Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketulusan tanpa pamrih
Angin malam berhembus pelan menerpa jendela kamar yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Lampu kamar yang berwarna kuning keemasan menyinari ruangan dengan lembut, seolah ikut memeluk suasana hening yang baru saja tercipta.
Halimah mengenakan piyama katun berwarna biru muda, dengan jilbab berwarna senada. Ia duduk bersandar pada sandaran tempat tidur dengan mulut sedikit terbuka. seolah ada beban yang ingin segera ia lepaskan.
Di sebelahnya, Daffa sudah memejamkan mata, namun belum benar-benar terlelap. Ia masih sedih setelah kehilangan Kakeknya. Namun, ada hal lain yang juga mulai mengganggunya.
Bayangan Tasya yang tiba-tiba muncul dan melamar pekerjaan di perusahaannya. Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya yang bahkan tidak tahu harus ia tanyakan pada siapa.
Daffa membuka matanya saat merasa kegelisahan orang di sebelahnya. "Ada apa, Halimah?" suara Daffa pelan.
Ia ikut duduk bersandar di kepala ranjang. Menunggu Halimah menjawab pertanyaan darinya.
"Em... boleh saya cerita?" tanya Halimah dengan suara yang terdengar seperti bisikan, namun cukup jelas memecah keheningan malam.
Daffa menoleh padanya, raut wajahnya datar dan matanya masih sedikit sembab, "Tentu boleh. Tentang apa?"
"Saya tau, ini bukan waktu yang tepat untuk saya bercerita. Saya tahu kamu masih dalam berduka. Tapi...."
"Ceritakan saja, Halimah," potongnya dengan nada suara terdengar kesal, membuat Halimah terkejut.
Sebentar Halimah mengatur napasnya. Ia juga memperbaiki posisi duduknya. Tangannya meremas ujung selimut erat seolah masih bisa merasakan kehangatan momen yang baru saja ia alami tadi sore.
"Tadi sore... saya bertemu seorang wanita dan dua anaknya. Waktu perjalanan pulang dari pasar, mobil Pak Jamal hampir saja menabrak mereka."
Seketika raut wajah datar Daffa berubah panik. Matanya menatap Halimah lekat-lekat, menyisir setiap inci tubuh Halimah dengan cemas, "Lalu? Apa kamu tidak terluka?"
"Saya baik-baik saja. Mereka juga tidak apa-apa," ucap Halimah cepat, berusaha meyakinkan Daffa.
Hati Halimah terasa hangat melihat kekhawatiran di wajah Daffa. Pria itu benar benar menepati janjinya untuk tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.
"Hanya saja... saya kasihan sama dua anak itu. Mereka sangat menggemaskan..." lanjutnya, matanya mulai berbinar saat mengingat moment tadi sore.
Daffa menghela napas perlahan, sementara tatapannya kembali datar.
"Tapi..." Halimah terdiam sejenak, menata kembali ingatannya dengan saksama. Ia ingin menceritakan setiap detail kejadian tadi sore.
Namun, rasanya ini bukan waktu yang tepat. Halimah sempat ragu, antara lanjut bercerita atau mengakhiri cerita sampai di sini dulu.
"Ceritakan saja semuanya, Halimah. Aku tidak suka mendengar cerita yang terpotong-potong. Itu hanya akan menambah penuh isi kepalaku."
"Em, baiklah. Saya akan menceritakan semuanya."
Halimah pun bercerita panjang lebar, pertemuannya dengan Tasya, bagaimana mereka akhirnya duduk bersama di pinggir jalan, mengobrol hingga lupa waktu.
"Namanya Tasya, Mbak Tasya Amelia. Dia baru saja pindah ke kota ini. Anak-anaknya lucu. Mereka anak yang ceria, mata mereka berbinar senang saat saya belikan sepatu baru, tas sekolah, dan alat tulis lengkap. Bahkan... mereka memanggil saya dengan sebutan, Tante Baik." Senyum merekah di wajah Halimah saat mengingat tawa bahagia anak-anak itu.
"Mereka anak-anak yang sangat sopan dan pintar," tambahnya dengan nada kagum.
"Mbak Tasya juga wanita yang luar biasa. Di balik senyum ramahnya, saya bisa melihat kelelahan dan kesedihan yang ia sembunyikan dengan rapi. Rasanya aneh, seolah kami sudah saling kenal sejak lama, bukan baru bertemu beberapa jam yang lalu."
"Tasya Amelia...?" Daffa mengulang nama itu pelan.
"Iya, namanya Tasya Amelia." jawab Halimah cepat tanpa sadar.
Daffa mematung. Matanya sedikit bergetar, mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang lolos.
