NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Darius terus berjalan menuju tepi jalan raya, lalu mengibaskan tangannya santai ke udara. Sebuah taksi yang sedang melintas segera memperlambat lajunya dan berhenti di hadapannya.

Ia lalu membuka pintu belakang taksi yang berderit halus, lalu mendaratkan tubuhnya yang tegap di atas kursi penumpang yang dingin.

"Ke Perumahan Dama Sanctuary," ucap Darius dengan suara rendah yang amat tenang, hampir tenggelam di antara suara bising kendaraan.

Sopir taksi melirik melalui kaca spion tengah. Melihat pakaian yang dikenakan Darius serta aura dingin yang memancar darinya, sopir itu langsung mengangguk patuh tanpa berani banyak bertanya.

"Baik, Pak. Segera meluncur," sahut sang sopir seraya menginjak pedal gas, membawa kendaraan tersebut membelah kepadatan lalu lintas kota.

Darius menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap deretan gedung-gedung pencakar langit di luar jendela mobil. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan.

Taksi yang ditumpangi Darius melaju tenang meninggalkan pelataran gedung Adhitama Corporation yang masih diselimuti ketakutan dan kekacauan.

Di sisi lain, ketegangan masih terasa di dalam ruang rapat. Beberapa pemegang saham tampak merapikan jas mereka dengan gusar, sementara yang lain sibuk memijat pelipis.

"Tuan Surya," Arman Kusnadi akhirnya membuka suara, memecah keheningan. "Apakah ucapan Tuan Muda Darius tadi bisa di percaya?"

Arman Kusnadi menghela napas panjang, sorot matanya dipenuhi keraguan yang amat sangat. "Mendapatkan suntikan dana dari SuperNova Investment... rasanya sangat tidak masuk akal."

"Aku... aku juga tidak tahu pasti, Tuan Arman," gumam Surya Adhitama dengan suara parau yang sarat akan beban yang sangat berat.

Surya Adhitama mengusap wajahnya yang tampak pucat. Di sampingnya, William memegang erat tepi meja rapat, matanya menatap pintu ruang rapat tempat Darius baru saja keluar.

"Bagaimana mungkin seorang pemuda yang bertahun-tahun dibuang tiba-tiba mengklaim seperti itu?" cetus salah satu pemegang saham seraya menggebrak meja rapat dengan pelan.

"Ini bukan lagi sekadar impian, Tuan Surya! Ini adalah lelucon yang membahayakan reputasi perusahaan kita jika sampai terdengar ke luar!" lanjut pemegang saham tersebut dengan wajah memerah menahan kejengkelan.

Arman Kusnadi menghela napas berat, merapikan lembaran berkas di depannya. "Saya setuju. Kita semua menghargai kehadiran Tuan Muda Darius, tapi mengatakan hal itu... itu sangat mengada-ada."

Belum sempat Surya Adhitama memberikan balasan untuk membela putranya, ponsel milik Manajer Keuangan yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat.

Semua mata di dalam ruang rapat seketika tertuju ke arahnya. Manajer Keuangan itu kemudian mengambil ponselnya. Namun, begitu melihat nomor yang tertera di layar, wajahnya langsung pucat pasi.

"I-Ini... dari SuperNova Investment!" seru Manajer Keuangan dengan suara tertahan. Wajahnya melirik ke arah Surya Adhitama

"Angkat! Nyalakan speaker-nya!" perintah Arman Kusnadi cepat. Ketakutan dan harapan bercampur aduk, membuat dadanya berdebar keras.

Manajer Keuangan itu buru-buru menggeser tombol hijau dan menekan tombol speaker. Suara hening yang menyelimuti ruang rapat, hingga napas para petinggi pun dapat terdengar jelas.

"Halo, selamat siang. Benar ini dengan manajemen Adhitama Corporation?" Suara seorang wanita berwibawa, dingin, dan sangat profesional terdengar jelas.

"Benar, saya Manajer Keuangan Adhitama Corporation. Saya di sini bersama Pak Surya Adhitama dan jajaran dewan direksi." jawab Manajer Keuangan dengan nada terengah-engah.

"Baik. Saya menyampaikan pesan langsung dari Office of the Chairman SuperNova Investment," ucap wanita di seberang telepon tanpa basa-basi.

Suara yang mengalun dari ponsel itu seketika memotong arus udara di dalam ruang rapat. Seluruh dewan direksi mematung, menahan napas dengan mata yang membelalak lebar.

"Kami ingin memberitahukan," lanjut suara sekretaris eksekutif Supernova Investment dengan dingin. "Keputusan penolakan berkas investasi Adhitama Corporation yang dikeluarkan kemarin resmi DIBATALKAN."

Gubrak!

