Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Racun di Malam Hari
Di kejauhan, dari balik rumah-rumah kosong, ada sesuatu yang sedang menunggu.
Hendry melihat Nasi lebih dulu daripada korban di tanah.
Kucing kecil itu berdiri di atas pagar dengan punggung melengkung. Bulunya mengembang sampai tampak dua kali lebih besar. Matanya menatap barat tanpa berkedip, seolah di antara rumah kosong dan pepohonan basah ada garis tak terlihat yang hanya ia bisa baca.
Di bawah pagar, anggota patroli yang digotong Fajar masih kejang. Bibirnya menghitam. Urat ungu merambat dari leher ke rahang seperti akar yang tumbuh terlalu cepat.
"Mawar," kata Hendry.
Mawar sudah berlutut. Telapak tangannya menyala emas pucat di atas dada korban. Cahaya itu masuk ke kulit, tetapi warna ungu tidak langsung hilang. Ia hanya berhenti merambat sejenak, lalu bergerak lagi lebih lambat.
Wajah Mawar memucat. "Ini bukan luka biasa. Racunnya seperti hidup."
Bagus tiba dengan linggis di tangan. "Zombie bisa nyembur racun sekarang?"
"Bukan zombie," jawab Hendry.
Fajar menelan ludah. "Saya cek rute sebelum subuh, Pak. Tidak ada bekas gigitan. Dia cuma tiba-tiba jatuh dekat saluran air barat."
Hendry menatap saluran kecil di bawah dinding cluster. Beton penutupnya sudah retak sejak sebelum kiamat. Biasanya hanya jadi jalan air hujan. Sekarang, celah sekecil itu cukup menjadi jalur pembunuhan.
Raja mengendus tanah, lalu bersin keras. Percikan listrik keluar dari moncongnya.
"Bau busuk," geramnya pendek, meski yang keluar hanya suara anjing marah bagi sebagian orang.
Nasi mendesis lagi.
Hendry mengangkat tangan. Semua orang diam.
Dalam kehidupan sebelumnya, kemampuan racun selalu menyebalkan. Pemiliknya jarang bertarung terang-terangan. Mereka menunggu angin, air, makanan, atau luka kecil. Mereka tidak perlu menang dalam duel. Mereka hanya perlu membuat lawan terlambat sadar.
Dan saat korban mulai muntah darah, biasanya negosiasi sudah tidak berguna.
"Fajar, tutup area barat. Tidak ada yang minum dari jeriken terbuka, tidak ada yang makan sebelum Dewi cek ulang. Semua ember air pindah ke villa utama."
"Siap."
"Melati jaga gerbang barat dari dalam. Awan bantu beku saluran kalau ada kabut masuk. Mawar, tahan dia tetap hidup. Jangan paksa sampai pingsan."
Mawar mengangguk, rahangnya mengeras. "Aku bisa menahannya beberapa menit."
"Cukup."
Bagus menatap Hendry. "Bos, gue ikut?"
"Kau ikut. Raja ikut. Nasi tunjuk arah."
Raja langsung melompat melewati pagar rendah. Bagus memutar linggis di tangan, wajahnya yang biasanya santai kini keras. Hendry mengambil parang, tetapi tangan kirinya kosong.
Kosong untuk sesuatu yang lain.
Mereka keluar lewat pintu samping barat. Udara subuh masih gelap biru. Jalan di luar cluster penuh mobil mati, daun busuk, dan bau lembap rumah kosong. Tidak ada zombie yang terlihat dekat, justru itu membuat suasana lebih buruk. Kalau ada zombie, suara kaki mereka bisa didengar. Kalau ada manusia dengan racun, bahaya datang lewat napas.
Nasi bergerak di bahu Hendry. Setiap beberapa langkah, telinganya berkedut. Kadang ia menoleh ke kiri, lalu menggeram pendek seolah membuang kemungkinan palsu.
Seratus meter.
Seratus dua puluh meter.
Di dekat rumah bercat putih yang pintunya setengah terbuka, Hendry melihat kabut tipis merayap di atas selokan. Warnanya hampir tidak tampak. Hanya saat melewati pecahan kaca, kabut itu memantulkan ungu gelap.
Bagus ikut melihatnya dan wajahnya berubah. "Itu masuk ke arah base?"
