Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kosongnya Emosi
Setelah keributan yang nyaris berujung baku hantam di gedung olahraga, mereka bertiga berjalan menuju kantin. Agil, yang berjalan di barisan paling belakang, berkali-kali menatap punggung Ryan sambil mengepalkan tinju demi menekan emosinya.
Begitu melangkah masuk, ketiganya langsung terperangah. Aroma berbagai masakan langsung menyambut mereka, sementara puluhan siswa memenuhi meja-meja makan yang tertata rapi. Kantin Sekolah Esper Kota Cirebon memiliki luas yang tidak masuk akal—setidaknya tiga kali lebih besar daripada kantin sekolah mereka sebelumnya.
Mata mereka segera tertuju pada papan menu besar yang terpampang di atas kasir.
Menu (Sudah Termasuk Nasi):
· Ayam Bakar: Rp40.000
· Ayam Tepung Krispi: Rp40.000
· Burger Medium: Rp50.000
· Lele Goreng: Rp35.000
· Steak Sapi: Rp95.000
· Empal Gentong: Rp100.000
· …
“Hah?!”
Bukan hanya Agil, Rahman pun ikut terkesiap. Angka-angka yang tertera di papan menu itu terasa sangat tidak ramah.
"Buset... serius nih harga menunya segitu semua?" keluh Agil keras. Walau keluarganya berkecukupan, di tempat ini ia justru merasa miskin.
“Dasar miskin.”
Sebuah cemoohan dingin memotong keluhan mereka. Alex melintas di samping dengan langkah angkuh sambil membawa nampan berisi steak premium yang masih mengepulkan aroma mentega gurih.
Bocah kampret, batin Agil. Rahangnya mengeras, tetapi ia memilih menahan diri. Rahman dan Ryan pun mengabaikan sindiran itu.
“Kalau begini, saldo satu juta bakal cepat habis,” gumam Ryan.
Masih belum percaya, Agil menelusuri barisan teks pada papan menu. Alih-alih menemukan makanan yang lebih murah, matanya justru terpaku pada tulisan kecil di pojok kanan bawah.
Harga belum termasuk pajak.
“Hei bro, lihat tulisan kecil itu,” bisik Agil sambil menyenggol Rahman.
“Walah...” Rahman hanya bisa menggeleng. Ia tahu betul harga makanan di luar sekolah. Seporsi ayam bakar paling mahal bahkan hanya sekitar sepuluh ribu rupiah.
“Yaudah, ayo cepat pesan. Jam istirahat kita tidak banyak,” seru Ryan memecah lamunan mereka.
"Tapi harganya..." Rahman masih ragu. Matanya kembali menyusuri daftar menu, berharap menemukan keajaiban di antara harga yang mengerikan.
Setelah mencari cukup lama...
Mata mereka akhirnya menemukan secercah harapan.
Di baris paling bawah terdapat satu menu yang masih masuk akal.
Nasi Goreng Biasa – Rp15.000.
Tanpa banyak berdiskusi, mereka bertiga memesan menu yang sama. Mereka sepakat menghemat pengeluaran sebisa mungkin. Tak seorang pun ingin membebani keluarganya. Untuk sementara, mereka memutuskan mencari tahu nanti apakah ada cara memperoleh uang tambahan dari pihak sekolah atau para senior.
“Mau pesan minuman apa, Adik-adik?” tanya petugas kantin di balik etalase kaca tebal.
Rahman mengalihkan pandangannya ke daftar minuman. Sedetik kemudian, ia menelan ludah melihat deretan angka yang tidak kalah gila. Bahkan untuk segelas es teh manis dihargai Rp15.000.
“Air putih saja... tiga,” jawab Rahman pelan.
Petugas kantin mengangguk, lalu meletakkan tiga gelas air putih di atas nampan.
Ketiganya saling berpandangan, lalu mengembuskan napas lega. Setidaknya, air putih masih diberikan secara gratis.
…
Memasuki jam pelajaran berikutnya, Agil menatap papan tulis dengan mata terbelalak. Ia tidak mengira sekolah yang melatih para Esper untuk bertaruh melawan hantu masih tega mencekoki muridnya dengan Matematika dan pelajaran umum lainnya.
Ryan tampak tidak terkejut, namun pandangannya tidak tertuju papan tulis. Ia terus terpaku ke arah luar jendela dan sesekali beralih ke buku tulis kosong di hadapannya. Pikirannya seolah tersesat di tempat yang tidak diketahui.
Sikap Ryan yang begitu mencolok tentu saja tidak luput dari perhatian guru yang sedang mengajar di depan. Baginya, sikap anak itu merupakan penghinaan terhadap seorang guru.
"Hei! Kamu yang sedang memandangi jendela, berdiri! Jelaskan kembali apa yang baru saja saya terangkan di papan tulis."
Beberapa murid di barisan depan langsung menoleh, menyunggingkan senyum sinis.
Ryan langsung menjawab tanpa ragu. Penjelasannya mengalir lancar, seolah seluruh isi pelajaran telah tersimpan rapi di dalam kepalanya.
