ini?”
“Hmmm.”
Mama Maxime tak langsung menyetujui. Matanya menatap ke arah Helena yang tampak gelisah.
“Oh, anak muda sekarang memiliki banyak pemikiran. Terserah, jika kau ingin bulan madu, katakan pada Mama. Mama pasti akan menyiapkan tiket itu. Jika tidak, tidak apa apa. Mama akan memberikan tiket ini sebagai hadiah pada orang lain saja. Helena, apa kau keberatan?” tanyanya lembut pada menantunya itu.
Helena yang diintruksi oleh pertanyaan mertuanya mencoba tersenyum. Namun, matanya terasa panas. Jika bukan karena pengendalian dirinya yang baik, ia benar benar akan menangis dan langsung bertanya pada Maxime.
“Ya, aku akan menuruti apa pun keputusan suamiku, Ma.”
“Yah, kau benar benar istri yang baik. Maxime, kau harus memperlakukan Helena dengan lebih baik di masa depan.”
Maxime hanya bergumam. Terlihat jelas jika ia tak terlalu mempedulikan Helena.
Mama Maxime yang melihat semua itu tak terlalu peduli. Baginya, menikah bisnis sudah sewajarnya seperti ini. Seiring berjalannya waktu, mereka akan saling menerima, dan saling mencintai.
Jika tidak ada cinta, mereka cukup bersikap saling menghormati.
“Jadi, untuk apa mama memintaku datang ke sini?” tanya Maxime yang tidak lupa alasan ia datang.
Mama Maxime melotot. “Apa perlu alasan seorang ibu meminta anaknya berkunjung?”
“Ma, bukan itu maksudku.”
Namun, mama Maxime masih terus melotot. “Mama merindukanmu.”
Helaan nafas berat Maxime keluarkan.
“Menginaplah di sini malam ini bersama istrimu,” lanjut mama Maxime yang disambut tatapan penuh harap oleh Helena.
Maxime yang mendengar itu mengerutkan kening. “Aku tidak bisa.”
“Kenapa tidak, jangan katakan kau memiliki pekerjaan?” mama Maxime bahkan sampai berdiri. Matanya menatap putranya dengan mata melotot kesal.
Maxime yang tahu jika hanya pekerjaan yang bisa menyelamatkannya mengangguk. Selain itu, ia meninggalkan Selina sendiri di dalam apartemen, dan dia sudah berjanji akan kembali ke apartemen.
Ia tidak bisa mengingkari janjinya begitu saja.
“Ma, mama tahu kan, perusahaan baru saja melewati masa kritisnya. Jadi, aku benar benar tidak bisa mengendur.”
Mama Maxime melotot. Namun, ia juga tahu, perusahaan keluarga baru saja meluncurkan program baru yang cukup menguras energi anak dan ayah itu. Tapi, tidak bisakah putranya menyempatkan menginap di sini, satu malam saja.
Helena yang mendengar penolakan itu tak bisa menahan diri lagi. Ia menatap suaminya, perasaan marah benar benar membuatnya hampir kehilangan kendali.
“Max, tidak bisakah kita menemani mama malam ini. Hanya satu malam, kasihan, mama sendirian di mansion,” ucapnya terdengar perhatian pada mertuanya.
Namun, hanya dia yang tahu niatnya dalam hati. Ia benar benar ingin memanfaatkan momen tinggal bersama di mansion tua ini.
Semenjak ia memaksa masuk ke kamar mandi waktu itu, ia tahu dengan jelas, semuanya tidak lagi sama. Maxime bahkan tidak repot untuk berpura pura menghormatinya sebagai seorang istri.
Jika ia masih ingin mempertahankan statusnya sebaga istri sah Maxime, ia harus segera mengambil hati pria itu.
“Oh, kalau begitu, kau bisa menemani mama di sini. Sebagai menantu yang baik, sudah sewajarnya kau menginap di sini,” jawab Maxime tenang. Seolah, ia tak paham dengan maksud tersirat dari kata kata Helena.
Helena yang mendengar itu tersedak. Matanya menatap Maxime tak percaya.
Mertuanya bahkan melotot kesal.
Maxime yang melirik jam tangan yang melingkari tangan kananya langsung berdiri.
“Aku tidak bisa berlama lama di sini. Aku harus pergi,” ucapnya yang tak lagi mempedulikan Helena.
Ia bahkan melabuhkan kecupan di pipi mamanya, kemudian pergi begitu saja.
Mama Maxime yang melihat bagimana putranya yang bahkan tak bisa menghabiskan waktu satu jam saja dengannya menggertakkan gigi. Ia bahkan mengabaikan wajah menantunya yang pucat pasi atas pengabaian Maxime yang begitu jelas.
***
“Aku pulang, apa kau merindukanku?” bisik Maxime yang diam diam masuk ke dapur dan langsung memeluk Selina dari belakang.
Selina yang sebenarnya sudah tahu jika maxime sudah kembali atas intruksi sistem pura pura terkejut. Matanya menatap Maxime yang tersenyum lebar itu.
“Kau ... tidak bisakah kau tidak selalu mengejutkanku.”
Maxime terkekeh. Ia melabuhkan kecupan di pipi Selina, kemudian melihat apa yang sedang dimasak wanitanya itu.
“Kau masak apa, aku benar benar kelaparan,” bisiknya manja.
Selina memutar matanya malas. Namun, ia tetap membiarkan Maxime memeluknya dan bertingkah manja.
“Ini hanya makanan sederhana. Kalau kau menyukainya, kau bisa memakannya. Tapi jika tidak, kau bisa melakukan pesan antar.”
Maxime terkekeh. “Bagaimana bisa aku tidak menyukai masakan yang dibuat penuh cinta oleh kekasihku, hmm.”
Selina terkekeh. “Gombal.”
Maxime tak terlalu mempedulikannya. Sebaliknya, ia semakin mengeratkan pelukannya, kemudian mengatakan sesuatu yang membuat selina terkejut.
“Aku ingin memiliki bayi denganmu,” bisik Maxime.
***
[“Nyonya, saya sudah menemukan alamat apartemen yang dituju tuan akhir akhir ini.”]