"Pelan-pelan," jawab Hendry.
"Berarti dari tadi dia nunggu kita tidur."
"Ya."
Bagus menggertakkan gigi. Orang seperti Bagus bisa menerima pertarungan langsung. Ia bisa menerima patah tulang, cakaran zombie, bahkan peluru. Tapi meracuni orang tidur dari luar pagar membuat kemarahannya lebih bersih, lebih berat.
Nasi tiba-tiba menepuk pipi Hendry dengan cakarnya.
Hendry berhenti.
Di halaman rumah sebelah kiri, sebuah drum plastik biru tergeletak miring. Dari bawahnya keluar pipa kecil yang masuk ke selokan. Di samping drum, seorang pria kurus memakai jaket hujan hitam berjongkok sambil memutar katup botol kaca.
Wajahnya tertutup masker kain. Matanya tenang. Terlalu tenang untuk orang yang sedang berada di wilayah orang lain.
Racun Hidayat.
Hendry mengenal tipe itu meski tidak pernah bertemu di kehidupan ini. Di dunia lama, selalu ada penyintas yang membangun kelompok dengan kerja, risiko, dan darah. Lalu ada orang seperti Racun, yang menunggu kelompok itu tumbuh cukup gemuk sebelum menuangkan kematian ke air mereka.
Racun mengangkat kepala.
Mungkin ia merasakan tatapan. Mungkin kabutnya memberi peringatan. Matanya bertemu dengan Hendry dari balik pagar tanaman.
Ia tidak panik. Justru tangan kirinya bergerak ke saku, seperti hendak melempar sesuatu.
Hendry tidak memberinya kesempatan bicara.
Ruang di atas telapak tangan kiri Hendry tiba-tiba melengkung.
Tidak ada cahaya. Tidak ada api. Tidak ada suara keras. Hanya udara yang berputar aneh, seperti kaca bening diperas dari dalam. Bola sebesar kepalan tangan terbentuk dalam setengah detik.
Spatial Orb.
Bagus bahkan belum sempat menarik napas ketika Hendry mendorong telapak tangannya.
Bola ruang itu melesat.
Jarak antara Hendry dan Racun tidak sampai tiga puluh meter. Bagi peluru, itu dekat. Bagi Spatial Orb, itu seperti tidak ada jarak sama sekali.
Racun baru sempat memiringkan kepala.
Terlambat.
Udara di sekitar kepalanya terlipat. Masker kain, tulang, kulit, dan suara yang belum lahir hancur dalam satu titik puntir. Tubuhnya berdiri kaku sepersekian detik, lalu jatuh ke samping seperti karung basah.
Botol kaca di tangannya pecah. Cairan ungu menyentuh tanah dan langsung membuat rumput menghitam.
Bagus membeku.
Raja juga berhenti menggeram.
Yang terdengar hanya tetesan cairan dari drum plastik dan dengung serangga di rerumputan.
Bagus menelan ludah. "Bos... lu punya jurus begitu dari kapan?"
Hendry menurunkan tangan. Di ujung jarinya ada rasa kebas halus, tetapi tidak sampai membuat kepalanya sakit. Level 4 cukup untuk memakai Spatial Orb, asalkan tidak membuangnya seperti mainan.
"Baru bisa dipakai."
"Namanya?"
"Spatial Orb."
Bagus menatap mayat tanpa kepala itu, lalu menatap tangan Hendry. "Kalau gue jadi musuh, gue pensiun sekarang juga."
Raja mendengus setuju.
"Pensiun setelah periksa tasnya," kata Hendry.
Mereka tidak menyentuh cairan ungu. Hendry mengambil ranting besi dari pagar patah dan mendorong botol-botol kecil menjauh. Bagus menyeret tubuh Racun dengan linggis, cukup jauh dari drum. Raja menahan napas berlebihan, lalu menendang tanah dengan kaki belakang seolah ingin mengubur bau itu.
Di punggung Racun ada ransel hitam. Isinya rapi: tiga botol racun tertutup lilin, beberapa bungkus bubuk kehijauan, pisau kecil, kain masker cadangan, dua bungkus biskuit, dan buku catatan plastik.
Hendry membuka buku itu.
Tulisan Racun kecil dan dingin.
Pos pertama: delapan belas orang, air sumur, habis dalam dua jam.