"Em, Mbak Tasya baru saja mengantar lamaran kerja ke kantor kamu, Daffa. Kalau bisa, bantu dia, ya. Kasihan, dia harus berjuang sendirian demi kedua anaknya," Halimah menunduk memohon penuh harap.
Namun, setelah beberapa saat tidak mendengar respon apapun dari Daffa, Halimah pun menyadari sesuatu.
"Maaf, Daffa. Saya tidak bermaksud menambah beban pikiran...."
"Ya, aku akan membantunya. Kamu tidak usah khawatir, Halimah." jawabnya tegas memotong kalimat Halimah.
Halimah ingin tersenyum, namun senyum itu ia sembunyikan. Tidak sopan rasanya tersenyum di tengah kedukaan yang masih menyelimuti hati Daffa.
Sementara Daffa? Pikirannya kini berkecamuk, ia masih belum bisa percaya bahwa takdir lebih dulu memperkenalkan dua wanita itu dalam waktu yang sangat cepat.
Suasana hening beberapa saat, hanya terdengar sayup suara kendaraan di luar sana.
Halimah perlahan menundukkan wajahnya. Jari-jarinya memainkan lipatan selimut dengan gelisah. Rasa bersalah tiba-tiba menyelimuti dadanya, membuatnya harus mengumpulkan seluruh keberanian untuk berbicara lagi.
Halimah merasa tidak bisa menunda pembicaraan ini sampai hari esok.
"Daffa... saya... saya minta maaf," ucapnya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan.
Daffa menoleh, mendapati raut wajah bertekuk itu.
"Saya menggunakan uang yang ada di rekening kamu untuk membelikan seragam sekolah, perlengkapan anak-anak, dan juga pakaian layak untuk Mbak Tasya. Saya takut dia tidak percaya diri untuk wawancara besok... Maafkan saya, Daffa."
Halimah menunduk dalam, menunggu teguran atau kemarahan yang siap menyambar. Namun, alih-alih suara keras, ia merasakan tangannya ditarik lembut.
Ia mendongak perlahan, dan menatap mata Daffa. Tatapan itu dingin, tidak ada kehangatan di sana.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Halimah," kata Daffa pelan namun tegas.
"Justru aku yang merasa kagum sama kamu. Kamu bisa langsung percaya sepenuhnya pada orang yang baru saja kamu temui dan kamu langsung membantu mereka tanpa rasa curiga sedikit pun."
"Bukan begitu, Daffa," bantah Halimah cepat, matanya berbinar penuh keyakinan. "Mbak Tasya benar-benar orang baik. Aku yakin dia tidak akan berbuat jahat atau menipu."
Daffa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh. Satu sisi, ia mulai kagum dengan ketulusan Halimah, namun di sisi lain, ia cemas jika sampai Halimah mengetahui siapa sebenarnya Tasya.
"Maafkan saya, Daffa. Saya tahu mungkin cara saya salah. Saya janji akan mengembalikan semua uang itu pelan-pelan," ucap Halimah lagi dengan suara bergetar.
"Tidak usah. Uang itu memang punya kamu, aku sudah menyiapkan khusus untuk kebutuhanmu. Aku titip sama Mbok Ayu, karena aku khawatir kamu merasa sungkan kalau aku berikan langsung. Jadi, kamu tidak perlu mengembalikannya."
"Tapi tetap saja... rasanya berani sekali, memakai uang itu untuk orang la...."
Kalimatnya terputus saat tubuhnya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam pelukan Daffa. Pria itu memeluknya pelan.
"Mungkin memang tidak salah membantu orang lain yang kesusahan. Tapi, kamu harus ingat satu hal, Halimah. Kamu harus lebih dulu mengutamakan dirimu sendiri sebelum membantu orang lain. Dan jangan terlalu mudah percaya pada orang yang baru kamu kenal. Tidak semua orang memiliki hati yang tulus."
"Maaf..."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku hanya ingin kamu tetap aman dan berhati-hati ke depannya."
Halimah memejamkan mata, membenamkan wajahnya di dada bidang Daffa saat kedua tangan Daffa menarik punggungnya semakin mendekat dan semakin erat.
Pelukan itu memberikan rasa hangat dan rasa aman yang perlahan melenyapkan sedikit rasa bersalah yang sempat mengganggu. Di pelukan itu, ia tahu apa pun yang terjadi, Daffa akan selalu ada untuknya dan berusaha melindunginya seperti janjinya.
Namun dengan semua kelembutan dan kebaikan Daffa, terlepas dari tujuan pernikahan ini yang hanya demi warisan, Halimah masih terus bertanya-tanya, mengapa Daffa begitu baik padanya?
Bersambung...