Setelah menyelesaikan penjelasannya, Ryan duduk lalu mengunci pandangannya lurus ke arah sang guru dengan tatapan kosong.
Hening.
Sang guru mengepalkan tangan di balik meja. Entah mengapa, jawaban sempurna itu justru membuatnya merasa sedang dipermainkan.
"Ya... benar. Jangan melamun lagi."
Namun, sejak awal Ryan menangkap setiap penjelasan sang guru dengan sempurna. Baginya, ke mana matanya memandang tidak memengaruhi kemampuannya menyerap informasi.
Saat sesi mengerjakan soal dimulai, Rahman yang duduk tidak jauh dari Ryan sesekali memfokuskan matanya, mencoba melirik ke arah lembar jawaban Ryan, berniat menyontek.
Namun, Rahman justru dibuat pusing. Ryan langsung menuliskan angka hasil akhir di kolom jawaban tanpa menuliskan satu pun langkah penyelesaian atau rumus perantara. Cara pengerjaan yang mustahil dipahami itu membuat Rahman seketika mengubur niatnya untuk menyontek.
"Apalagi ini... angka kok dicampur huruf?"
Di sudut lain, keluhan tiada hentinya sepanjang dua jam kelas berlangsung menandakan penderitaan yang dirasakan Agil.
Meskipun Agil sudah berusaha menekan suaranya seminimal mungkin, keluhannya yang berulang di tengah kelas yang hening adalah resep sempurna memicu bencana.
Agil ditarik ke depan kelas dan dipaksa menerima 'neraka ocehan' tentang bagaimana seorang pelajar tidak boleh bertindak layaknya berandalan pasar yang buta huruf.
Waktu berlalu dengan lambat, hingga akhirnya bel berbunyi panjang, menandakan berakhirnya sesi pelajaran umum.
“Sip, inilah yang seharusnya kita pelajari!” Seru Agil. Matanya yang semula sayu kini terbakar oleh semangat.
Tidak ada lagi keluhan, yang muncul justru hujan pertanyaan yang tak ada habisnya. Antusiasme Agil yang meledak-ledak seolah membangkitkan semangat Pak Tatang untuk mengajar.
“Pertanyaan bagus! Sebagai pengguna energi yang terhubung langsung dengan jiwa, kita harus selalu menjaga emosi untuk tetap stabil. Saat pikiran kehilangan kestabilannya, energi spiritual di dalam dirimu pun akan mengamuk.”
“Jika begitu apa yang akan terjadi pak?”
“Energi spiritual dalam dirimu akan meledak, semakin besar tingkat kekuatan Esper maka ledakan yang dihasilkan akan semakin besar. Karena hal itu para Esper diwajibkan mendapatkan bimbingan psikologis berkala.”
“Lalu bagaimana dengan–“
Keduanya tenggelam terlalu jauh, tidak membiarkan seorang pun mengganggu jalannya diskusi mereka. Saking intensnya, seisi kelas hanya bisa terdiam pasrah, membiarkan guru dan murid baru itu asyik dengan dunia mereka sendiri.
TENG... TENG... TENG...
Dentang bel besi menggema tiga kali, menandakan tengah malam telah tiba. Memutus rantai diskusi yang tidak tahu kapan akan berakhir itu.
Satu per satu murid mulai berkemas demi kembali ke kamar asrama masing-masing untuk beristirahat dan ada pula yang memilih menuju lapangan terbuka atau kembali ke dalam gedung olahraga demi menempa diri.
Setelah berpamitan dengan Rahman dan Agil, Ryan melangkah masuk ke kamarnya sendiri. Tanpa repot-repot menyalakan lampu, ia melempar tasnya ke lantai, menaruh kacamatanya dan langsung membenamkan wajahnya ke kasur.
Di dalam kegelapan itu, pikiran Ryan entah melayang ke mana. Anehnya, fokusnya malam ini sama sekali bukan tentang bagaimana cara cepat menaikkan tingkatan Class-nya, atau bagaimana menyusun strategi untuk melacak keberadaan Jamal.
Pikirannya terasa begitu kosong, seperti sebuah robot usang yang sedang menunggu seseorang memasukkan baris perintah baru agar sistemnya bisa kembali bergerak.
Akibat kehampaan ini, Ryan mencoba memaksa otaknya mengingat kembali kejadian berdarah di masa lalu, tragedi kelam yang pernah mengoyak hatinya.
Namun, usaha itu sia-sia. Memori itu ada, tetapi dadanya tetap terasa hambar. Sebenarnya apa yang menekan emosinya saat ini? Apakah kakek yang ditemuinya saat itu yang melakukannya? Kalau begitu, untuk apa dia melakukannya?
Dalam keheningan malam yang kian mencekik, Ryan akhirnya menyerah. Mencoba meyakinkan batinnya bahwa fondasi kekuatan yang mutlak akan membawanya menemukan semua jawaban itu suatu hari nanti.
Membalikkan tubuhnya perlahan, Ryan berbaring telentang sembari menatap langit-langit kamar asrama, berharap kegelapan malam bisa segera menenggelamkan kesadarannya ke dalam tidur tanpa mimpi.