Pos kedua: sebelas orang, ventilasi dapur, sisa makanan diambil.
Pos ketiga: dua puluh tiga orang, jeriken campuran, dua masih bernapas saat masuk.
Di halaman berikutnya ada coretan kasar peta sekitar Pondok Indah. Cluster Hendry diberi lingkaran merah. Di bawahnya tertulis: target besar, ada hewan petir, kemungkinan stok banyak, racun lewat saluran barat.
Bagus membaca dari belakang bahu Hendry. Wajahnya makin gelap.
"Dia sudah bunuh tiga tempat?"
"Minimal tiga," jawab Hendry.
"Dan kita nomor empat."
Hendry menutup buku itu. "Kalau kita terlambat satu jam, korban pertama bukan cuma satu."
Raja menggeram pelan. Kali ini bukan marah lucu karena makanan atau status. Ini suara binatang yang sudah memilih wilayahnya dan menemukan orang asing menaruh racun di batasnya.
Hendry berjongkok di samping mayat Racun. Dengan parang, ia membuka bagian dahi yang masih tersisa dari tulang kepala. Kristal Level 3 berwarna ungu kusam jatuh ke tanah dengan bunyi kecil.
Bagus melihat Kristal itu. "Bisa dipakai?"
"Bisa. Tapi bukan sembarang orang." Hendry memasukkannya ke kantong terpisah. "Poison Power berbahaya kalau dipakai orang serakah. Lebih baik disimpan dulu."
Ia lalu menunjuk drum dan pipa. "Patahkan jalurnya. Jangan sentuh cairan. Kita bawa botol tertutup, buku catatan, dan tasnya. Sisanya dibakar dari jauh oleh Melati."
"Siap, Bos."
Bagus menghantam pipa dengan linggis sampai pecah. Kabut ungu langsung berhenti mengalir. Raja menembakkan satu busur listrik kecil ke katup drum, membuat mekanismenya rusak tanpa memecahkan seluruh wadah.
Saat mereka kembali ke base, matahari baru naik di balik atap rumah kosong.
Mawar masih berlutut di samping korban patroli. Wajahnya basah keringat. Cahaya di tangannya lebih tipis, tetapi warna ungu di leher korban tidak lagi naik.
Begitu melihat Hendry, ia bertanya, "Sumbernya?"
"Mati."
Satu kata itu membuat beberapa penjaga di sekitar gerbang mengembuskan napas panjang.
Hendry menyerahkan buku catatan kepada Fajar. "Salin isi penting. Setelah itu simpan sebagai bukti. Mulai hari ini, semua saluran air, ventilasi bawah, dan celah pagar masuk daftar patroli."
Fajar menerima buku itu dengan kedua tangan. "Siap, Pak Hendry."
Mawar menatap kantong di tangan Hendry. "Itu?"
"Kristal Level 3 Racun Hidayat. Dan bahan racun. Jangan ada yang menyentuh tanpa izin."
Bagus mengangkat tangan. "Gue saksi. Yang nyentuh tanpa izin berarti otaknya sudah ketinggalan di jalan."
Beberapa orang tertawa pendek, tegang tetapi lega.
Hendry tidak ikut tertawa. Ia menatap anggota patroli yang masih lemah. Orang itu hidup, tetapi hanya karena Nasi cepat memberi arah dan Mawar cukup kuat menahan racun.
Base yang membesar selalu menarik predator.
Dan mulai hari ini, predator itu akan datang dengan cara yang makin licik.
Menjelang siang, saat Fajar baru selesai menutup dua saluran barat dengan pelat besi, Mawar datang dari arah gerbang utara.
"Hen," katanya, napasnya masih belum stabil setelah merawat korban. "Ada kelompok baru di utara."
Hendry menoleh.
"Berapa orang?"
"Sekitar dua puluh. Pemimpinnya perempuan. Dia bilang namanya Cahaya Tan. Mereka dari Griya Lestari. Katanya kompleks mereka sudah jatuh ke tangan zombie."
Nasi yang sejak tadi duduk di meja gerbang membuka satu mata.
Hendry menyimpan Kristal Racun lebih dalam ke saku.
Baru saja satu pembunuh diringkus, dua puluh mulut baru datang meminta perlindungan.
Hari itu belum selesai menguji gerbang Cluster Pondok Indah.