Seorang petinggi senior tak sengaja menyenggol kursinya hingga bergeser. Wajah Manajer Keuangan yang tadinya pucat, kini kian tak berdarah. Tangannya gemetar hebat saat memegang ponsel.

"A-Apa maksud Anda... dibatalkan?" bisik Manajer Keuangan, hampir tak percaya pada pendengarannya sendiri.

"Pimpinan tertinggi Supernova Investment telah meninjau kembali prospek Adhitama Corporation," sambung suara di seberang sana. "Keputusan telah diambil. Pihak kami secara resmi menyetujui kucuran dana investasi sebesar sepuluh triliun."

DEG!

Angka itu menghantam ruang rapat bagai guncangan gempa bumi. Sepuluh triliun! Bukan sekadar menutupi defisit obligasi, jumlah itu cukup untuk melonjakkan nilai perusahaan hingga lima kali lipat.

"S-Sepuluh triliun?!" Arman Kusnadi terlompat berdiri dari kursinya. Pria tua itu sampai terhuyung dan harus berpegangan pada tepian meja.

"Tim konsultan keuangan Supernova Investment sedang dalam perjalanan," tegas sang sekretaris. "Draft dokumen kontrak serta transfer tahap pertama akan diproses sebelum sore ini."

"Mohon pastikan Direktur Utama Anda bersiap untuk penandatanganan," pukas sekretaris eksekutif itu singkat sebelum menutup sambungan telepon.

Sambungan telepon terputus. Keheningan yang teramat pekat menyelimuti ruang rapat selama beberapa detik. Tak ada satu pun dari belasan petinggi perusahaan yang sanggup bersuara.

Pernyataan Darius, pemuda yang beberapa menit lalu mereka anggap polos, mengada-ada, dan berkhayal, kini terbukti secara nyata dalam hitungan menit.

"Dia... dia tidak berbohong..." gumam Manajer Keuangan dengan mata berkaca-kaca. "Tuan Muda Darius benar-benar mewujudkannya..."

Arman Kusnadi menatap kursi kosong yang tadinya diduduki Darius dengan rasa gentar yang luar biasa. "Siapa sebenarnya Tuan Muda Darius?"

William tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Hatinya bergemuruh bangga. "Ayah... sepertinya Kak Darius bukan orang sembarangan!"

Surya Adhitama terpaku. Pikirannya melayang pada sosok putra sulungnya yang melangkah keluar ruangan tanpa keraguan. Penyesalan dan rasa kagum bercampur menjadi satu di dadanya.

Di tengah guncangan hebat yang melanda ruang rapat dewan direksi, pintu ganda ruang rapat itu mendadak didorong terbuka secara kasar dari luar.

BAM!

Tuan Besar Hardiman melangkah masuk dengan tongkat berukir kepala naga di tangan kanannya. Wajah tua yang dipenuhi kerutan itu tampak memerah membara akibat amarah yang tak tertahankan.

"Surya!" bentak Tuan Besar Hardiman dengan suara serak namun menggelegar, memotong keheningan ruangan. "Di mana anak tak berguna itu?!"

Seluruh dewan direksi terperanjat dari kekaguman mereka. Surya Adhitama dengan cepat berdiri dari kursinya. "Ayah? Ada apa ini?"

"Anak tidak tahu diri itu baru saja membuat kerusuhan di pelataran depan!" teriak Tuan Besar Hardiman seraya menghentakkan tongkatnya ke lantai dengan sangat keras.

Suara dentuman kayu dan lantai itu bergema tinggi di seluruh penjuru ruang rapat, membuat beberapa pemegang saham refleks menegakkan posisi duduk mereka.

"Dia menghajar enam pengawal yang aku tugaskan untuk menjaganya!" lanjut Tuan Besar Hardiman dengan wajah penuh murka. "Dua di antaranya terkapar kaku, satu patah tulang, dan sisanya tergeletak tak berdaya di pelataran!"

Napas Tuan Besar Hardiman tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan hebat seolah kehabisan oksigen saat berjuang menahan gumpalan amarah yang meluap-luap.

"Sikapnya seperti orang barbar! Sekarang dia kabur menggunakan taksi!" bentak Tuan Besar Hardiman lagi. "Orang seperti itu tidak pantas berada di Adhitama Corporation!"

Tuan Besar Hardiman menatap Surya Adhitama dengan pandangan menuntut dan sarat keangkuhan. "Surya! Hentikan semua rencanamu untuk melibatkannya dalam proyek perusahaan!"

Mendengar rentetan makian dan tuduhan yang dilontarkan sang Tuan Besar, ruang rapat dewan direksi yang tadinya masih diselimuti rasa takjub mendadak jadi hening.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!